Vania Maharani terpaksa memutuskan jalinan cintanya dengan Leon Mahardika,kekasih masa SMA nya karena desakan dari Nyonya Laras, mamanya Leon. Keadaan lah yang membuat Vania terpaksa menyetujui kemauan Nyonya Laras dan menjalankan rencana yang membuat Leon sangat membenci Vania.
Hingga 7 tahun berlalu, mereka kembali bertemu namun dengan status yang berbeda. Leon sudah menikah dengan Ziva yang tak lain sahabatnya sejak kecil sekaligus dialah orang yang memberikan ide gila pada Nyonya Laras.
Perusahaan tempat Vania bekerja bangkrut, dan di ambil alih oleh perusahaan Leon. Dan di sanalah penderitaan Vania di mulai.
Apa yang terjadi dalam kehidupan Vania hingga membuatnya mau menjadi istri siri Leon?
Simak dan ikuti ceritanya.
Jangan lupa dukung Author dengan cara
Like, Coment, Vote, Favorite dan kasih hadiah buat author ya.
Kamsyahamida 🙏🙏
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Cintya Devi, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Cinta Terpendam
Saat Vania hendak memotong nadinya dengan pisau, tiba-tiba dirinya tersadar dari bisikan setan yang hampir membuatnya gelap mata.
"Astaghfirullah...," lirih Vania. Dengan segera Ia membuang pisau dari tangannya.
"Maafkan aku ya Allah, hampir saja aku menambah dosa-dosaku dengan perbuatanku barusan," imbuhnya.
Vania segera mengambil air wudhu. Menunaikan kewajibannya sebagai umat beragama. Mungkin dengan menjalankan sholat dhuha pikirannya kembali jernih sekaligus mencurahkan segala keluh kesahnya di atas sajadah coklat miliknya.
Bercerita pada Allah, memang solusi terbaiknya. Saking larut dalam kesedihannya, Vania pun tertidur di atas sajadahnya dalam keadaan mata yang basah dan masih menggunakan mukena.
Hingga tanpa terasa, terik panas matahari yang masuk dari jendela kamar Vania membuatnya kembali terbangun dari tidur pulasnya.
"Astaga, kok aku bisa ketiduran di sini?" batin Vania. Segera ia melepas mukena yang masih tertempel di tubuhnya dan merapikan sajadahnya.
Di rumahnya, setelah pulang dari rumah Vania, Leon kembali tertidur nyenyak. Untungnya Pras datang ke rumahnya dan segera bergegas pergi ke kamar bosnya tersebut.
"Leon.., kamu benar-benar ceroboh. Apa kamu lupa jika pagi ini kita ada meeting dengan klien penting. Pantas saja aku telpon berkali-kali gak kamu angkat," gumam Pras kesal.
Pras berjalan menuju jendela kamar Leon, membuka gorden kamarnya, membuat sinar panasnya matahari langsung masuk dan menyorot tepat ke arah wajah Leon.
"Ishh..., siapa sih yang iseng buka gordennya. Aku masih ngantuk. Sayang, jangan bangunin aku dulu dong," protes Leon. Pikir Leon yang tengah membangunkan dirinya adalah Ziva, istrinya. Karena biasanya Ziva melakukan itu jika Leon susah untuk di bangunkan.
"Sayangmu peyang. Ini aku Pras! Ayo cepat kamu mandi Leon, kita ada meeting pagi ini," cetus Pras.
"Aishh, kamu Pras. Tunda saja dulu, aku mau lanjut tidur," jawab Leon sembari menarik kembali selimut untuk menutupi wajahnya.
"Tunda gimana sih Leon, ayo cepat kamu bangun!" seru Pras.
"Aku bilang tunda ya tunda. Sekarang cepat keluar, aku ijin tidak ke kantor hari ini."
"Haiissh,," Pras mendesis kesal. Leon sepertinya beneran lupa dengan janjinya pada penanam saham terbesar di perusahaannya sekarang.
