Shevi (20 tahun) adalah pemuda miskin di Jakarta yang menyambung hidup sebagai buruh cuci motor panggilan. Sudahlah dihina dan dicampakkan oleh pacarnya karena dianggap tidak punya masa depan, emaknya pun terancam diusir dari kontrakan petak karena menunggak tiga bulan.
Di titik terendah hidupnya, sebuah mukjizat datang lewat "Sistem Poin Keberkahan".
Setiap kali Shevi bersabar dari hinaan, bekerja jujur, dan ikhlas menolong sesama di kerasnya ibu kota, dia akan mendapatkan Poin Keberkahan yang bisa ditukar dengan uang tunai atau kemampuan ajaib. Berbekal jalur langit ini, Shevi merangkak naik membalikkan takdir dari buruh jalanan menjadi miliarder nomor satu di Jakarta!
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Vyyy ink, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Pria Tua Misterius
Langkah kaki Shevi mencipratkan air hujan yang menggenangi aspal berlubang di sepanjang sisa Gang Tambora. Udara malam yang dingin menusuk hingga ke rusuknya, tetapi napasnya memburu cepat. Pikirannya terus terikat pada raut wajah Bu Ratmi serta batas waktu yang telah dia janjikan.
Keluar dari mulut gang, hembusan angin malam langsung menerpa kaus oblongnya yang basah kuyup. Di bawah pendar remang lampu jalanan kolong jembatan layang, sebuah mobil sedan hitam bernomor polisi rapi berhenti di bahu jalan dengan lampu darurat yang berkedip-kedip.
Di samping ban belakang yang tampak kempis total, seorang pria tua bertubuh agak bungkuk sedang berjongkok. Pria itu mengenakan kemeja batik yang telah kuyup oleh air hujan. Tangannya yang gemetar kesulitan menahan dongkrak besi yang terus-menerus tergelincir di atas aspal berlumpur.
Shevi menyapu pandangannya dengan cermat. Nalurinya mendadak bekerja jauh lebih peka. Dia tidak hanya melihat ban kempis, melainkan menyadari bahwa dudukan dongkrak yang dipasang pria tua itu salah posisi dan berbahaya jika sampai merosot menimpa kaki.
Shevi berlari menghampiri lokasi tersebut. "Permisi, Pak! Ada yang bisa saya bantu?" seru Shevi menembus deru hujan.
Pria tua itu tersentak kaget, mendongak dengan raut muka tegang dan waspada. Di tempat sepi pada tengah malam begini, kehadiran pemuda asing tentu memicu rasa curiga.
Melihat kewaspadaan itu, Shevi segera menunjukkan kedua telapak tangannya yang terbuka. "Jangan khawatir, Pak. Saya Shevi dari pemukiman gang sebelah. Saya lihat dudukan dongkrak Bapak tergelincir. Sini, biar saya rapikan."
Mendengar nada suara Shevi yang tulus serta melihat kaus lusuhnya yang basah, ketegangan di wajah pria tua itu perlahan memudar. Dia menarik napas lega. "Alhamdulillah... Ban mobil saya tertusuk paku tebal, Nak. Saya mau telepon mekanik langganan tapi baterai ponsel saya mati. Sendi-sendi tua saya sudah tidak kuat memutar tuas dongkrak ini..."
"Bapak masuk dan berteduh di dalam mobil saja. Biar saya yang tangani ban cadangannya. Saya terbiasa bongkar pasang mesin dan roda," ulas Shevi seraya menyingsingkan lengan bajunya.
Pria tua itu mengangguk pasrah, lalu masuk ke dalam kabin mobil untuk berlindung dari derasnya air hujan.
Shevi segera bergerak. Dia menyambar kunci roda dari dalam bagasi, lalu menyetel ulang posisi titik tumpu sasis menggunakan dongkrak hingga berada di tumpuan yang benar-benar kokoh.
Menggunakan tenaga di lengannya, Shevi memutar tuas dongkrak hingga bodi sedan terangkat naik.
Tidak berhenti di situ, saat melepas roda yang kempis, mata Shevi yang jeli menangkap kejanggalan lain pada bagian kaliper rem belakang sedan tersebut. Selang minyak remnya ternyata tertekuk dan terjepit plat pelindung akibat benturan batu.
"Kalau dibiarkan, rem mobil ini bisa terkunci di jalan raya," batin Shevi.
