Kisah ini menceritakan tentang Adela Putri Wijaya (19) yang sebelum pendakian bersama teman-temannya ke salah satu Gunung, merasa hidupnya baik-baik saja dan tentram. Namun, setelah itu banyak kejadian-kejadian janggal yang terjadi hingga membuat penyakit jantung bawaan dari lahirnya sering kambuh.
Adel sering disapa seperti itu, bertekad untuk mengungkap semuanya sebenarnya siapa dibalik kejadian janggal yang terjadi dalam hidupnya.
Bersamaa dengan hal itu, Adel juga bertemu dengan Tomi Bagus Alamsyah dokter baru yang memiliki wajah tampan yang membuatnya merasakan cinta pada pandang pertama. Tapi siapa sangka umurnya terpaut jauh dari Adel.
***
"Dokter, nikah yuk!"
"Saya nggak suka bocil."
"Tapi aku suka sama dokter, gimana dong?"
"Yaudah nikahin aja dokter yang lain. Masih banyak kok, dokter yang jomblo di rumah sakit ini."
"Ih, maksud aku dokter Tomi. Aku maunya nikah sama Dokter Tomi."
"Maaf bocil, saya nggak denger ucapan kamu. Tiba-tiba kuping saya budeg."
"Yah, dokter Tomi jangan pergi!"
***
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Asazya, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
20. Berita mengejutkan
Tomi sudah stay di ruangannya, ia sengaja datang satu jam lebih awal dari jadwal karena jalanan sering macet, ditambah jarak antara rumah dan tempat kerjanya lumayan jauh.
Tangannya mengetik sesuatu di komputer, membuka website yang mempromosikan komplek perumahan yang lokasinya dekat dengan rumah sakit. Ya, seperti janjinya pada Kiki, Tomi akan membeli rumah untuk ditinggali bertiga bersama si Mba, meski belum tentu Kayla dan Arsel merelakan Kiki untuk bersamanya. Tomi optimis bisa membawa Kiki, bagaimanapun caranya.
Sedang asyik menscrool menggunakan mouse tiba-tiba pintu diketuk oleh seseorang, Tomi menatap jam yang melingkar di tangannya. Belum waktunya check-up pasien. Pikirinya, siapa yang datang sepagi ini?
Apa keluarga pasien yang akan konsultasi tentang operasi? Soalnya, hari ini Tomi juga ada operasi salah satu pasien tapi jadwalnya sekitar jam 10 pagi.
"Masuk," titahnya, nampaklah Nissa salah satu perawat sekaligus asistennya.
"Kenapa, Nis?"
"Ada yang mau bertemu, Dok."
"Oh, suruh masuk aja."
"Baik, pak." Setelah mengatakan itu Nissa menyingkir dari pintu, memperlihatkan siapa tamu tersebut.
"Kayla?" tanyanya dengan raut wajah kaget.
Tomi berdiri, kemudian menyuruh tamu yang ternyata Kayla untuk duduk di salah satu kursi. Sementara Nissa tanpa dititah langsung undur diri dan menutup pintu.
Ia tahu dokternya pasti butuh privasi, apalagi kedatangan mantan istrinya yang sempat terdengar rumor perselingkuhannya, hingga membuat Dokter Tomi depresi beberapa tahun lalu.
Meski Dokter Tomi baru di rumah sakitnya, tapi kabar tersebut cepat berhembus dikalangan perawat yang lain, terutama perawat perempuan. Mereka mencari informasi tentang dokter ganteng itu dari berbagai sumber, hingga muncullah kabar ini.
Nissa tahu itu mantan istrinya dari beberapa foto di instagram Dokter Tomi yang entah mengapa belum dihapus oleh pemiliknya.
"Ngapain kamu di sini?" tanya Tomi kebingungan. Pasalnya, ini untuk pertama kalinya Kayla datang menemuinya tanpa Arsel.
Kayla menghela napas berat. "Mas, kamu mau menikah?"
"Maksud kamu?"
"Perempuan muda kemarin itu pacar kamu?" tanyanya, Kayla tidak tahu apa alasan yang logis hingga dirinya berani melangkahkan kakinya ke tempat Tomi tanpa sepengetahuan Arsel, Kayla hanya ingin bertemu karena dari semalam pikirannya rudet memikirkan tentang Tomi dan perempuan itu.
