Latizia adalah wanita yang bersuami. Parasnya yang cantik dan nyaris sempurna melekat tapi tak bisa merubah kenyataan rumah tangganya.
Ia harus menerima kepahitan saat melihat suaminya bercinta dengan wanita lain di kamarnya sendiri.
Tibalah suatu malam Latizia tak sengaja menyaksikan hubungan panas kakak iparnya bersama istri pria itu.
"Kau pasti juga ingin merasakannya, bukan?!" Desis sesosok pria bertubuh kekar tinggi yang tengah membekapnya dalam kegelapan.
Sejak saat itu Latizia terlibat hubungan terlarang dengan kakak iparnya yang bahkan lebih bengis dari sang suami. Pria itu menekankan jika hubungan mereka hanya sekedar saling memuaskan dan terlepas dari masalah apapun, pria itu tak ingin ikut campur.
Bagaimana nasib Latizia selanjutnya?! Mampukah ia terus bertahan dengan hubungan terlarang dirinya dengan pria bangsawan itu?!
......
Tinggalin like, komen and subscribe-nya ya say..
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon wilia, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Wanita itu membawa pergi suamiku!
Setelah meninggalkan ruangan makan tadi, Latizia pergi ke kamarnya. Tak ia sangka ternyata Milano tengah duduk di balkon seraya merokok.
Pria itu terlihat di penuhi oleh berbagai emosi yang sulit di jabarkan. Duduk seorang diri di kursi yang dingin seraya menatap kegelapan di luar. Terlihat sangat menyedihkan.
Latizia yang tadi mengamati dari dalam terasa cukup bimbang. Apa ia harus menemui Milano saat ini atau besok pagi saja saat emosi pria itu sudah membaik?!
"Jika tak ada keperluan sebaiknya kau keluar!"
Suara tegas Milano yang terdengar berat dan datar dari arah balkon menyeru. Ternyata pria itu sudah mengetahui keberadaanya sedari tadi.
Latizia mengambil nafas dalam lalu berjalan mendekat. Ia duduk di kursi sebelah Milano yang masih santai merokok walau kini kepalanya tengah pusing.
"Kau masih memikirkan soal kakakmu?"
"Bukan urusanmu," Datar Milano sama sekali tak memandang Latizia yang justru menatap lekat wajahnya.
Dari jarak sedekat ini, Latizia bisa melihat kulit Milano yang putih bersih dan bagian rambut yang seperti perak agak abu tua. Ciri khas yang hanya dimiliki oleh keluarga kerajaan Madison.
Tapi, anehnya rambut perak gelap keabuan milik Milano hanya dimiliki olehnya dan Franck. Sementara Delvin dan Raja Barack tidak sama sekali.
"Jika bertanya padanya, dia tak akan menjawab dengan benar," Batin Latizia jengkel.
Ya sudahlah, untuk sekarang biarkan ia meredam tanda tanya itu. Milano tak akan mau menjelaskan apapun padanya.
"Ehmm..aku punya kenalan seorang tabib tradisional istana."
Milano melirik Latizia dari ekor mata tajamnya. Asap rokok itu ia hembuskan ke wajah Latizia sampai wanita itu menepis udara dengan kesal.
"Aku serius! Aku punya kenalan dan dia dulu yang mengobati kakiku saat patah karna terjatuh dari kuda. Kau bisa mencobanya!"
"Kau jangan bermain-main," Tekan Milano membuang puntung rokoknya ke paha Latizia sampai permukaan dress itu bolong.
"Kauuu.."
"Kau bisa menjamin dia bisa?" Tanya Milano dengan begitu angkuh bersandar ke punggung kursi memandang datar ke arahnya.
Garis rahang yang tegas, hidung mancung, bibir tipis yang pink alami dan alis yang tebal. Cukup membuat Latizia mentolerir sikap arogan Milano yang menyebalkan.
"Aku tak menjamin bisa. Tapi, dia termasuk tetua yang disegani di kerajaanku dulu. Tak hanya bisa mengobati patah tulang, dia juga bisa mendetoks racun dalam tubuh," Jelas Latizia mempromosikan orangnya.
Milano diam sejenak. Jika ia membawa Latizia sekarang kembali ke kerajaannya maka, wanita ini akan melihat sesuatu yang besar memukul mental.
"Dimana dia?"
"Dia tak ada di wilayah kerajaanku. Dia seorang kakek tua yang suka hidup sendiri di pegunungan Andolf untuk mengabdi. Akan sulit menemuinya jika kau mengirim orang saja!" Ujar Latizia seraya melihat permukaan dressnya yang bolong.
"Kau menipu?" Tanya Milano menyipitkan mata.
Sontak Latizia langsung merubah wajahnya datar dengan pandangan yang sangat tajam.
"Aku hanya menawarkan. Jika tak mau, aku tak akan memaksamu!" Ketus Latizia melempar kembali puntung rokok yang tadi di pahanya ke wajah Milano.
Ia bangkit dan segera masuk kembali ke kamar. Milano melirik intens Latizia yang berani-beraninya bersikap seperti ini padanya.
"Cepat keluar dari kamarku! Aku ingin tidur!"
Suara Latizia setengah menguap menghempaskan tubuhnya ke atas tempat tidur. Ia memejamkan matanya dengan pikiran melayang di bawa selimut yang terasa hangat di tubuhnya.
Namun, beberapa saat kemudian ia tersentak saat merasakan ada sesuatu yang menekan ranjang ini.
"Kauu.."
Milano dengan santai berbaring di samping Latizia yang tadi begitu senang akan menyelami mimpi indahnya.
