NovelToon NovelToon
Novel Mecha "GEAR TEARS"

Novel Mecha "GEAR TEARS"

Status: sedang berlangsung
Genre:Action / Romansa Fantasi / Kehidupan Tentara
Popularitas:354
Nilai: 5
Nama Author: KIRA

GEAR TEARS
Novel Bertema Mecha Militer

Di dunia yang telah hancur oleh kemunculan makhluk misterius bernama Cataclysm, umat manusia hanya mampu bertahan hidup di dalam kubah raksasa yang disebut Station. Untuk melindungi peradaban yang tersisa, organisasi militer The Hawk membentuk pasukan elit Grey Wings, para pilot yang mengendalikan robot tempur raksasa bernama Neo Gear.

Shin, seorang pilot muda Grey Wings Station 05, menjalani hidupnya seperti pilot lainnya hingga bertemu dengan seorang wanita misterius bernama Belial. Dengan tanduk biru, ekor panjang, dan kekuatan yang melampaui manusia biasa, Belial menyimpan rahasia yang dapat mengubah segalanya: ia adalah seorang hybrid manusia dan Cataclysm.

Di tengah meningkatnya serangan Cataclysm dan konspirasi yang tersembunyi di balik organisasi The Hawk, Shin dan Belial perlahan membangun ikatan yang seharusnya tidak pernah ada. Namun, ketika masa lalu yang telah lama dikubur mulai bangkit.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon KIRA, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Chapter 14 "Kesempatan Yang Selalu Hilang"

Chapter 14

Pagi hari di kediaman Tim 05 selalu dimulai dengan ritme yang sama, namun bagi Elas, pagi kali ini terasa sedikit lebih... menguji ketabahan iman analitisnya. Di sudut dapur Home, aroma sup hangat menguar manis. Mei, dengan celemek putihnya yang khas, sedang sibuk membalik dadar telur di atas wajan. Langkah kaki yang tergesa-gesa tiba-tiba memecah keheningan fajar. Huah, dengan rambut acak-acakan dan energi yang entah datang dari mana, menerobos masuk. "Meiiiii~!" Huah langsung menghambur, melingkarkan kedua lengannya di pinggang Mei dari belakang, lalu menyurukkan wajahnya ke punggung Mei dengan manja.

Mei tidak marah. Perempuan itu justru terkekeh lembut, membiarkan dadar telurnya sejenak demi mengusap kepala Huah dengan penuh kasih sayang. "Pagi, Huah. Mandi dulu sana, sebentar lagi sarapannya siap." Di meja makan yang berjarak beberapa meter dari mereka, Elas sedang duduk tegak. Sebuah buku tebal bersampul kulit keras terbuka di hadapannya. Matanya menatap barisan teks, namun fokusnya telah bergeser seratus delapan puluh derajat. Bingkai kacamatanya sedikit meluncur turun ketika ia melirik tipis ke arah dapur. "..."

Elas tidak mengatakan sepatah kata pun. Ia hanya mendorong kembali kacamatanya dengan jari tengah, lalu membalik halaman buku dengan sentakan yang sedikit lebih keras dari biasanya. Padahal, jauh di dalam lubuk hatinya yang paling dalam, sebuah suara kecil meratap pasrah: Lagi... Selalu Huah yang pertama.

Beberapa menit kemudian, ketenangan dapur kembali terusik. Kali ini Lei yang datang dengan langkah gontai, rambut jabriknya tampak semakin berantakan, sementara tangannya membawa mug kosong. "Kak Mei! Kopiku habis. Tolong dong, nyawaku belum kumpul semua ini," keluh Lei sambil menyodorkan mugnya dengan pasrah. Mei tertawa renyah, suara tawanya yang bening terdengar begitu menenangkan di pagi hari. "Lain kali jangan diminum sampai lima gelas dalam semalam, Lei. Kamu itu pilot, bukan kalong." Meskipun mengomel, tangan Mei tetap bergerak cekatan, menyeduh kopi hitam baru dengan takaran yang pas.

Elas kembali melirik dari balik bukunya. Lembaran kertas di hadapannya sama sekali belum dibaca sejak lima menit yang lalu. Matanya menyipit, mengamati bagaimana Mei menyerahkan mug kopi itu sambil menepuk pundak Lei dengan hangat. "..." Elas menghela napas pendek, begitu halus hingga tak ada yang mendengarnya.

