Diawali dengan kisah percintaan Anggita Nindya sejak duduk di bangku SMA, yang sangat amat menyukai kakak kelasnya yang bernama Rama. Cintanya tak terbalaskan dan terlupakan ketika Rama lulus sekolah. Rama adalah cinta pertama Gita.
Mereka di pertemukan lagi di perusahaan tempat Gita bekerja. Perusahaan itu adalah milik keluarga Rama. Hingga akhirnya, mereka pun bertemu lagi. Bagaimanakah kisah cinta mereka selanjutnya? Akankah cinta mereka bisa bersatu? Sedangkan, Rama telah memiliki tunangan. Namun, perasaan Gita pada Rama tak berubah sedikitpun.
Akankah cinta pertama itu bisa terwujud? Atau malah sebaliknya?
Staytune terus ya..
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Irna Mahda Rianti, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Jebakan Siska
Waktu sudah menunjukkan pukul 19.00 WIB. Rama akan segera menuju restoran yang dipilih Siska. Siska sudah ada ditempat dan menyuruh Rama untuk segera datang.
Syukurlah kalau dia tak mau dijemput, itu takkan merepotkanku. Batin Rama dalam hati.
Rama merasa tak enak hati, tetapi ia tetap berfikir positif, mungkin itu hanya rasa bersalahnya pada Gita.
Rama telah sampai direstoran. Ia segera masuk dan mencari keberadaan Siska. Siska melambaikann tangan padanya. Rama pun menghampirinya.
Minuman telah tersedia diatas meja. Rama tak menaruh curiga sedikitpun kepada Siska. Ia langsung meminum air putih tersebut karena Rama memang haus selama dalam perjalanan tadi.
Rama dan Siska memesan makanan, mereka makan bersama tanpa suara. Siska merasa puas karena Rama berkali-kali meminum air yang telah dia campurkan obat tidur didalamnya.
Setelah selesai makan, Rama merasa kepalanya sangat berat. Dia merasa pusing, kepalanya serasa berputar-putar.
"Sis, aku pusing. Kepalaku berat banget ini. Disini ada RS terdekat tidak ya? Tolong antar aku kesana." Pinta Rama sambil memegangi kepalanya.
"Agak jauh. Aku bawa kamu ke kamar hotel disini saja ya? Biar nanti dokter yang datang ke kamarmu." Ajak Siska.
"Baiklah, secepatnya telepon dokter keluargaku."
Siska memang sengaja memilih restoran yang berada dihotel. Agar ia mudah membawa Rama menuju kamar hotel. Siska membopong Rama naik ke lift, karena kamar hotel berada di atas.
Sesampainya di kamar hotel, Rama langsung menjatuhkan badannya ke kasur. Ia tak mengerti kepalanya terasa sangat berat sekali. Rasanya ia ingin memejamkan mata agar pusingnya segera hilang. Rama tertidur masih dengan menggunakan jas dan kemejanya.
Gampang juga kau ku bodohi. Aku memang tak bisa membuatmu menyetubuhiku, tapi aku bisa memanipulasi keadaan, seolah-olah kau lah yang meniduriku. Siska melepaskan perlahan baju Rama, ia sengaja melakukan hal ini agar Rama percaya bahwa ia telah meniduri Siska. Skenario Siska memang jahat.
Siska membuka bajunya perlahan, menggerayangi badan Rama mencoba agar badan Rama memberikan reaksi atas apa yang telah ia lakukan. Anehnya, Junior Rama tak memberikan reaksi apapun, juniornya tak hidup sama sekali. Ini yang membuat Siska kesal. Siska terpaksa hanya memfoto-foto dirinya dan Rama yang sedang telanjang. Seakan-akan Rama telah memperkosanya.
Siska merasa puas perbuatannya dengan Rama berhasil ia lakukan. Hanya selangkah lagi membuat Rama akan menjadi milik Siska seutuhnya. Pagi hari ia sudah menelepon sekretarisnya agar menggrebek Rama dan Siska. Siska sudah memberitahu sekretarisnya agar mengadu kepada orang tuanya. Agar Rama tak akan berkutik nanti.
Siska segera menyerahkan bukti foto-foto tersebut pada sekretarisnua. Seakan-akan orang lain yang memfoto dirinya. Padahal ia hanya menggunakan timer dari gawainya.
