Follow Ige author : Shalsyala
"Apa kamu lupa? aku menyetujui pernikahan ini hanya untuk menyelamatkan kehormatan keluarga ku dari rasa malu kak..?"
Livia Gunawan Baskoro.
"Aku tidak pernah mengingat apapun itu, yang aku ingat kamu sekarang adalah istriku, dan kamu sangat mencintaiku sejak dulu, tapi sekarang kenapa aku tak lagi melihat cinta itu?"
Anggara Wisnu Hutama
Dua anak manusia itu terikat hubungan persahabatan sejak kecil dan di kehidupan sekarang keduanya terikat dalam sebuah pernikahan tanpa rencana yang dilakukan Angga dalam menyelamatkan Livia dari rasa malu.
Mampukah mereka mempertahankan mahligai rumah tangga yang berlandaskan cinta yang berlimpah dari Livia namun tidak untuk Angga yang hati dan cintanya masih dimiliki orang lain?
Yuuuk merapat langsung baca yaaa
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon shalsyalala, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
21
Gunawan memanggil sesosok laki laki yang ternyata sejak tadi berdiri di ruangan itu juga. Laki laki bertubuh tinggi dan proporsional itu maju satu langkah dari tempatnya. Menunduk hormat ke arah Gunawan.
Livi yang baru menyadari jika ada manusia lain di ruangan itu selain dirinya dan orang tuanya, hanya melirik sekilas tanpa mau repot repot menoleh ke arah laki laki itu. Malah beralih menduduki sofa. Ia mengalihkan pandangannya pada ponsel yang ia ambil di dalam tasnya.
Notifikasi puluhan panggilan tak terjawab dan banyak chat dari Angga terlihat di layar ponselnya. Pikirannya kembali berputar dan dipenuhi sosok Angga di kepalanya. Bayangan bahagianya rumah tangga beberapa bulan yang sempat ia reguk bersama sang suami itu membuat dadanya bergemuruh hingga terasa sesak.
Hari ini seharusnya ia sedang menyiapkan kopi sang suami. Menunggui laki laki itu sarapan dengan mengobrol seputar pekerjaannya, lalu satu kecupan hangat ia dapat saat mengantar laki laki yang kembali mematahkan hatinya itu berangkat bekerja.
Hatinya bergemuruh dengan apa yang di pikirannya. Kedepannya ia mungkin tak akan bisa lagi melakukan hal itu.
*Benarkah ini?
Aku tidak ingin menyesal. Aku juga tidak ingin berharap*.
"Selamat pagi Non Livia." Suara barinton dari laki laki yang sejak tadi mengobrol dengan ayahnya itu menyapa dengan sopan, membuat Livi terkesiap dan sadar dari lamunannya. Ia mengusap air mata yang merembes di balik kaca mata hitamnya.
"Perkenalkan saya...."
"Bisakah lain waktu saja sesi perkenalan ini di mulai? Aku ingin segera pergi shopping." Tanpa basa basi Livi segera memotong ucapan laki laki pemilik nama Vero itu.
Vero sejenak terpaku ditempatnya dengan penolakan tegas dari Livia. Bibir laki laki itu berkedut dengan senyum tipis sebelum kemudian menegakkan punggungnya dan bersikap siaga kembali. Juga kemudian isyarat dari Gunawan untuk memilih menuruti apa yang diinginkan Livia.
"Aku akan menghubungi Papi lagi nanti. Aku pergi dulu ya Pi." Ucap Livia.
"Mami juga harus segera ke perusahaan. Client Mami sedang menunggu." Maya turut berpamitan.
Setelahnya, anak dan ibu itu berjalan beriringan keluar dari ruangan Gunawan. Keduanya tengah berdiri berdampingan di dalam lift. Keheningan kembali menyergap. Semula tak ada obrolan apapun. Livi yang memang tak pernah sejalan dengan sang Mami, memilih diam dibanding bersuara yang nantinya akan menimbulkan pertengkaran.
