NovelToon NovelToon
Sugar Daddy Kere

Sugar Daddy Kere

Status: sedang berlangsung
Genre:Beda Usia
Popularitas:4.8k
Nilai: 5
Nama Author: Bhebz

Demi mendapatkan pembayaran SPP yang tertunggak dan kesempatan ikut ujian akhir, Ayu terpaksa mengikuti saran temannya mencari Sugar Daddy di sebuah kelab malam. Ia membutuhkan solusi instan—seorang pria kaya yang bersedia membayar mahal untuk kepatuhannya.

​Sialnya, bukan Sugar Daddy impian yang ia dapatkan, melainkan seorang pria dominan berwajah tampan yang, ironisnya, tak punya uang tunai sepeser pun di dompetnya. Pria itu adalah Lingga Mahardika, CEO konglomerat yang penuh rahasia.

​Lingga, meskipun kaya raya, ternyata adalah "Sugar Daddy Kere" yang sebenarnya—ia hanya bisa membayar Ayu dengan jaminan masa depan, martabat, dan pernikahan siri. Transaksi mereka sederhana: Ayu mendapatkan perlindungan dan status, sementara Lingga mendapatkan kepatuhan spiritual dan fisik untuk memadamkan hasratnya yang membara.

Akankah Cinta akan hadir diantara mereka?

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Bhebz, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Bab 4 Sugar Daddy KR

Pukul 08:30 pagi. Matahari mulai bersinar terik, menembus dinding kaca Lantai 30 Gedung Mahardika Legacy. Ayu Puspita, kini seorang asisten pribadi dengan sepatu hak tinggi Italia, menatap tumpukan berkas yang menjulang.

Tumpukan itu benar-benar setinggi lutut, terikat dengan karet gelang dan binder clip yang kacau. Ini bukan tumpukan berkas sehari-hari; ini adalah arsip berbulan-bulan yang sengaja dibiarkan berantakan. Lingga Mahardika, jelas, sedang mengujinya.

Menyusun berdasarkan abjad klien? Meringkas menjadi dua lembar? Sebelum makan siang?

Ayu menghitung waktu: tiga setengah jam. Tugas ini membutuhkan setidaknya dua orang pekerja magang seharian penuh.

"Kenapa Anda memberikan tugas yang mustahil, Tuan?" tanya Ayu, mencoba menahan suaranya agar tidak terdengar merengek.

Lingga, tanpa mengalihkan pandangan dari trading chart di layar besarnya, menjawab dengan nada dingin. "Mustahil bagimu, bukan bagiku. Kau dibayar mahal untuk tidak mengeluh. Sekarang, bergerak. Waktu berjalan."

Ayu tidak punya pilihan. Ia berlutut di lantai berkarpet tebal—sebuah berkah karena ia tidak harus berdiri. Ia menanggalkan jas barunya, menyisakan blus sutra, dan mulai bekerja.

Tangan Ayu bergerak cepat. Sebagai mantan siswa yang terbiasa menghadapi tumpukan buku dan tugas mendadak menjelang ujian, insting "bertahan hidup"nya langsung aktif. Ia memisahkan berkas ke dalam enam tumpukan berdasarkan huruf awal: A-E, F-J, K-O, P-T, U-Z, dan tumpukan "lain-lain" yang paling mengganggu.

Namun, di tengah hiruk pikuk menyortir kontrak klien bernama 'Slamet' dan 'Sukardi', ia merasakan sakit menusuk di kakinya. Sepatu hak tinggi itu tidak dirugikan; kaki Ayu yang tidak terbiasa lah yang tersiksa.

Ia mencoba mengabaikannya, tetapi rasa sakit itu menjalar hingga ke betisnya. Saat ia berdiri untuk mengambil berkas dari tumpukan paling jauh, kakinya goyah.

DUK!

Ayu tersandung, beruntung ia tidak jatuh, tetapi ia menabrak meja kopi kaca di dekatnya. Berkas-berkas di tangannya beterbangan, beberapa lembar jatuh tepat di depan meja Lingga.

Lingga, yang selama ini mengamati melalui pantulan di kaca, menoleh. Ekspresinya tidak menunjukkan kemarahan, hanya kekecewaan yang sunyi.

"Ayu. Fokus," kata Lingga, tanpa sedikit pun emosi.

Ayu bergegas memungut lembaran kertas itu, wajahnya memerah karena malu. Ia merangkak di lantai marmer yang dingin, lututnya terasa sakit.

