Aciel Lutherford datang ke panti asuhan itu dengan segala janji palsu yang ia berikan kepada si lugu Eden yang kala itu tidak tahu apa-apa. Pria itu mengadopsi Eden tanpa alasan yang jelas dan membiarkan Eden hidup tanpa status yang jelas di rumahnya hingga enam tahun lamanya. Setelah enam tahun berlalu, Eden perlahan-lahan mulai berubah menjadi sosok wanita dewasa yang mengagumkan. Usianya yang mulai menginjak dua puluh tahun membuat Aciel yang sebelumnya tidak pernah memperhatikan wanita itu, mulai berbalik untuk mengintai wanita itu dari kejauhan. Hingga suatu hari sebuah peristiwa buruk mengubah segalanya. Wanita polos itu tidak lagi menjadi sesosok angsa putih yang lembut, melainkan telah berubah menjadi sesosok angsa hitam yang selalu memancarkan luka dan lara di kedua mata bulatnya. Dan kini ia pun mulai memiliki ambisi untuk menghancurkan pria bermata coklat itu, pria yang telah membawanya pada penderitaan yang tak bertepi, Aciel Lutherford!
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon chalista saqila, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Month Five, A Lil Bit Of Happiness (Twenty One)
Pukul dua siang Aciel masih berkutat dengan pekerjaanya di kantor yang terlihat belum berkurang sama
sekali. Beberapa kali ia mengumpat keras dan menggebrak meja kala laporan-laporan itu terlihat salah di matanya.
“Ck, siapa yang telah menerima pekerja-pekerja bodoh ini.” umpat Aciel sambil melemparkan map merah itu di bawah mejanya. Dan di sisi lain ruangannya, telah banyak tumpukan map yang dibuang Aciel. Semua map itu dibuang Aciel lantaran para pekerjaanya sama sekali tidak becus dalam menyusun laporan yang dimintanya.
“Selamat siang sir, nona Roxy Belleza ingin bertemu dengan anda.”
Tiba-tiba sekretaris pribadinya masuk kedalam ruangannya dan mencoba memberitahu Aciel tentang kedatangan Roxy Belleza yang merupakan kolega barunya. Ia lantas bangkit berdiri dan meminta sekretarisnya untuk mengumpulkan semua mapnya sebelum wanita muda itu masuk ke dalam ruangannya.
“Jangan ada yang menggangguku selama aku bertemu Roxy Belleza.” ucap Aciel keras pada sekretarisnya yang langsung dijawab dengan anggukan oleh pria muda itu.
Tak berapa lama wanita yang sejak tadi mereka bicarakan masuk kedalam ruangan. Wanita muda berusia pertengahan dua puluh tahun itu tampak anggun saat melangkah masuk kedalam ruangan Aciel. Dan Aciel saat ini sedang menyeringai licik melalui kursi kebesarannya seperti seekor singa yang sedang mengintai buruannya.
“Selamat siang nona Belleza, senang bertemu dengan anda.” sapa Aciel ramah, namun masih dengan gaya arsitokratnya yang khas.
“Selamat siang tuan Lutherford, akhirnya kita bisa berjumpa juga dalam suasana yang tidak terlalu formal.
Kakekku menitipkan salam untuk anda. Kakek sangat senang mengetahui rencana kerjasama yang akan kita lakukan. Sebelum kita memulainya tuan Lutherford, bagaimana jika kita membicarakannya di sofa hitam itu supaya pembicaraan kita lebih santai.” ucap Roxy menggoda. Aciel tersenyum kecil menanggapi permintaan wanita itu dan segera melangkah lebar menuju sofa hitam di tengah-tengah ruangannya.
Inilah yang dimaksudkan Aciel selama ini. Dalam berbisnis, semuanya tidak bisa hanya dilakukan dengan cara bersih. Ada cara-cara kotor yang harus digunakan untuk melicinkan jalannya. Dan cara seperti ini sudah biasa terjadi di lingkungan perusahaanya.
“Aww... kau sangat pandai memuaskan wanita tuan Lutherford.”
“Hmm, seperti keinginanmu nona Belleza.” ucap Aciel sensual sambil mencumbu setiap inci wajah Roxy.
Sebentar saja kedua manusia itu telah larut dalam pusara gairah yang memabukan. Pertemuan yang awalnya hanya membicarakan masalah bisnis, justru berakhir dengan suara desahan dan decapan yang begitu nyaring. Dan disaat mereka akan melangkah kearah yang lebih jauh, tiba-tiba suara dobrakan pintu yang nyaring menginterupsi kegiatan mereka dan membuat Aciel bangkit seketika sambil menatap geram pada sang pembuka pintu.