Hingga akhirnya Maya dengan sikap angkuhnya menoleh ke arah Livia. "Terima kasih telah mempertimbangkan hal ini Livi. Mami percaya kamu tidak akan bersikap bodoh ini mengorbankan masa depan mu hanya demi Angga."
Tak ada perubahan gerakan dari Livi, hampir sama dengan sang Mami. Saat jiwanya lemah ia malah bersikap sombong dan angkuh untuk menutupi kelemahannya. Livi bersedekap sambil menengadah menatap jalannya layar digital yang menampilkan angka dimana lift bergerak melewati lapisan lantai. Seolah acuh tak memperdulikan ucapan sang Mami yang jelas jelas menusuk tepat di hatinya saat ini.
"Meskipun Mami tidak bisa menjadi ibu yang baik, tapi perlu kamu tahu Livi, tidak ada satupun orang tua yang ingin anaknya menderita. Semua orang tua ingin anaknya bahagia dengan segala cara. Maafkan Mami harus tega mengatakan ini, tapi tolong ingat baik baik Livi. Angga..." Maya memberi jeda saat melihat perubahan gestur dari putrinya.
"Suami mu itu tidak akan pernah mencintai kamu Livi. Jadi berhentilah dengan harapan bodoh atas cintamu yang naif pada Angga!"
Tepat setelah Maya menyelesaikan kalimat pedas yang menghujam hati Livi, bersamaan itu pula setitik bening yang ia tahan sejak pagi tadi akhirnya jatuh dan tertahan oleh bingkai kaca mata yang menempel di pipinya.
"Kamu akan pergi shopping bukan? Ganti tas yang kamu bawa dengan keluaran terbaru! Tas itu Mami lihat sudah tiga bulan yang lalu kamu pakai."
Kata kata penutup yang tak penting bagi seorang Livia. Kemudian Maya segera melangkah keluar saat pintu lift terbuka. Meninggalkan Livia yang masih mematung di tempatnya. Ia menangis dalam diam, lututnya bergetar seolah tak kuat menahan tubuhnya.
Ucapan sang Mami kali ini benar benar terasa begitu sakit dibandingkan dengan ucapan pedas yang lalu lalu. Karena kenyataan yang ia hadapi kali ini seolah mendukung dan mengiyakan ucapan sang Mami.
...🌾🌾🌾🌾...
Jemari yang terus menari mari diatas papan ketik itu seolah tak mengenal lelah meski sudah hampir berjam jam bergerak. Tombol delete yang selalu di tekan saat selesai mengetik sebuah kalimat menyimpulkan jika apa yang sedang dikerjakan tidak sesuai dengan apa yang dipikirkan.
"Astagaa!"
Angga mengeluh, nada suaranya begitu berat. Ia menarik jemarinya untuk memijit pangkal hidungnya yang benar benar terasa begitu pening. Sejak pagi dirinya tak bisa berkonsentrasi untuk bekerja. Bayangan wajah sedih istrinya terus berputar di kepalanya.
Ia kembali meraih ponsel yang baru lima menit yang lalu ia lihat. Masih tak ada balasan dari sang istri atas semua pesan yang ia kirim. Bahkan dibaca pun tidak.
"Livi maafkan aku kembali mengecewakan mu Livi, maafkan aku." Gumamnya pelan.
Tok Tok Tok
Suara ketukan dari pintu ruang kerjanya membuat laki laki berkemeja hitam itu segera menoleh. Pintu terbuka setelah dirinya memberi izin untuk siapapun disana untuk masuk. Terlihat Dipta memasuki ruangan.
"Selamat siang pak Angga." Sapa Dipta dengan sopan. "Tujuan saya kemari untuk membawa perihal berkas yang akan menjadi pembahasan meeting anda dengan pak Akbar sore nanti." Ucapnya lalu maju selangkah ke arah Angga sambil menyerahkan beberapa map ke hadapannya.
