Apakah perceraian harus menjadi jalan satu-satunya saat rumah tangga tertimpa masalah? Jika benar seperti itu, maka tidaApakah perceraian harus menjadi jalan satu-satunya saat rumah tangga tertimpa masalah? Jika benar seperti itu, maka tidak akan ada ucapan sakinah mawadah warahmah, dalam pernikahan.
Bertahan dalam pernikahan yang memberi tangis kesedihan bukan hanya bentuk kebodohan, tetapi bentuk dari perjuangan dalam mencapai pernikahan yang bahagia. Karena tidak ada pernikahan yang berjalan mulus tanpa masalah. Begitu juga pernikahan antara Zaara dan suaminya–Arjuna.
Malam pertama pernikahan yang harusnya memberikan Zara kebahagiaan, justru memberikan luka yang begitu menyakitkan untuk Zara, saat Zara mengetahui jika suaminya mencintai wanita lain.
Apakah Zara memilih menyerah? Tidak. Karena Zara mencoba bertahan dan berjuang untuk pernikahannya.
Apakah perjuangan Zara akan berbuah manis? Entahlah.
Ikuti ceritanya!
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon mamie kembar, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab 21
Juna terus saja terdiam, tatapannya seakan fokus menatap jalanan, tetapi keadaan yang sesungguhnya justru pikiran Juna tengah bercabang dimana Juna tengah memikirkan Zara.
Setiap kali berbohong pada Zara, maka Juna akan selalu merasakan perasaan yang begitu tidak nyaman di hatinya. Juna sadar semua itu, tetapi dia tetap saja melakukannya.
Seperti yang saat ini terjadi. Juna beralasan pergi lebih cepat karena ada meeting di kantor, padahal yang terjadi sebenarnya Juna pergi menjemput Laura untuk datang ke kantor bersama.
"Ada apa denganmu? Kenapa diam saja?" tanya Laura terdengar kesal.
"Juna!" pekik Laura saat Juna masih saja tak menanggapinya.
"Iya, Za. Kenapa?" ucap Juna terkejut.
"Za? Apa katamu? Za? Kamu sedang memikirkan wanita itu saat tengah bersamaku. Kamu jahat!" ucap Laura merasa amat marah pada Juna.
Tanpa Juna menyebut nama Zara saja Laura selalu merasa cemburu pada Zara. Meskipun Juna berjanji tidak akan menyentuh Zara, tetapi tetap saja Laura selalu merasa cemburu pada semua hal yang berhubungan dengan Zara.
"Berhenti!" pinta Laura membentak.
"Sayang, aku tidak menyebut Zara. Kamu salah mendengar," ucap Juna menepikan mobilnya, lalu menatap Laura yang terlihat begitu kesal padanya.
"Juna. Pendengaranku masih sangat baik," bantah Laura.
"Maaf jika aku salah. Zara hari ini akan pulang kampung bersama keluarganya, aku takut orang-orang bertanya tentang keberadaanku," terang Juna.
"Kamu akan pergi? Kamu ingin meninggalkanku dan lebih memilih wanita itu?" tanya Laura lagi.
"Tidak. Lihat sekarang aku bersamamu. Aku memilihmu daripada dia," jawab Juna berusaha menggenggam tangan Laura, tetapi Laura menepisnya.
"Berapa hari?" tanya Laura.
"Mungkin satu minggu," jawab Juna.
"Kalau begitu kamu akan menginap di tempatku selama satu minggu," pinta Lauara.
"Baiklah," jawab Juna dengan patuh.
Laura yang mendengar itu seketika tersenyum, Laura kembali bergelayut manja bersandar di lengan Juna. Juna yang telah berhasil membujuk Laura kembali melajukan mobilnya, tetapi tetap saja pikirannya tertuju pada Zara.
'Sedang apa Zara? Apa dia sudah pergi?' ucap Juna dalam hati bertanya-tanya.
***
Di kediaman Emirhan. Seorang wanita paruh baya menatap sedih pada Zara yang datang dengan menyeret koper di tangannya. Renata tahu betul apa alasan Zara pulang, yaitu karena mereka akan pergi bersama-sama ke kampungnya. Namun, perasaannya sebagai seorang ibu merasakan hal yang berbeda. Meskipun Zara terlihat tersenyum melangkah menghampirinya, tetapi Renata seakan melihat putrinya tengah menangis.
"Sayang, kamu baik-baik saja?" tanya Renata membalas pelukan Zara yang begitu erat padanya.
"Mama, aku sangat merindukan Mama," ucap Zara tanpa sadar menangis.
Renata melepaskan pelukan Zara saat merasa jika pundaknya basah. "Sayang. Katakan ada apa? Apa semuanya baik-baik saja?" ulang Renata bertanya saat dia merasa ada yang tidak beres pada putri kesayangannya.
"Aku baik-baik saja, Ma. Aku hanya sangat merindukan kalian," jawab Zara kembali memeluk Renata, menenggelamkan wajahnya di dada yang ibu, meredam semua ucapannya yang hanya bisa mengadu dalam hati .
Dari arah dalam sana, ketiga pria berjalan beriringan menghampiri Zara dan Renata yang tengah berpelukan. "Apa hanya Mama yang kamu rindukan?" tanya seseorang membuat pelukan Zara dan Renata terlepas.
Keduanya langsung menatap ke asal suara. Zara dapat melihat jika Papa dan kedua kakak nya juga berada di sana menyambutnya.
"Papa," ucap Zara berlari masuk ke dalam pelukan Emirhan–papanya.
"Apa kabar, sayang?" tanya Emir dengan begitu lembut mengecup pucuk kepala Zara.
"Aku merasa sangat baik setelah melihat kalian," jawab Zara tulus mengatakannya.
'Sangat baik berkat kalian. Aku benar-benar merindukan kalian,' batin Zara.
"Za. Di mana Juna? Kamu pulang sendiri?" tanya Zayan membuat tubuh Zara menegang mendengarnya. Zara melepaskan pelukannya, lalu perlahan menatap canggung pada kedua kakaknya. Zara yang tidak terbiasa berbohong dan tidak pernah bisa menutupi apapun dari Zavier dan Zayan, merasa begitu gugup.
"Benar yang Zayan katakan. Di mana Juna?" sahut Zavier ikut bertanya.
"Mas Juna ada rapat pagi ini. Dia juga ada pekerjaan di luar kota setelahnya, tapi kata Mas Juna dia akan berusaha menyusul," jawab Zara berusaha untuk tetap tenang meskipun Zara sadar kedua saudaranya tidak akan dengan mudah mempercayai apa yang dia katakan.
"Kakak kenapa tidak bekerja?" tanya Zara mengalihkan pembicaraan.
"Sengaja tidak bekerja agar bisa menyambut princess Emirhan," jawab Zayan dan Zavier secara bersamaan mencubit pipi Zara, lalu merangkul adik kesayangan mereka masuk ke dalam rumah.
"Bagaimana pekerjaan kalian? Apa kalian juga akan berangkat hari ini?" tanya Zara lagi saat mereka semua sudah duduk di sofa ruang keluarga.
"Tentu saja libur, kami tidak akan melewatkan waktu bersama princess cengeng ini," jawab Zayan tertawa mengatakannya.
Zara yang kembali merasakan kehangatan keluarga nya merasa sangat bahagia, tetapi di balik itu Zara juga merasa sangat sedih saat mengingat Juna yang lebih mengistimewakan wanita lain daripada dirinya.
Perfect deh.....
ada season kedua kah???
ternyata selama itu kamu pergi , gimana keadaan papa Emir juga Juna sekarang....