“Bisakah kau mengetuk pintunya terlebihdahulu?”
“Oh ada jalang rupanya. Minggir!” bentak Eden kasar sambil menarik Roxy untuk berdiri. Wanita itu seketika
cepat-cepat merapikan dressnya yang sedikit naik sambil membetulkan kancing dresnya yang telah terbuka tiga kancing. Saat ini ia benar-benar merasa malu karena sikap murahannya diketahui oleh orang lain. Terlebih oleh seorang wanita hamil yang sepertinya memiliki hubungan yang dekat dengan Aciel.
“Tuan Lutherford saya permisi, hubungi saja aku jika kau telah siap untuk menandatangani kontraknya.”
“Baiklah nona Belleza, sampai jumpa di lain waktu.”
Eden berkacak pinggang di sebelah Aciel sambil menatap dua manusia itu jengah. Entah apa yang akan terjadi pada mereka jika ia tidak segera masuk dan menghentikan semua perbuatan menjijinkan itu. Aciel, sampai kapanpun pria itu memang tidak akan pernah berubah.
“Apa yang kau lakukan di kantorku?”
“Kau pasti merasa terganggu dengan kehadiranku, maaf kalau begitu. Aku hanya ingin.... mengatakan sesuatu padamu.”
Eden maju selangkah mendekati Aciel, lalu menarik dasi pria itu sedikit keras agar Aciel lebih mendekat kearahnya.
“Kau terlihat berantakan sayang.”
“Apa yang ingin kau katakan? Kau tidak perlu berpura-pura manis di hadapanku.”
“Hmm, tapi kau benar-benar terlihat berantakan. Hmm....”
Eden mengendus kerah kemeja Aciel sekilas, lalu kembali berucap pada pria itu.
“Kau berbau seperti feromon. Wanita tadi, ia pasti sangat menginginkan sentuhanmu.”
Cup
Eden mengecup bibir Aciel sekilas, lalu kedua tangannya kembali sibuk membetulkan simpul dasi Aciel yang sedikit berantakan. Ekspresi wajahnya kini benar-benar tak terbaca, antara marah dan juga acuh tak acuh. Wanita itu seperti tidak ingin terlalu memikirkan perbuata menjijikan Aciel dengan rekan bisnisnya. Namun dari gerak geriknya Aciel dapat menyimpulkan jika Eden sebenarnya sangat tidak suka dengan apa yang baru saja
ia lihat.
“Nah sudah selesai, kau sekarang terlihat lebih rapi.”
Eden menyisir rambut Aciel pelan dengan jari-jarinya yang lentik, lalu sedikit melangkah mundur untuk melihat bagaimana hasil karyanya yang menakjubkan.
“Sempurna.
“Apa yang ingin kau bicarakan
padaku? Kau sengaja mengulur-ngulur waktu untuk membuatku semakin penasaran?” ucap Aciel geram. Ia sudah tidak sabar untuk mendengarkan berita apapun yang sedang Eden bawa karena wanita itu tidak mungkin akan repot-repot datang ke kantornya jika ia tidak benar-benar memiliki urusan.
“Tidak juga. Duduklah, aku ingin memberimu ini.”
Eden mengangsurkan sebuah foto hitam putih yang berisi gambar beberapa gumpalan yang tampak aneh di tengah-tengah gambar.
“Apa ini?”
“Foto janinku saat berusia tiga bulan. Aku belum menunjukannya padamu karena kau selalu membuatku kesal selama ini. Lihatlah, mungkin kau ingin melihatnya.”
Eden sebenarnya tak terlalu berharap Aciel akan melihat bagaimana bentuk anaknya yang hanya berupa gumpalan-gumpalan hitam dan putih. Tapi diluar dugaan, Aciel saat ini tampak sedang serius menatap gambar itu sambil mengelusnya pelan menggunakan ujung jarinya.
“Dia terlihat sangat kecil, seperti serangga.”
Eden hampir saja mengeluarkan tawa kerasnya jika ia tidak segera membungkamnya dengan talapak tangannya yang lebar. Pria itu, ia benar-benar terlihat sangat polos untuk ukuran seorang pria arogan yang selama ini selalu kasar. Ekpresi wajahnya saat mengatakan serangga benar-benar ingin membuat Eden tertawa, walaupun hal itu bisa ditahannya dengan baik.
“Ehem... Kau bilang apa?”