10 jam berlalu. Efek obat tidur itu sudah hilang. Rama membuka matanya perlahan, ia sangat terkejut melihat tubuhnya yang telanjang dan ada Siska disebelahnya.
"Sis, gila lo ya? Kenapa gue bisa ada disini bareng lo? lo ngapain gue semalem hah? Bangun Sis jangan gila lo. Sialan, maksud lo apa ?" Rama marah dan menarik Siska yang sedang terlelap.
"Auhhh, sakit. Rama, kamu gak sadar? Semalem kamu yang meminta aku untuk melakukan hal ini. Ini semua mau mu. Aku sudah menolak tapi kamu selalu memaksaku. Kau tak ingat hah? Jangan kau merasa menjadi korban disini. Jelas-jelas akulah wanita yang dirugikan!!!“ Siska menangis.
" Persetan dengan ucapanmu!!! Dasar kau wanita gila. Plakkkkkkkk" Rama menampar Siska.
Pintu terbuka, Keluarga Siska datang.
"Rama!!! Hentikan perlakuan busuk mu pada anakku. Kurang ajar sekali kau berani-beraninya menampar anakku. Apa yang telah kau lakukan pada anakku HAHHHH???" Bentak Ayah Siska
"Jangan kalian kira aku bodoh. Apa yang telah kalian lakukan padaku? Ini semua pasti rencana busukmu kan? Aku tak sudi untuk bisa berdua denganmu apalagi tidur dengan wanita ****** sepertimu, Cuihhhhh!" Bentak Rama
"Sialan kau Rama. Ini tunangan mu. Apa kau tak bisa sedikit lemah lembut padanya hah?? Dasar brengsekkk!! Plakkkk" Bentak Ayah Siska dan menampar Rama sekuat tenaga.
Datanglah Kakek dan Ayah Rama.
"Edo. Ada apa ini? Kesalahan apa yang Rama buat sehingga kau berani membentaknya dan menampar cucuku?" Kakek Rama membentak Edo.
"Selamat pagi, Tuan. Maafkan perlakuan lancang saya. Saya hanya tak tahan melihat Rama menampar Siska. Dia memperkosa Siska tapi malah membalikkan fakta, dia tak mengaku." Jelas Edo, Ayah Siska
Siska pura-pura menangis. Dia masih telanjang bulat, hanya ditutupi selimut hotel saja. Ia berdecak girang, rencananya berhasil apalagi tak disangka keluarga Rama pun datang kesini. Entah siapa yang memberitahu mereka.
"Benar begitu Rama?" Tanya Ayah Rama
"Tidak!!! Ini semua tidak benar. Aku dijebak olehnya, semalam dia mengajakku makan. Entah mengapa aku menjadi tak sadar dan setelah bangun aku telanjang bersamanya. Sungguh, aku tak melakukan apapun pada wanita sialan ini!" Rama membela diri.
Kakek Prima menengahi. Kakek Prima tahu cucunya tidak bersalah. Tapi, karena rasa malu kakek Prima harus bertanggung jawab atas semua ini.
"Sudah, rapikan semua bajumu. Ayo kita pulang. Edo, kau bawa anak dan istrimu menuju Rumahku. Kita harus berbicara" Kakek Rama meninggalkan kamar hotel
Benarkah aku menyetubuhi Siska semalam? Sungguh aku tak ingat apa-apa. Tubuhku sangat lemas, aku ngantuk sekali. Hanya itu yang kuingat. Apa benar aku bercinta dengannya? Aku tak yakin akan hal ini. Aku tak mungkin melakukan hal gila itu dengannya. Tapi kalau aku benar melakukannya, aku harus bagaimana? Bagaimana dengan Gita ku? -Rama dalam hati-
Rama marah, emosinya tak tertahan. Ia menggebrak meja berkali-kali. Ia mengepalkan tangannya dan menonjok bata rumahnya. Ia tak percaya pada Siska, seberani itu dia menjebak Rama. Tapi Rama tak punya bukti perihal kejadian semalam. Harusnya ia dimata-matai asistennya. Sayangnya, Rama tak suka diikuti oleh asistennya. Rama pikir Siska memang akan berubah. Tapi ternyata ini hanya kebohongannya saja.
Seluruh keluarga sudah berkumpul di rumah besar Kakek Prima. Kakeknya Rama yang menjadi penengah diantara mereka.