"Okelah kalau mau kamu seperti itu. Tapi jangan salahkan aku jika Mr. Georgino menarik semua sahamnya dari perusahaan. Soalnya kemarin kamu kan sudah menunda meeting kita. Dan aku pastikan jika kamu menundanya lagi, Mr. Georgino akan marah besar," jelas Pras.
Sset...
Leon terperanjat dari tidurnya. Ucapan Pras sekejap membuat kedua mata Leon membelalak lebar, mengambil handuknya dan berlari menuju kamar mandi.
"Kenapa kamu gak bilang dari tadi sih Pras, kalau klien itu Mr. Georgino? Jadwal meetingnya jam berapa?"
"Jam 10 Leon!"
"Sekarang jam berapa Pras?" teriak Leon dari dalam kamar mandinya.
"Jam sepuluh bos Leon."
"Aishh, kenapa kamu gak telpon aku dari pagi! Lagian kenapa juga kamu baru datang sekarang. Kalau kita terlambat bagaimana?"
Pras menggelengkan kepalanya. Emang ya kalau bos itu selalu berkuasa. Sesalah apa pun dia, tapi kembali lagi jika bos adalah maha benar.
Daripada menjawab celotehan Leon, Pras memilih keluar dari kamar Leon dan menunggunya di ruang tamu. Matanya langsung tertuju dengan foto pernikahan Leon dan Ziva yang terpampang besar di dinding ruang tamu kediaman Leon.
"Ziva.., kamu sangat cantik. Tapi kenapa kamu malah mencintai Leon. Apa kamu bahagia bersama Leon Ziv? Apa kamu tahu jika Leon tidak pernah mencintai kamu? Bahkan saat kamu tidak ada, dia malah tidur bersama mantan kekasihnya. Kasihan sekali nasib kamu Ziv. Andai saja aku yang menjadi suami kamu, pasti aku akan membuat kamu satu-satunya perempuan di hatiku. Sayangnya, aku tak punya keberanian untuk mengungkapkan rasa cintaku sama kamu. Dan lebih baik aku memendamnya demi kebahagian kamu," umpat Pras dalam hati.
Leon yang sudah selesai bersiap-siap, bergegas menemui Pras. Namun, di sana dirinya malah melihat Pras sedang sibuk mengamati wajah istrinya.
Cemburu? Entahlah. Yang jelas Leon merasa curiga dengan tingkah asistennya sekarang.
"Ehem.., bisa kita berangkat sekarang Pras?" ujar Leon.
"Eh iya Leon, bisa. Maaf ya Leon, aku terlalu fokus memandangi foto pernikahan kalian. Aku hanya sedang membayangkan bagaimana rasanya menikah!" elak Pras. "Semoga saja Leon percaya," batinnya.
Bibir Leon melengkung lebar. Rupanya Ia salah menduga. Ia kira Pras menyimpan rasa untuk istrinya, namun semuanya salah. Leon pun merangkul pundak Pras sambil melontarkan candaannya.
"Makanya Pras, cepat nikah! Biar kamu tahu gimana rasanya punya istri dan keluarga," sindir Leon.
"Ya pengennya sih gitu. Tapi belum ada calonnya. Oh iya, apa aku boleh bertanya sesuatu pak bos?" tanya Pras dengan mimik wajah yang berubah jadi serius.
"Tanya apa Pras?"
"Apa kamu sudah mulai mencintai dan menerima Ziva sebagai istrimu? Apa kamu bahagia dengan pernikahan kalian? Dan bagaimana jika Ziva tahu soal Vania?"
Glek...
Leon seakan tertampar dengan semua ucapan asisten sekaligus sahabatnya tersebut. Karena sibuk memikirkan Vania, Leon malah hampir lupa dengan istrinya sendiri. Bahkan untuk menelpon saja, Leon lupa.
"Pras, aku sendiri bingung. Dulu waktu aku pacaran dengan Vania, semua cintaku untuk dia. Tapi semenjak aku menikah dengan Ziva, sedikit demi sedikit rasa itu ada. Perhatian Ziva, cinta Ziva, kasih sayangnya, sempat membuatku melupakan soal Vania."