Dengan keahlian jarinya serta ketelitian dari latihan mekaniknya, Shevi menggunakan ujung kunci pas untuk meluruskan plat besi tersebut dan merapikan posisi selang minyak rem hingga kembali presisi. Setelah itu, dia memasang ban cadangan, mengencangkan baut-baut roda secara menyilang dengan tumpuan maksimal, lalu menurunkan kembali dongkrak tersebut.
Seluruh proses perbaikan darurat itu tuntas dalam waktu kurang dari lima belas menit di bawah guyuran hujan yang tak henti-hentinya menghajar punggung Shevi.
Pintu sedan terbuka. Pria tua itu keluar sambil membawa payung hitam kecil. Matanya menatap Shevi dengan pandangan sarat akan rasa kagum.
"Sudah selesai semuanya, Pak. Baut roda sudah kencang dan selang rem belakang yang tadi sempat terjepit juga sudah saya rapikan. Aman untuk perjalanan pulang," terang Shevi seraya menyeka campuran air hujan di wajahnya.
Pria tua itu tersentak pelan. "Kamu... sampai memeriksa selang rem mobil saya juga?"
"Iya, Pak. Berbahaya kalau dibiarkan terjepit di jalan licin begini," jawab Shevi jujur.
Pria tua itu mengangguk-angguk penuh haru. Dia merogoh saku jasnya, mengeluarkan dompet kulit tebal, lalu menarik beberapa lembar uang kertas tebal pecahan seratus ribu rupiah—total lima juta rupiah—dan menyodorkannya langsung ke tangan Shevi.
"Terima kasih banyak, Nak Shevi. Kamu bukan cuma mengganti ban, tapi mungkin baru saja menyelamatkan nyawa saya dari rem blong. Ini... terima uang jasa ini untuk ganti lelahmu."
Shevi terpaku menatap lembaran uang lima juta rupiah di tangan pria tua itu. Jumlah itu lebih dari cukup untuk melunasi sewa rumah tiga juta rupiah di tangan Bu Ratmi. Namun, ada pergolakan di dalam dada Shevi.
"Pak... ini terlalu besar buat sekadar ganti ban dan rapikan selang rem," bisik Shevi, mendorong pelan tangan pria tua itu secara halus. "Saya ikhlas menolong Bapak. Cukup bayar biaya jasa standar servis saja lima puluh ribu rupiah."
Pria tua itu tertegun, menatap Shevi dengan tatapan yang kian dalam. "Kamu menolong orang di tengah malam dan hujan badai begini, tapi menolak uang yang menjadi hakmu?"
"Saya butuh uang untuk sewa rumah, Pak. Tapi saya tidak mau memanfaatkan keadaan orang yang sedang musibah di jalanan untuk mengambil uang sebanyak ini," tegas Shevi dengan nada suara rendah namun sangat mantap.
Mendengar keteguhan prinsip pemuda di hadapannya, pria tua itu tersenyum hangat. Dia tidak memaksa, melainkan menarik satu lembar kartu nama tebal bersepuh emas dari dompetnya dan meletakkannya di atas telapak tangan Shevi bersama lembaran lima juta rupiah itu.
"Kartu nama ini milik saya—Teguh Prabowo, pemilik jaringan bengkel utama di Jakarta," tutur pria tua itu dengan tatapan berwibawa. "Uang ini bukan santunan atau belas kasihan, Shevi. Ini adalah uang pembayaran resmi atas keahlian teknismu menyelamatkan sistem rem mobil saya. Dan kartu nama ini... temui saya di bengkel besok jika kamu butuh tempat usaha yang layak untuk keahlian tanganmu."
Shevi terpaku menatap kartu nama tersebut. Pembayaran resmi atas kerja keras keahlian tangannya sendiri, bukan hasil meminta-minta atau uang jatuh dari langit!
Saat Shevi mendongak hendak mengucap terima kasih, Pak Teguh sudah kembali ke dalam kemudinya, menyalakan mesin sedan yang kini bersuara sangat halus, lalu melaju perlahan membelah kegelapan malam.
Ting...!
Sensasi hangat kembali bergetar pelan di dalam dada Shevi, menghadirkan kedamaian pikiran yang mendalam:
[Resonansi Keberkahan Terkonfirmasi]
[Prinsip Integritas Terjaga: Hasil Kerja Keras Murni]
Shevi mengepalkan tangannya rapat-rapat, menggenggam lembaran uang lima juta rupiah hasil keringatnya sendiri. Waktu di jam tangannya menunjukkan pukul sebelas lewat empat puluh lima menit.
"Saatnya pulang ke Tambora," gumam Shevi mantap, lalu berbalik berlari kencang menembus hujan demi menyelamatkan rumah dan Emaknya!