NovelToon NovelToon
Anggun Bidadariku Season 2

Anggun Bidadariku Season 2

Status: tamat
Genre:Romantis / Tamat
Popularitas:374k
Nilai: 4.8
Nama Author: Erna Wati

Anggun yang mengira hidupnya sudah bahagia dengan mendapat cinta Adrian,, namun ternyata itu hanya mimpi sesaat baginya. Kenyataan pahit menghempaskannya kembali pada kehancuran dimana Adrian harus terjerat kembali pada wanita di masa lalunya.
Dan kali ini dia harus menghadapi badai yang lebih berat dari sebelumnya. Adrian melayangkan gugatan cerai padanya di saat dia sendiri sudah menanggalkan cintanya pada pria tersebut. Dan disaat yang bersamaan,, muncullah pria yang sebelumnya selalu memberikan dukungan untuknya. Apa yang akan terjadi selanjutnya?? Akankah Anggun memperoleh kebahagiaannya kembali?? Simak kisahnya di "Anggun Bidadariku Season 2"

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Erna Wati, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

BAB 21

"Selamat malam, Dion.....senang bisa melihatmu hadir di pesta ini juga." Suara Pak Handoko membuyarkan ketegangan yang menyelimuti hati Adrian.

"Selamat atas pernikahannya yang ke-20, Pak. Semoga kebahagiaan selalu bersama keluarga anda," Dion memberi selamat.

"Terima kasih. Terima kasih." Pak Handoko mengangguk-angguk sembari tertawa kecil. "Tapi sepertinya kau juga...." pria setengah baya itu tak melanjutkan kalimatnya karena ragu.

Tentu saja pikiran pria itu bercabang. Sebuah pertanyaan menyembul di salah satu lubuk hatinya. Bagaimana mungkin mantan istri Adrian bersama Dion? Peristiwa macam apa ini? Meski sang presdir memiliki rasa keingin tahuan yang tinggi, namun ia tak serakah dengan berusaha mengorek keterangan lebih jauh tentang hubungan yang menurutnya membingungkan itu.

"Ehm....baiklah. Ku harap kalian akan menikmati pestanya. Dan sepertinya aku harus meninggalkan kalian disini dulu. Bersenang-senanglah kalian." Pria itu membelokkan kalimatnya kemudian berlalu untuk menemui tamu lain yang baru datang.

Dion mengalihkan pandangannya pada Adrian yang sejak tadi hanya diam terpekur. "Selamat malam Adrian, Andini. Apakah kalian sudah lama disini?" tanyanya basa-basi.

"Kami juga baru saja sampai sepertimu," Andini menyela. "Hai mbak Anggun, kau kelihatan sangat berbeda dari terakhir yang aku lihat." Pandangan Andini kini tertuju pada Anggun.

"Benarkah?"

"Sepertinya, rencana pernikahanmu kali ini membawa perubahan besar pada dirimu."

"Yah, bukankah untuk menapaki bahtera rumah tangga dan kehidupan yang baru, kita harus menyiapkan sesuatu yang spesial? Ku rasa kaupun juga perlu melakukannya. Karena aku takut calon suamimu ini akan bosan melihat gaya penampilanmu yang hanya begitu-begitu saja." Anggun tersenyum mengejek. Andini mengepalkan tangannya mendapat sindiran tajam itu. "Oh....ya, aku beri tahu, kalau kita perlu hati-hati dengan pria karena mereka sangat cepat merubah perasaan dan akan beralih pada sosok lain yang mungkin jauh lebih istimewa. Apalagi di luar sana banyak sekali perempuan-perempuan yang suka melirik pasangan orang."

Cukup!!! Andini sudah tidak tahan lagi. Meski hanya dua kalimat obrolan yang dia lakukan dengan Anggun, namun jelas itu mengganggu pikirannya. Dia marah dan tersinggung akan hal tersebut. Jelas Andini tau kalau kalimat yang di lontarkan Anggun padanya sengaja untuk menyindirnya. Namun sedetik kemudian muncul ide kotornya untuk melawan balik ucapan Anggun.

