"Aku membiarkan diriku ditangkap oleh hukum, hanya agar aku bisa tetap berada di dalam duniamu."
....
Herry adalah kapten tim elit kepolisian Seoul yang dingin, kaku, dan menganggap dunia hanya sebatas hitam dan putih. Baginya, Marysa ratu mafia termuda yang kejam hanyalah target besar yang harus dia seret ke balik jeruji besi.
Namun, di balik borgol dan dinding penjara yang dingin, sebuah rahasia berdarah lima tahun lalu di Pelabuhan Incheon terkunci rapat. Marysa mengingat semuanya termasuk bagaimana dia mengorbankan segalanya demi menyelamatkan nyawa Herry. Sementara Herry? Amnesia pascatrauma menghapus seluruh eksistensi Marysa dari kepalanya, menyisakan tatapan asing yang penuh kebencian.
Di saat Marysa rela menerima semua siksaan penjara asalkan bisa berada di bawah langit yang sama dengan Herry, sebuah kabar menghantamnya tanpa ampun, Herry akan bertunangan dengan wanita lain.
...
apa yang difikirkan Marysa? Kabur? atau memilih dieksekusi?
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon kikyoooo, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab 9 Panas Menyengat
...
Malam itu, dinginnya angin laut Gyeonggi terasa seperti ribuan jarum yang menusuk kulit Marysa. Dia berdiri di tepi dermaga tua yang terbengkalai, menatap siluet sebuah kapal kargo kayu berukuran sedang yang bergoyang pelan dihantam ombak hitam. Kapal itu tidak memiliki lampu penanda, menyatu sempurna dengan pekatnya malam. Ini adalah jalur tikus rute penyelundupan internasional yang pernah dibangun oleh mendiang ayahnya, jauh sebelum hukum meruntuhkan singgasana Klan Baekje di Gangnam.
Pelariannya dari Lembaga Pemasyarakatan Cheongju dua hari lalu telah memicu kepanikan massal di Direktorat Kepolisian Seoul. Marysa tahu, saat ini foto wajahnya telah terpampang di setiap sudut kota, dan tim elit pimpinan Kapten Herry pasti sedang mengobrak-abrik seluruh tempat persembunyian yang tersisa di Korea. Namun, Herry mencari seorang ratu mafia yang bersembunyi di dalam negeri. Herry tidak tahu bahwa sebenarnya Marysa memilih untuk melempar dirinya ke dalam ketidakpastian samudra, menuju arah selatan yang asing.
"Nona," sebuah suara berat memecah kesunyian.
Seorang pria paruh baya dengan jaket tebal dan topi rajut melangkah mendekat dari kegelapan dermaga. Namanya Jin-woo, salah satu dari sedikit kapten kapal penyelundup yang masih memegang sumpah setia darah kepada keluarga Marysa. Di belakangnya, tiga orang pria bertubuh kekar berdiri berjaga dengan mata yang terus waspada menyisir area sekitar.
"Semua persiapan di kapal sudah selesai. Dokumen palsu Anda sebagai warga negara asing, paspor, dan identitas baru sudah siap di dalam kabin," kata Jin-woo, menundukkan kepalanya dalam-dalam sebagai bentuk penghormatan tertinggi. "Kami akan berlayar melintasi perairan internasional, menghindari jalur patroli maritim Korea, dan langsung menuju pelabuhan kecil di pulau terpencil di Indonesia. Butuh waktu sekitar satu minggu lebih. Perjalanan ini akan sangat berat, Nona."
Marysa menatap Jin-woo dengan sepasang mata kelamnya yang tampak begitu lelah namun menyimpan kegigihan yang menakutkan. Sudut bibirnya yang membiru akibat siksaan di penjara masih menyisakan bekas luka yang samar, namun dia menarik kedua sudut bibirnya ke atas, membentuk sebuah senyuman tipis yang dingin.
"Aku sudah melewati neraka di Cheongju, Jin-woo. Lautan ini tidak akan bisa membunuhku," jawab Marysa, suaranya terdengar serak namun penuh dengan otoritas mutlak yang tidak bisa dibantah.
Dia melangkah naik ke atas dek kapal kayu yang bergoyang tidak stabil. Setiap kali kakinya bergerak, rasa nyeri dari rusuknya yang sempat retak akibat pukulan Chae-won di penjara kembali mendenyut hebat. Marysa menahan napasnya sejenak, mencengkeram pembatas besi kapal hingga jemarinya memutih, namun dia menolak untuk memperlihatkan kelemahannya. Dia ingat pesan mendiang ayahnya, Tegarlah, jangan biarkan orang lain melihat rasa sakitmu.
Perjalanan menuju Indonesia adalah sebuah ujian kemanusiaan yang sesungguhnya bagi Marysa. Kapal kargo kayu itu bukanlah kapal pesiar mewah, itu adalah ruang pengap yang berbau minyak solar, ikan asin, dan karat besi. Sepanjang minggu pertama, badai musim dingin di perairan Laut Cina Selatan menghantam kapal mereka tanpa ampun, membuat lambung kapal terombang-ambing seperti mainan plastik di atas ombak raksasa.
Di dalam kabin kecilnya yang sempit dan gelap, Marysa menghabiskan waktu berhari-hari dalam kondisi demam tinggi. Luka-luka memar di tubuhnya meradang akibat udara laut yang lembap dan asin. Rasa sakit di perut dan rusuknya membuat dia kesulitan bahkan hanya untuk menelan beberapa sendok bubur hambar yang dibawakan oleh anak buah Jin-woo.
