NovelToon NovelToon
Transmigrasi Figuran

Transmigrasi Figuran

Status: sedang berlangsung
Genre:Mengubah Takdir / Mafia / Transmigrasi ke Dalam Novel
Popularitas:1.3k
Nilai: 5
Nama Author: Ayu Ana

Lia, seorang pembaca setia novel populer berjudul Cinta dan Bayang Kekuasaan, tiba-tiba terbangun dan mendapati dirinya telah bertransmigrasi masuk ke dalam tubuh seorang tokoh figuran yang nyaris tidak disebutkan namanya dalam cerita aslinya. Tokoh ini adalah putri satu-satunya dari keluarga Adhitama—kelompok mafia sekaligus konglomerat terkaya nomor dua di dunia.

Dalam alur cerita asli, tokoh ini hanya berfungsi sebagai alat pengikat alur semata. Ia dijodohkan dengan Arjuna Dirgantara, pewaris keluarga Dirgantara, kekuasaan nomor satu di dunia yang juga dikenal sebagai sang antagonis utama yang dingin, kejam, dan dijuluki “Malaikat Maut” di dunia bawah tanah. Takdir tokoh ini sangat tragis: ia akan dibunuh secara diam-diam tak lama setelah pertunangan, menjadi korban pertikaian antar keluarga dan rencana licik tokoh-tokoh utama.

Sekarang dengan ingatan sebagai pembaca novel, Lia menyadari bahaya besar yang mengancam nyawanya. Tujuannya hanya satu: membatalkan pertunangan ini sece

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Ayu Ana, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

3 Figuran Tunangan Antagonis

Langit malam di kawasan elit pusat kota tampak gelap namun diterangi cahaya lampu-lampu jalan yang berjejer rapi, menyoroti setiap sudut lingkungan yang dijaga ketat oleh pengawal berseragam hitam. Di tengah area itu berdiri sebuah rumah megah bergaya klasik modern—kediaman utama keluarga Aditya, tempat pertemuan yang akan menentukan nasib Elena malam ini.

Mobil mewah keluarga Vareza berhenti perlahan di halaman depan. Elena menarik napas panjang sambil memegang gagang pintu. Jantungnya berdebar lebih kencang dari biasanya, tapi ia memaksakan dirinya untuk tetap tenang. Ia tahu, malam ini bukan sekadar membicarakan pertunangan, melainkan mempertaruhkan hidupnya sendiri. Jika gagal, ia akan tetap terikat pada Damian dan mengikuti alur cerita asli yang berujung pada kematiannya.

“Nona Elena, sudah siap?” tanya sopir dengan nada hormat.

“Sudah,” jawabnya pelan, lalu melangkah turun.

Begitu melangkah masuk ke dalam rumah, suasana langsung terasa berbeda. Suasana megah, mewah, tapi juga sangat dingin dan penuh tekanan. Di ruang tamu utama yang luas dengan lantai marmer mengkilap dan lampu gantung kristal yang memancarkan cahaya lembut, sudah duduk orang-orang yang memiliki kekuasaan besar—Ayah dan Ibu Vareza, serta Ayah dan Ibu Aditya. Di samping mereka berdiri Damian dengan wajah datar dan tatapan yang sulit dibaca.

Semua mata langsung tertuju pada Elena saat ia masuk.

“Duduklah, Elena,” perintah Ayah Vareza dengan suara berat. Wajahnya tidak menunjukkan ekspresi apa pun, tapi Elena tahu betul bahwa ayahnya sangat menjunjung tinggi kehormatan dan kesepakatan antar keluarga.

Elena duduk dengan posisi tegak, tangan disatukan di atas pangkuan, berusaha terlihat tenang meski di dalam hatinya bergemuruh.

“Kami dengar kau mengajukan permintaan untuk membatalkan pertunanganmu dengan Damian,” buka Ayah Aditya lebih dulu. Suaranya dalam dan penuh wibawa, membuat siapa pun yang mendengarnya akan merasa kecil. “Kau sadar apa arti pertunangan ini? Ini bukan janji antar anak muda biasa, melainkan perjanjian yang mengikat dua keluarga terkuat di dunia. Pembatalannya bisa memengaruhi kerja sama bisnis, posisi kita di dunia bawah tanah, bahkan keamanan kedua belah pihak.”