Andini melipat kedua tangannya di depan dada. Tersenyum sinis dengan menarik salah satu sudut bibirnya. "Sepertinya kalimat itupun berlaku untukmu juga, mbak Anggun. Aku takut, pernikahanmu kali inipun juga akan mengalami hal yang sama seperti sebelumnya." Kali ini Anggun menggetam. Matanya menyorot tajam pada Andini. Merasa Anggun sudah terpancing oleh omongannya, Andinipun mengambil celah kembali untuk lebih menusuk lagi.

"Jangan lupa pula, kalau sebelumnya kau juga pernah menjadi salah satu wanita yang merusak hubungan orang lain, Mbak." Mata Anggun kali ini merah menyala. Kalimat yang Andini ucapkan dengan gamblang tanpa di saring terlebih dahulu, jelas membuat darahnya mendidih. Ingin rasanya ia menampar mulut binal perempuan di hadapannya.  Namun sebelum itu terjadi, Dion dengan cepat meraih tangannya, menggenggamnya erat bermaksud melunakkan emosi Anggun yang sudah terpancing itu.

"Sepertinya kau salah jika menilai demikian, nona Andini Larasati. Perlu kau tau kalau aku tak seperti pria yang ada di sampingmu sekarang, yang tak pernah memiliki prinsip dan dengan mudah goyah karena angin kecil yang berhembus. Aku jelas tak akan mengkhianati wanita yang ku cintai. Terlebih dia sesempurna Anggun Kirana. Dan mengenai tuduhanmu barusan, sepertinya kau perlu intropeksi diri, Nona. Anggun tak seperti yang kau pikirkan. Kalau boleh memilih, dia tak ingin menikah dengan pria brengsek seperti calon tunanganmu itu." Dion menoleh pada Anggun dan tersenyum manis padanya. Tangannya meraih pinggang Anggun untuk lebih merapat padanya supaya terlihat lebih mesra dari sebelumnya.

"Sebaiknya kita pergi dari sini, Andini." Suara Adrian menginterupsi ketegangan tersebut. Pria itu menyeret paksa tangan Andini dan membawanya ke sudut lain. Jelas Adrian juga tersulut emosi karena ucapan Dion barusan.

Anggun menghempaskan napas dengan kasar. Rasanya sesaat lalu sesak memenuhi rongga dadanya. "Jangan takut, aku selalu di sisimu dan tak akan ku biarkan siapapun akan menginjak-injakmu lagi." Anggun menatap Dion dengan pandangan tertegun.

"Terima kasih, Dion." Pria itu lalu meraih bahu wanita di sampingnya dan mendekatkan pada dirinya. Mendekapnya erat.

"Sebaiknya, kita bergabung dengan teman yang lain juga. Kau tidak keberatan kita masih disini bukan?"

"Tentu saja. Kau pikir aku akan terpengaruh dengan keberadaan mereka?" Dion mengembangkan senyumnya. Salut pada kegigihan Anggun mendampinginya. Meski ia tahu kalau saat ini hati wanita itu bertolak belakang dengan ucapannya.

"Yacchhhh....baiklah. Bagaimana kalau kita berdansa?" Anggun mengangguk setuju. Pria itu lalu mengulurkan tangannya dan disambut Anggun dengan uluran tangan balik seraya tersenyum dengan manis.

Kedua insan itu kini sedang menikmati suara musik klasik yang mengalun merdu bersama dengan tubuh mereka yang bergoyang pelan mengikuti ritme alunan musik tersebut. Dion mengaitkan tangannya di pinggang Anggun sedang wanita itu mengalungkan tangannya di leher Dion. Mereka saling menatap satu sama lain.

"Kenapa kau terus menatapku seperti itu?" Anggun merasa terusik karena pandangan Dion yang intens padanya.

"Kau terlalu cantik untuk di lewatkan...."

