Takamiya Nia, wanita berusia 42 tahun yang bekerja di Perusahaan Fasde tiba-tiba meninggal dalam kondisi tidur di apartemennya tanpa diketahui oleh siapapun.
Begitu Nia terbangun, ia mendapati dirinya menjadi bayi sepasang kekasih di keluarga kerajaan sebagai pewaris tahta kerajaan berikutnya, Kerajaan Thijam.
Dengan pengetahuan ala otaku di masa lalunya dan beberapa pengalaman yang ia miliki bersama kedua orangtuanya, Nia memutuskan untuk memperoleh kesempatan kedua untuk menjalani hidup sesuai dengan keinginannya tanpa ada paksaan maupun umpatan yang memenuhi hati dan pikirannya.
(Peringatan: Karya ini mengandung Dark Shoujo jadi siapkan mental kalian, oke?)
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Kanken, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Ch. 20: Kehebohan
Saat malam tiba, semua orang di istana mencari keberadaan Alice, baik itu; kedua orangtuanya, Gerald yang mengerahkan seluruh familiar-nya sebagai Summoner, para maid yang dipimpin oleh Annastasia, ksatria junior, senior, dan elite dikerahkan untuk mencari kemana perginya putri dari Ren dan Luna.
Tak hanya itu, Lisa mencari keberadaan Alice dengan Eri, berpikir kalau Edi sudah mulai bertindak jadi ia diam-diam mencuri pandangan tajam ke arahnya. Saat Edi menyadari tatapan tajam dari mata keemasan Lisa, Lisa segera melanjutkan pencariannya tanpa perlu menarik kecurigaan Edi.
"Bagaimana? Apakah kalian menemukan sesuatu?" Tanya Arga yang berdiri di halaman depan istana, dengan nada tegas dan berwibawa pada salah satu ksatria yang datang untuk melaporkannya.
"Tidak ada keberadaan Alice-sama di sekitar kota, Yang Mulia. Pasukan lain juga sudah menyusuri gorong-gorong kering, gang kecil, bahkan beberapa rumah terbengkalai namun tidak ditemukan keberadaan Alice-sama."
Kesal karena tidak menemukan keberadaan cucu kesayangannya, Arga memerintahkan mereka lagi.
"Cepat cari lagi! Aku hanya takut kalau Cucuku diculik atau disandera!"
"Baik."
Di belakang Arga, terlihat Luna yang sangat khawatir atas kondisi Alice karena ia tidak mengira kalau putrinya menghilang cukup lama melebihi biasanya. Takut kalau seseorang menculik Alice lalu menyanderanya untuk meminta tebusan dengan memeras mereka. Kalau tidak, Alice akan dibunuh.
Disisi Luna, Ren menenangkan Luna dengan mengusap-usap pundak kanannya, dengan senyum kecilnya ia berkata tulus padanya.
"Jangan khawatir, aku yakin putri kita baik-baik saja."
"Kamu tidak mengerti tentang putri kita, Sayang!"
"Eh?"
Bukannya tenang, Luna justru malah meledakkan emosinya dalam kesedihan pada Ren.
"Jika putri kita kenapa-kenapa maka aku akan gagal sebagai seorang Ibu."
Ada rasa takut dalam suara gemetar dari Luna, dengan terpaksa Ren memeluknya sambil mengusap-usap rambut butterfly haircut berwarna pirang milik Luna bukan untuk menenangkannya maupun sedih melainkan meyakinkannya.
"Tenanglah, aku yakin putri kita baik-baik saja."
"Kenapa... kenapa kamu bisa seyakin itu?" Tatap Luna pada Ren, memperlihatkan keingintahuan mengapa suaminya tidak terlihat khawatir, takut dan panik.
Ren tidak mungkin mengatakan kalau ia tahu dari ksatria bahwa putrinya melakukan latihan fisik seperti joging di halaman depan istana, takut kalau Luna, istrinya akan mengkhawatirkan kondisi putrinya yang melakukan hal tersebut.