Ibu Vareza mengangguk setuju, wajahnya tampak khawatir sekaligus kecewa. “Elena, selama ini kami pikir kau mengerti tanggung jawab ini. Damian adalah pasangan terbaik yang bisa kau dapatkan. Keluarga Aditya bisa melindungimu dari segala bahaya. Kenapa tiba-tiba kau ingin membatalkannya?”

Semua pandangan kini terpusat padanya. Elena menarik napas dalam-dalam, menyusun kata-kata yang sudah ia persiapkan matang-matang agar terdengar masuk akal, tidak menyinggung, tapi tetap tegas.

“Aku mengerti betul pentingnya perjanjian ini, Ayah, Ibu, juga Pak Aditya dan Bu Aditya,” mulainya dengan nada tenang namun jelas. “Aku tidak mengajukan permintaan ini tanpa alasan yang kuat. Aku sadar, untuk menjadi istri pewaris keluarga Aditya dan mendampingi seseorang seperti Damian, dibutuhkan mental, keberanian, dan wawasan yang jauh melebihi apa yang aku miliki sekarang.”

Ia menoleh sebentar ke arah Damian yang hanya diam mengamatinya.

“Selama ini aku melihat kehidupan yang dijalani keluarga kita—penuh rahasia, intrik, bahaya yang mengintai dari mana saja. Damian adalah orang yang hebat, dia bisa mengendalikan semuanya dengan tangannya sendiri. Tapi aku? Aku merasa tidak cukup kuat untuk berdiri di sampingnya. Aku takut, suatu hari nanti ketidakmampuanku itu justru akan menjadi kelemahan yang dimanfaatkan musuh, dan pada akhirnya akan membahayakan bukan hanya diriku sendiri, tapi juga nama baik kedua keluarga kita.”

Ayah Aditya mengerutkan dahi, seolah mendengar alasan yang tidak pernah ia duga sebelumnya. “Jadi maksudmu kau merasa tidak mampu? Bukankah itu hal yang bisa dipelajari dan dilatih seiring waktu?”

“Bisa saja,” jawab Elena mantap. “Tapi apakah itu adil untuk Damian juga? Dia membutuhkan pasangan yang bisa menjadi pendukung setara, bukan beban yang harus dijaga setiap saat. Lebih baik kita mengakhiri ini sekarang, saat belum terlalu dalam terikat, daripada memaksakan keadaan yang pada akhirnya hanya akan menimbulkan kerugian dan perselisihan di kemudian hari. Aku ingin kita tetap menjaga hubungan baik sebagai keluarga mitra, bukan menjadi musuh hanya karena memaksakan sesuatu yang tidak sejalan.”

Ruangan kembali hening. Semua orang saling bertukar pandang, mempertimbangkan setiap kata yang diucapkan Elena. Di tengah suasana yang mulai berubah itu, tiba-tiba suara lembut namun terdengar meyakinkan masuk dari arah pintu.

“Maaf mengganggu, Tuan dan Nyonya Aditya, juga Tuan dan Nyonya Vareza. Aku mendengar ada pembahasan penting malam ini.”

Semua menoleh. Ternyata Clarissa datang bersama Arga. Wajah Clarissa tampak sopan dan hormat, membawa sekeranjang buah tangan sebagai tanda kunjungan.

“Clarissa dan Arga?” tanya Bu Aditya sedikit terkejut. “Kalian datang ke sini ada urusan apa?”

“Kami hanya mendengar ada pembicaraan soal pertunangan Elena dan Damian, jadi kami berani datang untuk sekadar memberikan pandangan, jika diperbolehkan,” jawab Clarissa dengan senyum yang terlihat sangat tulus.

Elena langsung merasakan firasat buruk. Ia tahu, kehadiran Clarissa pasti ada tujuannya—tidak mungkin gadis itu datang tanpa rencana tersembunyi.

“Silakan bicara,” izinkan Ayah Aditya dengan nada santai.

Clarissa melangkah mendekat sedikit, lalu menatap Elena dengan pandangan yang terlihat prihatin. “Sebetulnya aku merasa sedikit khawatir mendengar keinginan Elena membatalkan pertunangan ini. Menurutku, pertunangan ini sangat baik untuk kedua keluarga. Elena mungkin merasa tidak percaya diri, tapi bukankah Damian bisa membimbingnya? Lagipula, aku dengar ada desas-desus bahwa belakangan ini Elena sering bergaul dengan orang-orang yang kurang tepat, yang mungkin memengaruhi pikirannya.”

