NovelToon NovelToon
Di Titik Nadir

Di Titik Nadir

Status: tamat
Genre:Romantis / Tamat
Popularitas:732.3k
Nilai: 4.9
Nama Author: Tirza

CERITA PERTAMA - END
"Aku hanya memainkan bagianku, cinta yang akan menyempurnakannya" - Nara

CERITA KE DUA - END
"Aku tetaplah sama, berdiri di sudut tersembunyi, menunggumu sampai akhir nafasku." - Liana

Ardian Rahardja tidak percaya lagi kepada cinta, setelah gagal menikahi Nara. Desakan orang tua membuatnya terpaksa memilih Liana Devi Saraswati, sahabat Nara sebagai istri untuk menghindari perjodohan yang dibuat oleh orang tuanya.

Ardi yang mengetahui bahwa Liana memiliki perasaan untuknya, memanfaatkan hal itu untuk mengatur istrinya sesuka hati dan memaksa ia bersandiwara seolah pernikahan mereka sangat bahagia.

Apakah waktu akan membuat Ardi menjadi luluh? Ataukah Liana harus menerima kenyataan bahwa laki-laki itu tidak akan pernah mencintainya sampai kapanpun?

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Tirza, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Sebuah Kesempatan Bagi Pernikahan Kita

“Selamat pagi kak Rendra!” Nara memberikan salam sambil menyunggingkan senyuman kepada suaminya.

“B-bagaimana kondisimu? Kenapa tidak beristirahat?” Rendra tidak menyangka Nara bahkan sudah bisa memasak dalam kondisinya yang belum pulih.

“Tidak perlu mengkhawatirkanku. Berkat kakak, aku sudah semakin baik. Maaf hanya ini yang bisa aku siapkan, karena ternyata tidak banyak bahan yang tersedia di dalam lemari pendingin. Maukah kakak menemaniku makan pagi?” pinta Nara kepada suaminya.

Rendra tidak menjawab. Laki-laki itu hanya terus menatap wajah gadis itu, sambil merasa penasaran dengan sikapnya. Apakah ia memiliki dua kepribadian? Kemarin, masih jelas dalam ingatan laki-laki itu, Nara begitu marah padanya, sedangkan sekarang tingkahnya menunjukkan seperti tidak pernah terjadi apa-apa.

Nara memang tidak pernah marah terlalu lama, saat laki-laki itu mencacinya. Tetapi ia telah dilecehkan dan hampir mati kemarin, rasanya tidak mungkin gadis itu memulihkan dirinya secepat ini. Rendra juga menyadari bahwa kini Nara memanggilnya dengan sebutan kakak, bukan tuan seperti biasanya. Apakah Nara sedang kerasukan sesuatu?

“Kenapa kak? Kakak takut aku meracuni makanan ini? Aku tidak akan mencelakai orang yang sudah menyelamatkanku.” Nara menyunggingkan lagi senyumannya dengan tulus.

"B-bukan begitu. Hanya saja, apakah kamu sudah tidak marah? Dan panggilanmu padaku kenapa berubah?" Rendra berusaha mengatakan dengan jujur apa yang ada dipikirannya.

"Kita sarapan dulu kak. Aku takut makanan ini menjadi dingin. Rasanya akan berbeda dan kenikmatannya akan berkurang," desak Nara kepada laki-laki itu. Ia sengaja tidak langsung menjawab pertanyaan Rendra.

“Baiklah! Kita sarapan bersama,” Rendra menarik kursi dan segera duduk berhadapan dengan Nara.

“Biar aku ambilkan! Kakak mau yang mana?” Nara menawarkan diri mengambilkan makanan Rendra.

“Aku bisa memakan semua,” ucap Rendra singkat sambil menatap Nara dengan ekspresi yang sulit dijelaskan.

Gadis itu mengambil sedikit demi sedikit setiap menu yang ada dan memberikan piring yang telah terisi makanan itu kepada suaminya. Nara juga mengambil bagi dirinya sendiri. Ia mengambil menu yang sama dengan yang diberikan kepada Rendra.

