Tio Yong Ing menghabiskan seluruh hidupnya untuk keluarga.
Ia bekerja tanpa henti, menelan setiap hinaan, dan menyerahkan setiap rupiah yang ia punya — semua demi anak-anaknya. Hasilnya? Di usia 70 tahun, ia terbaring sendirian di panti jompo. Suaminya sudah tiada. Keenam anaknya tak pernah menjenguk. Keponakannya bunuh diri karena tak ada yang melindunginya.
Lalu Yong Ing meninggal.
Dan terbangun lagi — di usia 50 tahun, dengan semua ingatan tentang masa depan yang belum terjadi.
Kali ini, ia tahu siapa yang akan berkhianat. Siapa yang akan menderita. Dan kapan semuanya akan runtuh.
Kali ini, Ibu tidak akan mengalah lagi.
Langkah pertama? Merampas kembali seluruh keuangan keluarga. Langkah kedua? Menyelamatkan menantunya yang sedang sekarat melahirkan — karena di kehidupan sebelumnya, ia terlambat. Langkah ketiga? Membongkar pengkhianatan suami saudara iparnya sebelum terlambat.
Dan itu baru tiga hari pertama.
Di keluarga besar Tionghoa-Indonesia di Semarang, di mana nama keluarga adalah segalanya dan rahasia bisa membunuh — Yong Ing akan membangun kembali segalanya dari nol. Dengan sandal jepit di tangan kanan dan buku tabungan di tangan kiri, ia akan mengubah keluarganya dari pedagang kecil di Pecinan menjadi nama yang disegani di seluruh kota.
Tapi mengubah nasib enam anak yang sudah dewasa ternyata lebih sulit dari yang ia bayangkan. Terutama ketika mereka semua mulai curiga: *sejak kapan Mama jadi setajam ini?*
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Tere Nusa, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Episode 3
Bab 003: Anak Kembar
"Tapi yang satu..."
Suara perawat itu menggantung di udara seperti jarum.
Michael hampir jatuh ke depan. "Yang satu kenapa?"
Daniel ikut menegang. Wajahnya yang biasanya datar kini pucat sampai bibirnya kehilangan warna. Margaret berdiri paling depan, kedua tangannya terkepal di sisi tubuh.
"Katakan jelas," ucap Margaret.
Perawat itu cepat-cepat menggeleng. "Maaf, Bu. Maksud saya, yang satu harus masuk inkubator dulu karena napasnya lemah. Dokter anak sedang menangani. Bayi yang satu lagi sudah menangis kuat."
Michael menutup wajahnya dengan kedua tangan.
Daniel mengembuskan napas panjang, seperti baru keluar dari dalam air.
Margaret tidak langsung lega.
Ia menatap perawat itu, mencari kebohongan, mencari tanda buruk yang dulu tidak sempat ia cegah. "Natalie?"
"Ibunya sadar sebentar tadi. Lemah sekali, tapi perdarahannya sudah terkendali. Dokter masih observasi."
Kaki Margaret kehilangan tenaga.
Kali ini ia benar-benar duduk.
Di dadanya ada sesuatu yang pecah, bukan karena sakit, melainkan karena terlalu lama ditahan. Anak perempuannya masih hidup. Cucu-cucunya masih hidup. Kalimat sederhana itu berputar di kepalanya sampai pandangannya buram.
Hidup.
Satu kata yang dulu tidak bisa ia beli dengan uang, tangisan, atau penyesalan.
Michael berlutut di lantai koridor dan menangis keras. Orang-orang yang lewat menoleh, tetapi ia tidak peduli. Tubuh laki-laki itu gemetar seperti anak kecil.
"Hia selamat... anakku selamat..."
Margaret ingin memarahinya agar tidak membuat malu. Kebiasaan lama hampir keluar dari mulutnya.
Tetapi ia menelan kata-kata itu.
Hari ini, biarkan dia menangis.
Daniel duduk di samping Margaret. Ia tidak menyentuh istrinya, hanya meletakkan gelas air mineral di dekat tangannya.
"Minum dulu, Maggie."