Jantung Elena berdegup kencang. Ini dia rencananya!

“Orang yang kurang tepat?” tanya Ayah Vareza dengan nada tegas. “Siapa maksudmu?”

Clarissa mengangkat tangan seolah ingin menenangkan, matanya berkaca-kaca seolah tidak ingin menyakiti siapa pun. “Aku tidak bermaksud menuduh, hanya menyampaikan apa yang kudengar. Beberapa orang melihat Elena sering berbicara lama dan terlihat sangat dekat dengan Luna—gadis yang berasal dari keluarga biasa, bahkan sering terlibat masalah kecil di sekolah. Mungkin dia dipengaruhi sehingga berpikir untuk membatalkan pertunangan ini.”

Arga yang berdiri di sampingnya langsung mengangguk setuju. “Memang benar. Luna itu gadis yang pandai memutar keadaan, tidak bisa dipercaya. Kalau Elena sampai mendengarkan omongannya, bisa jadi keputusan ini bukan keinginan murni hatinya.”

Dengan satu kalimat saja, Clarissa berhasil memutar situasi. Sekarang Elena terlihat seperti orang yang dipengaruhi orang lain, bukan membuat keputusan atas kesadarannya sendiri. Wajah Ayah dan Ibu Vareza langsung berubah menjadi lebih serius dan curiga.

“Apakah benar ini, Elena?” tanya Ayah Vareza dengan nada yang mulai meninggi. “Apakah keputusanmu ini datang karena pengaruh orang lain?”

Elena menarik napas, tidak panik. Ia sudah menduga akan ada serangan seperti ini. Ia menatap lurus ke arah Clarissa, lalu menjawab dengan suara yang tenang namun tegas.

“Yang dikatakan Clarissa tidak sepenuhnya benar. Aku memang berbicara dengan Luna, tapi itu hanya sebatas percakapan biasa antar teman sekelas. Dia tidak pernah membicarakan soal pertunanganku, apalagi memengaruhi keputusanku. Keputusan ini murni dari pikiranku sendiri, setelah aku mempertimbangkan baik buruknya selama berhari-hari.”

Ia menoleh ke arah kedua orang tua dan keluarga Aditya. “Kalau memang alasanku hanya karena dipengaruhi orang lain, mengapa aku mengajukan permintaan ini sejak hari pertama aku sadar setelah pingsan? Waktu itu aku belum sempat bertemu Luna atau siapa pun. Alasan utamanya tetap sama—aku merasa tidak mampu mendampingi Damian dengan baik, dan aku tidak ingin menjadi beban bagi keluarga besar ini.”

Damian yang selama ini hanya diam, tiba-tiba membuka mulut. Suaranya rendah tapi cukup keras untuk didengar semua orang.

“Aku setuju dengan kata-kata Elena.”

Semua orang terkejut, termasuk Clarissa yang matanya langsung membesar tak percaya.

“Damian?” tanya Ayah Aditya heran. “Kau juga setuju pertunangan ini dibatalkan?”

“Selama ini aku juga berpikir hal yang sama,” lanjut Damian tanpa ragu. “Hubungan kita hanya berdasarkan kesepakatan keluarga, tidak ada rasa saling kenal atau keinginan yang sama. Memaksakan tetap bersama hanya akan membuat kita berdua tidak nyaman. Lebih baik berpisah sekarang dengan cara yang baik, daripada nanti muncul masalah yang lebih rumit. Elena punya alasan yang masuk akal, dan aku tidak keberatan melepaskan ikatan ini.”

Kata-kata Damian membuat suasana berubah total. Karena ia sendiri yang menyetujui, maka argumen Clarissa terasa lemah dan tidak lagi berpengaruh. Wajah Clarissa terlihat pucat sebentar, tapi ia segera menutupinya dengan senyum pahit.

“Kalau begitu… aku hanya berharap keputusan ini tidak menimbulkan masalah ke depannya,” katanya dengan nada yang terdengar pasrah.

