Aleesa Addhitama (20) dan Yansen Geremy (20) tahu bahwa rasa yang mereka miliki itu salah. Kebersamaan mereka sedari kecil membuat Aleesa dan juga Yansen merasa nyaman dan enggan untuk dipisahkan. Walaupun mereka tahu ada dinding yang menjulang memisahkan mereka berdua, yakni sebuah keyakinan.
"Satu kapal dua nahkoda, penumpangnya akan dibawa ke mana?" Begitulah kata sang ayah. Kalimat yang sederhana, tapi menyiratkan arti yang berbeda.
Akankah mereka berjuang untuk mendapatkan restu? Ataukah ada restu lain yang akan mereka dapatkan?
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon fieThaa, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab 21. Lampu Hijau
Rindra mengerutkan dahi ketika membuka pesan dari sang putra. Tak lama kemudian, dia malah tersenyum.
"Cara ngelindunginnya penuh dengan modus." Rindra terkekeh.
.
"Istri?" ulang rekan Restu. Dia tidak percaya begitu saja. "Sejak kapan Anda menikah?"
"Pernikahan adalah sebuah privasi untuk saya."
Aleesa menatap lekat ke arah Restu yang bebicara teramat serius. Tangannya masih merengkuh pinggang Aleesa dengan begitu erat. Jarak mereka pun teramat dekat.
"Jadi, jangan bahas masalah ini lagi. Apalagi mendekati istri saya. Jika, kamu masih ingin hidup di dunia ini." Perkataan yang teramat garang yang keluar dari mulut Restu. Rekannya itupun mengangkat kedua tangannya menandakan menyerah.
Ketika rekannya itu pergi, Restu mulai menatap ke arah Aleesa. Juga Aleesa yang tengah menatap ke arahnya.
"Maaf." Hanya itu yang Restu katakan. "Di sini berisi buaya buas semua. Hanya itu salah satu caranya."
Aleesa tidak menjawab, dia malah memalingkan wajahnya. Menjauhi Restu begitu saja membuat Restu menukikkan kedua alisnya. Aleesa sudah duduk di kursi yang tadi dengan kepala yang menunduk.
"Hei! Kenapa?" Restu sudah bersimpuh di depan Aleesa. Namun, perempuan itu masih menundukkan kepalanya.
"Maaf karena aku sudah lancang menci--"
"That's my first kiss."
Mata Restu melebar mendengarnya. Apa benar? Begitulah batinnya berkata.
"Are you serious?" Aleesa mengangguk pelan.
Namun, Restu masih tidak percaya begitu saja dengan apa yang dikatakan oleh Aleesa. Dia menangkup wajah Aleesa dan menatapnya begitu dalam. Tidak mungkin jika mereka tidak melakukan hal itu. Apalagi mereka sudah menjalin hubungan teramat lama. Tidak mungkin Yansen pun sepolos itu.
"Kamu bohong 'kan?" Lagi-lagi Aleesa menggeleng.
"Yansen?"
"Dia tidak pernah menyentuhku selain mengusap lembut rambut dan menggenggam tangan."
Ada rasa bersalah bercampur bahagia di hati Restu mendengarnya. Mata Aleesa sudah berair membuat tangan Restu mengusap lembut air mata Aleesa.
"Maaf, kalau first kiss untuk kamu tidak memiliki makna yang mendalam." Restu masih menatap ke arah Aleesa yang berwajah sendu. Aleesa hanya terdiam.
Kini, Restu sudah mencari sesuatu di dalam tasnya dan akhirnya dia menemukan handuk putih yang tidak terlalu lebar. Dia menyuruh Aleesa untuk menarik ujung handuk tersebut begitu juga dengan dirinya. Aleesa bingung karena wajah mereka berdua kini tidak bisa dilihat oleh orang lain. Mata mereka berdua pun terkunci hingga Restu mulai mendekatkan wajahnya ke wajah Aleesa. Perlahan, mata Aleesa terpejam dan dia merasakan bibir Restu menyentuh bibirnya. Kini, bisa Aleesa rasakan dengan begitu nyata.
Sesapan lembut membuat Aleesa yang kaku mulai membalas. Mereka seakan tengah menyalurkan rasa yang mereka pendam berdua. Sebuah ciuman yang sangat memabukkan membuat mereka berdua terbuai. Apalagi ini yang pertama untuk Aleesa begitu juga dengan Restu.
Walaupun sama-sama yang pertama, tapi naluri Restu mampu membuat Aleesa menikmati. Wajar, di negara ini dia sering melihat langsung orang yang berbeda jenis berciuman tanpa tahu tempat. Setelah puas, mereka berdua saling menjauhkan wajah mereka. Restu mengusap lembut bibir Aleesa yang basah.
"You're my lovely."
Adegan romantis itu harus berakhir karena seseorang merenggut paksa handuk yang masih mereka berdua bentangkan.
"Dasar kancil!" omel Rio. "Lu harus mempertanggungjawabkan perbuatan lu ini di depan Papih dan Uncle." Rio sudah menunjukkan ponselnya yang tengah memutar video Restu mengecup singkat bibir Aleesa.
Mata Restu dan Aleesa melebar melihatnya. Mata Aleesa sudah nanar dan ingin menangis.