Sebelum Elas sempat menenangkan diri, pintu belakang berderit terbuka. Belial masuk dengan langkah berat. Ekor hitam panjangnya yang biasa meliuk angkuh kini tampak kotor, penuh dengan noda tanah dan keringat akibat latihan fisik buta-butaan sejak subuh. Melihat hal itu, Mei langsung meletakkan spatula. Tanpa jijik sedikit pun, ia mengambil selembar handuk bersih yang hangat dari rak. "Belial, diam sebentar ya. Jangan bergerak dulu."

Wajah garang Belial tiba-tiba menegang. Semburat merah tipis muncul di pipinya yang biasanya pucat. Ia membuang muka, mencoba mempertahankan sisa-sifat arogansinya. "...Jangan sentuh ekorku sembarangan... Menjijikkan tahu." "Iya, iya," jawab Mei lembut, sama sekali tidak terintimidasi. Dengan penuh ketelatenan, Mei mulai mengusap pangkal ekor Belial, membersihkan sisa-sisa tanah di sana dengan gerakan perlahan. Brak. Elas menutup bukunya. Tidak keras, tapi cukup untuk membuat buku tebal itu menghasilkan suara yang tegas di atas meja kayu. "..." Elas menatap lurus ke depan dengan pandangan kosong. Dadanya mendadak terasa sesak oleh kalkulasi logika yang sama sekali tidak matematis.

"Kenapa semua orang... selalu mendapat perhatian dari Mei?" Elas memulai monolog batinnya, meremas ujung seragamnya di bawah meja. " Padahal dari segi efisiensi tim dan ketepatan data, aku yang paling sering membantunya. Padahal aku juga..." Pikiran Elas berhenti mendadak. Wajahnya yang biasa sedingin es kini mendadak memanas, memancarkan warna merah padam hingga ke ujung telinganya. "...ingin diperlakukan begitu juga."

Sebagai seorang analis, Elas tahu bahwa sebuah tindakan membutuhkan stimulus. Maka, siangnya, ia memutuskan untuk memulai operasi rahasianya. Elas sengaja menyusun lima jilid ensiklopedia mekanika berat di lengannya hingga menumpuk tinggi, melebihi dagunya. Rencananya sederhana, berjalan melewati Mei, berpura-pura limbung, dan Mei akan menangkapnya. "Permisi, aku mau lewat..." Elas bergumam pelan saat melihat celemek Mei berkelebat di koridor. Namun, variabel tak terduga selalu ada dalam setiap rencana ilmiah. "Lei! Tangkap bolanya!" terdengar teriakan Zhou dari arah lapangan.

"Ah, maaf, Elas! Rem blong!" Bruk!. Lei yang sedang berlari mundur untuk menangkap bola mendadak menghantam punggung Elas. Tumpukan ensiklopedia tebal itu langsung melayang ke udara dan jatuh berantakan di atas lantai logam koridor. Elas terduduk di lantai, siap mendongak untuk melihat uluran tangan Mei. Namun, sosok yang berjongkok di hadapannya justru memiliki rambut hitam bersih dengan tatapan lurus yang datar.

"Kamu tidak apa-apa? Ini bukumu," ucap Shin seraya memunguti tumpukan ensiklopedia itu dengan satu tangan, lalu menyerahkannya pada Elas. Elas memandang Shin dengan tatapan yang luar biasa hampa. "..." "...Terima kasih, Shin," bisik Elas, jiwanya terasa terbang separuh.

Sore harinya, Elas mencoba pendekatan psikologis. Di ruang santai, ia sengaja memilih duduk di sebuah sofa panjang yang benar-benar kosong, menyisakan ruang luas di sebelahnya. Dari sudut matanya, ia melihat Mei sedang membawa nampan berisi camilan, berjalan lurus ke arah ruang santai. "Datang... Dia pasti akan duduk di sini karena tidak ada tempat lain," batin Elas, jantungnya berdegup sedikit lebih cepat dari ritme standarnya.

Langkah Mei semakin dekat. Satu meter. Setengah meter. Mei sudah bersiap memutar tubuhnya untuk duduk di sebelah Elas. "MEIII!! Sini dong, lihat! Aku berhasil menangkap serangga aneh di kebun!" Teriakan cempreng Huah menggema dari arah jendela luar.

