"Kalau umur 30 gue belum nikah, lo wajib nikahin gue, Ka!"
Janji konyol lima tahun lalu kini jadi bumerang untuk Nadira. Sisa waktunya tinggal menghitung hari, tapi semua perburuannya mencari pacar selalu berujung tragis—ditipu hingga nyaris jadi selingkuhan!
Di sisi lain, ada Askara. Sahabat sejak kecil yang tampan dan mapan. Askara sengaja menolak ratusan wanita demi menanti hari ini tiba. Bagi Askara, janji umur 30 bukanlah lelucon, tapi strategi untuk memiliki Nadira seutuhnya.
Waktu habis, Askara pun menagih janji! Nadira yang gengsi setengah mati terpaksa menikah dengan sahabat yang tahu semua kebiasaan buruknya.
Mampukah Nadira bertahan saat Askara mulai membongkar batas friendzone dan menagih haknya sebagai suami?
Gengsi tingkat tinggi VS Cinta tulus sahabat sendiri. Siapa yang bakal menyerah duluan?
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Ariska Kamisa, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
BAB 21: Panggilan Pengganggu dan Tabir Masa Lalu
Drrttt.. Drrttt... Drrttt....
Ponsel Nadira di atas meja teras mendadak bergetar hebat. Nama Sagara - Intern terpampang jelas di layarnya, memotong momen manis dan gelak tawa yang baru saja tercipta di antara Askara dan Nadira.
Nadira mengerutkan dahi, berniat mengabaikannya. Namun, baru saja dering pertama mati, ponsel itu kembali bergetar keras. Panggilan kedua masuk. Lalu ketiga. Sagara terus menelpon tanpa henti.
"Aduh, si Gara kenapa sih menelpon beruntun gini?" gumam Nadira, jarinya terulur hendak menggeser tombol hijau.
Sret!
Sebelum jemari Nadira sempat menyentuh layar, sebuah tangan kekar bergerak lebih cepat. Askara menyambar ponsel itu dari meja. Raut wajahnya yang tadinya hangat dan santai mendadak berubah menjadi sangat dingin dan menusuk.
"Biar gue yang angkat," ujar Askara singkat, suaranya pelan namun tak menerima bantahan.
Askara langsung menggeser tombol hijau, mengaktifkan mode pengeras suara (speaker), lalu mendekatkan ponsel itu ke bibirnya tanpa memberikan kesempatan pada Nadira untuk memprotes.
"Mbak Nadira! Akhirnya diangkat juga!" suara Gara terdengar panik dan terengah-engah dari seberang telepon. "Mbak, tolong dengerin penjelasan saya dulu. Jangan percaya sama Pak Askara! Saya tahu Mbak lagi sama dia kan? Saya—"
"Gue Askara," potong Askara dingin. Kalimatnya singkat, namun sanggup membungkam kepanikan Gara di ujung telepon seketika.
Hening sejenak. Suara deru napas Gara terdengar makin memburu.
"Pak... Pak Askara?" cicit Gara, suaranya berubah tegang. "Saya mau bicara sama Mbak Nadira, Pak. Ini penting!"
"Nggak ada hal penting dari lo yang perlu didengar sama calon istri gue, Sagara," cetus Askara dengan nada mengintimidasi yang begitu pekat. "Gue udah pernah peringatin lo. Jangan pernah ganggu Nadira lagi, apalagi sampai menelpon kayak orang kesetanan begini."
"Pak Askara, tolong jangan salah paham!" seru Gara membela diri dari seberang sana, suaranya menaik dramatis. "Saya tahu Mbak Nadira udah tahu kalau saya adiknya Mbak Rebecca! Tapi demi Tuhan, Pak! Saya masuk magang di kantor Mbak Nadira itu murni keinginan saya sendiri! Saya cuma mau mandiri tanpa iming-iming nama besar keluarga!"
Askara hanya menyunggingkan senyuman miring yang sangat sinis, matanya menatap lurus ke arah pemandangan Lembang. "Oh ya? Terus peran lo dalam rencana busuk kakak lo itu apa?"