Eden sedikit berdeham untuk menetralkan nada suaranya yang sedikit sumbang karena menahan tawa
“Dia sangat kecil. Apa dia baik-baik saja?”
“Kurasa begitu. Foto itu diambil saat ia baru berusia tiga bulan. Memangnya apa yang kau harapkan dari janin berusia tiga bulan? Kau aneh Ace.” Ucap Eden dengan nada mencemooh. Namun Aciel terlihat tak menanggapinya dan justru sibuk memandangi foto hitam putih itu lagi.
“Bukankah sekarang usianya lima bulan? Ia pasti sudah bertambah besar.”
“Tentu saja, hari ini adalah jadwalku untuk bertemu dokter Hwang di rumah sakit. Kau bisa mengantarku? Nanti kita bisa melihat bagaimana perkembangannya melalui layar monitor.”
“Baiklah, kita pergi sekarang.”
“Tunggu, ada satu hal lagi yang ingin kukatakan padamu.”
Eden menahan lengan Aciel pelan sambil menatap manik coklat itu dengan tatapan yang sulit diartikan. Wanita itu lantas menghembuskan napasnya pelan sebelum memulai bercerita pada Aciel mengenai kedatangan ayahnya beberapa saat yang lalu.
“Ayahmu hari ini datang ke rumah.”
“Oh. Apa yang dilakukan pria tua itu di rumahku? Apa ia ingin mengolok-olok hasil kerja kerasku selama ini?” Tanya Aciel datar. Terlihat jelas jika Aciel sangat membenci ayahnya hingga ia tak memiliki sedikipun emosi untuk menggambarkan bagaimana perasaanya pada sang ayah.
“Ayahmu mengatakan padaku jika kau anak yang sombong dan tidak tahu terimakasih. Kau pergi begitu saja dari rumah dan tidak pernah sedikitpun menjenguknya. Lalu......”
“Hentikan Eden. Aku tahu pasti apa yang dikatakan oleh ayahku karena dia memang tidak pernah suka dengan semua kesuksesan yang telah kuraih. Apa ia menyakitimu?”
Aciel menatap Eden menelisik dari ujung kaki hingga ujung kepala. Ia takut ayahnya akan menyakiti Eden dengan keadaanya yang sedang mengandung darah dagingnya.
“Ya, kurasa. Ayahmu menanyakan asal usulku dan bagaimana aku bisa mengandung anakmu. Ada banyak hal yang ia ceritakan padaku, tapi satu hal yang harus kau tahu bahwa ayahmu adalah dalang dibalik kematian ibumu. Kau yang tidak pernah menghormatinya membuat ayahmu geram dan mencoba menjauhkanmu dari ibumu yang telah berselingkuh dengan mantan kekasihnya.”
“Sialan! Dia memberitahumu semuanya?”
Aciel mengepalkan tangannya kuat hingga buku-buku jarinya memutih. Bertahun-tahun lamanya ia mencoba melupakan kematian ibunya yang tragis. Tapi kini semua itu kembali menganga dengan kemunculan sang ayah yang tidak terduga. Ia pikir ayahnya tidak akan lagi mengusik kehidupannya setelah ia berhasil mengembangkan perusahaanya hingga menjadi perusahaan raksasa seperti ini. Sayang, ayahnya terlalu serakah dan ia mennginginkan apapun yang bisa dicapainya di dunia.
“Sebenarnya sudah sejak lama ibumu berhubungan dengan mantan kekasihnya, namun ayahmu hanya membiarkannya saja karena ia telah memiliki seorang kekasih tanpa sepengetahuan ibumu.”
“Darimana kau mengetahui hal itu? Jangan coba-coba membohongiku Eden...” Desis Aciel marah. Ia tidak pernah tahu jika ayahnya juga memiliki selingkuhan seperti ibunya. Tapi yang tidak bisa membuatnya menyalahkan wanita yang telah melahirkannya itu adalah karena ibunya selama ini selalu diabaikan oleh ayahnya.
“Ayahmu yang mengatakannya padaku. Ia terlihat menyesal sebenarnya, tapi ibumu juga melakukannya, jadi ia tidak memiliki pilihan lain. Lagipula sekarang ibumu sudah pergi, ayahmu ingin menikahi kekasihnya dalam waktu dekat ini.”