Tomi tertawa terpaksa, apa-apaan Kayla, yang benar saja dia menemuinya hanya untuk, menanyakan perihal ini?
"Jika tidak ada yang ingin kamu tanyakan lagi kamu bisa keluar, saya sibuk." Tomi berdiri membelakangi Kayla, tatapannya mengarah ke sebuah lukisan Indah yang terpajang di dinding.
"Mas...." Kayla menatap sedih lelaki yang sempat menemani hidupnya itu.
"Pintu keluar di hadapan kamu."
"Aku lega akhrirnya Mas Tomi bisa menemukan penggantiku. Aku harap Mas Tomi bisa bahagia dengan perempuan itu,"
"Kamu tahu, saya tidak punya waktu untuk menanggapi hal seperti ini." Tomi hanya tidak ingin, luka yang disimpan selama ini kembali mencuat. Walaupun, sampai saat ini bayang-bayang Kayla masih bergentayangan di pikirannya. "Kamu bisa pergi sebelum saya usir dengan cara paksa."
"Aku tahu kamu pasti marah sama aku, Mas. Tapi apa kamu tahu sekarang aku begitu menyesal telah mengkhianati kamu."
"Jangan mencoba memberi saya harapan apapun, Kayla. Semuanya sudah menjadi keputusan kamu, saya tidak bertanggung jawab atas apa yang sekarang kamu alami. Tolong jangan buang waktu saya," kata Tomi penuh penekanan. Dia menahan dirinya untuk berbalik menatap sosok perempuan yang sangat dia rindukan itu.
"Maaf__"
"Saya mohon..."
"Baiklah," kata Kayla pasrah, dengan lemas dia keluar ruangan. Tatapan sedih tidak luput dari matanya, ada sesuatu yang ingin disampaikan tapi melihat respon Tomi yang wajar sekali untuk ukuran orang sudah disakitinya. Kayla tidak bisa berbuat apapun, dia takut Tomi semakin membencinya.
Setelah kepergian Kayla, Tomi menonjok tembok melampiaskan amarahnya.
"ARGH!"
Sekuat apapun Tomi mengatakan baik-baik saja pada mamanya, nyatanya dia tidak pernah merasa lebih baik. Bayangan keluarga kecil bahagianya selalu menghantui Tomi.
****
Pagi sekali Adel sudah siap dengan kaos dan celana leggingnya. Adel hari ini akan olahraga di salah satu taman bersama Dea.
Lag-lagi Dea bolos, tidak heran karena Dea memang terkenal anak yang tidak berniat untuk berkuliah jadi terkesan malas-malasan, kuliah hanya formalitas di depan kedua orangtuanya.
Sedangkan Lana tidak ikut, katanya kemarin dirinya sudah bolos masa sekarang harus bolos lagi. Lana tidak mau menyia-nyiakan kesempatan, dia punya cita-cita yang tinggi. Tidak seperti Dea yang masa bodo dengan masa depannya.
Padahal Adel dan Lana sudah menceramahi Dea untuk lebih serius, tapi tetap saja sahabatnya itu kekeh pada pendapatnya.
"De akhir-akhir serem tahu, ada yang neror aku. Pertama, ada yang ngirim bangkai tikus di dalam kotak terus tadi malam ada yang ngirim pesan yang isinya dead ke nomor aku. Tapi pas dicoba untuk disambungin dan dilacak sama Kak Albar nomornya nggak aktif, katanya sih itu nomor baru tapi yang punya langsung ngebuang sim cardnya jadi sulit dilacak," jelas Adel mereka sedang beristirahat di salah satu bangku taman. Tidak banyak orang yang berolahraga, mungkin karena hari kerja.
"Paling orang jail, Del," balas Dea terlihat santai. Walaupun sempat marah karena perihal pulang itu, Dea sudah membaik. Ia tidak bisa marah dengan waktu yang lama pada Adel.
"Yaa semoga aja, sih." Adel pun berharap seperti itu, semoga hanya orang jahil kurang kerjaan. Dia jadi merasa tidak aman jika keluar rumah.