Mei langsung mengurungkan niatnya, berbalik dengan senyum cerah. "Wah, benarkah? Sebentar, Huah!" Mei meletakkan nampan di meja, lalu setengah berlari menuju luar. Elas hanya bisa menatap ruang kosong di sebelahnya yang kini terasa sedingin es diluar angkasa. "..."

Putus asa adalah kata yang tabu bagi seorang ilmuwan, tetapi Elas mulai merasakannya. Sore itu juga, ia memutuskan untuk menggunakan taktik klasik yang sering ada di buku dongeng Birdcage: menghilangkan barang berharga. Ia sengaja meletakkan kacamatanya di atas meja ruang tengah, lalu berjalan memutar, berharap Mei yang akan menemukannya dan memanggilnya dengan suara lembut. "Kalau Mei yang menemukannya... dia pasti akan memakaikannya lagi untukku..." Elas bergumam, meraba-raba dinding karena pandangannya sedikit mengabur tanpa lensa silindrisnya.

"Ini kacamatamu. Tertinggal di meja." Suara berat dan datar itu bukan milik Mei. Elas mengerjapkan matanya, berusaha memfokuskan pandangan. Di hadapannya berdiri Sei yang menatapnya dengan sebelah alis terangkat. "...Terima kasih, Sei," ucap Elas dengan nada suara yang begitu flat, seolah-olah ia baru saja kehilangan seluruh pasokan magma di jalurnya. Gagal lagi.

Menjelang senja, Elas duduk menyendiri di bangku koridor belakang dekat taman dalam. Kepalanya tertunduk, meratapi kegagalan tiga eksperimen sosialnya hari ini. Belial lewat dengan langkah santai, ekornya meliuk pelan. Ia berhenti di depan Elas, melipat tangan di dada, lalu menatap sang kutu buku dengan pandangan menghakimi. "Kau terlihat sangat menyedihkan," cetus Belial tanpa tedeng aling-aling. "..." Elas tidak mendongak. "Tidak." "Kau sedang iri pada seseorang, kan?" kejar Belial lagi, nadanya sarkastik. "..." Elas meremas lututnya sendiri. "Tidak." Belial mendengus pendek, membuang muka dengan ekspresi malas. "Jangan berbohong pada insting Cataclysm-ku. Seluruh wajahmu yang memerah itu mengatakan 'iya' dengan sangat keras."

Karena sisa kekesalan yang menumpuk, Elas memutuskan untuk membersihkan diri. Mandi air hangat biasanya bisa mengembalikan fungsi otaknya secara maksimal.

Beberapa puluh menit kemudian, Elas keluar dari kamar mandi umum Home. Uap air hangat masih mengepul di sekitarnya. Ia berdiri di depan cermin luar, mengusap rambut pendeknya yang basah dengan handuk kecil."..." "Hm?" Tangannya meraba-raba konter wastafel. Kosong. Ia meraba kantong jubah mandinya. Juga kosong.

"Kacamataku..." Elas berbisik panik. Ia baru ingat kalau ia meletakkannya di rak luar sebelum masuk ke bak mandi. Namun, rak itu kini kosong. Tanpa kacamata, dunia Elas langsung berubah menjadi pusaran warna dan bayangan yang buram total. Ia mencoba melangkah maju. Dug.

"..." Keningnya membentur tembok koridor dengan sukses. Elas mundur dua langkah, memutar tubuhnya sembilan puluh derajat, lalu melangkah lagi. Prak. Kakinya tersandung kaki kursi santai, membuatnya hampir terjungkal."..."

Elas mulai panik. Ia salah mengambil arah koridor. Dan sialnya, lantai di area ini baru saja dipel dan masih sangat basah. Begitu kaki telanjang Elas menginjak permukaan yang licin itu, keseimbangannya hilang sepenuhnya. Tubuhnya limbung ke belakang. "Ah—" Elas memejamkan mata, bersiap merasakan hantaman lantai logam yang dingin.

Namun, rasa sakit itu tidak pernah datang. Sebuah tangan yang terasa hangat namun kokoh tiba-tiba mencengkeram lengannya, sementara tangan lainnya menahan punggung Elas dengan cekatan, menarik tubuhnya kembali ke posisi tegak. "Hati-hati, Elas. Lantainya masih basah," sebuah suara lembut berbisik tepat di dekat telinganya. Elas membeku. Seluruh sistem sarafnya seolah berhenti berfungsi. Aroma sup hangat dan sabun bunga yang familier langsung memenuhi indra penciumannya.