Margaret mengambil gelas itu. Tangannya masih gemetar, tetapi ia memaksa dirinya minum dua teguk.
"Kamu dengar, kan?" katanya pelan. "Kalau telat setengah jam..."
"Aku dengar."
"Jangan pernah bilang aku berlebihan."
Daniel menatapnya. Ada banyak pertanyaan di matanya, terlalu banyak untuk satu malam. Tetapi akhirnya ia hanya mengangguk.
"Aku tidak bilang begitu."
Beberapa jam kemudian, saat malam turun di luar jendela rumah sakit, Natalie dipindahkan ke ruang perawatan. Wajahnya pucat, bibirnya kering, rambutnya masih lembap oleh keringat. Selang infus menempel di tangannya. Namun saat Margaret masuk, kelopak matanya bergerak.
"Mama..."
Suara itu tipis sekali.
Margaret duduk di sisi ranjang dan menggenggam tangannya. "Jangan banyak bicara."
Air mata Natalie langsung mengalir. "Aku pikir aku tidak bisa..."
"Jangan bicara yang sial."
Kalimat itu keras, tetapi ibu jari Margaret mengusap punggung tangan anaknya dengan sangat pelan.
Natalie menangis lebih deras.
"Mama, terima kasih."
Dua kata itu membuat tenggorokan Margaret perih.
Dulu, Natalie tidak sempat mengucapkannya.
Dulu, Margaret berdiri di samping tubuh dingin anaknya dan memukul dadanya sendiri, bertanya pada langit kenapa seorang ibu yang mengurus begitu banyak hal justru gagal menyelamatkan anak sendiri.
Sekarang tangan Natalie hangat.
Lemah, tetapi hangat.
"Kamu masih harus membesarkan dua anak," kata Margaret. "Jadi jangan mudah menyerah."
Mata Natalie membesar sedikit. "Dua?"
Pintu terbuka pelan. Michael masuk dengan wajah sembap. Di belakangnya, seorang perawat membawa bayi kecil yang dibedong rapat. Bayi itu merah, keriput, tetapi tangisnya keras memenuhi kamar.
"Yang laki-laki sudah stabil," kata perawat. "Adiknya masih dipantau, tapi kondisinya membaik."
Michael mendekat ke ranjang, tangannya gemetar saat melihat bayi itu.
"Hia," bisiknya. "Anak kita laki-laki."
Natalie menangis sambil tersenyum. "Benarkah?"
Margaret menatap bayi itu.
Di kehidupan sebelumnya, anak ini tidak pernah ada.
Atau mungkin ada, tetapi tidak diberi kesempatan bernapas cukup lama untuk meninggalkan jejak.
Ia mengulurkan jari. Bayi itu membuka mulut kecilnya, lalu mengepalkan tangan seakan menolak dunia yang terlalu terang.
Margaret tersenyum untuk pertama kalinya sejak ia bangun kembali.
"Namanya Ethan," ucapnya.
Michael menoleh cepat. "Mama sudah pikirkan nama?"
"Ethan," ulang Margaret. "Dan adiknya Mia."
Natalie memandang ibunya dengan mata basah. "Bagus, Ma."
Michael mengangguk berkali-kali. "Bagus. Sangat bagus."
Tidak lama kemudian, kabar itu sampai ke keluarga.
Ama datang menjelang pagi, diantar seorang tetangga yang kebetulan menuju pusat kota. Begitu memasuki kamar, perempuan tua itu bahkan belum melepas selendang dari bahunya ketika langsung bertanya, "Laki atau perempuan?"
Kamar mendadak hening.
Michael terlihat canggung. Natalie yang masih lemah menunduk. Daniel, yang baru masuk membawa bubur hangat, berhenti di ambang pintu.
Margaret menoleh pelan.
"Kembar. Satu laki-laki, satu perempuan."
Wajah Ama langsung berubah cerah. "Aduh, bagus! Bagus sekali! Ada cucu laki-laki. Lim keluarga ada rezeki besar!"
Ia maju melihat bayi laki-laki yang sedang tidur. Matanya berbinar. "Ini yang koko, ya?"
