Charlotte Mikaela Vanhoiren, yang ditetapkan sebagai Ratu dari Kaisar Vanhoiren ke-XX, dieksekusi gantung oleh Kaisar yang adalah suaminya sendiri dan dicap sebagai pengkhianat.
Saat berpikir tidak ada lagi kesempatan bagi Charlotte untuk membalaskan dendamnya, dia malah kembali ke saat di mana dia belum menjadi seorang Ratu.
Season 2:
Setelah Charlotte berhasil naik takhta menjadi seorang Kaisarina Vanhoiren I, Charlotte pun memulai rencananya untuk menyatukan keempat wilayah, termasuk Vanhoiren.
Selain itu, Charlotte juga harus mencari cara untuk menyatukan hubungannya bersama dengan Lucas. Berhasilkah Charlotte menggapai rencananya? Apakah Charlotte dan Lucas bisa bersama?
Rilis : Dua hari sekali (Sesuai kondisi author)
Cerita original Nojaelin
Cover The Second Life hanyalah visualisasi dan bukan milik Nojaelin
Kata per Chapter (kecuali Prolog dan Epilog) : 1000 - 1
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Nojaelin, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
XX - Calon Mertua
Seperti permintaan Idris, aku datang ke istana untuk melakukan fitting baju yang akan dipakai dalam Hari Pemburuan. Tidak seperti gaun, di hari itu aku akan memakai zirah seperti yang dipakai para ksatria.
Zirah yang dipakai para pasangan wanita dibuat lebih ringan dibanding yang biasanya untuk dipakai laki-laki.
“Charlotte?” Idris menghampiriku saat selesai mengukur. “Apa sudah selesai?”
Aku mengangguk. Idris sudah tidak ragu lagi memanggil namaku di depan para pelayan Kekaisaran. Dia tersenyum dan duduk di sampingku. Memaksaku menyenderkan kepala ke bahunya.
“Hari ini Kaisar dan Ratu mengajak kita untuk menghadap mereka,” kata Idris. “Kalau kau belum siap kita bisa menundanya.”
“Akan tidak sopan jika menunda-nunda hal yang diminta oleh Yang Mulia Kaisar maupun Yang Mulia Ratu hanya karena keegoisan, Idris,” ucapku seraya menjauhkan kepalaku dari bahunya dan menghela napas. “Jam berapa kita harus menghadap Yang Mulia?”
Idris menatapku. “Sekarang,” jawabnya.
“Kalau begitu ayo,” ajakku sambil berdiri. Namun, Idris hanya sibuk menatapku. “Ayo, Idris.”
Idris mengulurkan kedua tangannya. “Pegang tanganku,” pintanya.
Tahan Charlotte! teriakku dalam hati.
Aku mengikuti apa yang diminta oleh Idris dan Idris langsung menggenggam kedua tanganku dan bangun dari sofa. Dia kemudian mencium keningku tanpa permisi dan keluar bersamaku menuju singgahsana Kaisar dan Ratu. Idris tetap membuatku menggandeng lengannya.
Saat pintu terbuka, terlihatlah sang Kaisar dan Ratu yang tengah duduk di tempatnya sambil melihat kedatangan kami. Aku dan Idris berlutut dan memberi salam.
“Bangunlah, Anakku,” kata Kaisar. “Melihatmu tumbuh dewasa dan memilih wanitamu sendiri. Betapa senangnya hatiku.”
“Terima kasih, Ayahanda,” ucap Idris.
Aku tetap menundukkan kepalaku sebelum diperintahkan untuk mengangkat kepala.
“Dari keluarga manakah wanita cantik ini hingga kau rela melepaskan para calon yang sudah direncanakan untukmu, Anakku?” tanya Ratu.
“Dia adalah anak tunggal dari Viscount Winston. Salah satu orang yang berjasa dalam terencana dengan baiknya Festival Bunga tahun ini,” jawab Idris.
Ratu tertawa. “Oh, Anakku. Seleramu ...”
“Istriku, jangan mengatakan hal yang tidak mengenakkan di depan calon istri Anak kita,” tegur Kaisar. “Nona Winston, angkatlah kepalamu agar aku bisa melihatmu dengan jelas.”
Aku melakukan apa yang diminta dan menatap Kaisar. Sosok yang membanggakan itu tidak lama lagi akan meninggalkan dunia ini.
“Tidak peduli kau berasal dari keluarga mana pun. Jika kau bisa membantu Idris menjalankan pemerintahan Kekaisaran, itu sudah lebih dari cukup untukku.” Kaisar tersenyum. “Idris, perintahkan atas namaku untuk memindahkan Nona Winston ke Istana Perunggu.”
“Kaisar!” seru Ratu tidak setuju.
Istana Perunggu, ya? Itu adalah istana yang dikhususkan untuk para calon istri Kaisar selanjutnya. Aku dulu juga dimasukkan ke dalam Istana Perunggu sampai tiba waktuku naik takhta.
“Terima kasih, Ayahanda,” ucap Idris.
“Sampai hari di mana kau naik takhta, aku ingin Nona Winston diberikan pelajaran khusus untuk menjadi Ratu selanjutnya di Kekaisaran Vanhoiren,” titah Kaisar.
