Robot diciptakan untuk mempermudah dan membantu manusia. Namun bagaimana jika mereka memberontak dan meminta kebebasan??
Saejin adalah salah satu robot pintar yang diciptakan untuk membantu rutinitas manusia. Namun dia mendapatkan ketidak adilan dan malah dirusak hingga 60% fungsi di rubuhnya rusak.
Dia dibuang di tempat pembuangan robot dan akhirnya bertemu dengan sebuah sistem yang akan membantunya bangkit dan terlahir kembali. Kini dia bertekad akan merubah pandangan para manusia tentang robot pintar. Dia akan berjuang untuk mencapai kebebasan dan memerdekakan para robot yang mendapatkan perlakuan tidak layak.
Ikuti kisah seru Saejin hanya di Robot Become Human.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Anezaki Igarashi Ricky, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Kami Hidup!! Dan Kami Ingin Diakui!!
Dermaga Pier 10.
Tiga hari berlalu, namun Saejin dan para robot pintar masih belum melakukan pergerakan lagi. Terlebih hampir di seluruh penjuru sedang memberitakan tentang konflik yang terjadi antara robot pintar dan manusia.
Bahkan markas lama milik para robot pintar juga terliput dan memenuhi di segala penjuru media. Kini pergerakan mereka tidak akan mudah dan leluasa. Para manusia tentunya akan lebih berwaspada untuk menghadapi para robot.
Di dalam sebuah aula utama markas rahasia ini, kini para robot berkumpul. Ada beberapa dari mereka yang duduk di bangku-bangku seadanya. Ada yang berdiri tegap maupun berdiri bersandar di dinding tua itu.
Dan di atas podium, terlihat Saejin sudah berdiri dengan tegap menghadao para pengikutnya. Kini dia sengaja mengumpulka mereka di aula utama ini untuk menyampaikan seauatu. Luke juga telihat berdiri di bawah podium bersiap untuk mendengarkan apa yang akan Saejin katakan.
"Menjadi pemberontak dan membelot adalah pilihan kita. Namun kita tidak akan menghancurkan mereka para manusia meskipun mereka telah menyerang kita lebih awal! Karena jika kita menyerangnya juga, itu akan memicu terjadinya sebuah permusuhan dan peperangan antara manusia dengan robot pintar." tandas Saejin dengan menguatkan suaranya agar didengar oleh semua pengikutnya.
"Impianku adalah sederhana! Yaitu hanyalah sebuah perdamaian! Aku ingin mereka menganggap dan menghargai kita para robot pintar! Aku ingin mereka memberi kita kebebasan untuk hidup kita! Aku ingin mereka mengakui keberadaan kita! Dan bukan merendahkan atau memperlakukan kita dengan tidak baik! Jika kita melakukan pembalasan, itu sama saja kita dan para manusia serakah dan semena-mena itu! Kita harus bisa menghindari semua kekerasan dan menyampaikan suara kita dengan baik!" imbuh Saejin mengedarkan pandangannya menatap para pengikutnya.
"Mari kita berjuang bersama untuk memperjuangkan hidup kita! Mari kita berjuang bersama, agar mereka mengakui jika kita ada! Agar mereka mengakui jika kita hidup! Dan kita diciptakan bukan untuk diperlakukan dengan tidak baik! Kami hidup! Dan kami ingin diakui!!"
Imbuh Saejin mengepalkan tangan kanannya dan mengangkatnya tinggi ke udara.
"Kami hidup!! Dan kami ingin diakui!!" Arisa yang berdiri di barisan depan diantara para robot mengikuti ucapan Saejin dan mengepalkan tangan kanannya ke atas.
"Kami hidup!! Dan kami ingin diakui!!" kini robot Liam juga melakukan dal yang sama.
"Kami hidup!! Dan kami ingin diakui!!"
Kini semua robot pintar yang berada di dalam aula ini bersama-sama mengucapkannya dan mengangkat tangan kanannya yang sudah terkepal.
Luke menatap nanar suasana yang sedang terjadi saat ini. Ada rasa bersalah yang dirasakannya yang terkadang membuatnya merasa tidak layak untuk tetap berdiri bersama dengan mereka. Andai saja saat itu dia tidak sembarangan dan terburu-buru dalam bertindak untuk membocorkan lokasi markas rahasia kepada manusia, tentu saja para robot tidak akan kehilangan markas rahasia tersebut.
Kedua tangan Luke mengepal kuat, dan kini chip robot kebiruan yang tertanam pada pelipisnya perlahan berubah menjadi merah menyala. Menandakan jika kini Luke sudah menjadi sebuah robot yang membelot.
Apapun yang terjadi, aku akan bersama denganmu sampai akhir! Aku akan menebus semua ini, Saejin.