"Terus kenapa kamu masih peduli dengan Vania? Harusnya kamu fokus dengan pernikahanmu dengan Ziva."
"Awalnya aku juga memutuskan demikian Pras. Tapi setelah aku tahu alasan Vania meninggalkanku dan apa yang sudah ku lakukan padanya, aku bingung Pras. Ada rasa penyesalan dalam hatiku karena sudah menikah dengan Ziva. Tapi aku juga tidak mungkin begitu saja berpaling darinya. Karena selama ini dia selalu menemaniku di saat kondisi tersulitku."
Pras mengepalkan kedua tangannya. Ingin rasanya ia memukul wajah Leon dan menghajarnya. Mana bisa seorang kepala rumah tangga, bingung mengambil keputusan untuk nasib rumah tangganya sendiri.
Pras memalingkan wajahnya. Mencoba mengatur nafasnya. Ia berusaha mengerti posisi dan keadaan yang di alami oleh Leon saat ini.
"Sudahlah Leon, aku tahu gimana sulitnya keadaanmu sekarang. Hanya satu pesanku, pilih salah satu atau kamu malah akan kehilangan keduanya," ucap Pras sambil menepuk bahu Leon.
"Iya Pras, aku sudah memikirkan semalaman."
"Bagus, jadi apa pilihan kamu?" cecar Pras.
"Aku..,aku akan tetap mempertahankan hubunganku dengan Ziva. Dan aku akan berusaha untuk menjauhi Vania. Lagi pula Vania juga memintaku untuk tidak mengganggu hidupnya lagi. So, benar katanya kemarin. Aku dan dia sudah memiliki kehidupan masing-masing," jelas Leon yang seolah tegar dalam berucap, padahal dalam hatinya masih tidak ingin jika harus berjauhan dengan mantan terindahnya itu.
"Ya memang itu yang terbaik. Ziva adalah istri yang baik, jadi jangan pernah kamu menyia-yiakan istri sebaik Ziva. Meskipun aku tahu, Ziva tidak akan pernah bisa menggantikan posisi Vania dalam hatimu. Tapi perlu kamu garis bawahi, pernikahan itu bukan masakan. Ketika kamu merasa hambar, kamu membuangnya begitu saja."
"Iya Pras. Gak seharusnya aku melukai hati istriku. Kamu memang sahabat terbaikku Pras. Terima kasih karena kamu selalu menjadi sahabat dan orang terdepan yang ada saat aku mengalami kesulitan."
"Sama-sama Leon. Lebih baik kita segera pergi, jangan sampai Mr. Georgino datang terlebih dulu dan menunggu kita terlalu lama."
"Iya Pras, ayo," cetus Leon.
Saat berjalan menuju mobil, Pras mengamati Leon dari ujung kepala hingga ujung kakinya.
"Beruntung sekali nasibmu Leon. Mendapatkan dua cinta tulus dari dua perempuan cantik seperti Ziva dan Vania. Tapi aku tidak ingin melihat Ziva terluka, sedih dan menangis. Ziva.., aku akan berusaha membuat Leon tetap menjadikanmu istri satu-satunya. Meskipun aku sendiri harus terluka dengan kebersamaan kalian," batin Pras.
Curiga tidak ada derap langkah Pras, Leon membalikkan badannya dan melihat Pras masih berdiri di tempat yang sama.
"Pras, kamu ngapain masih berdiri di sana?"
"Eh maaf Leon," jawab Pras yang langsung melangkah cepat menghampiri Leon.
"Pras..,Pras, kamu ini sedang mikirin apa sih? Ingin berbagi cerita denganku?" tanya Leon.
"Oh enggak ada apa-apa kok Leon. Mana mungkin orang sesantai aku banyak pikiran, iya kan?"
"Iya juga sih," jawab Leon sambil mengurai senyuman lebar di bibirnya.
kayak perhatian Morgan pada istri orang yang author anggap hal benar
mudah mudahan author merasakan diposisi leon didunia nyata, amin
ternyata sudah ada yang ngantri lagi untuk nyakiti vania🤦♀️🤦♀️🤦♀️🤦♀️