“Nara, aku masih tidak mengerti dengan sikapmu hari ini. Tidak ada yang salah dengan kepalamu kan?” Rendra belum menyantap makanannya, ia masih menatap gadis itu dengan tajam.

Gadis itu tertawa mendengar kalimat yang terucap dari bibir laki-laki itu dan ia pun membalasnya dengan berkata, “Makanlah dulu! Kita akan berbicara setelah ini.”

Mereka berdua makan bersama tanpa bicara. Rendra cukup lahap memakan makanan buatan Nara. Ia tidak menyangka bahwa gadis itu pandai memasak. Beberapa kali ia meminta Nara menambahkan lauk dan sayurnya. Gadis itu hanya tersenyum saat menyadari bahwa sepertinya laki-laki yang duduk di hadapannya ini begitu menyukai masakannya. Mereka menandaskan semuanya hingga tidak ada sisa.

“Terima kasih atas makanannya. Bisakah sekarang kita bicara?” Rendra sangat penasaran dengan apa yang sudah terjadi pada gadis itu.

“Baiklah kak! Kita bisa berbicara di ruang tamu,” ucap Nara sambil melangkah menuju ke ruang tamu dan diikuti oleh Rendra.

“Sebenarnya aku sudah banyak berpikir kemarin. Aku tahu bahwa semua yang kakak lakukan padaku tidak sepenuhnya salah kakak. Aku yang lebih dulu menyakiti kakak. Aku yang membuat kakak terjebak dengan pernikahan ini, hingga kakak sangat membenciku. Luka-luka ini anggap saja sebagai hukuman yang harus kutanggung karena menyakitimu. Itu sebabnya aku tidak lagi marah padamu,” ucap Nara dengan tatapan lembut.

“Tapi, aku tidak pernah bermaksud untuk…….” Rendra menghentikan ucapannya saat Nara mengangkat tangannya, memberi tanda supaya laki-laki itu berhenti berbicara.

“Aku tahu. Itu sebabnya lebih mudah bagiku untuk memaafkanmu dan aku sebenarnya tidak ingin membicarakan masalah itu lagi,” balas Nara.

“Lalu apa yang ingin kamu bahas?” Rendra mengerutkan keningnya.

“Aku ingin membahas pernikahan kita. Aku ingin kakak dan aku sama-sama memutuskan apa yang terjadi selanjutnya dengan pernikahan ini,” ucap Nara tanpa menatap Rendra lagi.

Laki-laki itu menghela nafasnya dalam-dalam dan berkata, “Andaikan dulu aku mengajukan pembatalan pernikahan, andaikan perceraian itu mudah dilakukan, andaikan kita tidak bersumpah di hadapan Tuhan, mungkin lebih baik jika dulu kita berpisah dari pada harus terjebak dalam ikatan pernikahan tanpa cinta dan saling menyakiti,” jawab Rendra.

“Untuk itulah aku ingin mengajukan satu permintaan padamu.” Nara berbicara sambil memainkan jari-jarinya. Gadis itu terlihat gugup.

“Apa yang mau kamu minta?” Rendra menatap Nara dengan penuh kewaspadaan.

“Maukah kakak memberi kesempatan kepada pernikahan ini?" Nara menatap mata Rendra penuh harap.

"Berikan aku waktu satu tahun! Jika dalam waktu itu aku tidak bisa membuat kakak mencintaiku, maka aku akan meninggalkan kakak. Aku sendiri yang akan mencari cara supaya kita bisa berpisah. Aku juga yang akan menjelaskan kepada mama Rani dan mempertanggungjawabkan semuanya tanpa melibatkanmu, dan satu lagi, kakak tidak perlu khawatir tentang masalah pembagian harta. Seperti saat aku masuk pertama kali ke dalam apartemen ini tanpa membawa apa-apa, begitu juga ketika aku keluar nanti.” Nara berbicara dengan sungguh-sungguh dan dengan tatapan yang sendu sambil membayangkan betapa hancurnya dia jika tidak bisa merebut hati suaminya.