Eden tampak bahagia melihat Aciel yang berhasil ia provokasi dengan seluruh cerita karangannya. Ia yakin sebentar lagi hubungan ayah dan anak itu pasti akan hancur. Lagipula apa yang ia ceritakan tidak sepenuhnya berita bohong. Tuan Carl baru saja mengatakan padanya jika ia ingin menghabiskan masa tuanya bersama wanita yang dicintainya, yang merupakan rekan bisnisnya yang selama lima tahun ini telah menemani hari-harinya yang membosankan. Namun dengan sedikit bumbu-bumbu kebohongan, ia berhasil menciptakan sebuah cerita dusta untuk memprovokasi Aciel yang tempramental.
“Jadi ayahku datang ke rumahku hanya untuk mengatakan hal itu? Ia ingin mengolok-olokku dan memamerkan kekasih barunya? Cih, menjijikan.”
“Ia mengundangmu untuk datang ke pesta pernikahannya minggu depan.”
“Aku tidak akan datang.”
“Kenapa? Datanglah, ia tetaplah ayahmu. Mungkin dengan kau datang, kau bisa bertemu dengan Render.”
“Darimana kau tahu tentang Render? Dia masih mendekam di penjara karena penggelapan dana yang ia lakukan sepuluh tahun yang lalu.” desis Aciel tajam. Terlihat dari wajahnya jika ia sangat terkejut dengan berita yang dibawa Eden. Namun ia mencoba meredamnya dengan menatap pemandangan Vegas yang padat melalui jendela besar di ruang kerjanya.
“Kau tidak tahu, satu tahun yang lalu Render dibebaskan oleh ayahmu. Aku mengetahuinya dari Sian dan juga ayahmu.”
“Sian tidak mengatakan apa-apa padaku.”
“Mungkin Sian hanya ingin menjaga perasaanmu. Ahh.. tapi kenapa ayahmu membebaskan Render yang jelas-jelas telah merugikan perusahaanmu? Apa itu bagian dari rencananya? Ayahmu tidak suka melihat kau sukses, jadi ia mengirimkan seseorang untuk merusak perusahaanmu sepuluh tahun yang lalu.”
Eden tersenyum penuh kemenangan di belakang Aciel sambil memainkan ujung-ujung kukunya yang berkutek merah. Ternyata usahanya untuk mengorek informasi melalui Zyan dan Sian tidak sia-sia. Selama ia berada di rumah, ia mulai mencari tahu mengenai perusahaan Aciel dan apa saja masalah yang selama ini dilakukan Aciel selama menjabat sebagai CEO. Zyan yang merupakan pegawai baru di perusahaan pusat, ia gunakan untuk mencari informasi sebanyak-banyaknya mengenai Aciel. Sebagai seorang pegawai baru,
keingin tahuannya yang tinggi tentang Aciel pasti tidak akan membuat curiga siapapun. Seluruh penghuni perusahaan ini pasti menganggap sikap Zyan itu sebagai sikap yang wajar dilakukan oleh seorang pegawai baru yang tidak tahu apa-apa. Lalu melalui Sian, ia mengorek lebih lanjut informasi yang didapatkan dari Zyan dan mencoba mengait-ngaitkannya dengan informasi baru yang ia dapatkan dari Sian. Sayangnya ia tidak pernah memiliki kesempatan untuk menghasut Aciel karena ia tidak pernah memiliki waktu yang tepat untuk melakukannya. Dan secara kebetulan ayah Aciel datang, membuatnya memiliki kesempatan emas untuk membuat hubungan Aciel dan ayahnya semakin merenggang,
atau mungkin benar-benar hancur tak tersisa.
“Jika Render berada di pihak ayahku, kenapa ayahku tidak membebaskannya sejak dulu? Kenapa setelah sembilan tahun ayahku baru membebaskannya?”
“Mungkin karena ayahmu tidak ingin kau mencurigainya. Semakin lama kau pasti akan semakin melupakan Render dan menganggap kasus itu telah selesai. Sudahlah, mafkan saja ayahmu dan berbaikanlah dengannya. Ayahmu hanya memilikimu sebagai satu-satunya anak yang akan melanjutkan garis keturunanya. Kau juga akan menjadi pewaris dari semua aset yang dimiliki oleh ayahmu bukan?”
“Brengsek! Kenapa Sian tidak pernah menceritakannya padaku? Sampai kapanpun aku tidak akan pernah memaafkan ayahku karena dia yang telah membunuh ibuku. Ayahku mengirim orang-orangnya untuk mengawasi ibuku. Dan ketika ibuku menyadarinya, ia berusaha menghindar dari kejaran anak buah ayahku. Tapi semua itu justru menghantarkan ibuku pada kematiannya. Ia meninggal karena menabrak pagar pembatas jembatan hingga mobil yang dikendarainya terjun bebas kedalam sungai.”
