Alena Wijaya, 24 tahun, tidak pernah membayangkan hidupnya akan berubah total hanya karena satu tanda tangan di atas kertas. Perusahaan keluarganya di ambang kebangkrutan setelah ayahnya terjerat masalah bisnis yang tidak lagi bisa ditutupi, dan satu-satunya jalan keluar datang dari pihak yang paling tidak ia duga: keluarga Mahardika, salah satu konglomerat terbesar di negeri ini.
Syaratnya sederhana di atas kertas—Alena harus menikahi Adrian Mahardika, putra sulung yang dikenal publik sebagai pewaris lumpuh sejak kecelakaan dua tahun lalu. Satu tahun menikah, utang lunas, lalu bercerai baik-baik. Tidak ada cinta yang diminta, hanya status di depan dewan direksi dan media.
Alena datang ke rumah keluarga Mahardika dengan satu niat sederhana: bertahan selama setahun, lalu pergi tanpa menoleh ke belakang.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Sinyo widi Official, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
MALAM PERTEMA YANG BIKIN SALAH PAHAM
KLEK.
Suara pintu kamar Adrian terbuka pelan di tengah malam membuat Alena yang belum sepenuhnya tidur langsung terduduk, jantungnya berdegup kencang.
"Kamu belum tidur?" bisik Adrian dari ambang pintu, kursi rodanya berhenti tepat di batas cahaya lampu tidur yang temaram.
"Belum bisa," jawab Alena jujur. "Masih kepikiran pesan tadi sore."
Adrian mendorong kursi rodanya masuk, menutup pintu pelan-pelan di belakangnya. "Aku juga. Makanya aku ke sini."
Sejak menikah, mereka memang tidur di kamar terpisah—kesepakatan awal yang dibuat demi menjaga jarak profesional dari sebuah pernikahan kontrak. Tapi malam itu, dengan segala kecurigaan dan ancaman yang menggantung di udara, jarak itu terasa seperti kemewahan yang tidak lagi masuk akal.
"Aku mikir," Adrian melanjutkan, duduk lebih dekat ke tepi ranjang, "mungkin lebih aman kalau kita satu kamar aja mulai malam ini. Sampai semua ini jelas."
Alena menatapnya, jantungnya berdebar bukan main. "Maksudmu... satu kamar beneran, atau cuma buat jaga-jaga aja?"
"Buat jaga-jaga," jawab Adrian cepat, meski ada semburat merah tipis di lehernya yang tidak bisa ia sembunyikan sepenuhnya di bawah cahaya temaram. "Aku bisa tidur di sofa sudut kamar."
"Kamu yakin nggak bakal pegel, tidur di sofa sekecil itu?"
"Aku pernah tidur di kursi roda semalaman waktu terapi intensif dulu. Sofa itu udah kayak surga dibanding itu."
Alena tertawa kecil, mencoba mencairkan suasana yang sejak tadi terasa canggung sekaligus menegangkan. "Ya udah. Tapi kalau kamu ngorok, aku lempar bantal, ya."
"Aku nggak ngorok."
"Semua orang bilang gitu sebelum ketahuan ngorok beneran."
Untuk sesaat, tawa kecil mereka berdua mengisi ruangan yang tadinya sunyi dan tegang, membuat suasana terasa sedikit lebih ringan meski ancaman di luar sana masih menggantung tanpa jawaban.
Tengah malam, Alena terbangun karena suara samar dari arah sofa. Ia menoleh, mendapati Adrian duduk tegak, wajahnya berkeringat, napasnya terengah seperti baru saja lari jauh.
"Adrian?" Alena bangkit cepat, mendekat. "Kamu kenapa?"
"Nggak apa-apa," jawab Adrian, suaranya bergetar, jelas berusaha menutupi sesuatu. "Mimpi buruk aja."
"Mimpi buruk kayak apa sampai kamu keringetan gini?"
Adrian terdiam lama, matanya menerawang ke arah jendela yang menampilkan siluet gedung-gedung kota di kejauhan. "Mimpi soal kecelakaan itu. Tapi kali ini... beda. Ada suara orang yang bilang, 'biar dia nggak pernah bisa berdiri lagi, biar semuanya jadi milikku.'"
Dada Alena mencelos mendengar itu. "Kamu inget siapa suaranya?"
"Nggak jelas. Tapi rasanya familiar. Kayak suara yang sering aku denger tiap hari, tapi otakku nggak mau nerima kalau itu beneran orang yang aku kenal."
Alena duduk di samping Adrian, tangannya menggenggam tangan pria itu erat. "Adrian, kalau kamu masih inget sesuatu dari malam kecelakaan itu, meskipun samar, itu penting. Itu bisa jadi kunci buat buktiin semuanya."
"Aku takut," Adrian mengaku, suaranya kini benar-benar rapuh, jauh dari kesan dingin dan penuh kendali yang biasa ia tunjukkan di depan orang lain. "Takut kalau ternyata orang yang aku curigai itu bener, dan itu bakal ngehancurin keluarga aku sepenuhnya."
"Aku ngerti," bisik Alena, "tapi menutupi kebenaran demi jaga keutuhan keluarga yang udah retak dari dalam, itu bukan solusi, Adrian. Itu cuma nunda sesuatu yang cepat atau lambat bakal meledak juga."
Adrian menoleh, menatap Alena lama, matanya berkaca-kaca meski ia berusaha keras menahan diri agar tidak benar-benar menangis di depan orang lain. "Kenapa kamu selalu tahu kata-kata yang tepat buat aku dengar?"