Rendra merasakan ada sedikit sisi di dalam hatinya yang tersentuh ketika mendengar ucapan Nara. Ia pun mengambil waktu cukup lama untuk diam dan merenung. Sementara Nara dengan sabar memberi kesempatan laki-laki itu untuk berpikir.

“Nara, aku mencintai Sari. Aku tidak bisa memberikan kesempatan padamu selama satu tahun dan meninggalkan Sari begitu saja,” tutur Rendra mengawali pembicaraan, setelah mereka sama-sama cukup lama berdiam diri.

Kalimat yang baru saja Nara dengar sesungguhnya sangat melukai hatinya. Namun, ia sudah menduga bahwa itu yang akan menjadi pertimbangan laki-laki itu. Nara tentu juga telah menyiapkan jawabannya.

“Aku tidak akan melarangmu berhubungan dengan Sari. Kakak bisa terus menemuinya, jika itu memang yang kakak inginkan, tetapi berikan juga padaku kesempatan untuk merebut hatimu. Ijinkan aku mengambil peranku sebagai istrimu selama satu tahun ini! Aku akan berusaha membuat diriku layak bersanding denganmu,” jawab Nara dengan suara yang dalam.

Nara menyadari apa yang ia katakan. Ia mengetahui resikonya, namun ia tidak punya cara lain lagi untuk menyelamatkan pernikahannya. Kadang seseorang harus rela mengalah dan berkorban lebih banyak untuk menyelamatkan sebuah hubungan. Di dalam kisah ini, biarlah Nara yang mengambil posisi itu.

“Baiklah! Aku akan memberi kesempatan padamu untuk mempertahankan pernikahan ini selama satu tahun, tetapi aku ingin kita tidak melibatkan sentuhan fisik apalagi yang sifatnya sangat intim. Jika memang perasaan itu muncul, biarlah itu muncul dengan alami, bukan karena dorongan kebutuhan biologis. Kita akan tetap tidur di kamar yang berbeda, namun kamu boleh membantuku menyiapkan segala keperluanku seperti layaknya istri menyiapkan keperluan suaminya,” kata Rendra sambil menyilangkan kedua tangannya di dada.

“Aku mengerti kak. Aku juga membutuhkan waktu untuk memulihkan traumaku setelah apa yang temanmu lakukan. Aku sendiri saja merasa jijik dengan diriku sendiri saat ini, apalagi kakak. Tenanglah, aku tidak akan mengharapkan kakak menyentuhku dan aku juga tidak akan menggunakan cara-cara seperti itu untuk membuatmu mencintaiku,” jawab Nara dengan lirih. Ia memang masih trauma dan merasa jijik dengan dirinya sendiri.

“Baiklah kalau begitu! Kita sudah sepakat. Aku akan memberikan ATM yang bisa kamu gunakan untuk mengurus keperluan apartemen ini dan membeli bahan makanan. Aku menyukai masakanmu, kamu boleh menyiapkan makanan untukku setiap pagi dan malam hari. Kamu juga bisa menggunakannya untuk keperluan pribadimu. Nanti aku akan memanggil orang untuk membenahi kamarmu supaya lebih layak. Sementara mereka memperbaiki kamarmu, kita akan berbagi kamar. Kamu bisa tidur di ranjangku dan aku akan tidur di sofa,” tutur Rendra sambil membayangkan betapa tidak layaknya kamar Nara.

“Terima kasih atas kebaikanmu kak. Aku tidak akan menyia-nyiakan kebaikan itu. Aku juga tidak akan menggunakan uangmu dengan sembarangan. Aku berjanji aku hanya menggunakannya untuk keperluan rumah tangga,” ucap Nara dengan raut bahagia di wajahnya.

“Bolehkah aku bertanya?” Rendra masih melanjutkan percakapan mereka.

“Tanyakanlah!” Nara memberi kesempatan.

