Edrico Stevanus, pria single, belum pernah menikah, tiba-tiba harus menjadi hot daddy? Bagaimana bisa?
Ikuti yuk petualangan Rico—sang bodyguard dalam keribetannya mengurus seorang balita.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Sensen_se., isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab 21 ~ Di Luar Batas
“Tunggu!” Rico menghentikan langkah, Lala yang sudah menekan tombol pada pintunya menoleh, gerakannya terhenti.
“Kenapa?” tanya Lala mengerutkan keningnya.
“Aku ambil baju ganti dulu sebentar. Password nggak diganti ‘kan?” Rico membelai kepala Lala. Gadis itu menggeleng pelan, senyum tipis menghiasi bibirnya.
Rico berjalan mundur, “Enggak akan lama kok,” teriak Rico berbalik dan kembali ke bilik apartemennya.
Langkah kakinya justru masuk ke kamar Airin. Suara ketukan sepatu yang menggema di kamar, membuat Airin lekas menoleh. Terkejut ketika Rico kembali ke sana.
“Tu ... Tuan,” ucap Airin terbata. Mendudukkan tubuh, kepalanya tertunduk.
Rico memicingkan mata dengan tajam. Kedua lengannya terlipat di depan dada. Melirik sekilas pada Rain yang sudah terlelap, lalu kembali menatap Airin.
“Kamu bukannya yang waktu itu di rumah sakit?” selidik Rico mengingat sosok yang pernah ia tolong.
Airin tak berani mengangkat kepala. Hanya menjawab dengan sebuah anggukan lemah.
Rico mengembuskan napas berat. “Siapa nama suami kamu?”
“Satya Adipura,” gumam Airin lirih.
“Kalau begitu, jangan keluar dari apartemen ini apa pun yang terjadi. Apalagi kamu membawa Rain. Jangan sampai anak saya kenapa-napa karena kamu! Kalau butuh sesuatu telepon saja!” titah Rico lalu meninggalkan ruangan itu dan menutup pintu rapat.
Ia segera mengambil beberapa pasang pakaian untuk dibawa ke apartemen Lala. Kebahagiaannya membuncah, bahkan kini melenggang keluar sembari bersiul.
Jemarinya dengan lincah menekan setiap angka yang tentu sangat ia hafal untuk membuka pintu apartemen Lala.
“Sayang!” panggil Rico melongokkan kepala. Karena Lala tak terlihat di penjuru ruangan luas tersebut. “Mandi kali ya,” serunya duduk di ruang tengah. Menekan remot untuk menyalakan televisi di depannya, demi memecah keheningan.
Sembari menunggu, Rico juga melihat-lihat layar ponselnya. Mengecek persiapan pernikahannya yang tinggal menghitung hari lagi.
Lala keluar dari kamarnya, dengan setelan piyama serba panjang. Ia menghampiri Rico mengulurkan tangan. “Mana pakaian kamu? Aku taruh di kamar,” pinta Lala.
Rico yang sedari tadi fokus dengan ponsel kini menaikkan pandangan. Menatap Lala yang terlihat begitu segar tanpa balutan make up, cantik alami. Selalu membuat Rico jatuh cinta padanya.
“Mmm ... cantiknya calon istriku. Nanti aja sih! Sini dulu!” Rico justru menarik tangan Lala dan mendudukkan gadis itu di pangkuannya.
“Rico ihh!” Lala tersentak, namun tak berdaya karena kedua lengan lelaki itu sudah melingkar di perutnya.
“Ini loh, ditanyain sama WO-nya. Kamu katanya masih bingung? Hari ini harus udah deal semua, Sayang. Biar aku bayar DPnya,” ucap Rico menumpukan dagu di bahu Lala. Menunjukkan percakapan dengan wedding organizer.
Lala merasa tidak nyaman, berpindah ke sebelah Rico meski tak berjarak. Pandangannya juga searah dengan mata Rico.
Setelah berunding beberapa saat, Lala pun menjatuhkan konsep pernikahan indoor dengan tema putih dan rose pink. Keduanya tampak antusias.
“Undangan udah disebar?” tanya Rico.
“Udah. Cuma para karyawan butik aja. Lagian kita nikahannya di sini. Jadi, sengaja nggak undang banyak-banyak. Yang penting sah,” tanggap Lala tertawa.
Gemas dengan kelembutan suara wanita itu, Rico mencubit kedua pipi Lala sedikit keras.
“Sakit!” pekik Gadis itu tak terima, ia menggelitiki pinggang Rico.
Tentu saja lelaki itu memekik, tawa dua insan itu mengudara di apartemen luas Lala. Rico terus menepis tangan kecil perempuannya. Bahkan kini punggung Rico ambruk di sofa, tangannya mencengkeram pergelangan tangan Lala hingga tubuh gadis itu turut ambruk di atas dada bidang Rico.
Tatapan keduanya terkunci, napas dan debaran dada mereka mulai tak beraturan. Satu tangan Rico meraba punggung gadis itu, terhanyut dalam pesona ayu sang kekasih. Membelai pipi Lala dengan pelan, lalu beralih mendorong tengkuk Lala hingga ciuman itu terjadi lagi.
Lala pasrah saja, apalagi tangan Rico yang lainnya memberikan sentuhan-sentuhan yang membuatnya merinding dan bergejolak.
Tanpa sadar, Rico memutar posisi. Lala berada di bawah kungkungannya. Ciuman mereka semakin memanas, seiring dengan hasrat yang membuncah. Tubuh mereka seolah dibakar gairah.
“Ric!” Lala tersentak ketika kesadarannya yang hampir hilang mulai kembali. Namun tubuhnya menginginkan sentuhan penuh damba dari Rico.
“Tidak apa-apa. Sebentar lagi kita sudah jadi suami istri ‘kan?” bisik Rico dengan nada suara berat. Menjatuhkan wajah di dada Lala. Mengusak hidungnya dengan gerakan lembut. Hingga suara ******* Lala meluncur begitu saja. “Boleh, La? Aku sudah nggak tahan,” gumam Rico menyejajarkan muka.
Napas Lala terengah-engah. Sebuah anggukan yang dilihat Rico semakin membuatnya bersemangat. Dan ... hal yang seharusnya tidak terjadi, pada akhirnya terjadi juga.
Bersambung~
Issh iissh isssh ,.. tidak untuk dicontoh ya adick adick ... ini tak baik! Jangan ditiru!
Jadi dua kubu yah 😂
Tim Rico-Lala sini kumpul...
Tim Rico-Airin? Kumpul juga sini...
asal kalian tau.. Uncle Ric buat author titik 🤣🤣🤣
lanjutkan perjuanganku utknya...
bahagiakan Dia... kok jadi nyayi sih aku 😅