Setelah disiksa, dikhianati dan dibuang di suatu tempat dalam keadaan hampir tak bernyawa Gendis bertekad Mengubah takdir demi membalas dendam pada Arga Demian, pria tampan berhati iblis yang pernah menjadi kekasih rahasianya.
Akankah Gendis berhasil membalaskan dendam dan sakit hati pada pria yang selama ini terus bersemayam di hatinya? Ataukah dia justru kembali terjebak dan terjerat pada pesona Arga Demian dan kembali menjatuhkan hatinya pada pria itu?
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon nazwa talita, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Part 21 ARABELLA
Seorang perempuan cantik melangkah dengan elegan setelah keluar dari mobil mewah keluaran terbaru miliknya.
Model terkenal yang sekarang sedang naik daun itu melangkah dengan penuh percaya diri menuju apartemen.
Sementara, di dalam apartemen Arga baru saja selesai mengobati luka Gendis.
Setelah Arga membujuk perempuan itu dan mengancam akan memecatnya, Gendis akhirnya menuruti keinginan Arga untuk tetap tinggal di apartemen sampai dia sembuh.
"Lukamu sudah mulai mengering. Sebentar lagi pasti sembuh."
"Benarkah?" Kedua mata Gendis berbinar.
"Iya. Kau bisa lihat sendiri, kan? Sebentar lagi kau pasti sudah bisa berjalan dengan normal kembali."
Senyum Gendis semakin mengembang saat mendengar ucapan Arga lagi.
"Sepertinya kau sangat senang." Arga menatap wajah cantik di depannya.
"Tentu saja saya sangat senang, karena dengan begitu, aku bisa segera keluar dari sini." Gendis menjawab dengan polosnya.
Sementara Arga terlihat cemberut.
"Jadi kamu sangat senang jika kamu pergi dari sini?" Arga menatap Gendis dengan kesal.
"Bu-bukan begitu, Pak."
"Saya-"
"Jangan panggil aku Bapak saat hanya ada kita berdua." tukas Arga.
"Maaf."
"Kali ini aku maafkan, tapi tidak untuk lain kali."
Laki-laki itu menatap Gendis kemudian membawa perempuan itu ke dalam pelukannya.
Gendis terdiam, tak menolak dengan saat pria di hadapannya itu memeluknya dengan erat.
"Pikirkan semua ucapanku semalam, Laura."
"Jangan memberi harapan pada hatiku. Aku takut kau tidak bisa menepatinya."
"Kau tidak percaya padaku?" Arga melepaskan pelukannya, kemudian menatap perempuan di depannya itu dengan lembut.
Perasaan yang saat ini dia rasakan adalah benar adanya. Wanita ini, telah mencuri hatinya bahkan dalam waktu singkat.
Gendis menatap pria di depannya dengan rasa tak percaya. Perempuan itu susah payah menahan gejolak di hatinya.
Apalagi, saat rasa sakit mengalir ke hatinya. Jantungnya seolah diremas-remas.
Pria ini, adalah pria yang sama yang dulu pernah mengucapkan janji yang sama seperti hari ini.
Arga Damian, apa kau benar-benar melupakanku? Apa kau tidak lihat, aku adalah perempuan jelek yang dulu pernah kau bohongi?
"Aku mencintaimu, Laura. Beberapa bulan ini, aku sudah mencoba untuk menyangkal semua perasaan ini, tapi ... semakin aku menghindar, rasa ini justru semakin kuat."
"Apa kau tahu, Laura, selama ini aku selalu mencari cara untuk mendekatimu, tapi ...." Arga memindai wajah cantik Gendis. Tangannya bergerak membelai wajah itu.
"Saat melihatmu terluka, rasanya hatiku seperti diremas-remas. Aku sungguh merasa bersalah padamu, Laura."
"Tapi kini, bolehkah aku menyebut kecelakaan yang terjadi padamu adalah takdir? Takdir agar kita bisa bersama."
"Takdir dari Tuhan agar aku bisa mengungkapkan perasaanku padamu," lanjut Arga tanpa mengalihkan pandangannya pada Gendis.
"Aku takut." Kedua mata Gendis berkaca-kaca.
"Takut kalau kau hanya akan membuat hatiku terluka. Kamu punya segalanya."
"Wajah tampan, kesuksesan, kau adalah laki-laki yang sangat sempurna, Pak Arga. Banyak perempuan di luar sana yang jelas-jelas mengejar Bapak. Kenapa harus aku?"
Arga mengusap air mata yang mengalir di pipi Gendis.
"Karena cinta tidak bisa memilih kemana hati akan berlabuh, Laura. Hatiku yang memilih untuk bersamamu."
"Pak-"
"Panggil aku Arga selagi kita berdua." Arga menatap tajam ke arah Gendis.
"Ar-Arga."
Arga tersenyum manis. Tangannya mengusap bibir Gendis. Saat wajahnya ingin mendekati wajah perempuan itu,
"Arga!"
Arga dan Gendis menoleh bersamaan ke arah suara.
Arabella
Hampir saja Gendis mengucapkan kalimat itu. Untung saja dia langsung tersadar.
"Arabella?" Arga sangat terkejut melihat perempuan itu sudah berdiri di belakangnya.
"Apa yang kau lakukan dengan perempuan itu?"
Arga menatap Arabella tak percaya. Tidak menyangka kalau perempuan itu masih berani menemuinya.
"Apa yang kau lakukan dengan perempuan itu?" ulang Arabella.
Wajah cantik perempuan itu telihat kesal. Dia sungguh tidak menyangka kalau kedatangannya ternyata disambut dengan pemandangan yang membuatnya kesal.
Sejak kapan Arga berhubungan dengan perempuan lain selain dirinya?
Bukankah pria itu sudah menutup hatinya setelah dia memutuskan hubungan dengannya?
Arabella mengepalkan tangannya. Sampai sekarang, pria itu masih bertakhta di dalam hatinya. Meskipun dia sudah berulang kali menjalin hubungan dengan pria lain, tetapi tetap saja, Arga adalah pria yang sampai kini bersemayam di hatinya.
"Siapa perempuan itu, Arga?"
Arabella menatap tajam ke arah Arga.
"Apa kau benar-benar telah melupakan aku?"
.
Maaf baru update 🙏
Jangan lupa like, komen, hadiah dan votenya ya ....