Hervinda Serana Putri, seorang gadis dengan kesabaran setebal baja. Hidup dengan keluarga angkat yang tidak pernah menganggapnya keluarga. Hidup terlunta dan diperlakukan seperti pembantu. Bahkan, dia seperti membiayai kehidupannya sendiri. Suka, duka dan bahkan segala caci makian sudah diterimanya.
Kejadian besar menimpa Hervinda ketika saudaranya, Rensi kabur dari rumah ketika hari pernikahannya. Seluruh keluarga bingung. Akhirnya, mereka menjadikan Hervinda sebagai ganti tanpa sepengetahuannya.
Michael yang merupakan calon Rensi sudah sangat bahagia. Sayangnya saat dia tau wanita yang dinikahinya bukanlah Rensi, emosinya meluap. Dia berjanji akan menyiksa Hervinda dan mendapatkan kembali Rensinya.
"Apapun untuk mendapatkannya. Kamu bukan yang aku inginkan. Bahkan melukaimu pun aku sanggup."
-Michael Adithama-
"Setidaknya tatap aku dan belajarlah mencintaiku."
-Hervinda Serana Putri-
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Kim Meili, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bagian 21_Wedding Day
Rensi menatap ruangannya dengan wajah sinis. Kamar dihias dengan banyak bunga yang dijadikan sebagai dekorasi. Dia bahkan tersenyum sinis menatapnya dan berdecak tidak suka. Semua orang akan berpikir bahwa esok adalah hari terbahagia untuknya. Menikah dengan orang terkaya se-Asia yang nyatanya juga memiliki wajah tampak bak dewa yunani. Namun, hal lain dirasakannya saat ini. Tidak ada rasa bahagia sama sekali dan yang ada hanya rasa muak karena kekonyolan yang terjadi padanya.
Rensi menghela napas panjang dan tersenyum sinis. Dia tersenyum penuh kemenangan mengingat apa yang sudah direncanakannya. Malam ini, dia akan kabur tanpa ada yang tahu dan hidup tenang bersama dengan Dave, pria yang dicintainya.
Suara ketukan pintu terdengar, membuat Rensi mengalihkan matanya dan menatap ke arah pintu yang mulai terbuka. Matanya menatap tajam ke arah tersebut dan melihat sang Mama tengah berdiri di ambang pintu dan menatap matanya.
“Kamu belum tidur?” tanya Nani dengan wajah yang menatap anaknya penuh lekat.
“Seperti yang Mama lihat, aku tengah duduk dan menatap kamar yang dihiasi dengan bunga yang cantik dan indah,” ucap Rensi sembari mengumbar senyum sumrigah, “benar-benar kamar pengantin yang luar biasa indah.”
Nani yang mendengar hanya menatap datar ke arah Rensi dan melangkah semakin mendekat. “Mama tidak tahu apa yang tengah kamu rencanakan, Rensi. Tetapi kalau sampai kamu macam-macam, jangan berharap untuk hidup tenang.”
Rensi yang mendengar hanya tertawa kecil dengan wajah yang masih tampak santai. “Mama, jangan mengancam ku seperti itu. Aku tidak akan berani macam-macam.”
“Mama pegang ucapan kamu,” ucap Nani dengan mata menatap tajam, “tidurlah. Jangan sampai kamu terlambat ke acar pernikahan mu besok pagi.”
Rensi hanya mengangguk patuh dengan senyum sumringah. Matanya masih mengawasi mamanya yang perlahan meninggalkan kamarnya. Pada saat yang sama, Rensi juga membuka jendela kamar dan mengenakan jaket tebal. Di luar udara cukup dingin dan dia tidak mau membuat tubuhnya sakit, bahkan sebelum dia berhasil kabur dari rumahnya.
Rensi mematikan lampu kamar dan menatap sekitar. Perlahan,dia melangkah mendekati balkon kamarnya dan menatap ke bawah. Kosong. Tidak ada seorang pun yang masih terjaga di rumahnya. Senyumnya kembali terukir dan dengan cepat, Rensi melewati pembatas balkon rumahnya dan turun menggunakan tali panjang yang memang sudah diikat.
Rensi menghela napas lega ketika kakinya menapak rerumputan samping rumahnya. Masih dengan mata mengawasi, dia kembali melangkah meninggalkan halaman tersebut. Sudah ada Dave yang menunggunya di gerbang belakang. Tempat paling aman yang tidak akan di datangi ketika malam. Benar saja, pada akhirnya dia lolos dan berhasilkan keluar dari rumahnya.