"Ini sudah terjadi. Bagaimana lagi?" Kakek Rama membuka suara
"Tapi kek, aku tidak melakukannya. Demi sumpah aku tak menyentuhnya sedikitpun!" Rama membantah
"Aku tidak minta pendapatmu ataupun Siska. Aku berbicara kepada Angga dan Edo" Ucap Kakek
"Menurutku, kita tunggu saja kebenarannya nanti. Kalau mereka berhubungan Siska pasti akan hamil kan?" Ujar Ayah Siska
"Asal kau tahu Pak Edo yang terhormat. Anakmu itu berhubungan badan dengan siapa saja. Dia berhubungan badan dengan lelaki-lelaki yang membayarnya mahal. Aku bisa buktikan itu. Kalau dia hamil, itu pasti bukan anakku. Aku tak melakukan apapun dengannya. Cek saja CCTV hotel" Bentak Rama
Edo berdiri dari duduknya
"Berani-beraninya kau mengata...." Ucapak Edo terputus ketika kakek Prima menggebrak meja.
"DIAMMMMMM. DIAM kalian semua. Tak boleh ada yang berbicara kecuali aku menyuruh kalian bicara."
"CCTV hotel sudah aku periksa, semua fasilitas cctv dikamar hotel itu tidak ada. Hanya ada dilorong pintu masuk kamar. Terlihat Siska membawa Rama masuk kamar. Kulihat Siska diam saja, seperti menerima semua ini. Apa pendapatmu? Kau boleh bicara." Ucap kakek Rama.
"A..aku sangat takut malam itu. Rama tertidur tapi memaksaku membuka baju. Aku tak mengerti mengapa ia melakukan ini, ternyata ia menyetubuhi ku dengan mata terpejam tapi melakukannya berkali-kali. Aku menangis ketakutan, tapi kupikir karena dia tunanganmu aku tak bisa menahannya." Siska menangis
"Apa kau ingat itu Rama?" tanya Ayah Rama
"Aku tidak ingat. aku sungguh lupa, tapi yang jelas aku tak melakukan hal keji itu. Aku hanya pusing lalu aku menyuruhnya memanggil dokter. Tapi ketika bangun aku sudah telanjang dengannya"
"Karena kau tak ingat, aku putuskan Siska tinggal dirumah ini selama sebulan sampai waktunya ia menstruasi. Kita lihat apa benar dia hamil atau tidak. Kalau dia tidak tinggal disini aku tak bisa percaya kalau ia hamil buyutku. Harus ku pastikan dia tinggal disini tak boleh keluar sampai waktunya menstruasi. Mengerti kalian semua? Tak boleh ada yang membantah, ini sudah keputusan bulatku" Kakek Rama serius
Mereka semua terdiam. Rama sangat terpukul atas kejadian yang menimpanya. Ia tak menyangka hal menjijikan ini bisa terjadi padanya. Ibu Rama hanya bisa menangis, ia malu kalau ternyata Rama berbuat hal senonoh seperti itu.
Asisten dari keluarga Siska membawa barang-barang Siska. Ia pindah kesini dan tak boleh keluar rumah. Kalau ada keinginan ataupun sesuatu bisa minta pelayan yang bekerja dirumah itu.
Suasana dirumah itu terlihat dingin. Tak ada yang berbicara sedikitpun. Rama pergi ke kamarnya. Rama lupa mengabari Gita. Tapi aneh, Gita kenapa tak mengabarinya? Padahal hari ini Rama tak masuk kerja, tapi Gita tak mengkhawatirkannya sedikitpun.
Rama mencoba menelepon Gita, tetapi tidak aktif. Menghubunginya lewat chatting juga tidak aktif. Mengapa semuanya jadi rumit seperti ini? Rama segera berangkat menuju rumah Gita.
Ketika ia akan keluar rumah, Mami Rama memanggilnya masuk kedalam kamarnya.