Dengan terpaksa, Ren berbohong dengan topeng senyuman menawan pada istrinya untuk membuatnya yakin dengan kata-katanya.
"Itu karena ia adalah putri kita. Lagipula mana mungkin putri kita kenapa-kenapa sejak Ayah Mertua menyayanginya, kan?"
"Ya, kamu benar."
Apa yang dikatakan oleh Ren ada benarnya.
Arga, ayah dari Luna sangat mencintai dan menyayangi Alice sebagai cucunya. Mana mungkin membiarkan siapapun berbuat hal buruk padanya. Kalaupun ada seseorang yang melakukannya, cepat atau lambat para ksatria tahu siapa pelakunya.
"Ini benar-benar aneh."
Tidak ditemukan oleh Gerald keberadaan Alice, bahkan familiar-nya tidak dapat mengetahui dimana gadis kecil itu berada.
"Mungkinkah Tuan Edi sudah melakukan rencananya?"
Kekhawatiran sekilas terlihat dibalik topeng wajah serius dengan mata sipit Gerald. Di satu sisi, ia tidak ingin percaya kalau Alice tiba-tiba menghilang tanpa jejak karena Edi yang melenyapkannya. Tapi, jika ia percaya maka ia harus memiliki bukti yang mengarah pada Edi.
"Duh. Padahal aku sudah susah payah membuat proporsi latihan untukmu, Alice."
Tidak seperti Gerald, ada kekecewaan dan kesedihan didalam hati Lisa.
Awalnya Lisa berpikir kalau Alice akan datang ke kamarnya setelah sarapan pagi, ia sudah menyiapkan latihan ringan khusus untuk Alice karena ia memiliki kapasitas mana yang lebih sedikit daripada yang lain. Tapi, Alice tidak terlihat sama sekali membuat Lisa kecewa dan sedih, meskipun ia juga khawatir jikalau hal buruk terjadi pada gadis kecil yang menjadi teman putrinya.
"Ini aneh," pikir Edi, ikut membantu melakukan pencarian.
Padahal seingat Edi, ia belum memerintahkan bawahannya untuk melenyapkan ataupun menculik Alice. Kalaupun ia menyuruh mereka bertiga, mungkin mereka hanya menculik untuk meminta Alice untuk menjadikan Ken sebagai tunangannya.
Kalau Alice tidak mau, disaat itulah Edi putuskan untuk melenyapkan gadis kecil itu agar putranya naik tahta.
"Semoga saja ia baik-baik saja," pikir Edi lagi, dengan wajah sedih karena Luna, orang yang pernah dicintainya khawatir atas kondisi putrinya.
Dalam ego-nya, Edi ingin memiliki kekuasaan sebagai pewaris tahta berikutnya jikalau putranya menjadi raja berikutnya. Tak hanya kota yang menjadi kekuasaan, ia juga akan memiliki kekayaan berlimpah di kastil ini sama seperti raja dan ratu sebelumnya.
Tapi, untuk hatinya ada tidak tega saat melihat Luna seperti itu.
"Semoga saja Alice baik-baik saja," pikir Ken, ikut khawatir atas apa yang akan terjadi pada Alice nanti.
Kembali ke malam itu, malam dimana Edi berbicara dengan ketiga bawahannya di kamarnya ditengah malam melalui perspektif Ken.
Saat itu, Ken sedang keluar dari kamarnya untuk buang air kecil. Tapi tanpa sengaja, ia yang mendengar suara di kamar sebelahnya, kamar ayahnya mendengar percakapan pelan.
"Ini tidak bisa dibiarkan!" Tegas Edi dari dalam, ekspresinya dipenuhi dengan kemarahan yang meledak saat membayangkan masa depan putranya tidak diambil.
"Jikalau putraku tidak bisa menjadi tunangannya, aku terpaksa untuk menculiknya untuk bernegosiasi. Jika tidak mau, aku akan gunakan cara untuk melenyapkannya."
Ken yang mendengar dari luar, hatinya terasa sakit mendengar kalau ayahnya sendiri akan melakukan hal itu pada Alice.