"Kak Iyo, jangan."
"Udah aku kirim, dan sekarang coba kalian cek ponsel kalian masing-masing."
Aleesa segera meraih ponselnya dan dadanya berdegup sangat kencang ketika sang ayah sudah menyuruhnya untuk pulang. Begitu juga dengan Restu yang sudah mendapat pesan dari Rindra juga Radit.
"Kak Iyo--"
"Kita hadapi sama-sama." Restu sudah mengusap lembut rambut Aleesa. Mencoba menenangkan Aleesa yang terlihat sangat ketakutan.
"Aku ganti baju dulu. Kita pulang sekarang." Restu mengusap pipi Aleesa sebelum dia ke kamar mandi.
Rio hanya tersenyum dan membiarkan dua insan manusia itu menghadapi dua pria dewasa yang terbilang garang.
Di sepanjang perjalanan Aleesa merasa tidak tenang. Restu mulai menggenggam tangan Aleesa dan membuat Aleesa menoleh ke arahnya.
"Jangan takut. Aku akan bertanggung jawab."
Tibanya di rumah, di ruang keluarga
sudah menunggu dua pria dewasa. Wajah Aleesa sudah begitu pucat karena tatapan dari sang ayah.
"Maafkan Sasa, Ba. Sasa--"
"Ini salah aku, Om. Aku yang tidak bisa menjaga Aleesa. Malah merusak Aleesa." Tubuh Aleesa menegang mendengarnya Restu memotong ucapannya. Pria di sampingnya ini benar-benar gentle.
Radit sudah beranjak dari duduknya. Dia mendekat ke arah Restu dengan wajah tak bersahabat.
"Aku akan bertanggung jawab, Om." Restu berucap tanpa ragu dan membuat Aleesa membeku.
Radit sudah menarik kerah kaos yang digunakan oleh Restu dan membuat Aleesa ingin menitikan air mata. Sedangkan Restu masih bersikap tenang.
"Jangan, Ba. Jangan pukul Kak Restu." Aleesa sudah memohon dengan air mata yang sudah menganak. Restu menoleh ke arah Aleesa yang ingin menangis. Dia menggeleng pelan dan masih menyunggingkan senyum kecil kepada Aleesa. Menandakan bahwa dia baik-baik saja.
"Kamu masuk kamar sekarang."
"Tapi, Ba--" Lirikan tajam Radit membuat Aleesa harus mengikuti perintah ayahnya. Dia pun menuju kamar dan kini tersisa Radit, Restu dan juga Rindra.
"Pukul aku, Om. Aku memang salah."
Rindra bertepuk tangan dan membuat Restu bingung dibuatnya. Radit pun melepaskan cengkeramannya dan semakin membuat Restu kebingungan.
"Ini baru cowok sejati." Rindra menepuk pundak Restu dengan begitu bangga.
"Membuka segel bertanda apa?" tanya Radit kepada Restu. Dia masih menatap laki-laki yang hobi bertengkar.
"Saya sungguh-sungguh dan alm bertanggung jawab, Om. Saya memang nakal, tapi saya tidak bejat. Saya melakukannya karena saya ingin melindungi Aleesa juga--"
"Mencintai anak saya." Restu mengangguk dengan yakin.
"Yansen!!"
Teriakan Aleesa terdengar hingga ke lantai bawah dan membuat tiga orang pria berbeda usia berlari ke kamar Aleesa. Radit segera membuka kamar Aleesa dan melihat sebuah figura bergambar Yansen pecah tak tersisa.
"Baba, perasaan Sasa gak enak. Pasti terjadi sesuatu dengan Sensen, Ba."
Hati yang baru saja melambung harus ditampar oleh kenyataan pahit dan menyakitkan. Apalagi dia melihat Aleesa benar-benar menangis dan memeluk tubuh ayahnya.
"Sensen, Ba. Sensen."
"Kamu tenang, ya." Radit membawa Aleesa ke tempat tidur. Sedangkan Rindra sudah membawa Restu untuk menjauh dari sana. Dia dapat melihat raut kecewa dari wajah Restu.
Rindra dan Restu sudah duduk di teras depan. Sudah pasti putra pertamanya itu akan menyalakan rokok. Rindra hanya tersenyum tanpa melarang.
"Berjuanglah lebih keras karena di hati Aleesa masih terpatri satu nama."
Restu melepaskan kepulan asap rokok ke udara sambil menahan sesak di dada.
"Yakinkan hati Aleesa," titah Rindra.
"Apa aku bisa?" Rindra tertawa. Dia menatap ke arah Restu seraya menggelengkan kepala. Sejak kapan putranya ini menjadi manusia pesimis.
"Kamu gak yakin? Padahal lampu hijau sudah kamu dapatkan loh."
Restu menatap ke arah sang ayah angkat. Wajah Rindra teramat bahagia.
"Papih akan selalu dukung kamu. Papih juga merestui kamu dengan Aleesa."
...***To Be Continue***...
Komennya banyakin dong ... biar semangat UP-nya
itu maka ny abang Dengan gak suka sama syafa. dia biang masalah dari dua saudara yg harmamonis
di mana abang Dengan lg sakit, di situ pula si Mami mau lahiran
brandalan lo lawan.
senggol.. bacok lah 😃😃😃