Jam yang melingkar di pergelangan Adel sudah menunjukkan pukul 08.00 pagi, mereka memutuskan untuk mencari tukang bubur sekitar taman, yang katanya sering menjadi langanggan Dea. Mereka berdiri, lalu berjalan menuju tukang Bubur disebrang sana.
Tanpa Adel sadari, ia tidak pernah aman dia selalu dipantau oleh orang-orang yang begitu apik menutupi kejahatan mereka. Hingga waktunya tiba, Adel bisa saja tidak terselamatkan.
"Bentar ada telepon," kata Dea, ia menghentikan langkahnya. Kemudian mengangkat telepon ternyata dari Kak Friska, kakak ipar Adel.
"Kakak mohon saat ada berita yang menyangkutpautkan dengan Adel. Jangan tanya apapun sama Adel. Setelah menutup telepon ini, kamu awasi Adel jangan sampai dia memegang ponselnya."
"Tapi__" Dea melirik Adel yang saat itu ternyata sedang memegang ponselnya.
"Kakak akan segera ke tempat kamu, share lock cepat," titahnya setelah itu sambungan dimatikan.
Dea tidak mengerti dengan apa yang sedang terjadi, tapi dirinya cukup peka bahwa ada sesuatu yang tidak beres menyangkut Adel dan memilih mengikuti arahan dari Kak Friska.
"Del?" tanya Dea hati-hati, dia akan berpura-pura meminjam ponsel sahabatnya terlebih dahulu.
"Gue pinjem ponsel lo."
Adel menoleh. "Siapa yang nelpon?" tanyanya malah penasaran.
"Temen, Del. Kuota gue abis, gue mau numpang chat di ponsel lo boleh?" Dea memikirkan segala supaya ponsel Adel berada di tangannya.
"Tetring aja," balas Adel kembali pokus ke ponsel. "Ini apa?"
Adel mengklik berita yang muncul otomatis di ponselnya, dia penasaran karena dijudulnya ada nama ayahnya.
"Del, jangan!"
"Publik tersentak, ternyata Anak Pejabat daerah berinisial (A) adalah pembunuh pemuda yang ditemukan meninggal di salah satu Gunung di kota Bandung, meski sudah berlalu beberapa minggu sejak pertama kali ditemukan pihak kelurga meminta agar pelaku cepat ditangkap__"
Adel menscrool berita tersebut ke bawah, dia melotot tidak percaya ada foto yang sempat diambil bersama Bima saat dipendakian, tubuhnya lemah. Terlalu shock bahkan Adel merasakan jantungnya kembali sesak bagai ditusuk pisau. Kepalanya berkunang-kunang, melihat berita ini.
Siapa yang tega memfitnahnya?
Adel terjatuh ke tanah, matanya berkaca-kaca, dia terus-terusan menggelengkan kepalanya. Tidak, Adel bukan pembunuh. Dia jatuh di pendakian dan meninggal bukan karena bunuh diri, itu kecelakaan bukan kesengajaan. Tolong siapapun, bangunkan Adel, bilang pada Adel bahwa ini hanya mimpi.
Adel merasakan sulit bernapas, dadanya sakit. Kesadarannya mulai melemah. Tidak lama kemudian Adel merasakan semuanya gelap.
"Del jangan buat gue takut!" Dea yang juga panik dengan kondisi Adel, dia terus memeluk sahabatnya dengan air mata yang mengalir. Dea takut, Adel kembali terbaring di rumah sakit. Adel adalah satu-satunya sahabat yang menerima Dea apa adanya, Adel selalu ada di sisinya ketika banyak yang mengucilkan di kampus.
Jika sesuatu terjadi pada Adel, Dea tidak akan pernah memaafkan dirinya sendiri.
Sementara orang yang sedari tadi mengintai, tersenyum puas lagi-lagi rencananya berjalan mulus.
**
Kalau ada kekeliriuan tolong kasih tahu ya, biar bisa perbaiki. Makasih hehe:)
Jangan lupa vote, coment, rate5 dan like.
mbok satu2 konflik di beresin moso digantung trus dan nambah konflik trus
hadeh lama2 jenuh jg ,kpn endingnya🤔🤔🤔