Ia tidak memahami kenapa Edi ingin melakukan hal sekejam itu demi dirinya. Padahal ia sudah cukup untuk menjadi ksatria, bukan untuk mencintainya melainkan mengaguminya. Dua hal yang berbeda satu sama lain.
Kalaupun memang Ken menyukai Alice, mana mungkin ia mengungkapkan padanya karena takut kalau gadis itu tidak menyukainya melainkan menganggapnya sebagai teman. Jika itu terjadi, Ken tidak yakin apakah ia bisa dianggap sebagai teman lagi setelah mengungkapkan perasaannya pada Alice sebagai sahabat atau malah jadi canggung.
Apapun itu, memikirkan kalau Alice menyukainya tidak terpikirkan oleh Ken. Ken hanya mengaguminya, bukan mencintainya. Itulah pandangan Ken terhadap Alice.
"Tapi, jika putra anda mengetahuinya?"
"Kita tidak bisa biarkan putraku mengetahuinya!" Tegasnya, nadanya tinggi memperlihatkan bahwa ada kekesalan saat membayangkan putranya mengetahui ini.
Tak hanya kebencian, ada juga kekesalan yang diperlihatkan oleh Ken padanya yang dibayangkan saat tahu tentang ini pada ayahnya.
Tapi, Edi tidak tahu kalau Ken mendengarnya dari luar.
Ken yang tidak memahami alasan apa yang ayahnya lakukan padanya, pikirannya masih terlalu polos untuk mengetahui tentang kekuasaan dan kekayaan yang diinginkan oleh ayahnya dengan memanfaatkan putranya.
Hanya saja satu-satunya yang tekad Ken perlihatkan melalui sorot matanya adalah ia tidak bisa tinggal diam. Ia harus melakukan sesuatu demi mewujudkan impiannya. Demi bisa melindungi orang yang dikaguminya, bukan sebagai pahlawan maupun orang yang dicintainya melainkan sebagai ksatria-nya.
Dengan begitu, Ken pergi untuk buang air kecil di toilet yang kebetulan masih ada di sekitar area penginapan.
"Aku akan pastikan untuk melindungi mu, Alice!"
Kedua tangannya mengepal kuat memperlihatkan kalau tekad Ken sekedar untuk melindungi Alice dari bahaya sebagai ksatria. Kalaupun bisa, ia juga ingin menjadi pedang dan perisai untuknya meskipun itu akan menghalangi tujuan ayahnya.
Itulah yang diingat oleh Ken di waktu itu.
"Semoga saja Ayah belum melakukannya. Kalau misalkan ia melakukannya, aku takkan memaafkannya!"
Kegigihannya kuat untuk melindungi Alice, ia tidak peduli apakah ia akan menjadi anak durhaka yang melawan ayahnya, satu-satunya orang tuanya yang tersisa atau tidak.
Asalkan ia melihat gadis kecil yang rapuh dan lemah tersebut bisa menikmati kehidupan sehari-harinya seperti biasanya, Ken tidak keberatan. Kalaupun dihadapkan dengan pilihan untuk memilih untuk memihak pada ayahnya atau Alice saat besar nanti, ia lebih memihak pada Alice karena ia tidak bersalah, sedangkan ayahnya telah melakukan hal jahat.
Setelah sekian lama mencari tidak ketemu Alice, semua orang berkumpul di halaman depan istana.
"Bagaimana bisa ini terjadi?"
"Tidak mungkin putriku menghilang begitu saja, pasti ada sesuatu yang terjadi."
Saat mendengar perkataan dari Luna dan Ren, secara tidak sengaja Lisa dan Gerald melirik ke Edi lalu mengalihkan pandangan mereka sebelum Edi dan mereka mengetahui apa yang dilirik oleh keduanya.
"Mereka terlihat aneh."
"Ya, aku setuju."
Entah bagaimana Eri dan Ken bisa berkomunikasi melalui pikiran mereka seolah-olah ada sesuatu yang dipikirkan oleh Lisa, ibu dari Eri, dan Gerald, penasihat raja saat melihat ayahnya Ken, Edi.