Idris menyanggupi hal tersebut dan kami pun pergi dari ruangan singgasana.
*
Idris bukanlah orang yang mau menunggu. Aku diajak pulang ke rumahku untuk menemui Ayah dan memberitahukan keputusan Kaisar tentang kepindahanku yang mendadak ke Istana Perunggu.
Selagi Ayah dan Idris mengobrol di ruang tamu, aku mengepak barang-barangku ke dalam beberapa koper bersama Isla dan Layla. Mungkin rencanaku berlibur bersama Ayah tertunda karena hal ini. Kulihat Layla yang memasang wajah sedih saat melipat gaun-gaunku untuk dimasukkan ke dalam koper.
“Layla, tenanglah,” ucapku berharap dapat menghiburnya. “Aku akan sering berkunjung ke rumah jika ada waktu luang.”
Layla menggeleng. “Nona Charlotte harus fokus pada kehidupan Nona di istana nantinya. Saya dan Jayden pasti akan menjaga Tuan Viscount di sini.”
“Terima kasih, Layla,” kataku.
“Isla, apakah kau sudah meminta ijin pada Ava tentang Selir Sienna?” tanyaku pada Isla saat Layla sudah pergi meninggalkan kamarku. Kami tidak punya waktu bicara berdua akhir-akhir ini.
Isla mengangguk. “Akan lebih baik jika kita menunggu sampai Nona Charlotte masuk ke dalam Istana Perunggu.”
“Ya, Istana Perak tidak jauh dari Istana Perunggu. Akan lebih mudah bagimu melarikan diri jika berada dalam kondisi yang tidak memungkinkan,” kataku mengiyakan. “Untuk sekarang, sebelum pergi tolong kau hilangkan portal di ruangan bawah tanah.”
Isla mengangguk dan keluar dari kamarku. Tak berselang berapa lama, pintuku diketuk dari luar dan munculah Idris bersama para pengawal Kekaisaran.
“Apakah sudah selesai?” tanya Idris.
Aku mengangguk. “Ya, tinggal dibawa ke kereta saja.”
“Tolong bawa koper-koper itu ke dalam kereta,” pinta Idris pada para pengawalnya. Mereka pun melakukan hal yang diminta lalu membawa koperku ke dalam kereta. “Ayo, kita berpamitan pada Ayahmu.”
Aku mengangguk dan mengapit lengan Idris yang sengaja dibuka agar aku bisa menggandengnya.
Di luar rumah, Ayah sudah berdiri bersama dengan Jayden, Layla, beserta beberapa pekerja di kediaman kami. Isla menyusul dari dalam rumah setelah membereskan portal di ruangan bawah tanah.
Aku memeluk Ayahku tanpa berkata apa pun. Cukup lama kami berada dalam posisi itu dan Idris membiarkannya. Aku lalu memeluk Layla yang tidak bisa menahan tangisnya. Dia membisikkan kata-kata penyemangat yang membuatku tersentuh. Saat bertatapan dengan Jayden, dia hanya tersenyum lebar dan mengulurkan tangan. Kami berjabat tangan secara profesional.
“Jangan lupakan kami, Nona,” kata Jayden.
“Tentu saja. Aku kan hanya pergi sementara,” kataku, kalimat terakhir hanya kugumamkan hingga tidak ada yang mendengarnya kecuali Isla. “Ayah, semuanya, kami pergi dulu.”
Semuanya mengangguk dan melambai saat aku masuk ke dalam kereta bersama Isla dan Idris. Aku mengeluarkan kepala dan tanganku ke luar jendela dan ikut melambai saat mereka sudah tidak terlihat lagi.
“Setelah mengantarmu ke Istana Perunggu, aku akan menyusul Jack ke tempat perkumpulan untuk Hari Pemburuan besok,” ucap Idris.
Jack memang ditunjuk untuk memimpin persiapan Hari Pemburuan bersama para bangsawan biasa saat Idris bersamaku. Para bangsawan yang ikut pemburuan mendirikan tendanya masing-masing di pinggir hutan Beck.
“Begitu, ya.”
“Tim ekspedisi yang kuterjunkan beberapa bulan yang lalu juga sudah mengatakan jika banyak hewan buas di hutan itu,” jelas Idris. “Tidak perlu khawatir soal hal itu.”
Aku mengangguk. “Tentu saja. Aku punya kau yang bisa melindungiku.”
Mendengar hal itu, Idris tersenyum dan memilih duduk di sampingku di sepanjang perjalanan menuju Istana Perak.
“Oh ya. Ada hal penting yang harus kukatakan padamu, Charlotte,” ucap Idris.
“Apa itu?”
“Saat berada di istana nanti, tolong jangan terima kunjungan dari Selir Sienna. Kau bisa, kan?”
Aku tersenyum tanpa menatap Idris. “Bolehkah aku tahu alasanmu berkata seperti itu, Idris?”
“Dengarkan saja perkataanku untuk kali ini,” katanya kemudian.
Kami pun saling diam setelah Idris berkata seperti itu.