Velicia, seorang wanita yang sedang hamil delapan bulan, dipermalukan dan disiksa oleh suaminya sendiri. Michael adalah Bos Mafia yang lebih mempercayai wanita lain bernama Sania, dibanding istrinya sendiri.
Dituduh tanpa bukti dan dipaksa berlutut di depan wanita yang membencinya, Velicia akhirnya menyadari bahwa cinta yang ia perjuangkan selama dua tahun hanyalah ilusi.
Namun Michael tidak tahu satu hal, Velicia bukan wanita biasa. Di balik diam dan lukanya, ia menyimpan identitas tersembunyi sebagai bagian dari dunia mafia yang jauh lebih gelap dari keluarga Kensington.
Saat Michael akhirnya menyesal, akankah Velicia memaafkannya dan kembali padanya? Atau memilih pria lain yang datang di waktu yang tepat?
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Rere ernie, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Chapter — 17.
Malam turun bersama hujan deras.
Di sebuah gudang tua di kawasan pelabuhan, Michael, Dante Moretti, dan beberapa petinggi organisasi berkumpul mengelilingi meja besi. Di atas meja terbentang denah Romanov Estate dan beberapa foto hasil pengintaian.
Tatapan Michael berhenti cukup lama pada foto terakhir, ketika Lorenzo sedang berdiri di samping Velicia sambil mendorong kereta bayi Vincenzo, rahangnya mengeras.
"Aku belum pernah melihatmu seperti ini." Dante menyandarkan tubuhnya ke kursi.
Michael tidak menjawab.
"Apa kau benar-benar cemburu?"
Michael mengangkat kepalanya perlahan. "Bukan urusanmu."
Dante terkekeh pelan. "Kalau begitu... biar aku yang mengatakannya. Kau takut!"
"Aku tidak takut."
"Kau takut... Velicia benar-benar mencintai Lorenzo." Dante tersenyum setelah memprovokasi.
Tak seorang pun berani menyela, karena semua orang tahu Dante baru saja mengucapkan sesuatu yang tidak pernah berani mereka katakan.
"Diam!" Michael menggenggam gelas di tangannya hingga retak.
Namun Dante justru tersenyum. "Kalau kau tidak takut, kenapa kau ingin membunuh Lorenzo lebih dulu dibanding menyerang Romanov?"
Michael menatap sekutunya itu tajam, sorot matanya begitu dingin hingga mampu membuat orang lain menunduk. Namun Dante bukan bawahan Michael, dia sama gilanya.
"Aku hanya ingin memenangkan perang."
"Bohong." Dante menggeleng pelan. "Kau ingin merebut kembali wanita itu."
Michael tidak membantah, karena dirinya sendiri mulai menyadari tujuan perang ini perlahan berubah. Awalnya ia ingin menghancurkan Romanov agar Velicia kehilangan tempat bergantung. Namun sekarang, ia hanya ingin menyingkirkan Lorenzo. Pria yang setiap hari membuat dadanya terbakar.
"Bos." Salah satu anak buah Moretti masuk tergesa-gesa. "Kami menemukan pola pergerakan Nona Velicia."
Pria itu meletakkan beberapa foto baru. "Setiap hari Rabu sore, Nona Velicia pergi ke rumah sakit anak."
"Tanpa Lorenzo?"
"Ya."
"Romanov?"
"Hanya enam pengawal."
Dante tersenyum tipis. "Kesempatan bagus."
“Apa maksudmu?” Michael seketika menatap Dante dengan sorot mata dingin. Aura kelam yang selama ini tersembunyi kembali terpancar, membuat suasana di sekitarnya berubah mencekam.
"Kita culik dia."
“Aku melarang siapa pun menyentuh Velicia! Dan jangan sekali-kali ada yang berani menyakitinya!”
Dante berdiri, wajahnya tampak ekspresi. "Siapa bilang kita akan menyakitinya? Kita hanya membawanya pergi."
"Setelah itu?"
"Kau punya waktu untuk menjelaskan semuanya."
Michael terdiam, Dante melanjutkan, "Selama ini setiap kali kau menemuinya, selalu ada Romanov dan Lorenzo. Bagaimana mungkin dia mau mendengarkanmu?"
Michael mengepalkan tangannya, ucapan Dante perlahan merasuk ke dalam pikirannya. “Aku hanya ingin bicara baik-baik dengannya.”
Dante tersenyum tipis, lalu berkata dengan nada penuh hasutan. “Kalau dia tidak mau mendengarkanmu, paksa keadaan sampai dia tidak punya pilihan selain berbicara denganmu.”
...*****...
Romanov Estate.