"Mei...?" Mei tetap menopang tubuh Elas yang masih sedikit gemetar. "Iya, ini aku. Kamu tidak apa-apa? Ada yang terluka?" Elas hanya bisa menggeleng pelan, lidahnya mendadak kelu. Mei tersenyum Elas bisa mendengarnya dari nada bicaranya, lalu meraba saku celemeknya. "Aku menemukan kacamatamu di meja ruang tengah tadi. Zhou bilang kamu menjatuhkannya lagi. Aku simpan karena takut pecah kalau tertinggal di sana."

Dengan gerakan yang sangat perlahan dan penuh kelembutan, Mei membuka gagang kacamata tersebut. Jemari hangat Mei menyentuh pelipis Elas, menyelipkan gagang kacamata itu ke belakang telinganya, lalu memposisikan bingkainya dengan pas di atas hidung Elas. Begitu lensa itu terpasang, dunia yang tadinya buram mendadak menjadi sangat jelas. Dan variabel pertama yang ditangkap oleh retina mata Elas adalah wajah Mei yang berada dalam jarak kurang dari sepuluh sentimeter. Mata Mei yang jernih menatapnya dengan binar penuh perhatian, dan bibirnya melengkung membentuk senyuman hangat.

"Sudah bisa melihat dengan jelas?" tanya Mei lembut. Elas tidak bisa menjawab. Seluruh pasokan darah di tubuhnya seolah-olah meledak dan berkumpul di wajahnya. Merah. Benar-benar merah total hingga ke leher. Ia hanya bisa mengangguk kaku seperti robot rusak.

Mei melepaskan tangannya dari punggung Elas, lalu beralih menatap rambut Elas yang masih meneteskan sisa air mandi. "Rambutmu masih sangat basah, Elas. Kalau dibiarkan, kamu bisa flu." Tanpa meminta persetujuan, Mei mengambil handuk kecil yang menggantung di leher Elas. Mei menuntun Elas untuk duduk di sofa ruang santai terdekat yang kebetulan sedang sepi. Mei berdiri di hadapannya, lalu mulai menggosok rambut Elas dengan gerakan lembut dan ritmis.

Elas benar-benar lumpuh. Ia duduk dengan posisi tegak, kedua tangannya mencengkeram lututnya sendiri, tidak berani bernapas terlalu keras. Kehangatan dari jemari Mei yang bergerak di balik handuk terasa begitu memabukkan. Mei menunduk sedikit, melihat ketegangan di bahu Elas. "Capek ya setelah misi kemarin?"

"...Sedikit," jawab Elas dengan suara yang hampir tenggelam. "Kalau begitu, duduk yang nyaman saja. Jangan tegang begitu," ucap Mei sambil tertawa kecil, menghentikan gosokan handuknya lalu ikut duduk di sofa, tepat di sebelah Elas. Tubuh Elas yang sudah kehilangan fungsi kendali logisnya mendadak bergerak sendiri. Karena rasa kantuk yang tiba-tiba menyerang akibat kehangatan uap mandi dan aroma Mei, kepala Elas perlahan-lahan miring... dan mendarat dengan mulus di atas pangkuan Mei.

Elas tersentak kecil, berniat menarik diri karena panik. Namun, sebelum ia sempat bergerak, sepasang tangan lembut Mei justru kembali mengusap rambutnya, membelai helaian rambut pendeknya dengan kasih sayang yang luar biasa hangat. "Tidurlah sebentar kalau mengantuk," bisik Mei, suaranya seperti mantra yang meruntuhkan seluruh pertahanan analitis Elas.

Elas akhirnya menyerah. Ia membiarkan kepalanya tenggelam lebih dalam di pangkuan Mei yang empuk dan nyaman. Ia memejamkan matanya, menikmati setiap detik belaian jemari Mei di kepalanya. Di dalam hatinya, sebuah sorakan kemenangan bergaung megah, "Akhirnya... Giliranku tiba... Eksperimen ini... sukses besar."

Di koridor luar ruang santai, tiga pasang sepatu berjalan beriringan. Lei, Sua, dan Teiben baru saja kembali dari ruang simulasi taktis. "Pintu ruang santai agak terbuka ya? Tumben sepi," ujar Lei sambil melirik santai ke arah celah pintu yang terbuka sekitar beberapa puluh sentimeter. Langkah Lei mendadak berhenti. Matanya yang sipit langsung membelalak lebar, mulutnya terbuka tanpa suara. "..."