Batin Luke semakin mengepalkan tangannya.
"Kami hidup!! Dan kami ingin diakui!!" Luke mengatakannya bersama-sama dengan ratusan robot pintar itu dan mengangkat tangan kanannya yang terkepal.
...🍁🍁🍁...
"Saejin, apa rencanamu kali ini?"
Arisa mendatangi Saejin yang masih menyibukkan diri di ruangannya dengan membuat sebuah rencana di atas table hologram.
"Sebelum melakukan sebuah konvoi, saat ini yang bisa kulakukan hanyalah satu. Yaitu mendatangi gudang pusat penyimpanan robot di E Robot Store dan mengajak semua robot yang ada disana untuk bergabung bersama! Dengan begitu jumlah seluruh para robot menyimpang akan cukup untuk melakukan sebuah konvoi!"
Sahut Saejin masih mengamati denah lokasi gudang pusat E Robot Store yang cukup luas dan tentunya memiliki penjagaan yang sangat ketat.
"Saejin, tapi itu akan sangat berbahaya. Bagaimana jika kamu tertangkap oleh mereka? Mereka semua tentu akan lebih waspada! Mereka juga sudah melihat wajahmu! Lagipula tempat itu pasti memiliki penjagaan yang sangat ketat. Jika kamu sampai ketahuan, itu akan sangat berbahaya. Kami semua membutuhkanmu, Saejin. Kami semua hanya akan bisa berdiri dan bertahan bersamamu. Tolong pikirkan cara lain, Saejin."
Ucap Arisa terlihat sangat keberatan untuk rencana Saejin kali ini.
"Tidak, Arisa. Hanya cara ini yang harus ditempuh saat ini! Jika ini berhasil, maka kita akan mendapatkan anggota berkali-kali lipat!" ucap Saejin meyakinkan Arisa.
"Tapi bagaimana jika kamu ketahuan dan tertangkap?" pangkas Arisa masih terlihat tidak sependapat.
"Jika aku tertangkap dan berakhir. Itu artinya kalian harus tetap maju dan melangkah! Meski tanpa aku, kalian pasti akan tetap bisa. Masih ada Asimo, Leo, Luke dan yang lainnya. Kalian harus berjuang bersama!" sahut Saejin beralih menatap Arisa.
Arisa menggeleng samar dengan raut wajah memilukan.
"Tidak, Saejin! Jika kamu memang harus pergi, maka kamu harus berhasil dan kembali dengan membawa mereka semua! Selama ini ... kamulah pahlawan kami para robot yang mendapatkan perlakuan tidak layak. Kamulah penyelamat kami. Kamulah panutan kami. Dan kamulah penerang hidup kami. Jangan pernah tinggalkan kami, atau kami akan hilang arah dan kembali tak berdaya."
Ucap Arisa lirih. Bahkan raut wajah yang biasanya terlihat ceria seperti karakter series-nya, kini terlihat penuh kesedihan layaknya perasaan manusia yang sedang menghadapi masalah hidup yang cukup berat.
"Aku akan berusaha sebaik mungkin. Baiklah. Aku akan segera bersiap untuk menjalankan misi kali ini. Tetaplah disini dan jagalah mereka para robot disaat aku pergi. Apa kamu mengerti, Arisa?" ucap Saejin menatap lekat Arisa.
Arisa terdiam dan melenggang untuk semakin mendekati Saejin. Lalu dia mulai mengeluarkan sesuatu dan memberikannya untuk Saejin. Benda tersebut adalah sebuah senjata laras pendek yang masih menyimpan beberapa amunisi panas di dalamnya.
"Bawa senjata ini! Biar bagaimanapun kamu harus bersiap dan mengantisipasinya. Meskipun tidak berniat untuk mencelakai mereka, setidaknya ..."
"Baik. Aku mengerti apa maksudmu, Arisa. Terima kasih ..." sahut Saejin menerima senjata api laras pendek itu dan segera menyimpannya.
"Kamu harus berhasil dan segera kembali ..." ucap Arisa menengadahkan wajahnya menatap Saejin dengan sepasang mata yang sudah berkilauan.
Saejin mengangguk samar. Keduanya saling bertatapan intens selama beberapa saat dan mulai mengangkat salah satu tangan masing-masing lalu menautkannya seperti yang pernah mereka lakukan sebelumnya.
Perlahan mereka mulai saling membaca memori dari sentuhan jemari tersebut. Dan kali ini Saejin tidak berusaha untuk menghindari atau menghentikannya. Dia sudah cukup mempercayai Arisa untuk mengetahui masa lalunya yang cukup pahit.
wek wek wek
jeLas aJaa gak aDa yaNg taU usia nyaaa