"Saya emang dimanfaatin sama Mbak Becca, Pak!" aku Gara menggebu-gebu. "Mbak Becca yang nyuruh saya masuk ke timnya Mbak Nadira buat cari-cari kesalahan dia. Tapi saya gak pernah lakuin itu! Saya malah kagum sama Mbak Nadira! Saya niatnya murni mau kerja dan belajar dari dia. Saya gak ada sangkut pautnya sama niat jahat Mbak Becca!"
Nadira yang mendengarkan percakapan itu melalui speaker terpaku. Ada nada ketakutan dan kejujuran dari cara Gara berbicara, membuat hatinya yang lembut sedikit goyah.
Namun, Askara bukanlah pria yang mudah dibodohi oleh sandiwara atau alasan manis. Pria itu sudah terlalu sering menghadapi musuh dalam selimut.
"Lo pikir gue peduli sama alasan manis lo, Gara?" bisik Askara rendah, setiap kata yang diucapkannya terasa seperti belati yang menusuk. "Mau lo murni, mau lo dimanfaatin, atau mau lo cuma boneka... fakta bahwa darah lo sama dengan Rebecca itu udah cukup buat bikin lo jadi ancaman buat Nadira."
"Pak Askara, tolong kasih saya kesempatan buat jelasin langsung ke Mbak Nadira—"
"Dengerin gue baik-baik, Sagara," potong Askara tanpa ampun, memangkas kalimat anak muda itu. "Hari Senin besok, surat pemutusan hubungan magang lo bakal sampai di meja lo. Jangan pernah menampakkan muka lo lagi di gedung Ruella Creative. Kalau lo masih berani menelpon Nadira satu kali lagi... bukan cuma karier magang lo yang hancur, tapi nama lo bakal gue blacklist dari seluruh perusahaan kreatif di Indonesia. Paham?"
"Pak Askara! Nggak bisa gitu dong! Mbak Nadira, tolong—"
Teeet.
Tanpa ragu sedikit pun, Askara mematikan panggilan tersebut secara sepihak. Ia memblokir nomor Gara detik itu juga, lalu meletakkan ponsel Nadira kembali ke atas meja dengan gerakan tenang, seolah baru saja membuang sampah.
Nadira menatap Askara dengan mata membelalak. "Ka! Kok main pecat gitu aja sih?! Dia kan belum tentu bersalah! Kasihan kalau karier magangnya hancur..."
Askara berbalik, menatap Nadira rapat-rapat. "Gue gak akan ambil risiko sekecil apa pun menyangkut keselamatan dan ketenangan lo, Nadira. Keluarga mereka itu licik. Rebecca gak mungkin biarin adiknya masuk ke lingkungan lo tanpa ada maksud terselubung."
Nadira terdiam sejenak. Menyebut nama wanita itu, ingatan Nadira mendadak melayang pada kejadian kemarin di restoran hotel. Bagaimana Rebecca mencoba menyentuh Askara, dan bagaimana reaktifnya Askara terhadap wanita tersebut.
Rasa penasaran yang selama ini dipendam Nadira akhirnya mendesak untuk keluar.
"Ka..." panggil Nadira pelan, memajukan tubuhnya di atas ayunan.
"Kenapa lagi?"
"Soal Rebecca..." Nadira menggantung kalimatnya, matanya menatap Askara penuh rasa selidik. "Sebenarnya... hubungan lo sama dia di masa lalu tuh gimana sih? Kenapa dia dendam dan iri banget sama gue sampai segitunya? Dan kenapa kemarin lo bisa tahu seluk-beluk rencana dia sampai ke adik-adiknya?"
Askara menghela napas panjang. Pria itu duduk kembali di samping Nadira, meraih jemari wanita itu dan mengusapnya perlahan.
"Gak ada hubungan apa-apa, Nad," jawab Askara jujur. "Dari dulu sampai detik ini, perasaan gue ke Rebecca itu netral... cenderung jijik."