Memang, Ken sudah mengetahuinya tapi ia tidak disangka kalau ada orang lain yang mengetahuinya juga. Sedangkan Eri, ia bertanya-tanya mengapa ibunya dekat dengan Gerald, penasihat raja. Hal ini tidak seperti biasanya yang ibunya lakukan seolah-olah ada sesuatu yang disembunyikan.
"Ibu, apakah ada sesuatu yang kamu sembunyikan dariku?"
Didekati Lisa dengan wajah polos, ada rasa penasaran di ekspresi Eri.
Mengetahui putrinya penasaran, Lisa menggelengkan kepalanya lalu berjongkok untuk setinggi putrinya dan mengelus-elus rambut putrinya.
"Tidak ada yang Ibu sembunyikan, Sayang."
"Tapi, tadi Ibu terlihat dekat dengan Paman Gerald."
Terkejut mendengar putrinya mengatakan ini, senyum pahit diperlihatkan oleh Lisa padanya untuk meyakinkannya meskipun ia ragu ini bisa membuatnya tenang daripada penasaran.
"Itu... kami hanya–"
"Kami hanya sedang membahas soal pekerjaan. Benarkan, Nona Lisa?"
"Ya, kira-kira begitu."
Diperhatikan dengan seksama oleh Eri atas sikap ibunya, ia tidak tahu sejak kapan ibunya sedekat itu pada pria lain seperti Gerald. Berpikir kalau itu akan menyakitkan ayahnya, Vincent yang menurutnya sedang berkelana ke segala penjuru sebagai petualang.
Tidak hanya Eri, semua orang yang memperhatikan hal tersebut juga ikut bingung.
"Mungkinkah mereka memiliki perasaan?"
"Mana ada, bukan?"
"Lalu, kenapa mereka bisa akrab?"
"Entahlah, mana kutahu!"
Para bangsawan pria yang mendengar hal ini, mereka saling berbisik satu sama lain seolah-olah ini adalah hal biasa untuk Lisa, tapi tidak untuk Gerald.
Karena setahu para bangsawan pria, Gerald selalu terlihat ramah, bijaksana, dan murah senyum tanpa ada memperlihatkan ketertarikan pada wanita lain di kalangan bangsawan selain mengabdikan diri pada raja, Arga.
"Wanita itu tampaknya menggoda Gerald-san."
"Ya, dia tidak tahu malu untuk melakukannya."
Bisikan lain didengar pelan oleh para bangsawan wanita terhadap sesama mereka.
Menurut mereka, Lisa seharusnya tidak boleh kelewatan dalam menggoda pria manapun, khususnya Gerald, penasihat raja. Memang, menurut mereka tubuh Lisa lebih menggoda ketimbang mereka dengan parasnya yang cantik, sikapnya yang nakal dan menggoda. Siapapun akan terpincut dengan Lisa disaat mereka digoda olehnya.
Tapi, mereka tidak tahu kalau kedekatan Lisa dan Gerald hanya sebatas kerjasama. Lisa bersedia membantunya untuk mengajarkan Alice tentang sihir, entah apakah bisa memperbesar mana di dalam tubuh gadis kecil itu atau tidak. Sedangkan Gerald, ia akan melakukan hal yang cocok dengannya dibalik bayang-bayang tanpa sepengetahuan siapapun.
"Lupakan tentang itu! Jika kita tetap tidak mencarinya, ada kemungkinan cucuku dalam bahaya!"
"Baik."
Mendengar ketegasan dari Arga membuat para bangsawan lain tersentak kaget karena sadar, mereka kembali berpencar untuk mencari keberadaan Alice.
Sekitar pukul 10:00 malam, salah satu ksatria senior datang selagi menggendong gadis kecil berambut butterfly haircut berwarna pirang yang kulit putihnya terluka goresan mendalam di tangan kiri, kaki kanan, dan beberapa memar di kedua pipinya, nafasnya tersengal-sengal selagi tidak sadarkan diri.
"Yang Mulia, saya melihat cucu anda berada di hutan."