Angga hanya mengangguk dan menatap sekilas ke arah tumpukan map itu. "Aku akan mempelajarinya dulu. Tapi bisakah sampaikan pada kak Akbar jika meeting nanti diundur esok hari? Ada satu hal yang mengharuskan ku untuk segera pulang."
Wajah terkejut sekilas tergambar di wajah Dipta saat mendengar ucapan Angga. Sejak dirinya bekerja sama dengan Angga baru kali ini laki laki yang terkenal gila bekerja itu meminta untuk menunda jadwal meeting. Tak urung Dipta pun menganggukkan kepala. "Baik Pak. Dan untuk perekrutan sekertaris yang anda inginkan, saya telah...."
"Pilih sesuai standart perekrutan dan kualifikasi yang mereka punya saja. Laki laki atau perempuan terserah padamu." Ucap Angga lalu berdiri dan meraih jas yang tersampir di punggung kursinya.
"Kak Akbar pasti akan marah besar saat tau meeting ini aku undur, tapi jangan khawatir, aku juga akan menghubungi kak Akbar untuk penundaan meeting ini." Ujar Angga sambil memakai jasnya, kemudian bergegas keluar ruangan meninggalkan Dipta yang masih mematung, seolah tak percaya dengan apa yang ia lihat.
"Pak Angga buru buru pulang? Tidak biasanya."
...🌸🌸🌸🌸...
Angga berlari kecil saat turun dari mobil yang sudah terparkir di carport rumahnya. Ia mendapati tumpukan Paper Bag yang bertuliskan nama nama butik terkenal, berjejer rapi memenuhi hampir kursi dan meja ruang tamunya.
Ia hanya melirik sekilas belanjaan yang ia duga milik istrinya itu, lalu meneruskan langkah menuju kamar. Ia tak melihat Livi di dalam kamar, malah kembali menemukan tumpukan Paper Bag di ranjang juga sofa yang ada di kamarnya.
Saat hendak keluar kamar, langkahnya tertahan oleh suara pintu kamar mandi yang terbuka.
"Kamu sudah pulang kak?" Livi menyapa saat melihat suaminya berdiri mematung diambang pintu. Wanita yang sedang memakai handuk untuk membungkus rambutnya yang basah itu berjalan ke arah ranjang.
"Maaf, ini berantakan." Livi mulai mengeluarkan semua belanjaannya dan memindahkannya ke dalam lemari.
Ada kelegaan juga terselip kerinduan pada istrinya, meski hanya sehari tak bertemu. Ia melangkah mendekati Livi, lalu tanpa aba aba laki laki itu segera memeluk Livi dan tak peduli dengan pekikan terkejut dari Livi.
"Maafkan aku." Bisik Angga. Nadanya sungguh sangat berat seiring hatinya yang bergemuruh dengan segala rasa bersalahnya.
Livi yang bisa menguasai diri dari keterkejutannya, kini hanya memilih mematung. Tak ada niatan untuk membalas pelukan suaminya meski dirasa pelukan laki laki itu semakin menguat.
"Minta maaf untuk apa?"
Pertanyaan yang sengaja dibuat sepolos mungkin oleh Livia membuat Angga menegakkan kepalanya yang semula tenggelam di pundak Livia. Angga kemudian menarik diri dari pelukannya. Tak disangkanya Livi malah mengurai senyum menatap dirinya.
"Kamu tidak marah pada ku Liv?" Angga malah melempar pertanyaan.
"Aku tidak tahu kak, apa pantas aku marah? Hanya aku merasa kecewa. Sangat kecewa."
Livi hanya mampu menjerit dalam hatinya. Kenyataannya wanita itu malah mengulas senyum. "Aku tidak marah."
Angga yang menangkap kebohongan di mata istrinya itu segera membawa Livi duduk di bibir ranjang. Ia kemudian berlutut di depan istrinya, meremas lembur jemari istrinya.