"Terus kenapa dia bisa seobsesi itu sama lo dan se-benci itu sama gue?" cecar Nadira ngeyel, menuntut jawaban lebih mendalam.
"Karena dari zaman kuliah dulu, Rebecca itu ngejar-ngejar gue," jelas Askara santai, menatap mata Nadira. "Tapi setiap kali dia mendekat, gue selalu nolak dia secara terang-terangan. Dan lo tahu alasan apa yang selalu gue pake buat nolak dia?"
Nadira berkedip. "Apaan?"
"Gue selalu bilang sama dia: 'Gue gak tertarik sama cewek kayak lo. Gue cuma mau wanita kayak Nadira Ruella.'" Askara tersenyum miring, menirukan ucapannya bertahun-tahun lalu.
DEG!
Jantung Nadira seperti melompat dari tempatnya. Pipinya mendadak terasa panas seketika. "L-lo... lo ngomong gitu ke dia?!"
"Iya," sahut Askara tanpa beban. "Setiap kali dia ganggu gue, gue selalu bawa nama lo. Itu yang bikin dia makin gila dan membenci lo setengah mati. Dia ngerasa lo merebut perhatian gue, padahal dari awal emang cuma lo yang ada di otak dan hati gue."
Nadira terpaku, lidahnya mendadak kelu. Ia tidak pernah menyangka bahwa di balik kebencian Rebecca padanya selama bertahun-tahun ini, ada nama dirinya yang selalu digaungkan oleh Askara sebagai tameng sekaligus alasan utama.
"Terus... soal dia yang diasingkan ke luar negeri dulu..." bisik Nadira ragu-ragu. "Tadi di kantor lo sempet bilang kalau lo yang bikin orang tuanya ngirim dia ke luar negeri. Itu beneran?"
Askara menatap Nadira dengan tatapan mata yang mendadak menajam, sarat akan ketegasan dan keposesifan yang mutlak.
"Beneran," jawab Askara tanpa ragu. "Waktu semester empat dulu, Rebecca sengaja nyebarin rumor jahat tentang lo di kampus sampai lo nangis dan ngurung diri di kamar seharian. Lo ingat kan?"
Nadira mengangguk pelan. Ingatan itu masih berbekas—saat ia dituduh menggunakan cara kotor untuk memenangkan kompetisi desain.
"Malam itu juga, gue dateng ke rumah orang tuanya," lanjut Askara dengan suara rendah yang amat dingin. "Gue bawa bukti ancaman kebangkrutan buat bisnis ayahnya. Gue kasih orang tuanya dua pilihan: buang Rebecca ke luar negeri selamanya agar gak bisa nyentuh lo lagi, atau bisnis keluarganya gue bikin hancur tanpa sisa dalam waktu 24 jam."
Mata Nadira membelalak lebar, napasnya tercekat. "A-Askara... lo serius?! Lo sampai nekad begitu cuma gara-gara rumor kampus?!"
"Gue selalu serius kalau itu menyangkut lo, Nadira," bisik Askara memajukan wajahnya, mengusap rahang Nadira dengan lembut. "Siapa pun yang berani bikin lo nangis, berani bikin lo menderita... bakal gue hancurin hidupnya tanpa ampun. Termasuk mantan-mantan lo yang pernah nyakitin lo dulu."
Nadira menatap pria di hadapannya dengan perasaan campur aduk yang luar biasa. Di satu sisi, ia merinding melihat betapa dominan, licik, dan berbahaya sosok Askara Pradipta jika sedang marah. Namun di sisi lain, dadanya dihantam oleh rasa haru yang teramat sangat. Pria ini telah melindunginya dari balik bayangan selama bertahun-tahun, tanpa pernah meminta imbalan apa pun, tanpa pernah memamerkan kebaikannya.
"Lo gila ya, Aska..." cicit Nadira pelan, air mata haru mendadak menggenang di sudut matanya.
"Iya, gue memang gila," sahut Askara tersenyum manis, mendekatkan bibirnya dan mengecup lembut kening Nadira. "Gila karena lo, Nadira Ruella."
semangat terus thor...
/Heart/