Ini memalukan. Aku harus membuktikan bahwa aku tidak hanya pantas mendapatkan ijazah, tapi juga pantas dibayar mahal.

Ayu kembali duduk. Ia menyadari sepatu itu adalah penghalangnya. Ia menatap ke arah Lingga, melihat punggung tegap sang CEO yang tidak terganggu, lalu membuat keputusan nekat.

Ia dengan hati-hati melepaskan kedua sepatu hak tinggi Italia yang menyiksanya itu dan menyembunyikannya di bawah meja kopi. Rasanya seperti kebebasan yang luar biasa. Ia melanjutkan pekerjaannya dengan kaki telanjang, kini jauh lebih cepat dan lebih efisien.

Lingga Mahardika tidak benar-benar fokus pada laporan keuangannya. Ia menghabiskan sebagian besar waktunya untuk mengamati asisten barunya.

Dia melihat Ayu berjuang, melihat ketegangan di bahunya, dan bahkan melihat saat Ayu tersandung. Lingga sudah siap memecatnya. Jika Ayu menangis atau menyerah, ia akan segera membatalkan kontrak dan memanggil Ken untuk mengurus 'siswi merepotkan' ini.

Namun, yang ia lihat adalah ketekunan yang mengejutkan. Gadis itu tidak menangis. Dia tidak merengek. Dia memungut berkas-berkasnya, kembali duduk, dan melanjutkan pekerjaan dengan kecepatan yang meningkat.

Lingga menyipitkan mata. Ia melihat bayangan di lantai—sepasang kaki mungil yang tidak dibalut apa-apa, bergerak lincah di antara tumpukan kertas.

Dia melepas sepatunya? Lingga nyaris tertawa, sebuah emosi langka yang langsung ia padamkan.

Dia cerdas. Dia memprioritaskan tugas di atas penampilan.

"Dia punya nyali," pikir Lingga. Nyali yang sama yang membuatnya berani mencuri dompet Lingga. Nyali yang sama yang membuatnya berani memanggil Lingga 'Sugar Daddy Kere'.

Lingga mengakui, tanpa suara, bahwa ada sesuatu yang mengganggu tentang Ayu. Keberaniannya, dikombinasikan dengan kerapuhannya sebagai siswi, dan kini, profesionalismenya yang kasar. Ini jauh lebih menarik daripada kekasihnya yang berselingkuh.

Perasaan ini, debaran yang muncul setiap kali Ayu melakukan tindakan nekat, adalah bahaya yang harus ia atasi.

Debaran itu adalah kelemahan. Aku harus tetap fokus. Dia adalah kontrak. Hanya kontrak.

Waktu menunjukkan pukul 11.55. Lima menit menuju makan siang.

Ayu, dengan napas tersengal, menempatkan dua lembar kertas yang dirangkumnya dengan rapi di dalam map baru. Ia telah menyusun semua berkas ke dalam kotak arsip yang rapi, lengkap dengan label alfabetis.

Kaki telanjangnya terasa dingin, dan ia yakin Lingga sudah melihatnya.

Ayu mengambil sepatu hak tingginya, memakainya lagi dengan susah payah, dan berjalan tertatih-tatih ke meja Lingga.

"Tuan Lingga," ucap Ayu, suaranya parau. "Berkas telah disusun dan dilaporkan. Laporan ringkasan dua lembar."

Lingga akhirnya mengalihkan pandangannya dari layar, menatap tumpukan berkas yang kini rapi di sudut, lalu ke dua lembar ringkasan yang Ayu serahkan.

Ia mengambil laporan itu, matanya memindai dengan kecepatan kilat. Alisnya yang tebal tidak bergeming.

Setelah hening beberapa saat, Lingga menjatuhkan laporan itu ke meja.

"Kesalahan ketik: Laporan klien 'Hanafi Grup' menyebutkan jumlah investasi Rp5 miliar, padahal di dokumen tertulis Rp5.1 miliar. Ada selisih Rp100 juta. Tidak akurat," kata Lingga dingin.

Wajah Ayu langsung pucat. Kesalahan kecil itu terasa seperti kegagalan besar.

"Maaf, Tuan. Saya akan segera memperbaikinya," cicit Ayu, siap untuk kembali.

"Tidak perlu," potong Lingga. "Kau sudah terlambat lima menit dari jam makanku. Tugas itu selesai."