"Aku tahu kamu kecewa dengan sikap ku kemarin, aku sangat bodoh dengan mengkhawatirkan..."
"Aku tidak apa apa. Aku tahu semua yang kamu lakukan memang dari hati kak. Jangan membohongi hatimu sendiri, juga...juga jangan membohongi ku." Janji untuk tak lagi menangis didepan Angga sepertinya Livi langgar sendiri kali ini. Bibirnya bergetar juga air mata yang sudah menyeruak penuh di bola matanya.
"Maafkan aku Livi, maafkan aku." Angga berdiri dari posisinya lalu duduk disebelah Livi dan segera memeluknya.
"Jangan memelukku, jangan mengasihani ku. Aku tidak perlu itu kak!" Sentak Livi disela tangis yang tak lagi mampu ia tahan. Ia meronta ingin lepas dari pelukan Angga yang semakin menguat. "Aku tidak ingin mencintai mu lagi kak, ini terlalu berat untukku. Aku ingin membencimu saja. Aku ingin membencimu saja Kak!" Tangisnya semakin kencang, Livi memukul mukul punggung Angga sebagai pelampiasan atas kekecewaan hatinya.
"Kamu boleh membenci ku Livi. Silahkan memebenci ku asal kamu mau memaafkan kebodohan ku." Tangis sedu sedan dan isakan yang keluar dari bibir istrinya benar benar menghajar hebat diri Angga dengan rasa bersalah yang semakin mengepung hatinya.
"Maafkan aku. Kumohon maafkan aku. Maafkan aku.." Nada suara Angga juga bergetar. Ia membiarkan Livi menangis dengan puas. Membiarkan punggungnya menerima pukulan bertubi tubi dari istrinya. Hingga lama kemudian tangisan itu mereda dan berganti hanya sesekali isakan yang terdengar.
Saat dirasa Livi sudah lebih tenang, Angga perlahan menghela tubuh Livi. Wajah wanita itu basah dengan air mata yang ternyata masih mengalir. Jemari Angga menghapus buliran bening itu namun dengan cepat ditepis oleh Livi.
"Apakah tidak ada maaf bagi ku?" tanya Angga pelan.
Livi segera menggeleng. Air matanya semakin deras mengalir. "Aku ingin membenci mu saja. Aku ingin membenci mu saja. Kenapa susah sekali untuk membenci mu Kak?" Ucapnya lirih. Suaranya hampir tak terdengar di telan Isak tangis.
Angga kembali memeluk Livi, dan ia merasa termaafkan saat Livi membalas pelukannya. "Terima kasih Livi, terima kasih istri ku. Aku berjanji tidak akan menyakiti kamu lagi. Aku berjanji." Ucapnya penuh sesal.
...💮💮💮💮...
Livia hidup kesepian tanpa arahan org tuanya, tp dia tahu arahan hidupnya menjadi lebih baik
sedangkan Livia tidak banyak teman tp dia memantapkan hati pada satu hati dan dan dia benar2 pilih yg tulus padanya, meskipun dia harus merelahkan laki2 yg ia cintai bersama sahabatnya.
aku lebih suka sifat Livia
💕💕💕💕💕💕💕💕💕💕💕💕💕
❤️❤️❤️❤️💜💜💜💜💙💙💙💙
💕💕💕💕💕💕💕💕💕💕💕💕💕
💕💕💕💕💕💕💕💕💕💕💕💕
💕💕💕💕💕💕💕💕💕💕💕💕💕
♥️♥️♥️♥️♥️♥️♥️♥️♥️♥️♥️♥️
💕💕💕💕💕💕💕💕💕💕💕💕💕
💙💙💙💙💙💙💙💙💙💙💙
💕💕💕💕💕💕💕💕💕💕💕💕💕
💜💜💜💜💜💜💜💜💜💜💜💜💜