"Dasar tukang bual. Play boy." Anggun memicingkan matanya mendengar rayuan gombal Dion.

"Hah? Kenapa? Kau tak percaya padaku? Dan lagi, masih saja kau menganggapku seorang play boy sedang aku sudah berhenti dari profesi itu?"

"Julukan tetap julukan. Mana mungkin secepat angin beralih?"

"Baiklah, seperti yang kau mau saja. Ku harap kau takkan menyesal kalau aku nanti melirik wanita lain di depanmu." Tanpa di duga Anggun mencubit keras hidung Dion membuat pria itu menghentikan gerakannya karena kesakitan.

"Akkhhh, kau menyakitiku."

"Rasain!! Itu hukuman dariku kalau kau sampai berbuat macam-macam di depan atau belakangku. Kau pikir aku akan membiarkanmu?"

Anggun tersentak saat tangan Dion menyentakkan tubuhnya dengan menariknya semakin dekat dengannya. "Kalau begitu aku akan sangat senang kalau kau menghukumku dengan memberikan sebuah ciuman untukku." Dion menyeringai mesum membuat Anggun gemas dan kembali mencubit hidungnya.

"Dasar nakal kamu ya. Aku akan melaporkan perbuatanmu ini pada tante," Anggun mengancam. Dion hanya tersenyum masam mendengar ancaman tersebut. Ah....Mama, kau selalu membuat putramu ini tak berkutik. "Sepertinya aku haus, aku akan ambil minum dulu." Anggun hendak melangkah pergi namun di cegah dengan cepat oleh Dion.

"Biar aku saja yang ambilkan, tunggulah disini sebentar!" Dia lalu melangkah pergi dan mengambil dua gelas minuman di tangannya. "Nih." Dion menyerahkan segelas minuman itu pada Anggun. Wanita itu menerimanya dengan senyum terima kasih.

Tak jauh dari sana, sepasang mata tampak tak lepas mengawasi keberadaan mereka berdua. Adrian, yang sedang mengobrol dengan rekan sejawatnya, sejak tadi mencuri-curi pandang pada wanita yang berstatus mantan istrinya itu. Entah kenapa dia merasa harus memperhatikan Anggun terus. Pertama mungkin karena perubahan penampilan wanita itu. Adrian tak dapat menyangkal kalau dirinya terpikat untuk kesekian kalinya pada Anggun. Tidak!!! Bagaimana mungkin aku seperti ini? Geramnya dalam hati.

Saat melihat kemesraan Dion dan Anggun di lantai dansa, Adrian merasa darahnya mendidih. Api cemburu tiba-tiba menyambar hatinya. Dan hampir tak ada setitik senyumpun yang hinggap di bibirnya. Untunglah Andini sibuk dengan dunianya sendiri. Dia tak sengaja bertemu dengan salah satu teman lamanya disana dan saat ini mereka tengah mengobrol berdua, sehingga karena kesibukannya tersebut ia tak memperhatikan perubahan wajah dan suasana hati Adrian.

Anggun sedang asik menikmati minumannya dengan sesekali bergurau dengan Dion saat tiba-tiba sebuah tubuh tidak sengaja mendorongnya dari belakang. Alhasil, minuman yang masih tersisa di gelasnya jadi tertumpah pada gaun malamnya.

"Ah....maaf, aku tidak sengaja." Seorang wanita dengan pakaian hitam tengah meminta maaf padanya. "Sepatuku patah, jadi aku tidak sengaja mendorongmu," jelasnya kemudian.

Anggun melirik ke arah kaki wanita itu dan ternyata memang benar, bagian belakang sepatu wanita itu memang patah. Anggun tersenyum kemudian.

"Tidak. Tidak masalah," ujarnya.

"Tapi aku sudah mengotori gaunmu."

"Aku bisa membersihkannya di belakang."

Setelah sekali lagi meminta maaf, wanita itupun pergi dari hadapan Anggun. Dan ia segera meminta ijin pada Dion ke toilet sebentar untuk membersihkan pakaiannya.