"Apa yang kau lakukan disini? Cepat pergi!!"
Milano masa bodoh. Ia menjadikan kedua tangannya sebagai bantal seraya memejamkan mata tak peduli dengan asap yang sudah keluar di telinga Latizia karna menahan emosi.
"Milanoo!!!"
"Tidur, atau kau ingin berjaga bersamaku?!" Tawar Milano membuka mata dengan tatapan netra coklat pekat yang punya maksud yang liar.
Latizia yang membayangkan pergulatan tadi siang segera menyelubungi dirinya dengan selimut seraya memunggungi Milano yang menyeringai licik.
"Pria brandal!" Umpat Latizia meremas selimut di dadanya erat. Ia menjaga jarak dengan Milano yang tampak puas dengan respon Latizia soal pertempuran mereka tadi siang.
Keduanya membisu dan sama-sama masih sadar. Milano menatap langit-langit kamarnya penuh rencana sedangkan Latizia memikirkan, bagaimana cara lepas dari pria di belakangnya ini?!
"Besok kita pergi!"
"Kemana?" Tanya Latizia menoleh menatap wajah tampan datar Milano yang masih fokus ke atas.
"Kemana?" Imbuhnya bingung.
"Gunung!"
Jawaban singkat Milano sudah dapat Latizia pahami. Berarti Milano setuju untuk mencoba pengobatan yang ia tawarkan tadi dan semoga saja kakek tabib itu masih ada.
"Kau tenang saja. Jika di sana tak juga sembuh kita coba cara yang lain. Selagi ada uang, semuanya lancar!" Ucap Latizia tahu Milano tengah memikirkan kakaknya.
Milano hanya diam. Satu kakinya di angkat naik ke punggung Latizia yang langsung menurunkannya tapi, lagi-lagi Milano menaikannya hingga terjadilah momen tepis menepis naik menaiki diantara mereka.
.......
Di kerajaan Madison..
Kekacauan akibat penyerangan malam itu ternyata menyisakan kerugian besar bagi kerajaan. Para tawanan yang lepas membuat pasokan prajurit dan pelayan di istana menurun.
Prajurit yang tewas tadi malam sudah tak terhitung jumlahnya. Jasad mereka di kirim kembali ke rumah masing-masing membuat duka yang besar bagi rakyat Madison.
Karena hal itu, mereka sedari tadi berkumpul di gerbang luar istana mencoba menuntut kerajaan yang semakin tak stabil.
"HANCURKAN SAJA KERAJAAN INI!!"
"TAK ADA LAGI KEADILAN UNTUK KAMII!!"
Teriak mereka melempar batu-batu di luar ke dalam gerbang hingga para pengawal istana yang tadi berjaga cukup kewalahan.
Raja Barack yang menyaksikan kekacauan di depan sana dari atas menara tinggi istana tampak menahan amarah. Pemberontak sialan itu benar-benar membuat mereka mati kutu.
"Yang Mulia! Jika mereka terus melakukan aksi penolakan ini maka, kerajaan akan dianggap tak becus mengurus rakyat. Nama kita akan semakin tercoreng!" Jelas Mentri Human berdiri di samping Raja Barack dan Delvin yang juga ada disini.
"Sebentar lagi akan ada kunjungan dari kerajaan besar tetangga. Sementara keadaan tengah tak stabil, benar-benar menyulitkan," Umpat Raja Barack begitu kesal.
"Yang Mulia! Bagaimana jika kita lenyapkan sebagian dari mereka hingga tak ada yang berani lagi melakukan hal ini?"
Saran Delvin membuat Raja Barack terdiam sejenak. Jika di pikir-pikir ide pria ini tidaklah buruk.
"Beri mereka rasa takut dan setelah itu tak akan ada lagi yang berani memberontak!"
"Baik!" Jawab Delvin segera pergi menjalankan perintah.
Raja Barack merasa lega dengan ide gila Delvin. Ia sebenarnya tahu, apa yang harus di lakukan tapi, ia ingin Delvin menuangkan pikirannya hingga ternyata pria itu cukup bisa diandalkan.
"Yang Mulia! Pangeran Delvin memang seperti anda!"
"Yah, dia putraku! Jika bukan dia, siapa lagi yang akan meneruskan semua ini?!" Licik Raja Barack tertawa lebar menyaksikan para prajurit memukuli orang-orang di luar gerbang sana.
"Bagaimana dengan panglima Ottmar? Kenapa dia masih belum kembali?" Tanya Raja Barack tak melihat sosok pria itu disini.
Tadi malam, panglima Ottmar mengejar pelaku penyerangan itu dan sampai sekarang belum juga kembali. Ia cemas jika ada musuh yang kuat di balik ini.
"Yang Mulia!!"
Suara putri Veronica yang tampak di dampingi oleh Ratu Clorris menghadap. Ia terlihat menangis dengan wajah sembab dan gelisah.
"Ada apa?"
"Yang Mulia! Suamiku telah di bawa pergi oleh wanita ja**lang itu!!" Jawab putri Veronica yang tak menemukan Latizia maupun Milano di kerajaan.
Raja Barack tampak santai. Kemana lagi Milano jika tidak bersenang-senang dengan pelayan barunya?! Tapi, wanita ini sangat memusingkan kepala.
"Putri! Sebaiknya kau tenang. Aku akan mencarinya untukmu!"
"Cari dia sampai ditemukan. Aku ingin wanita itu di hukum penggal!" Geram putri Veronica sangat mendidih membayangkan wajah cantik Latizia.
.......
Vote and like sayangku