NovelToon NovelToon
Fisherman'S Book

Fisherman'S Book

Status: sedang berlangsung
Genre:Mengubah Takdir
Popularitas:93.2k
Nilai: 4.9
Nama Author: Skyligh

[Minggu,Selasa, Jumat libur].
Novel ini mengisahkan perjalanan seorang pemuda yang, di usia sepuluh tahun, mengalami tragedi pahit—didorong oleh ibu tirinya hingga terjatuh dari tebing ke laut. Dalam perjuangannya bertahan hidup, ia tanpa sengaja menemukan sebuah buku misterius yang tersembunyi di dasar laut. Saat kesadarannya mulai memudar, buku itu menyatu secara ajaib ke dalam pikirannya, menjadi awal dari takdir luar biasa yang akan mengubah hidupnya selamanya.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Skyligh, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

KANTOR NOTARIS

Lima hari kemudian.

Pagi baru menyapa saat Alvarez tampak sibuk memperluas tambak udang dan lobsternya. Cahaya matahari memantul lembut di atas air tambak yang kini membentang dua kali lipat dari sebelumnya. Ia bekerja dalam diam, tangannya cekatan mengatur batas dan menyusun jaring tambahan.

Tiba-tiba, suara dering ponsel memecah ketenangan pagi. Sumbernya berasal dari dalam gubuk kayu sederhana di sisi tambak. Alvarez langsung bergegas, melangkah cepat dan masuk ke dalam. Layar ponselnya menyala, menampilkan nomor tak dikenal.

Ia mengangkatnya.

"Halo, bisakah saya berbicara dengan Bapak Alvarez?" suara seorang wanita terdengar sopan di seberang.

"Ya, saya sendiri. Kalau boleh tahu, ini siapa ya?" tanya Alvarez sambil menyeka keringat di dahinya.

"Saya dari kantor notaris. Ingin mengabarkan bahwa dokumen perpindahan nama pulau yang Anda ajukan sudah selesai. Kami mohon Anda datang ke kantor hari ini untuk penandatanganan berkas terakhir."

"Baik, saya akan segera ke sana. Bisa kirimkan alamat lengkapnya lewat pesan, ya?" jawab Alvarez tenang.

Setelah panggilan ditutup, pikirannya teringat pada panggilan lain dari semalam. Pak Hendri, pemilik restoran Surfland, ingin membeli lagi kerang abalon. Maka dari itu, sebelum berangkat ke kota, Alvarez memutuskan mengumpulkan beberapa kerang terlebih dahulu.

Satu jam kemudian, Alvarez sudah duduk di dalam bus menuju kota. Di sampingnya, dua kotak kecil styrofoam berisi kerang abalon terikat rapi, diletakkan hati-hati agar tak terguncang sepanjang perjalanan.

Setelah satu setengah jam, bus akhirnya tiba. Alvarez turun tepat di depan restoran Surfland, lalu masuk melalui pintu belakang yang biasa ia lewati.

Di dalam, Pak Hendri sudah menunggunya dengan senyum lebar. "Hahaha! Tuan muda akhirnya datang juga. Lihat tuh, di luar sudah banyak pelanggan yang tanya-tanya kerang abalon kamu."

Alvarez tersenyum, lalu mengintip dari celah pintu dapur. Benar saja—restoran itu ramai, penuh pengunjung. Ia kembali menemui Pak Hendri dan menyerahkan kotak berisi abalon. Setelah uang diserahkan, Alvarez membuka salah satu kotaknya yang lain.

"Pak, di dalam ini saya selipkan satu lobster Boston dan seekor udang tiger. Cuma buat Anda coba. Siapa tahu nanti tertarik jual juga," kata Alvarez, setengah bercanda.

Pak Hendri tertawa kecil dan mengangguk, mengucapkan terima kasih sebelum kembali ke dapur.

Alvarez melangkah keluar restoran, kini tujuannya jelas: kantor notaris. Ia memanggil taksi dan menunjukkan alamat yang dikirimkan lewat pesan.

Setibanya di kantor pada pukul 10 pagi, ia melangkah menyusuri koridor sunyi ber-AC yang harum kayu manis dari aroma terapi. Di ujung lorong, sebuah pintu terbuka dan seorang wanita paruh baya menyambutnya.

"Silakan masuk, Tuan Alvarez," sapa Ibu Ratna Wirawan, notaris yang sudah terkenal di wilayah pesisir.

"Saya sudah menerima surat pengantar dari Kepala Desa Mosuh. Jadi Anda ingin mengurus pemindahan hak atas pulau itu?"

"Betul, Bu," kata Alvarez sambil duduk. "Pulau Karang Lantai sebelumnya tercatat sebagai aset tidak bergerak milik wali kota. Tapi sudah lama tak digunakan. Saya tinggal di sana hampir sepuluh tahun. Kini saya ingin menjadikannya milik sah."

Ibu Ratna mengangguk, membuka dokumen dengan cekatan. "Saya ingat, dulu sempat mau dijadikan kawasan wisata, tapi batal karena pergantian wali kota."

"Untungnya," lanjut Alvarez sambil mengeluarkan map tambahan, "saya dapat restu langsung. Ini surat pernyataan wali kota yang menyetujui penjualan simbolis."

Dokumen itu diperiksa seksama. Stempel dan tanda tangan sah tertera jelas.