Aciel mengenang masa lalunya dengan sorot getir yang tercipta dari kedua mata coklatnya. Kabar mengenai kematian ibunya adalah berita yang tak pernah bisa ia lupakan dari ingatannya. Meskipun ibunya telah berselingkuh dengan pria lain, namun ia tahu jika semua itu dilakukannya ibunya karena ia merasa jengah dengan sikap ayahnya yang kasar dan tak pernah peduli dengan kondisi keluarganya. Bahkan ia ingat saat ibunya bertengkar dengan ayahnya sebelum meninggal, ibunya berencana akan membawanya setelah bercerai dengan ayahnya. Mungkin hal itulah yang ditakutkan oleh ayahnya, sehingga ia memerintahkan anak buahnya untuk mengawasi setiap gerak
gerik yang dilakukan ibunya selama ini.
“Cobalah untuk berdamai dengan masa lalumu. Kau tidak akan pernah bisa hidup tenang jika kau terus mengingat semua kebencianmu.” Ucap Eden lembut sambil mengelus bahu Aciel pelan. Ia lalu memaksa Aciel untuk melihat kearahnya dan menyentuh rahang tegas itu pelan dengan seluruh kelembutan yang ia miliki.
“Kau sebentar lagi akan menjadi ayah, aku tidak ingin ia bernasib buruk sama sepertiku atau sepertimu, jadi cobalah untuk memaafkan semuanya, hmm?”
“Entahlah, aku tidak tahu apakah aku bisa. Semua itu terlalu mengejutkan dan menyakitkan untukku.” Ucap Aciel sambil menyentuh tangan Eden yang masih bertengger di rahangnya.
Mereka berdua lantas terdiam cukup lama dengan seluruh masalah yang berjubel di dalam kepala mereka masing-masing.
“Apa kau akan menemaniku pergi ke dokter?”
“Ayo, kita lihat bagaimana perkembangannya.” Ucap Aciel sambil mengelus perut buncit Eden lembut penuh ketulusan.
-00-
“Wahh... bayi ini tumbuh dengan sangat cepat.”
Aciel memandang takjub pada layar monitor sambil menyilangkan kedua tangannya di depan dada. Untuk pertama kalinya hatinya merasakan perasaan yang begitu membuncah. Perpaduan antara rasa bahagia dan juga berdebar yang selama ini tidak pernah ia rasakan. Selama ini ia pikir memiliki anak akan sangat merepotkan, tapi ia tidak pernah tahu jika sensasi menjadi menjadi seorang calon ayah jauh lebih luar biasa daripada membayangkan kerepotan yang akan ia hadapi saat memiliki anak nantinya.
“Dia sudah tidak terlihat seperti serangga.”
“Apa?”
Eden tiba-tiba terkik geli mengingat bagaimana komentar Aciel saat ia menunjukan foto anaknya saat berusia tiga bulan.
“Aciel menganggap janin berusia tiga bulan seperti seekor serangga kecil dokter.”
“Oh, tentu saja bentuknya sekarang sudah jauh lebih sempurna. Mendekati usia sembilan bulan, bentuknya akan semakin sempurna dan terlihat seperti bayi pada umumnya. Saat ini kepalanya masih terlihat lebih besar daripada tubuhnya, tapi semakin lama semuanya akan tumbuh sebagaimana mestinya.” jelas dokter Hwang sambil tersenyum. Setelah itu dokter Hwang mengijinkan Eden untuk turun dari ranjang karena sesi pemeriksaanya telah selesai.
“Awas, perhatikan langkahmu."
Aciel refleks memegang bahu Eden saat wanita itu sedikit terhuyung karena beban tubuhnya yang semakin berat. Eden lalu berpegangan pada Aciel sebentar dan meminta pria itu untuk menuntunnya kearah dokter Hwang.
“Terimakasih.”
“Untuk apa?”
“Untuk sikapmu yang sedikit lembut untuk anak ini.”
“Kau berlebihan.” balas Aciel datar. Ia tidak suka jika perbuatan kecilnya dihargai begitu besar oleh Eden. Itu
terasa seperti tidak pantas karena memang seharusnya sikapnya sebagai calon ayah seperti ini. Bukan terus menerus menyakiti Eden dengan seluruh sikap brengseknya.
ah iya, dapat salam dari Mitsuki nih, jangan lupa mampir yaa
JUST THREE DAYS : MITSUKI
sabar ya Ed...
penting babang Ace tetep sayang...