Bagaimana jika seorang pemuda yang setiap harinya hanya menjadi anak seorang supir didalam keluarga kaya dan dia harus menerima untuk dinikahkan dengan Nona Muda mereka yang tidak bisa bicara.
"Nak, Ibu dan Bapak ingin berbicara serius dengan kamu" ucap Pak Budi pada putranya.
"Bicara apa Pak? Bicara saja" tanya Adji yang sudah duduk dihadapan kedua orang tuanya.
"Begini nak, tadi siang Bapak dan Ibu diundang kerumah Tuan Nadi dan kami disana membahas masalah perjodohan untuk kamu. Bapak tidak bisa memutuskan nya sendiri, karena Bapak tidak mungkin memutuskan. Bapak ingin membicarakan ini dengan kamu dan jika kamu menerimanya, Bapak dan Ibu akan membalasnya lebih dalam lagi dengan keluarga beliau" jelas Pak Budi dengan panjang lebar.
Penasaran apa jawaban Adji pada kedua orang tuanya???
Yuk baca dan ramaikan setiap babnya dengan like, komen, vote dan hadiahnya ya....
Jangan lupa subscribe juga pollow akun Othor ya...
Terimakasih dan selamat membaca 🤗🤗🤗
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Atikah syarif, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Keterpurukan seorang Clarissa Jane Wigunadi
"Kenapa Engkau begitu kejam padaku Tuhan? Apa yang harus aku lakukan sekarang? Kenapa dunia begitu kejam padaku, apa ini yang harus aku tuai dengan sikapku selama ini? Kenapa semenyakitkan ini dan sesesak ini" gumamnya lagi sambil memukul-mukul dadanya sendiri yang terasa sesak.
Baru kali ini melihat seorang Clarissa Jane Wigunadi berada dalam fase yang sangat hancur dan terpuruk sedalam itu. Seorang Clarissa Jane Wigunadi yang selalu arrogant dan sangat angkuh itu terlihat bukan seperti Clarissa Jane Wigunadi lagi. Yang terlihat sekarang hanya seorang gadis bisu yang sedang meratapi nasibnya yang matang.
"Saya fikir jika ini bukalah gadis tangguh dan kuat yang saya kenal" ucap seseorang yang entah sejak kapan sudah duduk berada disampingnya sekarang.
"Jika kau inginkan menangis dan menyalurkan seluruh kesedihan dalam diri kamu, keluarkan saja semuanya. Anggap saja aku ini hanya sebuah batu atau pohon yang siap menjadi sandaran kokoh untukmu" ucapnya lagi sambil menatap lurus kedepan dengan tatapan yang sudah berkaca-kaca juga melihat gadis yang dia sukai seperti ini.
Seperti mendapatkan angin segar, Clarissa menumpahkan semua tangisnya dan terdengar begitu menyayat hati pria yang sedang menjadi sandaran nya sekarang.
"Keluarkan semuanya. Karena hanya dengan menangis dan menumpahkan semuanya akan meringankan semua beban dan kegundahan dalam hati. Jangan kamu pendam juga menyembunyikan nya dibalik wajah angkuh kamu yang cantik ini" ucap pria yang tidak lain adalah Varaz. Ternyata dia yang melihat dan menemani Clarissa sekarang.
.
Beberapa menit sebelum kejadian. Dimana Varaz melihat sebuah mobil yang melesat dengan kecepatan tinggi dan melewati mobilnya juga.
"Perasaan gue kenal dengan tuh mobil. Tapi siapa ya?" gumam Varaz saat mengingat mobil berwarna putih tersebut.
"Ah, gue ingat. Itukan mobil milik Clarissa Jane Wigunadi, kenapa dia membawa mobil dengan ugal-ugalan seperti itu? Pasti ada yang tidak beres dengan nya" gumam Varaz lagi sambil mengejar Clarissa dan dia beberapa kali menekan klakson, tapi tidak dihiraukan oleh Clarissa.
"Benar dugaan gue. Jika dia sedang tidak baik-baik saja, gue harus bisa mengimbangi mobilnya sebelum kejadian hal yang tidak-tidak" gumamnya lagi sambil terus menginjak pedal gas dalam-dalam untuk mengimbangi kecepatan mobil Clarissa.
"Apa yang dia lakukan disini? Lalu... Dia menangis? Gadis seangkuh itu bisa menangis juga rupanya. Gue kira dia hanya bisa kasar dan angkuh saja, ternyata dia bisa serapuh itu" gumamnya yang memarkirkan mobilnya tidak jauh dari mobil Clarisa.
Varaz mendekatinya dan mendengar semua keluh kesahnya dan dia ikut merasakan sedih. Walau tidak terlalu jelas dia mendengarnya, tapi dia bisa ikut merasakan apa yang Clarisa rasakan sekarang.