Velicia sedang menyusui Vincenzo di kamarnya. Pintu diketuk pelan, Antonio masuk membawa sebuah map.
"Orang kita menangkap tiga mata-mata."
Velicia menerima laporan itu. "Milik siapa?"
"Moretti."
Ia membaca cepat, kemudian berhenti pada satu kalimat.
Target pengawasan: Velicia Romanov.
Lokasi: Rumah sakit anak.
Hari: Rabu.
"Mereka mengawasiku." Tatapan Velicia berubah dingin.
Antonio mengangguk. "Mereka mulai berani."
"Sampaikan pada semua pengawal, hari Rabu tetap berangkat."
"Kau ingin menjadikan dirimu umpan?" Antonio mengernyit.
Velicia tersenyum tipis. "Aku hanya ingin melihat siapa yang cukup bodoh untuk mencobanya."
Dua hari kemudian, di rumah sakit anak. Konvoi Romanov berhenti di depan gedung. Empat mobil hitam, Velicia turun sambil menggendong Vincenzo. Empat pengawal mengikuti dari belakang, semuanya terlihat biasa. Namun di gedung seberang, belasan pria bersenjata sudah mengawasi.
"Target sudah datang." Suara terdengar melalui radio. "Tunggu aba-aba."
Satu jam berlalu, Velicia akhirnya keluar dari rumah sakit. Dokter mengatakan kondisi Vincenzo sangat sehat, dan itu membuat hatinya sedikit lega. Ia berjalan menuju mobil, dan saat itulah...
BRAK!
Sebuah truk besar tiba-tiba menghantam mobil paling depan. Ledakan langsung mengguncang jalan, pengunjung rumah sakit berteriak panik.
DOR!
DOR!
DOR!
Puluhan pria bertopeng bermunculan dari berbagai arah. "Bawa target!"
Jeritan memenuhi udara, pengawal Romanov langsung membalas tembakan. Suasana berubah menjadi medan perang.
"Apa yang mereka lakukan?" Michael yang mengawasi dari mobil lain langsung membeku.
Aaron menoleh panik. "Tuan... mereka mulai menembak!"
"Brengsek!" Michael membuka pintu mobil dengan tergesa-gesa. Ia baru menyadari sesuatu, Dante tidak pernah berniat sekadar membawa Velicia. Pria itu benar-benar ingin menculik wanita itu, bahkan jika harus membunuh para pengawal.
Michael berlari menuju lokasi baku tembak.
DOR!
DOR!
Peluru berdesing di sekelilingnya. Ia melihat salah satu anak buah Moretti mengarahkan senapan ke arah Velicia yang sedang melindungi Vincenzo dengan tubuhnya.
Michael tanpa berpikir panjang mengangkat pistol.
DOR!
Peluru mengenai kepala pria itu, tubuhnya langsung roboh.
"T-tuan Michael?" Anak buah Moretti yang lain membeku.
"Aku bilang jangan sentuh dia!" Michael menembak lagi.
DOR!
DOR!
Dua orang anggota Moretti kembali tumbang, kini Michael justru menembaki sekutunya sendiri.
Di sisi lain.
Velicia memeluk Vincenzo erat, tatapannya berubah tajam. Ia menyadari sesuatu, Michael... sedang melindunginya. Namun wajahnya tetap datar, karena semua itu tidak akan mengubah apa pun.
Tiba-tiba...
Seorang pria bertopeng berhasil lolos dari baku tembak. Dengan gerakan cepat, ia mengayunkan tangannya dan sebuah pisau melesat lurus ke arah Vincenzo.
“Wanita itu tidak penting! Ambil bayinya!”
Waktu seolah melambat.
Michael melihat kilatan pisau itu mengarah tepat ke Velicia yang sedang memeluk Vincenzo. Tanpa berpikir sedikit pun, ia berlari sekuat tenaga.
“Velicia!”
BRUK!
Michael menerjang tubuh Velicia, memeluk ibu dan anak itu erat untuk melindungi mereka.
SRAK!
Pisau itu menancap dalam di bahu Michael, darah segar seketika mengucur dan membasahi jas dan jalanan di bawahnya.
Velicia membeku sesaat, matanya membelalak menatap darah yang terus mengalir. Sementara Michael meringis menahan nyeri yang menusuk, napasnya menjadi berat. Meski begitu, kedua lengannya tidak bergeser sedikit pun. Ia tetap memeluk Velicia dan melindungi kepala kecil Vincenzo dengan tubuhnya sendiri.
“Tidak apa-apa…” ucap Michael dengan suara serak. “Asal kalian berdua selamat… itu sudah cukup bagiku.”
apa g nyesek tuh Michael 🤣🤣🤣🤣🤣🤣