Dalam keadaan setengah sadar di tengah gelombang panas demamnya, pikiran Marysa kembali dipenuhi oleh bayang-bayang Herry sebelum kabur.
Dia melihat Herry memegang berkas pertunangannya dengan putri Wakil Komisaris Jenderal. Pikiran-pikiran itu menumpuk di dalam kepalanya, terasa begitu sesak dan membakar dadanya, persis seperti yang selalu dikhawatirkan oleh mendiang ibunya. 'Jangan sampai sakit karena pikiran, ya, Nak?' mantra lembut ibunya berbisik di antara deru ombak yang menghantam dinding kapal.
Marysa membuka matanya yang memerah dalam kegelapan kabin. Dia mencengkeram dadanya yang terasa nyeri bukan main. "Aku tidak boleh mati di sini," bisiknya pada diri sendiri, suaranya bergetar menahan air mata yang menolak untuk keluar. "Aku belum memaksamu mengingat diriku, Herry. Aku tidak akan membiarkanmu hidup bahagia dengan wanita lain sementara aku membusuk di dasar laut ini."
Kegigihannya melampaui batas logika medis. Setiap kali tubuhnya menyerah pada rasa sakit, kebencian dan cinta gelapnya kepada Herry menjadi bahan bakar tunggal yang memaksanya untuk kembali tegak. Dia memaksa dirinya untuk bangun, meminum obat-obatan antibiotik murahan yang ada di kapal, dan berjalan keluar ke dek untuk membiarkan angin laut menerpa wajah pucatnya. Dia harus bertahan hidup.
...
Hari kesembilan. Udara dingin yang membekukan perlahan-lahan menghilang, digantikan oleh hawa hangat yang lembap dan menyengat. Langit kelabu musim dingin Korea telah sepenuhnya berganti menjadi hamparan langit biru cerah dengan matahari tropis yang bersinar terik, membakar permukaan laut hingga berkilau seperti jutaan berlian.
Kapal kayu Jin-woo akhirnya melambat, memasuki sebuah teluk terpencil di salah satu pulau kecil di wilayah perairan Indonesia. Di kejauhan, tampak jajaran pohon kelapa yang melambai ditiup angin, serta rumah-rumah panggung kayu milik nelayan setempat yang sederhana.
Perjuangan yang sulit, menyiksa, dan nyaris merenggut nyawanya itu akhirnya membuahkan hasil. Marysa telah berhasil menembus barikade hukum Korea Selatan. Dia melangkah keluar dari kegelapan masa lalunya, menapakkan kakinya di atas tanah selatan yang hangat.
Di dermaga kayu kecil yang sepi, dua orang pria lokal berwajah tegas namun berpakaian biasa telah menunggu. Mereka adalah bagian dari unit sel kecil Klan Baekje yang selama ini mengelola aset tersembunyi di Asia Tenggara, orang-orang bersih yang tidak pernah tersentuh oleh radar kepolisian Seoul maupun Interpol.
"Selamat datang, Nona," salah satu dari mereka menyambut dalam bahasa Korea yang agak kaku, menundukkan kepala dengan hormat. "Semua identitas baru Anda sudah diaktifkan di dalam sistem administrasi setempat. Mulai hari ini, nama Marysa telah mati. Anda adalah warga negara asing yang menetap di sini dengan dokumen yang sepenuhnya sah."
Marysa menerima map berisi identitas barunya. Dia melihat selembar paspor dengan foto dirinya, namun dengan nama yang berbeda. Rambut hitam panjangnya yang biasa terurai kini telah dia potong pendek sebahu dan diwarnai cokelat terang, menyamarkan fitur wajah khasnya yang biasa dikenal di Gangnam.
Dia menarik napas dalam-dalam. Udara tropis yang hangat dan berbau tanah basah memenuhi paru-parunya, memberikan rasa nyaman yang sudah bertahun-tahun tidak pernah dia rasakan. Rasa sakit di tubuhnya perlahan-lahan mulai mereda, digantikan oleh ketenangan dingin yang baru.
Marysa menatap ke arah laut lepas, ke arah utara yang jauh, tempat di mana dia tahu Herry saat ini pasti sedang mengamuk karena kehilangan jejaknya.
Sebuah senyuman tipis, penuh emosi yang gelap dan kepuasan yang berbahaya, kembali terukir di bibirnya yang kini mulai kembali merah alami. Dia tahu, pelariannya ke Indonesia bukan akhir dari cerita mereka, melainkan awal dari jebakan panjang untuk menarik sang detektif masuk ke dalam dunianya.
Herry tidak akan pernah melepaskannya. Begitu analisis maritim menunjukkan kemungkinan pelariannya ke luar negeri, harga diri dan idealisme kaku Herry sebagai polisi akan memaksanya untuk mengejar Marysa hingga ke ujung dunia. Dan di sinilah Marysa akan menantinya, di bawah matahari tropis yang tidak mengenal hukum kaku Seoul.
"Permainan yang sesungguhnya baru saja dimulai, Kapten Herry," bisik Marysa, sepasang mata kelamnya berkilat tajam di bawah terik matahari. "Mari kita lihat, seberapa jauh lencana emasmu itu bisa membawamu mengejarku di tanah ini."
...
Jika suka silahkan tinggalkan jejak kalian ^_^
Terimakasih :*