'Seandainya rasa sakit yang loe rasakan bisa beralih pada gue Cla. Gue siap menerimanya dengan senang hati, karena gue nggak sanggup melihat loe seperti ini. Rasanya hati gue ikut hancur juga Cla, entah apa yang terjadi akan perasaan gue' gumamnya yang malah duduk disamping Clarissa dan mengulurkan tangan nya ingin menyentuh kepala Clarissa. Tapi dia tarik kembali, karena dia takut jika Clarissa akan marah padanya.
Dan sekarang mereka hanya saling diam. Lebih tepatnya Varaz yang hanya diam, membiarkan Clarissa menangis hingga hatinya merasa lega dan mau bercerita masalahnya.
"Sudah lebih baik?" tanya Varaz saat Clarissa berhenti menangis dan dia masih menyandarkan kepalanya pada bahu Varaz.
Clarissa hanya mengangguk samar dan dia masih sesekali meneteskan air matanya tidak tertahan lagi.
"Jika sudah lebih tenang dan lebih baik, kamu bisa bercerita padaku. Itu juga kamu mau berbagi kesedihan juga padaku, jika tidak juga tidak masalah" ucap Varaz yang menangkup wajah Clarissa dan mengusap sisa air mata dipipi Clarissa dengan ibujarinya dan Varaz tersenyum padanya dengan sangat manis, lalu mengangguk.
"Jika belum bisa tidak apa-apa. Karena aku akan menunggu hingga kamu bisa menceritakan semuanya padaku. Jangan merasa sendiri jika sedang seperti ini, ada aku dan yang paling utama ada Allah disetiap nafas kita" lanjutnya lagi sambil mengusap rambut panjang Clarissa dan merapihkan nya juga menyelipkan dibalik telinganya.
Bukan nya menjawab ucapan Varaz, Clarissa malah memeluk Varaz dan menangis kembali dalam pelukan pria yang baru beberapa bulan berkenalan dan berteman dekat selama ini.
Clarissa benar-benar menumpahkan semua kesedihan nya pada seorang Alvaraz Malik Tomlinson. Pria yang dia anggap adalah malaikat penolongnya selama dia kenal dengan nya.
'Tuhan, terimakasih karena sudah mengizinkan malaikat tak bersayap ini untuk berada disisiku yang sedang hancur seperti ini. Jika tidak ada dirinya, mungkin aku sudah memutuskan hal yang nekad dan kesalahan terbesar dalam hudupku. Sungguh, aku sangat berterimakasih atas semua ini Tuhan, terimakasih banyak' gumam Clarissa dalam hati sambil terus memeluk Varaz semakin erat dan masih menangis. Hingga pakaian yang dikenakan Varaz basah oleh air matanya.
"Sudah-sudah, jangan menangis terus. Yang ada air mata kamu kering dan akan berbahaya" ucap Varaz yang berhasil membuat Clarissa diam seketika dari tangisnya dan berhenti dalam sekejap.
Lalu dia menatap lekat pada Varaz meminta penjelasan akan apa yang dia katakan padanya barusan.
"Iya akan berbahaya jika kamu terus menangis seperti itu" ucap Varaz seolah tahu arti tatapan Clarissa padanya.
"Kenapa?" tanya Clarissa dengan tanpa suara.
"Jika kamu terus meneteskan air mata kamu, maka air mata kamu akan mengering dan tidak akan bisa menetes lagi jika ada kebahagiaan yang aku berikan ke kamu" ucapnya sambil tersenyum manis pada Clarissa.
"Dasar gombal, aku kira apa" ucap Clarissa sedikit tersenyum saat mendengarnya lalu memukul pelan dada Varaz yang masih duduk didepan nya.
"Hahaha, akhirnya berhasilkan buat kamu tersenyum kembali. Ini lebih baik dari pada kamu selalu menangis" ucap Varaz sambil mengusap kepala Clarissa dengan lembut.
"Terimakasih sudah mau ada disisi aku dan tahu kelemahan aku yang ini" ucap Clarissa yang menggunakan bahasa isyaratnya setelah merasa lebih baik.
"It's okay, kenapa juga harus malu dan tidak enak. Bukankah kita berteman? Jika berteman harus ada disaat susahnya juga, bukan hanya disaat senang dia hadir dan menghilang disaat susah. Aku hanya ingin bilang, jangan pernah merasa sendiri dan terpuruk. Karena masih ada aku juga Allah, jadi jika ada masalah cerita saja padaku. Aku akan siap menjadi pendengarnya dan menyiapkan bahu juga dada aku yang macho ini" ucap Varaz yang tersenyum sangat manis pada Clarissa.
"Maaf sudah membuat pakaian mu basah. Aku akan menggantinya dengan yang baru" ucap Clarissa menggunakan bahasa isyaratnya, dia merasa tidak enak pada Varaz.
"Hey, aku ini tidak semiskin itu sehingga membuat seorang wanita cantik ini membelikan pakaian untuk ku" ucapnya yang mengatakan nya dengan gaya cool didepan Clarissa.
dan semoga sehat selalu buat penulis nya❤️
gk tahu krn sikapmu membuat ortumu khawatir n km jg jd menderita di luar sana
ortu mu pasti akan mengerti keputusan mu