“Kenapa kamu menginginkan kita memberi waktu bagi pernikahan ini?” Pertanyaan ini adalah pertanyaan yang sulit dijawab oleh Nara.

Tentu saja itu ia melakukan hal itu karena ia mencintai suaminya dan masih ingin berada di dekat laki-laki itu. Namun, belum saatnya bagi Rendra untuk mengetahui semuanya.

“Setelah satu tahun aku akan memberi tahu alasanku melakukan ini. Aku hanya ingin melihat lebih dulu apakah pada saat hari itu tiba, kita masih memilih untuk bersama atau justru kita sepakat untuk berpisah,” jawab Nara kepada Rendra.

-------------------

Melihat kondisi Nara semakin membaik, Rendra memutuskan untuk bekerja hari ini. Laki-laki itu menyadari bahwa ia telah menumpuk pekerjaannya dan harus menyelesaikan semuanya dengan segera. Sementara Rendra berada di kantor, Nara masih memilih berada di apartemen hingga kondisinya lebih kuat untuk bekerja lagi.

Gadis itu menyadari bahwa luka-lukanya belum sepenuhnya pulih, tetapi ia tidak biasa berdiam diri saja. Nara membersihkan apartemen itu sedikit demi sedikit dan dengan perlahan-lahan.

Nara akan beristirahat jika ia merasa lelah dan akan melanjutkan lagi pekerjaannya jika ia sudah merasa lebih baik. Gadis itu tidak mau memaksa tubuhnya.

Ting!! Tong!!

Nara membulatkan matanya saat mendengar bunyi itu. Ia mengerutkan keningnya dan langsung merasa gugup. Gadis itu mengingat pengalaman terakhirnya. Nara hampir kehilangan kehormatan dan nyawanya karena mempersilakan masuk seseorang yang berniat jahat padanya.

Gadis itu masih menimbang-nimbang apakah ia akan membukakan pintu atau tidak. Sementara ia masih berpikir, orang yang berada dibalik pintu itu menekan kembali belnya.

Ting!! Tong!!

Nara yang penasaran melangkahkan kakinya menuju pintu. Dengan tangan yang gemetar ia membuka pintunya sedikit demi sedikit sambil melihat siapa yang dari tadi berdiri di sana.

“Nara!” Orang itu memanggil namanya.

---------------------

Selamat menikmati cerita ini. Jangan lupa berikan dukungan anda!

1
Forta Wahyuni
padahal Rani dah tau busuknya si sari n tapi bknnya ditunjukkan malah kesan nya membiarkan trus anaknya bermesraan trus dgn sari. mungkin klu islam mak nya mendukung perzinahan walau hnya cuma cium dan peluk saja, bkn malah diksh tau kebobrokan sari tapi malah mengikuti permainan. 🤭🤭
novita setya
tdk semudah itu ferguso..ho ho ho😄😄
novita setya
nara..tersakiti tiada batas akhir
Asih Prawawati
Hmmm Nara ...
Silvia Hapsari
Love this storyyyy😍😍😍 nangis bombay sampe diketawain suami😂 sukses terus thor!!!
LAJ
fix...dr ratusan novel yg uda eike bc di entuun cm ini yg bs bikin eike sesegukan idung meler mata bengkak...bagus bangettt pemilihan kata2 nya, berasa ky kita tuh ada disana...good job otor 🥰😍🥰😍
Nining Juhaeni
Kecewa
Silvia Hapsari
Mewekkk😭😭😭
Arie
😭😭😭😭😭😭😭😭😭😭😭😭😭😭
Arie
👍👍👍👍👍👍👍👍👍👍👍👍👍👍👍
Rinisa
Happy Ending...😍👍🏻🤗
Rinisa
Kasihan sekali Liana...
Rinisa
Miris...
Rinisa
Dilema
Rinisa
Next 🤗
Rinisa
Next
Rinisa
Kasihan banget Liana...
Rinisa
next😊
Rinisa
Emak nya Ardi datang, gini nich nikah tanpa ijin orang tua...
Rinisa
kasihan Liana...
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!