[CH 01-145 END]
Apa yang akan kau lakukan jika kau terjebak di dalam tubuh Putri Mahkota yang sangat dibenci oleh Sang Pewaris Tahta?
****
"Dimana ini?" Pertanyaan itu terlontar bersamaan dengan kebingungan sang gadis menatap sekelilingnya, tempat itu begitu asing dan bisa ia bilang sedikit kuno.
"Nona sudah sadar?"
Gadis itu mengernyit kebingungan saat di depannya ada orang dengan pakaian kuno.
"Apakah kita sedang syuting drama kolosal?"
Gadis itu kebingungan, pasalnya hal terakhir yang ia ingat adalah terjun ke danau karena menghindari ibunya. Ia kira ia sudah mati tetapi jika mati tidak mungkin ia masih bisa bernafas dan bertemu dengan manusia juga bukan?
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon @Miss_Kha11, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
CHAPTER 21: Awal dari Cinta
"Kenapa Kau melakukanya?" Tanya Haerin disertai air Mata.
Air mata Haerin tidak terbendung lagi, ia tadi begitu terkejut ketika tahu ada kekacauan di Istana, begitu Haerin keluar dari kediamanya ia melihat darah tercecer dimana mana, banyak sekali Penjaga dan para dayang yang terletak di tanah dengan bersimpah darah. Ia tidak tahu bagaimana keadaan anggota kerajaan lainya karena Memang keadaan istana sangat tidak kondusif.
Dan ia lebih terkejut lagi saat tahu siapa yang melakukan pemberotakan dan pertunpahan darah di dalam istana tersebut. Ia tidak menyangka hal sedikit gila yang saat itu ia beberkan adalah membuat pertumpahan darah diistana. Dimanakah letak hati nurani Lee Sun hingga membunuh para pengawal dan pelayan tidak berdosa itu.
Ya, walaupun sebenarnya pedang Lee Sun masih bersih karena ia memang belum membunuh seorang Pun. Awalnya menteri Kang berkata jika ia yang akan membunuh Hwan dan begitu mendengar hal itu Lee Sun langsung menjaukan diri agar dirinya saja yang membunuh Hwan. Walaupun sebenarnya ia sama sekali tidak akan bisa membunuh mantan sahabat sejatinya itu.
"Mianhae, aku sangat sadar jika ini salah"
"Kau sudah membunuh Orang tidak berdosa Sun ah, apakah kau benar benar gila"
Deg,
Lee Sun memejamkan matanya erat, bagaimana bisa ia sebodoh itu mau saja menuruti Perkataan Menteri peradilan Kang hanya demi sebuah ambisi.
Hanya untuk ambisi, ia menyebabkan darah dari orang yang sama sekali tidak bersalah harus bertumpah ruah. Betapa besar dosa yang akan ia dapatkan dengan melakukan hal itu. Dimana hati nuraninya hingga menyetujui semuanya. Bahkan ia sampai meminta bantuan pasukan bayanganya untuk membantu menlakukan pemberontakan.
"Aku hanya ingin kau bahagia"
"Huh bahagia? Bahkan tanpa tahta dan kemegahan ini pun aku akan bahagia, cukup bawa aku pergi dari sini dan membangun keluarga yang jauh dari tempat ini. Itu sudah sangatlah cukup. Kau tidak perlu melakukan ini"
Tapi, bukankah hal ini sudah terlanjur terlalu tanggung rasanya jika ia mengakhirinya saat ini, ia sudah terlanjur membuat kekacauan di seluruh istana.
"Lama tidak bertemu Ui an"
Suara tegas itu mengalihkan perhatian Haerin dan Lee Sun, Disana Hwan bediri dengan pedangnya yang berdarah. Dan Tangis Haerin semakin pecah saat melihat kondisi Hwan. Pipi lelaki itu terlihat berdarah karena tergores pedang dan juga darah terlihat merembes dari pinggang nya. Mungkin terdapat luka mengangga disana. Hwan baru saja beradu pedang dengan Menteri Peradilan Kang dan itulah luka yang ia dapat tetapi sebagai gantinya Kini Menteri peradilan Kang telah meregang nyawa di tangan nya.
Lee Sun bangkit lalu tersenyum, Mereka berdua kekuar dari ruangan itu meninggalakan Haerin yang tengah berurai air mata.
"Kenapa kau mengacaukan Istana Ui an?" tanya Hwan dengan datar.
Tidak menyangka jika orang dulu ia selamatkan justru kini akan membunuhnya melalui pemberontakan.
"Kenapa kau berubah?" tanya Hwan kembali.
Tidak juga ada jawaban dari Lee Sun.