Bye Michael, carilah pengantinmu sendiri besok pagi dan yang pasti bukan aku. Batin Rensi dengan senyum mengejek.
_____
Vinda masih sibuk merapikan hidangan yang ada di ruang tamu dan juga kursi yang saat itu ada di depan rumahnya. Sejak pagi bahkan dia tidak berhenti mondar-mandir untuk memastikan bahwa semua persiapannya sudah siap. Seluruh cathering yang dipesan juga sudha datang. Pelayan yang ditugaskan juga sudah siap dan membantunya.
Vinda menatap seluruh persiapan yang memang sederhana dengan senyum puas. Dia tau, perniakahan Rensi adalah sebuah kesalahan karena gadis tersebut bahkan tidak menginginkannya. Namun, dia yakin, lambat laun cinta akan tumbuh dalam hati ke duanya. Mengingat hal tersebut membuatnya tersenyum sendiri. Kamu memang gila, Vinda. Rensi yang menikah, kamu yang tertawa bahagia.
Vinda menghela napas panjang dan hendak berbalik, tetapi sebuah panggilan cempreng membuat Vinda mengalihkan pandangannya dan menatap ke sumber suara dan melihat Della tengah melangkah ke arahnya. Vinda mengerutkan kening heran. Siapa yang mengundangnya?
“Hai-hai, bagaimana penampilanku saat ini?” tanya Della yang sudah berdiri di hadapan Vinda dengan gerakan memutar dan memamerkan dress maroon yang digunakan.
“Cantik,” nilai Vinda dengan senyum yang sumringah, “tetapi siapa yang mengundangmu datang ke sini? Aku rasa, tidak mungkin Rensi mengundangmu.”
Della hanya tersenyum dan menatap dress selutut yang dikenakan Vinda. Dress yang memperlihatkan bagian atas dada dan leher jenjangnya, membuat Vinda semakin cantik dibuatnya. Rambutnya digelung dengan rapi. Meski tanpa polesan bedak, gadis dihadapannya memang sudah cantik.
“Kamu hari ini cantik banget. Jangan sampai Michael jadi menikahimu dan bukan Rensi, ya,” goda Della yang langsung mendapatkan tatapan tidak terima dari arah Vinda. Mendapatkan hal tersebut hanya ditertawakan oleh Della karena dia tidak takut.
Vinda yang masih bergurau dengan Della dikagetkan oleh kedatangan Michael yang ada di belakangnya. Sedangkan Nani yang sejak tadi hanya diam di sofa ruangannya langsung bangkit dan tersenyum. Wajahnya benar-benar berseri menyambut kedatangan calon menantunya.
“Selamat datang, keluarga Aditama,” sambutnya dengan suara ramah. Matanya menatap Vinda yang hanya diam dan tersenyum. Beberapa kali dia memberikan isyarat agar Vinda memberitahukan Rensi untuk segera bersiap dan diangguki. Vinda melangkan meninggalkan halaman dan masuk ke dalam kamar.
_____
Vinda mengetuk pintu kamar Rensi beberapa kali dan tidak mendapatkan jawaban. Dia sudah datang bersama dengan perias yang khusus dipesankan untuknya. Wajahnya mulai panik karena untuk kesekian kalinya, tidak ada yang menyahut. Bahkan tidak ada yang membuka pintu kamar tersebut.
“Gak ada orangnya paling, Mbak,” ucap Doni, pria yang ditugaskan untuk mendandani Rensi hari ini. Seorang MUA terkenal yang dihadirkan langsung oleh Michael.
Vinda meneguk salivanya serat. Pikiran buruk mulai berkelebat membayangi otaknya. Tangannya sudah menggenggam knop pintu kamar Rensi erat. Matanya memejam dan langsung membuka pintu tersebut. Dia tau, Rensi akan marah jika dia masuk tanpa seizinnya, kecuali saat dia bersih-bersih kamarnya.
“Kenapa kamu lama sekali, hah?” ucap Nani yang tiba-tiba datang dari belakang, membuat Vinda menghentikan gerakannya yang hendak membuka pintu lebih lebar.