Lingga bangkit dari kursinya. Ia menatap Ayu dari atas ke bawah.

"Pekerjaanmu cukup memuaskan. Untuk hari pertamamu, dan dengan penampilan yang... menyedihkan," Lingga sengaja menekankan kata itu, merujuk pada sandal jepitnya yang kini tertutup sepatu hak.

Lingga berjalan ke arah pintu penthouse pribadinya.

"Sekarang, tugas keempat," kata Lingga, membuka pintu itu. "Temani aku makan siang."

Ayu terkejut. "Makan siang? Tapi kaki saya sakit—"

"Aku tidak peduli," potong Lingga. "Kau adalah asistenku. Kau akan menemaniku ke mana pun aku pergi. Dan pastikan kau berjalan dengan benar, Nona Ayu. Aku benci asisten yang berjalan seperti bebek patah kaki."

Lingga melangkah pergi, meninggalkan Ayu yang kini harus mengejarnya dengan sepatu hak tinggi barunya, kakinya terasa seperti terbakar, dan pikiran tentang kesalahan Rp100 juta itu terus menghantuinya.

Ia berhasil menyelesaikan tugas mustahil, tetapi ia baru menyadari bahwa ujian yang sesungguhnya baru saja dimulai.

Di belakang pintu yang tertutup, Lingga bersandar sesaat. Keheningan yang ditinggalkan Ayu terasa aneh. Ia menyentuh dadanya. Ada debaran jantung yang mengganggu, ritme asing yang muncul sejak Ayu melepaskan sepatunya dan menunjukkan sisi dewasa dan cerdas dalam menghadapi tekanan, melebihi usianya sebagai siswi SMA.

Lingga tersenyum kecil, seringai kepuasan yang jarang terjadi. Kontrak ini, ia sadar, akan menjadi permainan yang lebih menarik daripada yang ia perkirakan.

***

1
☠ᵏᵋᶜᶟ Fiqrie Nafaz Cinta🦂
pasti ayu merinding dengar kalimat itu....
pasti bulu bulunya berdiri....
upssss 🤭🤭🤭
bulu yang mana ea bun
..????
ciiynn 2
uuuww menggoda~😖
ciiynn 2
duhhh berani bgt
ciiynn 2
duhhhhh😷
ciiynn 2
tersenyum tipis? dia tidak tersenyum tapi hatinya yang tersenyum😏
Halah mas mas senyum aja gengsiiii
ciiynn 2
haha🤣🤣🤣
☠ᵏᵋᶜᶟ Fiqrie Nafaz Cinta🦂
waduh jamu guncang jagad....weleh welehhh itu bisa bikin remukkk kasur dong bun🤭🤭🤭🤭
novi a.r
good novel, good job thor, cemungut
Bhebz: makasih banyak kk
total 1 replies
☠ᵏᵋᶜᶟ Fiqrie Nafaz Cinta🦂
semua cuma omong kosong... lambat laun nty saling jatuh cinta... gak mau pisahhhhg
☠ᵏᵋᶜᶟ Fiqrie Nafaz Cinta🦂
😀😀😀😀
jadi lingga lagi tak bermoral donk bunda....?
☠ᵏᵋᶜᶟ Fiqrie Nafaz Cinta🦂
sabar ay....
nty mlm kamu cari kotoran sapi lalu timpuk ke wajah lingga.... di jamin deh kamu puas.... cobain dehhhh
☠ᵏᵋᶜᶟ Fiqrie Nafaz Cinta🦂
ahhhhh gak guna menggerutu...
mending langsung sat set antrin itu si baby kucing.... 😀😀😀
☠ᵏᵋᶜᶟ Fiqrie Nafaz Cinta🦂
ea harus pahit..
karna yang kau pandang lurus lurus sudah manis..
jadi pahit itu sudah tak terasa lagi saat memandang ayu
☠ᵏᵋᶜᶟ Fiqrie Nafaz Cinta🦂
bukan pengawal/peramal ayu dia pelawak 😃😀🤭
☠ᵏᵋᶜᶟ Fiqrie Nafaz Cinta🦂
setipis apakah senyuman itu... apa setipis tisu basah / kering bun.....???
srius tanya dengan nada halus sehalus sutra.....
HanaShui🌺
gak yakin Yu🤣
HanaShui🌺
debaran jantung ni yeee
Daniaaa
waduh nyesel 🤣
Daniaaa
awal yang keren Thor
Sofiaa
seruuuu thor
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!