Pada saat itulah, Adrian yang memang sejak awal selalu memperhatikan gerak-gerik Anggun, dia lalu menyelinap di balik kerumunan dan mengendap-endap pelan mengikuti kemana Anggun pergi.

Kebetulan sekali toilet sedang sepi. Dan ini adalah kesempatan Adrian untuk menghadang Anggun di tengah jalan. Wanita itu keluar dari toilet beberapa menit kemudian. Rupanya ia telah selesai membersihkan pakaiannya, dan kini hendak kembali lagi ke tengah pesta. Namun belum ada tiga langkah kakinya berjalan, tiba-tiba seseorang menariknya dari samping.

Anggun hampir saja menjerit histeris dan niatnya itu terurung saat melihat siapa orang yang menarik lengannya dengan paksa. Rupanya Adrian membawa Anggun ke sebuah sudut yang sepi. Disana pria itu menyudutkan Anggun pada sebuah dinding ruangan. Mengurung wanita itu dengan sebelah tangannya.

"Apa yang kau lakukan, Adrian?" tanya Anggun meradang. Namun tak ada jawaban apapun dari bibir pria itu. Hanya matanya saja yang menatap tajam menembus manik mata wanita di hadapannya. "Lepaskan aku! Biarkan aku pergi dari sini! Dion sudah menungguku."

Seketika itu juga sebelah tangan Adrian yang bebas, tiba-tiba  mengepal keras dan meninju dinding tepat di samping kepala Anggun. Wanita itu terkejut dan memejamkan mata untuk sesaat. Dia mengira kalau Adrian akan memukulnya. Namun nyatanya tidak. Pria itu ternyata melampiaskan kekesalannya pada tembok.

"Dion....Dion....Dion...." geram Adrian penuh amarah. "Rupanya pria itu sudah menguasai hati dan pikiranmu."

"Kenapa memangnya? Seperti apapun hubunganku dengan Dion, bukankah itu tidak ada hubungannya denganmu?"

"Ciihhh, aku muak mendengar nama itu!"

"Dia temanmu."

"Itu dulu, dan sekarang dia musuhku."

"Kenapa? Apa karena dia dekat denganku? Aku benar-benar tidak mengerti dirimu, Adrian."

Anggun sedikit gugup saat Adrian mulai mendekatkan dirinya dan menghimpit Anggun pada dinding. Tangannya dengan sigap berusaha menahan tubuh pria itu agar tak menempel padanya.

"Katakan padaku, apa kau yakin akan menikah dengannya?" Adrian berbisik tajam.

"Ya!" jawab Anggun pasti.

"Kau yakin kalau kau mencintainya? Ataukah dia hanya tempat pelarianmu saja?" Adrian tersenyum miring.

"Aku mencintainya atau tidak, semua bukan urusanmu!" tandas Anggun beringas. Entah kenapa dia tiba-tiba muak dengan mantan suaminya itu. "Sebaiknya kembalilah pada kekasihmu itu dan jangan pernah kau coba mencampuri urusanku lagi."

Anggun hendak menerobos untuk beranjak pergi namun tangan Adrian mencekal lengannya kembali. Menghimpit tubuh wanita itu semakin rapat.

"Kau tidak bisa pergi begitu saja dari sini!" Sekali lagi Adrian menggeram.

"Apa yang sebenarnya kau inginkan, Adrian?" Kali ini Anggun tak bisa mentolerir sikap Adrian. Dia benar-benar harus melawan pria itu atau dirinya tak akan selamat. Anggun bisa melihat kilatan cahaya ambisi, emosi, dan gairah dimata pria itu.

"Aku ingin tau, apa kau sudah tidak punya perasaan lagi padaku sampai kau begitu cepat berpaling pada pria lain."

"Jangan munafik, Adrian. Kau tau siapa yang membuatku seperti ini." Napas Anggun kian memburu karena emosi.

