COVER FROM PINTEREST
.
.
Dinda tidak mengingat apa yang terjadi pada dirinya, dia hanya mengingat bahwa cintanya bertepuk sebelah tangan dan tak hanya itu, dia masih mengingat jelas ketika pria yang dia cintai itu merenggut masa depannya. Namun dengan tatapan mata pria itu, Dinda bisa memastikan bahwa ada jutaan rahasia yang tidak dia ingat. Termasuk tentang bayi perempuan yang baru dia lahirkan. Bayi itu..., sangat mirip dengannya dan pria brengsek itu.
"Dia anak kita yang ke dua, Dinda," ucapnya dan mulai dari situ Dinda merasa semakin gila karena tidak bisa mengingat apapun.
Bagaimana dia bisa mempunyai anak ke dua sedangkan anak ke satu pun dia tidak mengingat siapa namanya.
PERHATIAN!
Cerita ini memiliki alur maju-mundur
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon AzieraHill, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Chapter 2
DINDA POV
"Ayo kita turun, Om Daniel pasti sudah menunggu kita," ungkap Ayah padaku layaknya aku ini anak kecil yang masih harus dituntun. Padahal umurku sudah menginjak 22 tahun. Aku sudah jauh sangat dewasa, tapi ya... sedikit manja pada Ayahku tidak ada salahnya kan.
Di ambang pintu sudah ada seseorang melambaikan tangannya pada Ayahku. Senyuman dan raut wajahnya sangat memukauku yang masih berdiri di depan mobil sedan milik Ayah. Apa dia anak teman Ayah? Kalau begitu aku akan betah tinggal di sini. Bagaimana tidak kalau anaknya saja sudah menarik perhatianku. Dengan kaos putih dengan tulisan SWAG sudah membantuku membayangkan betapa kerennya dia. Mungkin aku bisa memintanya untuk mengantarku ke kampus setiap hari. Pasti kampus akan gempar, apalagi
dengan berita putusnya aku dengan Mika yang baru beberapa hari ini menghiasi kampus. Ohh aku tidak bisa membayangkan itu.
"August kemarilah," panggil Ayahku dan aku segera membenarkan jeansku yang terlihat ada sedikit robekan di lutut. Bajuku yang terlihat sedikit ketat cepat aku tutupi dengan sweaterku berwarna biru. Aku tidak mau terlihat sebagai wanita yang tidak sopan di depan pria tampan ini.
Ya..., sebenarnya yang aku khawatirkan tinggal di sini itu karena keadaanku yang terkadang dikatakan
menyusahkan. Aku susah bangun pagi. Aku jarang sekali makan. Aku rajin masuk kuliah meski sering telat beberapa menit setelah jam pelajaran di mulai. Dulu telingaku ada sebuah tindikan dan beberapa pearching yang pernah kupasang di hidung tapi aku lepas karena Ayah memarahiku begitu pun dengan tindikan yang berada di
telingaku.
"Kenalkan Daniel ini anakku..., August," ungkap Ayah yang berhasil membuatku terpana dan
ternganga hebat.
Jadi, orang ini yang bernama Daniel. Ayah pasti bohong kalau umurnya sudah berkepala 3. Aku bahkan
tidak percaya karena dia seperti laki-laki berumur 24 tahun. "Ayo August, bersalamanlah."Ungkap Ayah mengembalikanku pada dunia nyata. Aku seperti mimpi saat mendengar gurauan Ayah yang tidak lucu.
"Di mana teman Ayah? Aku juga ingin bertemu dengannya selain bertemu dengan anaknya," ungkapku
saat melihat ulang laki-laki yang tadi Ayah sebut Daniel itu hanya memakai setelan pakaian santai rumah. Dia terlihat seperti selesai bermain PS, benar kan? Aku tidak salah, karena mana ada pria berumur 35 tahun sedang bersantai di rumahnya saat jamnya orang sibuk dengan pekerjaannya.
"Hahahah kau ini. Ayah pulang dulu ya. Ayah harus packing sekarang karena nanti malam Ayah akan
segera berangkat ke London," ungkap Ayah lalu mencium keningku sejenak. Ayah mengacak rambutku dan mengelus pipiku lembut.
"Ayah akan merindukanmu. Kau bisa minta apapun oleh-oleh dari Ayah," mendengar itu
aku tersenyum polos.
"Aku hanya ingin Ayah kembali dengan selamat," ungkapku pada Ayahku. He is my heroes dad. Aku tidak punya siapa pun selain Ayah.
"Aku titip anakku," kudengar Ayah berbicara pada laki-laki jenjang di sebelahku.
Dia tersenyum mengangkat ibu jarinya. Senyumannya sangat mempesona dan aku hampir saja pingsan jika Ayah
tidak lagi mengacak rambutku. "Jadilah anak yang baik. Ayah pasti akan merindukanmu," ungkap Ayah sebelum benar-benar pergi meninggalkanku. Aku mengangguk sejenak dan melambaikan tanganku saat Ayah sudah beranjak masuk ke dalam mobil.
"Apa kau sudah makan, August?" tanya orang itu. Aku pun berbalik badan mengikuti langkahnya yang
ringan sekali jika aku perhatikan dari belakang.
Ya aku memang tidak membawa baju ke rumah ini karena Ayah sudah membawanya kemarin. Tadi saat aku
di kampus, Ayah menjemputku dengan tangan kosong dan Ayah bilang kalau bajuku sudah ada di sini meski tidak semuanya.
TOP epribadeeeeehhhh ...👍👍👍👍👍👍👍👍👍👍