Ayah Aditya dan Ayah Vareza saling pandang, lalu mengangguk perlahan. “Baiklah, kalau kalian berdua sudah sepakat, kami tidak akan memaksakan kehendak. Pembatalan pertunangan ini akan kami proses secara resmi dalam waktu satu minggu ke depan. Kerja sama antar keluarga tetap berjalan seperti biasa, tidak akan ada perubahan.”

Mendengar kalimat itu, rasanya beban seberat gunung terangkat dari bahu Elena. Ia hampir ingin bernapas lega, tapi ia tetap menjaga sikapnya agar tidak terlihat terlalu bersemangat.

“Terima kasih atas pengertiannya, Ayah, Ibu, Pak Aditya, Bu Aditya,” ucapnya dengan nada hormat.

Setelah pembahasan selesai, suasana menjadi lebih santai. Namun Clarissa yang gagal menjatuhkan nama baik Elena tidak mau menyerah begitu saja. Ia mencari kesempatan untuk mendekati Elena saat mereka berdua berada di teras belakang rumah, terpisah dari yang lain.

“Kau pintar sekali memutar kata-kata, Elena,” bisik Clarissa dengan senyum tipis yang tidak sampai ke matanya. “Tapi ingat, membatalkan pertunangan dengan Damian bukan berarti hidupmu akan aman. Di dunia ini, orang yang tidak punya perlindungan kuat justru akan menjadi sasaran empuk. Kau pikir kau bisa hidup tenang begitu saja?”

Elena menatapnya dengan tenang, tidak tergoda untuk marah. “Setidaknya aku memilih jalanku sendiri, bukan menjadi boneka yang harus mengikuti keinginan orang lain. Dan satu hal yang harus kau ingat, Clarissa—jangan terlalu sering berpura-pura menjadi malaikat, karena suatu saat topengmu akan lepas juga, dan semua orang akan melihat siapa dirimu yang sebenarnya.”

Wajah Clarissa langsung memerah karena marah, tapi ia tidak sempat menjawab karena Damian tiba-tiba muncul berdiri di samping Elena.

“Kalian berdua sedang membicarakan apa?” tanya Damian dengan nada dingin, matanya menatap tajam ke arah Clarissa.

Clarissa segera mengubah ekspresinya kembali menjadi lembut. “Tidak ada apa-apa, hanya mengingatkan Elena agar berhati-hati saja.”

“Dia tahu apa yang dia lakukan,” potong Damian singkat. “Lebih baik kau urus saja urusanmu sendiri dan Arga.”

Clarissa hanya bisa mengangguk dan pergi dengan langkah tergesa-gesa, merasa tidak nyaman berada di dekat Damian.

Setelah gadis itu pergi, Damian menoleh ke Elena. “Kau tahu dia tidak suka keputusanmu ini, kan?”

“Aku tahu,” jawab Elena jujur. “Dia ingin mempertahankan hubungan baik antar keluarga agar posisinya tetap aman. Kalau ada perselisihan antara keluarga Vareza dan Aditya, dia akan mendapatkan keuntungan di tengahnya.”

Damian mengangkat satu alis, terkesan dengan pengamatan Elena. “Kau benar-benar berubah. Dulu kau tidak pernah secerdas ini membaca situasi.”

“Orang akan berubah kalau ingin bertahan hidup,” jawab Elena sambil menatap bintang di langit malam.

Damian terdiam sejenak, lalu melanjutkan, “Ingat peringatanku tadi. Setelah pertunangan ini resmi dibatalkan, kau tidak lagi mendapatkan perlindungan resmi dari keluarga Aditya. Musuh-musuh yang selama ini takut karena statusmu akan mulai melihatmu sebagai target yang lemah. Hati-hati, Elena.”

“Terima kasih sudah mengingatkan,” jawabnya tulus. “Aku akan menjaga diriku sendiri.”

Malam itu, saat Elena pulang ke rumahnya, ia merasa lelah namun juga lega. Langkah terbesarnya sudah berhasil. Ia tidak lagi terikat dengan Damian, dan secara teori ancaman kematiannya di tangan pria itu sudah hilang. Namun di dalam hatinya, ia tahu bahwa perjuangannya belum selesai. Alur cerita asli mungkin sudah mulai berubah, tapi intrik dan bahaya yang mengelilingi tokoh-tokoh utama masih tetap ada.