"Karena aku juga pernah di posisi itu," jawab Alena lembut, "harus milih antara kejujuran yang nyakitin, atau kebohongan yang bikin nyaman sementara. Aku juga pernah salah pilih, Adrian. Dan itu yang bikin aku belajar, kejujuran tuh emang nyakitin di awal, tapi jauh lebih baik daripada nanggung kebohongan sendirian sampai bertahun-tahun."
Untuk pertama kalinya sejak mereka mengenal satu sama lain, Adrian menarik Alena ke dalam pelukan—bukan pelukan penuh gairah, melainkan pelukan seorang manusia yang lelah mencari tempat aman untuk sekadar merasa tidak sendirian.
Alena membalas pelukan itu, membiarkan Adrian melepaskan sedikit dari beban yang selama ini ia pikul seorang diri, tanpa perlu kata-kata lagi untuk menjelaskan apa pun.
"Makasih," bisik Adrian di tengah pelukan itu, suaranya nyaris tak terdengar. "Udah lama banget aku nggak ngerasa boleh lemah di depan orang lain."
"Kamu boleh lemah di depan aku, Adrian. Kapan pun."
"Awas aja kalau besok kamu ledek aku soal ini."
Alena tertawa kecil, meski matanya masih basah. "Nggak janji, sih."
Adrian ikut tertawa, tawa yang jarang sekali terdengar tulus seperti itu, sebelum akhirnya keduanya perlahan tertidur, masih dalam posisi berpelukan, seolah dunia di luar kamar itu untuk sesaat berhenti mengancam mereka berdua.
Pagi harinya, mereka berdua terbangun dalam posisi yang sama—Adrian tertidur di ranjang, bukan di sofa seperti rencana awal, dengan tangan Alena masih tergenggam erat di sampingnya. Ketukan pintu membangunkan keduanya mendadak.
"Tuan Muda, Nyonya," suara Pak Bram dari luar, "maaf mengganggu pagi-pagi. Ada tamu mendadak yang datang, mengaku sebagai teman lama Tuan Muda."
Adrian terbangun, mengucek matanya, masih setengah sadar. "Siapa?"
Hening sejenak sebelum Pak Bram menjawab, suaranya terdengar ragu, seolah tahu jawaban itu akan mengubah suasana pagi yang baru saja terasa damai.
"Nona Dhea Anastasya, Tuan Muda. Dia bilang, dia datang karena ada hal penting yang harus disampaikan langsung ke Tuan Muda—soal malam kecelakaan dua tahun lalu."
Wajah Adrian seketika pucat. "Dia... di mana sekarang?"
"Di ruang tamu, Tuan Muda. Sudah saya minta tunggu, tapi dia bersikeras nggak mau pulang sebelum ketemu Tuan Muda langsung."
Alena merasakan tangannya sendiri mengepal tanpa sadar, campuran antara cemas dan sesuatu yang lebih kompleks—bukan lagi cemburu sederhana seperti beberapa hari lalu, melainkan kekhawatiran nyata tentang apa yang akan terungkap dari kedatangan mendadak itu.
"Kamu mau aku ikut turun?" tanya Alena, mencoba terdengar tenang meski hatinya berdebar kencang.
Adrian menatapnya lama, ragu sejenak sebelum menjawab. "Aku rasa... iya. Aku nggak mau ada rahasia lagi di antara kita, apa pun yang Dhea mau sampaikan."
Kalimat itu membuat dada Alena terasa hangat, meski situasi di depan mereka jelas jauh dari kata nyaman.
Mereka berdua bersiap secepat mungkin, Adrian mengenakan kemeja seadanya sementara Alena menyambar cardigan tipis untuk menutupi baju tidurnya. Sebelum keluar kamar, Adrian sempat berhenti sejenak, menatap Alena dengan ekspresi yang sulit dijelaskan.
"Apa pun yang Dhea bilang nanti," katanya pelan, "aku mau kamu tahu, aku nggak akan berubah pikiran soal kamu. Soal kita."
Alena mengangguk, meski di dalam hatinya sendiri ia tidak sepenuhnya yakin, seberapa kuat kalimat itu bisa bertahan begitu kebenaran soal masa lalu Adrian benar-benar terbongkar di depan mereka berdua.
Mereka berjalan menuruni tangga bersama-sama, Adrian didorong dengan kursi rodanya oleh Pak Bram, sementara Alena berjalan di sampingnya, jantungnya berdebar semakin kencang setiap langkah mendekati ruang tamu.
Di ambang pintu ruang tamu, sesosok wanita cantik berdiri membelakangi mereka, rambutnya panjang tergerai, mengenakan setelan kerja formal seolah baru datang langsung dari kantor tanpa sempat singgah ke mana pun dulu.
Mendengar suara langkah mereka, wanita itu berbalik perlahan. Wajahnya pucat, matanya merah seperti habis menangis semalaman, jauh dari kesan wanita percaya diri yang biasa muncul di foto-foto lama yang pernah Alena lihat sekilas.
"Adrian," suara Dhea bergetar, "aku minta maaf datang mendadak kayak gini. Tapi aku nggak bisa nyimpen ini sendirian lagi. Aku tahu siapa yang sebenarnya nyuruh sopir malam itu buat sengaja bikin kecelakaan itu terjadi."
Ruangan itu mendadak sunyi total. Bahkan detak jam dinding pun seolah ikut menahan napas, menunggu kalimat berikutnya yang akan keluar dari mulut wanita yang selama ini menjadi bayangan tak terselesaikan dari masa lalu Adrian.
Apa yang sebenarnya diketahui Dhea soal malam kecelakaan itu, dan kenapa ia baru muncul membawa informasi penting itu sekarang, tepat di saat rumah tangga Alena dan Adrian mulai menemukan pijakannya sendiri?