“Kamu tega menghisap darah para petani miskin seperti kami! Dasar lintah!”
Tristan dilempari anggur busuk, oleh warga desanya sendiri. Truk pendingin miliknya sudah sampai di gerbang desa. Kerugian yang begitu besar akan didapatkan olehnya.
“Tapi kita sudah tanda tangan kontrak. Aku yang mengajari kalian untuk bertani anggur. Aku yang mengajari kalian bagaimana merubah lahan tandus menjadi gudang harta.”
“Persetan dengan kontrak!” Para warga desa merobek kontrak, merusak dan menjarah rumah Tristan.
Hanya karena provokasi dari tunangannya yang merupakan Putri kepala desa. Hanya karena provokasi dari bos anggur yang mengaku dari kota. Mereka tega mengkhianatinya.
Warga desa yang polos sudah tidak ada lagi. Mereka sudah serakah akan uang…
Wajahnya tersenyum, air matanya mengalir.”Gunung tandus milik warga desa sebelah. Akan aku rubah menjadi gunung harta. Saat itu jangan berlutut menyesal di hadapanku."
Warning! Nama tokoh, perusahaan maupun latar hanya fiktif, imajinasi penulis.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon KOHAPU, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Kalah Saing
Tristan menghela nafas, menatap ke arah 50 bibit yang ada di tempat ini. Vivian masih memeluknya begitu erat.
Tidak dipungkiri cukup sulit untuk kembali membuka hati. Terlebih setelah pengkhianatan yang dialami olehnya. Dihina oleh wanita yang dipercayai.
Dulu dirinya menganggap Junita adalah wanita terbaik. Wanita Desa lugu yang selalu mencintainya. Bahkan dirinya sebenarnya sudah berencana melamar Junita tahun ini.
Tapi hal seperti ini sudah terjadi…sulit untuk menerima seseorang kembali.
Mungkin, Tristan akan berusaha. Usianya tidak lagi muda, teman-temannya telah memiliki anak. Mungkin seiring waktu, dirinya dapat menyukai Vivian.
Terlebih…
“Yang…Aku cinta kamu.” Wanita ini begitu agresif, tapi terlihat dingin kepada pria lain. Tidak juga tergiur kemewahan, mengingat Tristan pergi ke desa lumbung emas tidak membawa apapun. Hanya membawa rencana pertanian.
“Aku akan menyukaimu…tidak sekarang. Tapi nanti, seperti tanaman anggur yang dirawat. Mungkin aku akan mencintaimu.” Dirinya menghela nafas, selama Tristan tinggal di tempat ini. Vivian selalu datang setiap pagi, pembantu ibunya membuatkan sarapan. Setelah datang dari Puskesmas, memeriksa kesehatan kedua orang tuanya.
Tingkah laku yang benar-benar jauh dari apa yang dilakukan Junita dulu. Kalau Junita, hampir setiap hari mendatangi orang tuanya hanya untuk meminta uang. Walaupun tidak seberapa, tapi nominal yang cukup besar untuk orang yang hidup di desa.
Membeli lipstik, membeli tas, membeli baju, tidak kurang ratusan ribu rupiah dimintanya setiap minggu. Kepada kedua orang tua Tristan yang sudah tua renta. Karena itu kedua orang tuanya dulu sama sekali tidak menyukai sosok Junita.
“Jujur saja…Vivian, kamu berhasil merayu kedua orang tuaku.” jawaban yang begitu Jujur dari Tristan.
“Jadi…kira-kira kapan tanaman anggur akan berbuah?” Tanya Vivian penasaran.
“35 bibit akan aku tanam secara manual. Tapi 15 diantaranya akan menggunakan teknik grafting. Dalam artian, tanaman anggur lokal yang sudah terbukti tahan terhadap hama dan lingkungan, batangnya akan disambung dengan tanaman Ruby Roman. Aku tidak tahu pasti persentase keberhasilannya. Tapi kalau berhasil, Mungkin tahun depan sudah berbuah. Tentang kualitasnya…masih tanda tanya.” Jawaban yang begitu tenang dari Tristan.
“Tidak apa-apa, itu artinya Kamu akan tinggal lama di desa ini. Tidak akan pernah meninggalkanku!” Ucap Vivian penuh semangat.
***
Sedangkan di tempat lain, Wicaksana melakukan segalanya sesuai dengan perintah Tristan.
Beberapa pedagang benar-benar menghubunginya, mengatakan bahwa ada yang menjual anggur di pasaran dengan harga rp12.000 per kg untuk anggur Red globe.
Seperti apa yang dikatakan oleh Tristan. Dirinya membuang anggur busuk, hanya mengemas rapi anggur yang baru saja dipanen. Bahkan memasukkannya ke dalam kantong-kantong dan kotak mika yang biasanya tersedia di supermarket. Memberikan kesan yang lebih mewah dan eksklusif.
Dirinya tetap berkeliling, menjajakan anggurnya di kota kabupaten.
“Koh! Tidak beli anggur Koh? Murah masih segar-segar cuma rp30.000 per kg.” Ucapnya penuh senyuman, pada pria yang sebelumnya memborong dagangannya.
“Kemarin ada yang menjual 12.000 sekilo. Lu punya barang mahal. Turunkanlah jadi rp20.000 per kilo.” Ucap pria tua sipit yang memiliki toko buah.
“Koh, Ini anggur kualitasnya beda. Ditaruh seminggu juga masih tahan. Nanti jual saja bilang kualitas premium. Rp50.000 sekilo laku lah. Daripada Koh beli yang murah, hari ini tidak laku besok rugi.” Kembali dirinya menawarkan dagangannya.
Menunjukkan kepada pria tua sipit itu, pria tua yang benar-benar mengamati setiap celah anggur. Matanya mengawasi, tidak ada hama, batangnya masih berwarna hijau. Berbeda dengan anggur yang sebelumnya dibeli dari Hendra.
Anggurnya sudah banyak yang pecah, lembek dan berair. Disimpan lebih dari sehari, menjadi cepat busuk.
Pria tua sipit itu sedikit melirik ke arahnya.”rp25.000 sekilo lah! Lu orang kasih 30, mahal!”
Pedagang eceran memang begitu pintar dalam hal menawar. Tapi seperti yang dikatakan oleh Tristan, dirinya tidak boleh menurunkan harga. Kalau beli dalam jumlah sedikit harus rp30.000/kg. Kalau beli dalam jumlah banyak sedikit diturunkan.
“Kalau beli sedikit rp30.000 sekilo. Tapi kalau belinya banyak, saya kasih diskon jadi 28.000 sekilo. Ini tahan seminggu loh koh…seperti anggur-anggur yang dijual di swalayan.” pria yang kembali menggoda, dengan menawarkan sedikit potongan harga.
“Iyalah…ambil sekeranjang!” Perintah dari pria tua itu pada akhirnya.
Dengan semangat, Wicaksana menurunkan pesanan dari pria tua ini. Bersamaan dengan itu, mobil pick up yang disewa oleh orang-orang dari desa Makmur lewat. Berhenti tepat di depan kios, tempat Wicaksana menurunkan buah-buahnya.
apa ria dan keluarganya, atau teman bisnia tristan ?