Keesokan harinya di sekolah, kabar pembatalan pertunangan itu sudah menyebar luas. Banyak siswa yang menatap Elena dengan pandangan berbeda—ada yang penasaran, ada yang menganggapnya bodoh melepaskan posisi tinggi, ada juga yang mulai meremehkan karena mengira ia tidak lagi punya kekuasaan.

Saat berjalan menuju kelas, Elena melihat Luna berdiri sendirian di sudut koridor, terlihat sedih. Elena mendekatinya.

“Kenapa melamun saja?” tanyanya lembut.

Luna menoleh, lalu tersenyum tipis. “Ah, Elena. Tidak apa-apa. Hanya saja… tadi Clarissa datang dan meminjamkan buku catatan, tapi rasanya ada yang aneh. Dia tidak pernah bersikap baik padaku sebelumnya.”

Jantung Elena langsung berdegup kencang. Ia segera memeriksa buku yang dipegang Luna. “Jangan terima barang apa pun dari dia, Luna. Dia pasti punya rencana buruk.”

Baru saja ia mengucapkannya, tiba-tiba Arga datang dengan wajah marah besar. Di tangannya ada selembar kertas yang terlihat seperti surat tulisan tangan.

“Luna! Berani-beraninya kau mengirim surat ini padaku?” bentak Arga keras, menarik perhatian seluruh siswa yang lewat.

Wajah Luna langsung pucat pasi. “Surat apa? Aku tidak mengirim apa pun padamu!”

“Jangan berpura-pura!” bentak Arga lagi, lalu membacakan isinya dengan suara lantang. “‘Arga, aku tahu kau mencintaiku, tapi kau terikat dengan Clarissa. Lepaskan dia dan pilihlah aku, aku akan lebih baik darinya.’ Apakah ini bukan tulisanmu?”

Clarissa datang menghampiri dengan wajah sedih dan menangis pelan. “Arga, jangan marah. Mungkin Luna hanya kesepian… tapi ini tidak pantas dilakukan, apalagi aku tunanganmu.”

Semua orang mulai menatap Luna dengan pandangan menghina dan jijik. Luna gemetar hebat, air matanya mengalir deras tapi ia tidak bisa membela diri dengan baik karena sifatnya yang polos dan gugup.

“Ini jebakan, Arga!” teriak Elena mendadak. “Surat itu bukan tulisan Luna. Clarissa yang membuatnya dan menaruhnya di tempat yang kau temukan. Dia selalu melakukan hal ini untuk membuatmu membenci Luna!”

Arga menoleh ke Elena dengan tatapan marah. “Kau juga ikut campur? Bukankah kau sudah tidak punya hubungan lagi dengan Damian? Jangan sok tahu urusanku!”

Saat ketegangan memuncak, tiba-tiba suasana menjadi hening. Sebuah mobil hitam berhenti tepat di depan gerbang sekolah, dan Damian turun dari dalamnya. Langkahnya tegap, aura dinginnya langsung menyebar hingga ke seluruh koridor. Semua orang langsung diam dan menunduk takut.

Damian berjalan mendekati kerumunan, lalu menatap Arga dengan tatapan tajam. “Berhenti berteriak. Kalau kau ingin tahu kebenaran, periksa sidik jari di kertas itu atau bandingkan tulisannya dengan buku tulis Luna. Jangan hanya percaya pada apa yang terlihat di depan mata.”

Suasana menjadi sunyi senyap. Arga terdiam, mulai meragukan dugaannya sendiri. Clarissa menatap Damian dengan tatapan terkejut dan khawatir—ia tidak mengerti mengapa Damian malah membela Elena dan Luna.

Elena menatap Damian, merasa sedikit bingung namun juga bersyukur. Ia sadar, perubahan alur cerita ini justru membuat orang-orang yang seharusnya menjadi musuh mulai memiliki peran yang berbeda dari rencana semula.

Dan di tengah semua kekacauan itu, Elena tahu satu hal pasti: hidupnya sudah tidak lagi mengikuti jalan yang tertulis dalam novel. Ia sedang menciptakan jalan barunya sendiri—meski tidak tahu apakah jalan itu akan membawa keamanan atau justru bahaya yang lebih besar.

 

(Bersambung )

1
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!