"Jadi, biarkan aku membuktikan, kalau di hatimu memang sudah tidak ada perasaan lagi padaku."

Anggun merasakan tubuhnya menegang saat Adrian mulai mendekatkan wajahnya. Tidak!!! Apa yang akan Adrian lakukan padaku?

🌺🍃🌺🍃🌺🍃🌺🍃🌺🍃🌺

1
Mom Q
bagus awalnya cma maaf endingnya agak janggal kya blm selesai.
kecuali klo ada bonus nya
Erna Wati: Emang belum karena masih ada yg season 3. "Anggun Bidadariku Ending Story". kalau mau baca di platform sebelah. WP
total 1 replies
abu😻acii
nyimak dulu
Azzuraaa
aku suka tulisan bagus begini, tapi kok yang baca sepi ya? tetep semangat thor
Lili Lintangraya
ditunggu lanjutannya,gmn kehidupan dion&anggun.adrian jg,penasaran kehidupanny selanjutny
Neni Anggraini
angun dh ambil tuh batang emas (Dion).... buang batang kayu (Adrian) bikin dia nyesal lemepas kamu.... 🤣🤣
Yudhiari Denada
kayaknya masih nggantung?
tapi seru c
semua dpt porsinya, Andini & andrian g bersatu,, Andini suka mempermainkan, andrian blm dewasa, cepat kebawa emosi, labil, kasih yg jadii pasangannya, gampang terombang ambing. baca ceritanya yg ending part 1 aja udah jelas hambar rumahtangga nya, cuma main² aja. memang baik anggun sama dion, cuma agak aneh, klo habis kena serangan jantung atau apalah yg keliatan sakit, knp habis ijab kabul gak istirahat aja?
Erna Wati: season 3 ada platform sebelah. sudah end juga kok disana.
total 2 replies
rumah kazuya
end nya koq gak enak amat yaa...
Yulianna Novia
aihhh... kok aku tak puas niiii, lanjut donk
Erna Wati: ada yang season 3 di pf sebelah.
total 1 replies
Nenk Kwr
ceritanya sudah tamat. tapi pelakor andini tidak diceritain dapat karma.
Ar Syaina Syaina
penyesalannn ayoo mendekatlah adrian sdh menunggu,,semoga RSJ,,masih menerima adrian
Ar Syaina Syaina
hmmm adrian terllalu percaya diri,,,,ingat penyesalanmu sdh mulai merapat,,,ayoo thoor semangat critamu baguss jempol yg bnyk utkmu👍🏻👍🏻👍🏻👍🏻👍🏻👍🏻👍🏻👍🏻👍🏻👍🏻👍🏻👍🏻👍🏻👍🏻👌🏼👍🏻👍🏻👍🏻👍🏻👌🏼👌🏼👌🏼👌🏼👌🏼👌🏼
bunga seroja
👍👍👍👍👍👍👍
Mawar berduri
benar2 cerita yg byk memguras airmata & emosi jiwa dgn tingkah lelaki bagas & adrian. kok bs orgtua mrk yg sgt baik & penuh kasih bs punya 2 anak lelaki yg berengsek bin pecundang🤦‍♀️
Rai Ayi Rohayati
ih jd gemes thuu c andrian, buktikan anggun kau bisa lebih hebat dr pelakor....
Efan Zega
koq dah end sih. aq penasaran dion sakit apa sih. trus bagas gak datang ya kepernikahan anggun
Erna Wati: Ada Anggun season 3
total 1 replies
Efan Zega
loh katanya u gak mencintai anggun rian
Efan Zega
wahhh anggun tambah cantik nih....nyesel u rian
Efan Zega
2 bersaudara sama aja,,,biadab smua
Efan Zega
nyesek bgt lihat nasibmu gun..
dulu bagas dan niken skrg rian dan andini
Efan Zega
sakit banget kelakuan smua keluarga bagas dan rian. kalo mertuanya gak cerita keandini pasti smua gak sekacau ini
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!