"Ram, kau jujur pada Mami. Apa benar kau menyetubuhi Siska?" Tanya Mami
"Sumpah, aku tak bernafsu dengannya Mi. Aku tak mungkin menyetubuhinya. Aku tak menyangka ia bisa menjebak ku seperti ini." Tegas Rama
"Benar begitu kah? Tapi mengapa kau bisa bersamanya berdua dihotel?" Tanya Mami Rama lagi
"Aku pun tak tahu Mi, yang terakhir kuingat aku makan malam dengannya lalu aku sadar telah tidur disampingnya dengan keadaan telanjang" Jelas Rama
"Apa kau mabuk? Jadi kau melakukan perbuatan keji itu tanpa sadar? Begitukah?" Mami Rama mencoba mengira-ngira
"Tidak, aku sama sekali tidak mabuk. Ingin sekali rasanya ku bunuh wanita brengsek itu. Karena hal ini wanitaku pasti pergi menjauhiku. Mungkin saja Siska sudah memberi tahu Gita perihal kejadian ini. Sudah kuduga ini jebakannya." Rama geram
"Mami tahu ini jebakannya. Tapi kita tak punya bukti apapun. Dan kau sekamar dengannya semalaman, mungkin kau memang melakukannya. Bagaimana kalau ia hamil anakmu? Kau pasti harus segera menikahinya kan? Maka dari itu, lupakanlah wanita itu, dan kau coba mencintai Siska!" Pinta Mami Rama
"Aku tak sudi. Aku tidak melakukan apapun terhadapnya!" Rama membentak Ibunya
"Kakekmu pun tahu ini jebakan Siska, makanya beliau menyuruh Siska tinggal dirumah ini. Takut kalau ia tidak disini, diluar ia berbuat macam-macam lagi dan ternyata hamil dari lelaki lain, dan kau yang disalahkan, Bukan begitu?" Mami Rama jujur
"Kalau ia disini, dan hamil. Bagaimana? Apa itu anakku Mi? Tapi aku tak merasa menyetubuhinya. Aku tak sudi menikahi *******." Rama menolak
"Kita lihat saja nanti. Semoga saja dia tak hamil. Kau boleh memutuskan hubungan pertunangan itu. Kakek sudah bicara padaku tadi."
"Kalau ia hamil bagaimana?" Tanya Rama takut
"Kau harus bertanggung jawab dan menikahinya! Itu perintah kakekmu.
"Kalian membuatku kecewa. Kenapa baru sekarang aku boleh memutuskannya, kenapa tidak dari awal ketika aku bilang kemarin hah? Kalau kalian mendengarkan perkataanku, aku tak mungkin terjerat jebakan brengsek ini." Rama kesal
"Maafkan Mami, semoga kita bisa mencari jalan keluarnya." Tegas Mami Rama.
Rama pun keluar dari kamar maminya dan bergegas menuju rumah Gita. Waktu sudah sore, Gita pasti sudah pulang kerja, pikirnya.
-Dikamar Siska-
Siska melamun, ia takut sekaligus senang.
Bagaimana ini? Aku tak boleh keluar rumah. Bagaimana Jordy bisa menanamkan benihnya lagi? Ini baru dua kali Jordy memasukkan cairan cintanya pada tubuhku. Kalau aku gagal hamil bagaimana? Kenapa sih kakek Prima malah mengurungku seperti ini? Apa mungkin ia tahu kalau aku sering berhubungan dengan lelaki lain? Oh tidak. Aku harus hamil, semoga saja benih Jordy langsung membuatku hamil, walaupun aku tak berhubungan dengannya lagi. Itu akan menyelamatkan hidupku. Semoga saja.
Perjalanan dari rumah Rama menuju rumah Gita membutuhkan waktu sekitar satu jam. Rama melajukan mobilnya dengan kecepatan tinggi. Ia tak peduli mobil yang lain dihadapannya. Yang ia pedulikan hanyalah Gita. Mobik lain membunyikan klaksonnya berkali-kali, peringatan agar Rama mengerti dan melajukan mobilnya dengan benar. Tapi Rama tak menggubrisnya, Ia tetap melajukan mobilnnya dengan kecepatan penuh, meskipun nyawa taruhannya.
Rama telah sampai didepan rumah Gita. Rumahnya terlihat sepi, mungkinkah dia tak ada dirumah? Rama mengetuk pintu rumah Gita berkali-kaki tetapi tak ada yang membukanya. Kenapa Ibunya Gita tak membuka pintunya. Rama berteriak memanggi Gita, tak berhenti. Lampunya menyala tetapi rumah terlihat sepi. Ingin rasanya Rama mendobrak pintu itu sekaligus. Rama yakin Gita ada didalam rumahnya. Rama mendobrak paksa pintu tersebut, pintu pun terbuka perlahan. Rama masuk mencari Gita,
Dan...............
*Bersambung*
liburan apa cari Gita .. heran aku .. mau diam kok lama lama ga tahan juga ya