Follow ig 👉 @sifa.syafii
Fb 👉 Sifa Syafii
Karena sebuah kejadian yang tidak disengaja, Reyhan harus menikahi Tia, mahasiswanya sendiri. Meskipun tidak ada rasa cinta di antara mereka, tapi mereka berkomitmen tidak akan pernah bercerai. Bagi mereka pernikahan bukanlah main-main, dan mereka ingin menikah hanya satu kali dalam hidup mereka.
Di hari ke-tiga usai pernikahan mereka, kekasih Tia yang kuliah di luar negeri, datang. Bagaimana kisah mereka selanjutnya? Yuk simak ceritanya. 😍
NB : Novel ini berhubungan dengan novel yang berjudul "Kisah Cinta Arka".
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Sifa, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
BAB 21
"Maaf Pak, saya tidak bisa mencegahnya masuk," ujar Desy sekretaris Reyhan.
"Pergilah! Biarkan dia masuk!" perintah Reyhan pada sekretarisnya. Sekretaris itu pun keluar dan menutup pintu.
"Ada apa kamu kemari?" Tanya Reyhan tanpa menoleh sedikit pun dan tetap menatap pada dokumennya.
"Aku merindukanmu Rey," balas wanita itu sambil mendekat ke kursi Reyhan.
"Aku sudah menikah, seharusnya kamu sudah mengerti itu," balas Reyhan tegas.
"Aku mencintaimu Rey, apa kamu tidak punya perasaan terhadapku sedikitpun? Kita tumbuh bersama sejak kecil, bahkan kita sudah dijodohkan," ujar wanita itu yang tak lain adalah Dona.
"Aku tidak pernah mencintaimu. Sekarang pergilah. Aku sibuk!" ujar Reyhan memerintah.
Sementara itu di depan perusahaan, Tia turun dari taksi dan memasuki pintu lobby perusahaan NC. Dia menuju meja resepsionis.
"Selamat siang Mbak, Pak Reyhannya ada?" tanya Tia.
"Apa anda sudah membuat janji?" tanya wanita penjaga meja resepsionis.
"Belum. Apa harus membuat janji dulu?" tanya Tia kecewa.
"Kalau anda belum membuat janji, jangan harap bisa bertemu dengan CEO perusahaan kami," jawab resepsionis itu.
"Tapi saya istrinya, Mbak?" balas Tia. Resepsionis itu pun terkejut karena memang ia belum pernah melihat Reyhan membawa istrinya ke perusahaan.
"Benarkah? Maaf Bu, kami tidak tahu. Mari saya antar," balas resepsionis itu dengan ramah.
"Tidak perlu Mbak, saya bisa sendiri. Di lantai berapa ruangannya?" tanya Tia.
"Lantai 20 Bu," jawab reseptionis itu.
"Terima kasih Mbak," balas Tia sambil tersenyum.
Tia pun segera menuju lift dan memencet tombol20. Sesampainya di lantai 20, dia takjub dengan perusahaan suaminya yang sangat besar. Ini pertama kalinya dia menginjakkan kakinya di perusahaan itu.
"Selamat siang, ada yang bisa kami bantu?" tanya seseorang yang melihat Tia keluar dari lift.
"Saya ingin ke ruangan Pak Reyhan," jawab Tia.
"Anda siapa? Apa sudah membuat janji?" tanya Desy sekretaris Reyhan.
"Memangnya saya harus buat janji dulu kalau mau bertemu dengan suami saya? Di mana ruangannya?" tanya Tia.
"Di sana Bu. Tapi beliau sedang ... " ucapan Desy belum selesai, Tia sudah berjalan menuju ruangan Reyhan dan membuka pintunya. Dan tampaklah pertunjukan Dona sedang mencium paksa Reyhan.
"Mas!" teriak Tia.
"Sayang, kamu di sini?" tanya Reyhan terkejut lalu mendorong Dona yang berada di depannya.
Tia pun berbalik dan pergi meninggalkan ruangan Reyhan. Dan Reyhan pun mengejarnya.
"Bereskan dokumenku dan suruh seseorang mengantar ke apartemenku!" perintah Reyhan pada sekretarisnya sebelum pergi mengejar Tia.
"Baik Pak!" balas sekretarisnya.
Sedangkan Dona yang di dalam ruangan Reyhan tersenyum puas. Dia merasa menang telah membuat pasangan itu bertengkar.
"Permainan baru dimulai," gumam Dona sambil tersenyum licik.
Di dalam lift yang sedang berjalan turun, Reyhan berusaha menjelaskan pada Tia. Tia menunduk mencengkeram bekal yang dia bawa tadi. Dia tidak berkata apa - apa hanya mengatur nafasnya yang tidak karuan setelah berjalan cepat dikejar Reyhan.
"Sayang, semuanya tidak seperti yang kamu lihat," jelas Reyhan pada Tia. Tia diam tidak menjawabnya.
"Dia tiba - tiba datang ke kantorku. Aku tidak tahu apa maunya dia. Biasanya tidak seperti ini. Ini hanya kebetulan kamu dan dia datang hari ini," ujar Reyhan lagi sambil memegang kedua bahu Tia.
Tia mendongak dan tersenyum, "Tidak apa - apa Mas, aku enggak marah. Aku tahu dia menyukaimu, tapi kamu tidak menyukainya. Aku pergi karena enggak mau melihat dia," balas Tia lalu tersenyum.
"Benarkah?" tanya Reyhan terkejut.
"Hmmm, Aku tidak mau menyiksa hati dan pikiranku dengan perasaan cemburu. Itu akan membuatku stres dan berakibat buruk pada kandunganku. Aku percaya padamu Mas. Aku mengenalmu sudah lama. Kamu dosenku dan kamu terkenal dengan ketampanan dan kesendirianmu. Banyak yang menginginkanmu tapi kamu menolaknya. Aku tidak pernah bermimpi untuk menjadi istrimu karena aku hanya gadis yatim piatu, tapi sekarang kamu di sisiku dan akan menjadi ayah dari anakku," jawab Tia dengan tenang dan tersenyum.
"Sayang, terima kasih sudah percaya padaku," balas Reyhan sambil memeluk Tia. Reyhan pun mencium bibir Tia hingga suara lift berbunyi tanda sudah sampai di lantai satu. Mereka pun menghentikan ciumannya.