Gadis kecil itu tidak lain adalah Alice yang digendong oleh-nya saat ini.
Mengetahui cucunya terluka, ekspresi murka terlihat diwajah Arga. Ia kesal, benci dan bingung bagaimana cucunya, Alice bisa terluka seperti ini.
"Lisa!" Teriaknya dengan nada tinggi membuat semua orang yang mencari di area sekitar kastil kebingungan menatap Arga yang marah.
"Ada apa, Yang Mulia?"
"Tolong bawa Cucuku untuk dirawat dan disembuhkan."
"Baik."
Digendong oleh Lisa pergi, Alice yang dibawa dalam kondisi tidak sadarkan diri dengan luka goresan di salah satu tangan dan kakinya yang cukup dalam, wajahnya yang memar membuat siapapun berpikir itu sangat kejam bila dilakukan oleh orang lain.
"Sayangku...."
Bahkan Luna yang menyaksikan putrinya dalam kondisi tersebut, pingsan. Sebelum ia terjatuh ke permukaan, Ren dengan segera menangkapnya lalu menggendongnya.
"Ayah Mertua, aku akan bawa istriku ke kamarnya."
"Ya."
Mendapat izin dari Arga, Ren bergegas memasuki istana untuk meletakkan Luna, istrinya di kamarnya agar ia dapat beristirahat dari rasa lelah akibat mentalnya melihat putrinya seperti itu.
"Kenapa putriku bisa seperti itu? Mungkinkah seseorang melakukannya?" Pikir Ren, ia kebingungan selagi berjalan memasuki lobby dan menaiki tangga ke lantai dua, tetap menggendong istrinya.
Sedangkan diluar istana, Arga yang mengepalkan tangannya dengan kuat, ada perasaan meledak yang memenuhi hatinya seolah-olah ia dalam kondisi penuh kemarahan.
"Beritahu para ksatria lain untuk memeriksa area sekitar kota dan kerajaan! Pastikan untuk tidak melepaskan siapapun yang mencoba untuk melukai Cucuku!"
"Baik," ksatria itu gemetar karena murka Arga, ia segera membungkuk untuk kembali ke tempat dimana rekan-rekannya berada.
Edi yang menyaksikan itu, ia juga bingung.
Jikalau ia mengikuti egonya, ada rasa senang atas apa yang terjadi pada Alice. Tapi jika mengikuti hatinya, ia tidak tega melihat Luna, orang yang dicintainya dulu pingsan setelah mengetahui putrinya seperti itu.
Andaikan Edi membayangkan kalau ia yang melenyapkan putri dari Luna, ada kemungkinan tak hanya Ken, putranya yang membenci dan marah padanya, tapi juga Luna, Arga, dan yang lainnya pasti akan melampiaskan kemarahan mereka pada Edi karena itu semua salahnya.
Pasti mereka berpikir kalau Edi yang membunuh Alice, orang-orang akan menganggap dirinya kejam dan tak berperasaan karena bisa-bisanya membunuh gadis kecil berusia 6 tahun yang lemah, rapuh dan tidak bisa melindungi dirinya sendiri.
Tidak seperti Edi, Ken menatap tajam pada ayahnya yang menatap ke kejauhan dalam tatapan kosong dengan wajah jengkel.
Sebisa mungkin, ia menahan amarahnya untuk saat ini untuk tidak melupakan emosinya pada ayahnya, tidak ingin semua orang tahu kalau ini perbuatan ayahnya yang menyuruh bawahannya melakukan ini.
"Mungkinkah ia melakukannya?" Pikir Gerald, merasa kalau itu terlalu cepat untuk dilakukan oleh Edi ketimbang menunggu waktu yang tepat untuk menyuruh bawahannya.
Apapun itu, Gerald tidak mentolerir jikalau keturunan dari keluarga kerajaan terbunuh maka ia bisa pastikan kalau pelakunya tidak lain adalah Edi. Entah dengan cara apa, pokoknya Gerald akan mendapatkan bukti agar bisa membuat Arga, raja sekarang bisa menghukum Edi jikalau cucunya benar-benar mati.