"Kenapa sekarang kau menjadi busuk seperti ini"
"Kau tau jika aku sangat menyesal, Ambisi benar benar menbutakanku"
"Aku tahu kau tidak pernah mengingginkan tahta dan Apakah akhirnya harus seperti ini Ui an, apakah pada akhirnya salah satu dari kita harus mati? Padalah dulu aku yang membuatmu berjanji untuk tetap Hidup" ucap Hwan terkekeh.
"Aku hanya ingin membahagiakan Haerin. Tapi kini kusadar jika caranya salah, jika kau bermurah hati untuk yang kesekian kalinya. Ijinkan aku membawa Haerin pergi. Aku denganya akan pergi ke Qing dan tidak akan pernah lagi kembali kesini. Aku berjanji tidak akan pernah menganggumu lagi"
Hwan terdiam, ia sangat menyesal telah menyakiti Haerin selama ini. Ia benar benar sadar seperti apa kesakitan Haerin selama ini. Lalu saat kini ia tahu, Haerin telah menjalin Hubungan dengan Lee Sun sejak dulu rasanya sangat sakit dan sesak. Apakah ia kini benar benar mencintai Haerin?
"Aku yang akan membahagiakanya"
"Selama ini kau hanya menyakitinya Hwan ah"
"Pergilah ke Qing seorang diri karena aku tidak bisa melindungimu lagi disini, karena kau telah melakukan pemberontakan secara langsung, aku yang akan membahagiakan Haerin" ulangnya.
Tidak mungkin jika ia setega itu membunuh Lee Sun.
"Apakah kau berjanji akan benar benar membahagiakannya?"
Hwan mengangguk.
"Aku telah banyak menyakitinya selama ini, dan selanjutnya aku akan membahagiakanya" ucap Hwan.
"Jika kau benar benar berjanji sebagai seorang lelaki untuk membahagiakanya. Aku akan melepaskannya"
"Segeralah pergi, aku tidak bisa melindungimu" ucap Hwan.
"Aku tidak akan tenang jika hidup menjadi buronan negri ini, mungkin jika aku pergi sekalipun aku tetap tidak akan bahagia, aku tidak punya siapapun disini. Mungkin sudah saatnya aku pergi menyusul Orang tuaku"
"Apa maksudmu?"
Lee Sun mengengam pedang yang berada di tangan Hwan lalu mengarahkan ke dadanya. Sedangkan lengan Hwan juga masih mengenggam pegangan dari pedang tersebut.
"Berjanjilah untuk selalu membahagiakan Haerin"
Lee Sun menekan ujung pedang tajam itu ke dadanya lalu darah menyembur dari sana. Lee Sun tersenyum penuh arti. Hwan melepaskan pedang itu dari tanganya, Pedang itu jatuh bersamaan dengan meluruhnya Tubuh Lee Sun.
Dan saat itu juga Haerin keluar dari dalam kediamanya, ia begitu terkejut saat melihat Lee Sun telah tergeletak dengan darah mengalir di dadanya dengan pedang Hwan disisi tubuhnya. Lalu pandanganya beralih ke arah Hwan yang tengah berdiri mematung. Haerin menyangka jika Hwan telah membunuh Lee Sun. Haerin berlari memeluk tubuh Lee Sun.
"Berjanjilah padaku untuk selalu bahagia" Itu adalah ucapan terakhir Lee Sun sebelum menggenjang lalu menutup matanya.
Haerin terlihat menangis meraung seraya memeluk tubuh yang kian terasa dingin itu. Mengapa ahkirnya harus seperti ini? Lalu beberapa pengawal datang untuk mengambil alih tubuh Lee Sun dari Haerin.
Cup......
Haerin mendaratkan ciuman singkat di kening Lee Sun sebelum tubuh itu diambil alih dan dibawa pengawal. Setelah ini ia tidak dapat lagi melihat wajah Lee Sun.
Greb,
Hwan memeluk Haerin berharap mampu meredakan tangis Wanita itu. Tetapi yang terjadi justru sebaliknya. Tangisan Haerin justru semakin deras saat Hwan memeluknya. Tetapi setelah beberapa menit ia merasakan tubuh Hwan semakin berat saat memeluknya lalu perlahan meluruh, untung saja disana ada beberapa pengawal yang langsung siaga segera menolong Hwan.
Dan Haerin semakin meraung raung saat melihat tanganya dipenuhi oleh darah Hwan. Mengapa ia tidak menyadarinya sedari tadi jika Hwan memiliki luka di pinggangnya. Luka itu memang lumayan dalam, mungkin jika terlalu lama dibiarkan akan menghabiskan darah di seluruh tubuh Hwan.
Dan pada malam itu semua penderitaan berahkir, walaupun harus ada yang berkorban disana. Tetapi akhirnya kita tahu jika bulan memang tidak akan pernah bisa hidup tanpa Matahari.