Snow Tierra Arashi, seorang host terkenal yang menikah dengan seorang arsitek muda bernama Panutan Aaric Semesta.
Tak pernah terbayangkan sebelumnya, jika kehidupan pernikahannya ternyata jauh dari kata bahagia, lantara ibu mertua dan adik iparnya selalu ikut campur dalam persoalan rumah tangganya.
Akankah Snow akan bertahan dengan rumah tangganya atau ia justru akan kembali pada Calla Nirwana, mantan kekasihnya yang masih begitu mencintai Snow?
Selengkapnya hanya di novel Snow in Paris.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Irma, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
CHAPTER - 21
Setelah memarahi ARTnya, Aaric kembali menghampiri Snow di kamar. Ia menyadari bahwa apa yang telah ia lakukan kepada istrinya sudah kelewat batas, untuk itulah ia ingin meminta maaf.
Alangkah terkejutnya Aaric ketika ia masuk ke kamar melihat istrinya sudah tidak sadarkan diri. Snow tergeletak di lantai dengan darah segar mengalir di sela pahanya.
"Snow..." Aaric berlari menghampiri istrinya, ia menaruh kepala Snow di pahanya sembari menepuk-nepuk pipi Snow dengan lembut. "Sayang sadarlah..." Aaric yang terlihat panik langsung membopong Snow keluar dari kamarnya.
Aaric berteriak meminta bantuan asisten rumah tangganya dan supirnya untuk membawa istrinya ke rumah sakit. "Snow bertahanlah sayang," Aaric terlihat panik dan ketakutan, ia baru teringat jika dokter pernah mengingatkan dirinya untuk tidak melakukan hubungan badan bersama istrinya paling tidak selama dua minggu, sampai Snow benar-benar pulih dari masa kegugurannya. "Snow maafkan aku, sayang..." Sepanjang perjalanan hatinya di liputi rasa bersalah.
Tiba di rumah sakit Aaric langsung membawa Snow ke ruang IGD, ia terus mondar-mandir menanti hasil pemeriksaan, tak hentinya ia berdoa untuk keselamatan istrinya.
Hampir setengah jam menunggu akhirnya dokter keluar dengan wajah serius, sang dokter meminta Aaric untuk ikut keruangannya. Sasampainya di ruangannya, tanpa basa-basi sang dokter langsung menanyakan apa yang terjadi dengan pasien, sebab ia menemukan tanda-tanda kekerasan pada tubuh Snow.
Seketika wajah Aaric pucat pasi, keringat dingin mulai mengucur, membasahi tubuhnya. Dengan tubuh yang gemetar dan linangan air mata di pipinya, Aaric mengakui kesalahannya.
Sang dokter hanya bisa menggelengkan kepalanya sembari menghela napas berat. "Pak, apa yang di lakukan itu sangat berbahaya, istri bapak bisa terkena infeksi di vag*nanya," terang sang dokter. "Istri bapak bisa saja mengajukan visum dan menyeret bapak ke jalur hukum dengan pasal kekerasan dalam rumah tangga."
Aaric semakin panik. "Tidak dok," ia tidak ingin kasus ini sampai ke ranah hukum. "Aku berjanji tidak akan pernah melakukan hal ini lagi kepadanya. Dimana saya bisa menemui istri saya?"
"Istri bapak akan di pindahkan ke ruang rawat inap."
Tanpa pamit, Aaric bergegas menghampiri istrinya di ruang rawat inap. Sang dokter hanya kembali menghela napasnya. "Suami macam apa itu? Aku berharap wanita itu mau melaporkan suaminya," gumamnya sembari mengelus dada.
Dengan langkah ragu, Aaric berjalan mendekati istrinya yang tengah terbaring di atas tempat tidur. Ia duduk di samping Snow dan mengelus kepalanya dengan lembut. "Snow maafkan aku," ucapnya lirih.
Perlahan Snow membuka matanya, ia melihat sekitar sembari mengingat kejadian yang baru saja ia alami. Snow menoleh ke samping dan menarik tangan serta tubuhnya menjauh dari Aaric. "Mau apa lagi kamu?" tubuh Snow gemetar ketakutan, bayang-bayang kekerasan yang Aaric lakukan padanya sangat membekas di benaknya.
"Sayang, maafkan aku," Aaric kembali mendekat namun Snow menolaknya. "PERGI KAMU DARI SINI!! AKU TIDAK INGIN MELIHATMU LAGI.." ucap Snow dengan nada tinggi dan deraian air matanya.
"Snow percayalah aku tidak akan menyakitimu lagi, aku sungguh menyesali perbuatanku."
"PERGI...!" teriak Snow, seketika Snow merem*s perutnya, ia merasakan nyeri di perutnya. "Awww..." rintihnya.
Tak tega melihat istrinya kesakitan Aaric pun memanggil perawat dan dokter sementara dirinya menunggu di luar ruang rawat inap sampai Snow merasa lehih tenang.
cinta akan tetap berpulang pada yang berhak walaupun sudah menikah kalau bukan jodohnya pastinya tetap bercerai juga