"Baik. Dengan ini, kita bisa lanjutkan ke akta jual beli tanah dan pengajuan balik nama ke BPN. Prosesnya mungkin makan waktu dua sampai tiga bulan karena ini termasuk alih fungsi aset negara."

Alvarez mengangguk. Ia tahu perjuangan ini belum selesai, tapi ini langkah penting yang akhirnya tercapai.

Setelah menandatangani berkas, Alvarez keluar dari kantor dengan perasaan ringan. Map cokelat di tangannya kini terasa seperti tiket menuju masa depan.

Di trotoar yang panas, ia menyelipkan map ke dalam tas dan mengeluarkan ponselnya. Nama Max terpampang di layar. Ia menekan tombol hijau.

"Halo, Max," sapa Alvarez.

Suara Max langsung terdengar ceria meski tergesa. "Halo, Bos! Ada apa?"

"Aku di kota. Temenin yuk."

"Yah, aku masih di sekolah, Bos. Lagi pelajaran. Gak bisa kabur, Pak Guru galak."

Alvarez tertawa kecil. "Wah iya, aku lupa. Masih sekolah, ya?"

"Tapi aku pulang jam dua belas siang. Sumpah, tunggu aku. Nanti aku ke sana setelah pulang sekolah dengan toni"

"Bagus. Tapi janji, jangan kabur dari pagar sekolah."

"Janji, Bos! Eh, soal mutiara kemarin, kata Toni semua mutiaranya terjual habis!"

Alvarez tersenyum sambil menatap hiruk-pikuk kota. "Bagus. Nanti kita bahas semua. Aku tunggu."

Setelah panggilan ditutup, Alvarez mencari tempat duduk di bawah pohon rindang dekat taman kota. Ia membeli secangkir kopi hitam dan sepotong roti bakar dari pedagang kaki lima. Sambil menyeruput kopi panas, ia menatap langit—membayangkan bagaimana pulau kecilnya akan menjadi permata baru di tengah laut yang pernah menyimpan kesepiannya.

Sambil menyeruput kopi dan menggigit roti bakarnya perlahan, Alvarez memperhatikan lalu lalang orang kota yang begitu sibuk. Kendaraan saling berlomba melintasi jalan, para pejalan kaki tergesa dengan ponsel di tangan. Tapi di sudut tempat ia duduk, semuanya berjalan lebih lambat—seperti detak waktu di pulaunya yang sunyi.

Pikirannya mengembara. Ia membayangkan tambak yang sedang diperluas, lobster-lobster yang tumbuh sehat di dasar tambak. Tak lama lagi, ia ingin membangun gudang penyimpanan di pulaunya, juga dermaga kecil untuk mempermudah pengangkutan hasil laut. Pulau itu bukan sekadar rumah—tapi sudah menjadi bagian dari mimpinya yang perlahan ia bentuk dengan tangan sendiri.

Jam di ponselnya kini menunjukkan pukul 12 lewat lima. Alvarez berdiri dan merapikan tasnya. Ia baru saja hendak menyeberang menuju halte ketika sebuah suara terdengar dari arah berlawanan.

"Bos! Bos Alvarez!"

Ia menoleh. Max datang berlari, masih mengenakan seragam sekolah yang setengah kusut, tasnya terguncang di punggung, dan wajahnya penuh senyum. Di belakangnya, Toni menyusul sambil terengah.

"Maaf lama, Bos! setelah gerbang terbuka kami berdua langsung menancap gas mobil dan langsung kesini," kata Max sambil mengelap keringat.

Alvarez tertawa dan menepuk bahu mereka. "Santai. Aku memang nunggu kalian. Ayo kita cari tempat makan, aku traktir."

Ketiganya lalu berjalan menyusuri trotoar, melangkah ke arah rumah makan kecil di pinggir jalan. Hari itu, meskipun panas dan penuh debu kota, terasa ringan. Karena bagi Alvarez, setiap langkah bersama dua anak itu—adalah langkah menuju masa depan yang ia pilih sendiri: tidak muluk, tapi bermakna.

......Note:"Kalau kamu suka ceritanya, jangan lupa tekan like ya! Komentar kalian juga sangat berarti buat saya—ceritakan bagian favoritmu atau tebak apa yang akan terjadi selanjutnya!"......

1
sakura
...
Ita Xiaomi
Alhamdulillah ceritanya dilanjutkan. Semangat berkarya Kk. Berkah&Sukses selalu. 👍👍👍
Urang sunda
luar biasa
Hary
perempuan usia 40tahun lagi enak2nya jangan coba2 bangun gairah birahinya, pasti sangat luar biasa, legit menggigit
Laizajiloh
Hai.. kapan d lanjut ceritanya kak..
Dhewa Shaied
apakah hiatus?
Kinashi Minata
he opo iki?
Kinashi Minata
🤣
Kinashi Minata
🤭
Kinashi Minata
🤭 endi
Kinashi Minata
🤭 opo iki?
Swikong
Mantul👍
Swikong
Lanjutkan........
Swikong
Ayo semuanya semangat💪💪
Swikong
👍👍👍
Swikong
👍
Swikong
Alvarez 👍👍
Swikong
Bos Alvarez👍
Swikong
Ho oh
Swikong
Mengharukan/Cry/
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!