Nani menatap Vinda dengan wajah sinis dan tidak suka. Sudah hampir tiga puluh menit dia menunggu di bawah dengan pertanyaan yang sama, ‘dimana pengantin wanitanya?’ dan saat dia datang Vinda hanya diam di depan kamar Rensi.
“Kamu memang tidak pernah becus mengejakan tugas,” celetik Nani dan sedikit mendorong Vinda agar menjauh dari pintu kamar anaknya. Doni yang melihat sedikit kaget dan menatap Vinda yang hanya tersenyum.
“Rensi, bangun. Calon pemgantin pria sudah datang,” teriak Nani yang langsung masuk.
Vinda dan Doni mengikuti langkah Nani yang memasuki ruangan dengan desain dan tatapan kamar pengantin dan menatap sekitar. Kosong. Hal yang sama yang dilihat oleh Nani.
“Rensi!” teriak Nani kalang kabut. Dia langsung terduduk lemas menyadari bahwa anaknya tidak ada di kamarnya.
Vinda yang melihat langsung memeriksa seisi ruangan Rensi dan tidak menemukan apa pun. Matanya menatap sebuah tali yang terpasang di balkon kamar tersebut dan membelalak kaget. Dengan langkah cepat, dia mendatangi Nani yang masih mengerat penuh emosi. Tidak menyangka anaknya akan membuat ulah tepat di hari pernikahannya. Membuat masalah yang akan mengancam keluarganya.
“Ma, ada tali di balkon. Vinda rasa Rensi kabur melalui balkon kamar,” jelas Vinda denga wajah setenang mungkin.
Nani yang mendengar membelalak dan langsung bangkit, tetapi langkahnya terhenti mendengar suara sinis dari arah belakangnya dan membuat matanya membelalak tidak percaya. Saat ini, napasnya benar-benar terhenti, bersamaan dengan jantung yang terasa tidak berfungsi.
“Jadi, pengantinnya kabur?” tanya Tasya yang sudah berdiri di depan pintu dengan tatapan sinis, “apa kalian sedang mempermainkan keluarga ku, hah?”
Nani hanya diam dan tidak menjawab. Doni yang menyadari bahwa kondisi saat ini tidaklah baik memilih untuk keluar dari ruangan, meninggalkan ke dua keluarga yang tengah membara. Vinda hanya diam dan memperhatikan wajah Michael yang mengeras. Berbeda dengan Adelardo yang tampak begitu tenang.
“Keluarga kalian mengecewakan. Jadi, apa aku perlu menghancurkan kalian sekalian?” Tasya kembali berbicara dan itu membuat ketiganya membelalak tidak percaya.
“Jangan,” jawab Vinda dengan tatapan memohon. Dia tidak ingin semua usaha dan kerja keras papanya hancur hanya karena ulah tak bertanggung jawab Rensi. Dia menatap Tasya yang tengah memandangnya dingin. “Jangan lakukan itu.”
“Aku akan mencari Rensi,” ucap Michael dengan wajah yang sudah diliputi amarah.
“Terlambat,” cegah Tasya masih dengan wajah dingin, “mencari sekarang hanya akan membuat malu keluarga kita,” lanjutnya dan langsung menatap Vinda tajam.
Vinda *** tangannya bingung. Dia harus menyelamatkan keluarganya. Tetapi, dia harus berbuat apa? Mencari Rensi? Benar apa yang dikatakan wanita di hadapannya, semua hanya akan sia-sia karena mereka tidak tahu dimana Rensi berada saat ini.
Tasya tersenyum sinis dan menatapa Vinda dengan intens. “Kenapa harus mencari? Bukankah di sini masih ada yang bisa menggantikan?”
Ucapan Tasya sontak membuat Vinda, Nani dan Beni langsung mendongak seketika. Tidak ubah dengan Michael yang mengerutkan kening heran. Apa maksudnya? Tasya yang mengerti kebingungan keluarga dihadapannya langsung melangkah mendekati Vinda dan merangkul gadis tersebut. Mendongakan kepala Vinda dan membuatnya menatap Michael yang saat itu juga tengah menatapnya.
“Kamu bisa menjadi pengantin Michael hari ini, Vinda,” ucap Tasya dan membuat seisi ruangan terpaku tepat ke arahnya, termasuk Vinda yang langsung menegang tidak percaya.
_____
ael apakabar, gak pingin bales tuh
masa bacanya Michael bintangbintangbintang kertas 😑🙄