"Ada apa, Lei? Kenapa berhenti—" Kalimat Sua terputus begitu ia ikut mengintip dari balik bahu Lei. Ekspresi wajah kapten yang biasanya tegas itu langsung membeku, rahangnya seolah mau jatuh ke lantai. Teiben, yang penasaran karena kedua rekannya mendadak berubah menjadi patung, ikut melongokkan kepalanya di posisi paling atas. Pria ramah itu langsung kehilangan kata-kata, matanya berkedip berkali-kali memastikan sensor optiknya tidak rusak.

Di dalam ruangan yang temaram oleh sinar senja... Elas... si kutu buku yang paling dingin, kaku, dan logis di seluruh Tim 05... sedang berbaring dengan sangat nyaman di atas pangkuan Mei. Wajahnya tampak begitu damai, bahkan sedikit tersenyum kecil seperti anak balita yang sedang bermimpi indah, sementara tangan Mei terus membelai rambutnya dengan penuh kasih. Lei berbisik dengan suara yang luar biasa bergetar. "...Aku... aku pasti sedang kena efek halusinasi kebanyakan kopi, kan? Tolong tampar aku..."

Teiben meraba pelipisnya sendiri. "...Itu benar-benar Elas? Elas yang kemarin menceramahiku tentang efisiensi bahan bakar selama dua jam tanpa ekspresi?" Sua mengepalkan tangannya, syok berat. "...Anggota yang paling tidak punya emosi di tim kita... ternyata diam-diam mengambil start paling depan?!" Keheningan yang mencekam dan penuh tekanan batin melanda koridor itu selama beberapa detik.

Entah karena hawa membunuh yang pekat dari luar pintu atau karena perubahan atmosfer ruangan, Elas perlahan-lahan membuka matanya. Pandangannya yang sudah jelas berkat kacamata langsung mengarah lurus ke celah pintu ruang santai. Tiga kepala. Tiga pasang mata. Semuanya menatap ke arahnya dengan tatapan kosong, syok, dan penuh penghakiman.

Elas membeku di tempat. Otak analitisnya mendadak melakukan kalkulasi ulang dengan kecepatan penuh, dan hasilnya adalah: Kehancuran Reputasi Total. Wajah Elas yang tadinya putih bersih mendadak berubah warna. Merah muda. Merah tua. Merah padam hingga menyerupai warna inti magma yang siap meledak.

"AAAAAAAAAAAAAA!!!!" Untuk pertama kalinya sepanjang sejarah sejak ia dilantik di Station 05, Elas... si pilot Cassowary yang terkenal pendiam... mengeluarkan jeritan melengking yang luar biasa keras, memecah keheningan sore dan menggema di setiap sudut markas Home.

"Ada apa?! kecoak lagi?!" Huah menerobos masuk ke ruang santai dengan pipa besi di tangannya, matanya liar mencari ancaman. Zhou menyusul dari belakang dengan napas terengah-engah. "Apakah obat serangganya kurang ampuh?!" Tak lama, Belial juga muncul di ambang pintu. Namun, pandangan mata Belial langsung tertuju pada Elas yang kini sedang berusaha bergulung di lantai, mencoba membungkus seluruh tubuhnya dengan karpet ruang santai karena malu, sementara Mei hanya duduk di sofa sambil tertawa geli, masih memegang handuk kecil. Belial berjalan mendekat, berdiri di hadapan Elas yang bergulung seperti kepompong, lalu menatapnya dengan pandangan yang luar biasa datar dan dingin.

"...Jadi," ucap Belial, nadanya sarat akan penghakiman mutlak. "...Kau yang biasanya mengoceh tentang moralitas dan fokus militer... ternyata adalah tipe manusia manja yang seperti itu." Elas semakin menenggelamkan wajahnya ke dalam gulungan karpet, benar-benar ingin memicu fungsi self-destruct pada dirinya sendiri agar lenyap dari muka bumi saat itu juga.

Sementara di atas sofa, Mei hanya terus tertawa kecil dengan suara keibuannya yang hangat, menganggap seluruh drama sore itu tak lebih dari sekadar kehangatan keluarga di antara anggota pasukannya yang menggemaskan.

1
Noir
Gokill
KIRA: makasihh
total 1 replies
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!