"Ethan," kata Margaret.
"Nama bagus." Ama mengangguk puas, lalu baru melirik Natalie. "Kamu juga hebat, bisa dapat sepasang."
Natalie tersenyum lemah, tetapi Margaret melihat jelas luka kecil di mata anaknya. Seolah nilai rasa sakitnya baru diakui setelah ada bayi laki-laki.
Di kehidupan sebelumnya, Margaret mungkin akan membiarkan kalimat itu lewat. Ia akan berkata orang tua memang begitu, jangan dimasukkan hati.
Sekarang tidak.
"Ama," ujar Margaret.
Ama menoleh. "Apa?"
"Yang melahirkan Natalie. Yang hampir mati Natalie. Kalau mau puji, puji anak saya dulu."
Suasana kamar langsung kaku.
Daniel menatap istrinya, kaget. Michael menunduk menahan sesuatu, entah takut atau terharu. Natalie menggenggam ujung selimut.
Ama membuka mulut, hendak membalas. Tetapi mata Margaret terlalu tajam.
Akhirnya perempuan tua itu mendecak pelan. "Iya, iya. Natalie juga hebat."
"Bukan juga. Memang hebat."
Ama terdiam.
Untuk pertama kalinya, Natalie tertawa kecil meski matanya masih basah.
Pagi itu, saat semua orang sibuk dengan bayi, Margaret berdiri di luar kamar perawatan. Koridor rumah sakit mulai ramai. Keluarga pasien membawa termos, kantong plastik berisi nasi bungkus, dan wajah kurang tidur.
Margaret menatap cahaya pagi di ujung koridor.
Satu nyawa sudah ditarik kembali dari tangan kematian.
Tetapi itu baru satu.
Di kepalanya, daftar lain mulai tersusun rapi.
Oscar dan Felicia.
Uang keluarga yang tercecer di tangan orang-orang serakah.
Sophie yang sedang tenggelam dalam rumah gelapnya.
Jason yang kelak akan dihancurkan oleh perempuan salah dan keputusan bodoh.
Daniel yang di kehidupan lalu menggantung dirinya sendirian.
Margaret menutup mata sebentar.
Ia tidak boleh mabuk oleh keberhasilan pertama. Masa depan tidak berubah hanya karena satu orang diselamatkan. Masa depan akan melawan balik lewat jalan lain.
"Maggie."
Daniel berdiri di sampingnya.
"Kamu belum tidur dari kemarin."
"Nanti."
"Rumah bagaimana?"
"Rumah bisa menunggu."
Daniel diam sebentar. "Kamu berubah."
Margaret membuka mata dan menatap suaminya.
Pria itu masih hidup. Kerutan di dahinya belum terlalu dalam. Bau rokok tipis masih menempel di bajunya. Di kehidupan lalu, bau itu bercampur dengan bau tali plastik di gudang.
Dada Margaret sakit lagi, tetapi kali ini ia tidak menunduk.
"Mulai hari ini," katanya, "keluarga ini akan berubah."
Daniel terpaku.
Sebelum ia sempat bertanya, ponsel Nokia tua di sakunya berdering. Ia mengangkatnya, mendengar sebentar, lalu menyerahkan benda itu pada Margaret.
"Oscar."
Nama itu membuat mata Margaret mendingin.
Ia menerima ponsel.
"Mama?" Suara Oscar terdengar cemas dari seberang. "Ci Natalie gimana? Sudah aman?"
"Masih di rumah sakit. Tapi hidup."
"Syukurlah." Oscar menghela napas. "Ma, ada satu lagi. Keluarga Felicia bilang akhir minggu ini mau datang ke rumah. Katanya sekalian bicara pertunangan."
Margaret memandang lorong rumah sakit yang terang.
Di kehidupan sebelumnya, pintu itu ia biarkan terbuka. Felicia masuk, tersenyum manis, lalu pelan-pelan mengisap habis hidup Oscar.
Kali ini, tidak.
Sudut bibir Margaret terangkat sedikit.
"Biarkan mereka datang."