Gagal total merantau di kota, Arga terpaksa pulang kampung dengan dompet kosong dan niat setengah hati untuk bertani di lahan tua peninggalan kakeknya. Namun, nasib sialnya mendadak berbalik 180 derajat ketika sebuah layar biru hologram muncul di pagi buta, mengaktifkan "Sistem Check-in Harian" yang terus memberinya hadiah gila-gilaan setiap hari, mulai dari saldo puluhan juta rupiah, benih super ajaib, hingga barang-barang mustahil lainnya. Kini, dengan cangkul di tangan dan sistem overpower di sisinya, Arga bersiap menampar mulut julid para tetangga, menendang tengkulak serakah, dan membangun kerajaan bisnis pertaniannya sendiri untuk menjadi petani paling sultan yang pernah ada.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Cherlly, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab 3
Sring.
Suara cangkul beradu dengan batu kecil terdengar berulang kali di halaman belakang rumah.
Arga mengusap keringat sebesar biji jagung yang mengucur deras dari dahinya.
"Akhirnya selesai juga membuat sepuluh lubang tanam ini."
Napasnya terengah-engah tapi ada senyum puas di wajah kusamnya.
Dia berjongkok dan mengambil kantong kain merah yang sejak tadi disimpannya di saku celana.
Tangannya dengan sangat hati-hati mengambil satu per satu benih bercahaya biru itu.
"Satu, dua, tiga... ah semoga saja kalian benar-benar tumbuh dalam tiga hari."
Puk puk. Arga menutupi setiap benih yang sudah masuk ke lubang dengan tanah gembur.
Dia lalu mengambil ember plastik pecah dari gudang dan menimba air sumur.
Byur byur.
Air jernih membasahi tanah yang baru saja ditanami benih tomat kristal tersebut.
[Penanaman Benih Tomat Kristal Mutasi Tingkat S berhasil.]
[Hitung mundur masa panen dimulai: 71 Jam 59 Menit.]
Suara mekanis sistem kembali bergema membuat senyum Arga semakin lebar.
"Benar-benar nyata, ini bukan mimpi di siang bolong."
Krucuk krucuk.
Perutnya kembali protes dengan suara yang jauh lebih nyaring dari sebelumnya.
"Oke perut, saatnya kita pesta makan enak hari ini."
Arga bergegas masuk ke rumah dan menuju kamar mandi yang pintunya sudah jebol sebelah.
Byur byur byur.
Dia mandi dengan cepat menggunakan air sumur yang sedingin es.
Tidak ada sabun mandi jadi dia hanya memakai sisa sabun cuci baju yang keras mengeras di pojokan.
"Biarin lah yang penting bau asam di badan ini hilang sedikit."
Setelah mandi dia memakai kaos oblong warna hitam yang kerahnya sudah agak melar.
Dia memadukannya dengan celana pendek selutut yang paling bersih di dalam lemarinya.
Arga mengambil ponsel bututnya lalu menatap layar yang menunjukkan saldo lima puluh juta itu sekali lagi.
"Uang ini harus kugunakan dengan bijak tapi sekarang aku butuh makan dan alat tani yang layak."
Dia berjalan ke depan rumah dan menuntun sepeda ontel tua milik mendiang kakeknya.
Kriet kriet.
Rantai sepeda itu berbunyi memelas saat Arga mulai mengayuhnya keluar dari pekarangan.
Tujuannya sekarang adalah pusat desa yang jaraknya sekitar dua kilometer dari rumahnya.
Jalanan desa pagi ini sudah mulai ramai oleh ibu-ibu yang pulang dari pasar.
Arga terus mengayuh sepedanya sambil sesekali mengangguk canggung kalau ada yang tidak sengaja menatapnya.
"Pertama-tama aku harus tarik tunai dulu di minimarket depan balai desa."
Sepuluh menit berlalu dan Arga sampai di depan satu-satunya minimarket modern di desa itu.
Cring.
Suara bel otomatis berbunyi saat Arga mendorong pintu kaca minimarket.
Dia langsung menuju mesin ATM di pojok ruangan dan memasukkan kartu ATM usangnya.
Tit tit tit.
Jari-jarinya dengan cepat menekan tombol pin.
"Tarik tunai dua juta rupiah sepertinya cukup untuk hari ini."
Sreng sreng sreng.
Mesin ATM itu mengeluarkan suara merdu menghitung lembaran uang kertas.
Dua puluh lembar uang seratus ribuan berwarna merah cerah keluar dari celah mesin.
Arga mengambil uang itu dan menghirup aroma wanginya dalam-dalam.
"Bau uang baru memang selalu menjadi parfum terbaik di dunia."
Dia memasukkan setumpuk uang itu ke dalam dompet kulit imitasi miliknya yang sudah mengelupas.
Tujuan berikutnya adalah warung nasi padang Uda Buyung yang letaknya tepat di seberang minimarket.
Arga memarkir sepedanya dan langsung masuk ke warung yang aroma bumbu rendangnya sudah tercium dari luar.
"Uda, pesan nasi rames satu porsi makan di sini."
Uda Buyung yang sedang mengelap meja menoleh dan mengangkat alisnya tinggi-tinggi.
"Loh, Nak Arga kapan pulangnya dari kota?"
"Semalam Da, tolong porsinya kuli ya soalnya saya lapar banget."
"Lauknya mau pakai apa ini?"
"Pakai rendang dua potong, ayam pop satu, telur dadar, sama jengkolnya dibanyakin Da."
Uda Buyung sampai melongo mendengar pesanan Arga yang sangat rakus itu.
"Banyak amat pesananmu, habis dipecat kok malah makan mewah begini?"
"Duh Uda ini mulutnya lemes amat percaya saja sama gosip ibu-ibu pengangguran."
Arga menjawab santai sambil menarik kursi plastik dan duduk bersandar.
"Saya lagi cuti Da, bos saya kasih bonus makanya saya mau foya-foya di kampung."
Plak. Uda Buyung menaruh piring berisi gunungan nasi dan lauk pauk itu di depan Arga.
"Terserah kamu saja lah, yang penting bayar lho ya nanti."
"Tenang saja Da, saya bayar pakai uang merah bukan pakai daun singkong."
Nyam nyam nyam.
Arga langsung menyuap nasi padang itu dengan tangan kosong.
Rasa lapar yang ditahannya sejak kemarin siang akhirnya terbayar lunas oleh bumbu rendang yang nendang.
Baru setengah porsi dia makan tiba-tiba suara cempreng yang sangat dikenalnya terdengar dari pintu masuk.
"Eh ada Arga, ya ampun kasihan banget sarapannya sendirian saja."
Bu Tejo masuk ke dalam warung membawa keranjang belanjaan dengan wajah yang dibuat-buat sedih.
Di belakangnya menyusul Pak RT yang asyik menghisap rokok kreteknya.
"Bu Tejo, Pak RT, pagi-pagi sudah belanja ke sini." Arga menyapa seadanya dengan mulut penuh nasi.
"Itu lho Ga, ibu dengar dari Dinda katanya kamu sudah putus ya sama dia?"
Bu Tejo langsung menembak dengan pertanyaan yang membuat telinga Arga panas.
"Iya Bu, Dinda pilih manajer HRD yang mobilnya lebih bagus."
"Tuh kan Pak RT, apa ibu bilang, Dinda itu pintar cari cowok yang masa depannya cerah."