Cerita Ini bersifat fiktif belaka!
Kais Arfan Syailendra melakukan kesalahan satu malam dengan Anisa Syafa sekertaris nya sekaligus sahabat dari istrinya.
Kais menjerat Anisa dalam hubungan rumit dengan tujuan membongkar pengkhianatan yang di lakukan Marsya istri Kais bersama Bagas tunangan Anisa.
Bagaimana Kais membuat Anisa tetap disisinya dan membongkar rahasia masalalu mereka? ikuti kisahnya
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Puspa Arum, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Sikap Kais ( Revisi )
Anisa dan Kais kini duduk berhadapan di kursi yang ada di kamar Kais.
Layanan pesan kamar Kais lakukan untuk memesan beberapa makanan untuk makan mereka yang tak sempat sarapan pagi ini.
Hidangan makan siang sudah tertata di meja di depan mereka. Terlihat Anisa masih tetap menundukkan kepalanya tak mampu menatap wajah Kais.
Sesaat Kais bangun dari tidurnya, dia menarik tangan Anisa untuk mengikuti langkah nya ke dalam kamar mandi dan dengan sadar Kais kembali menarik tubuh Anisa kembali ke dalam pelukannya dan kembali mengulang kejadian semalam di dalam kamar mandi kamar hotel itu dengan kesadaran penuh.
"Makanlah, aku sudah memesan tiket penerbangan sore ini."
Mendengar suara Kais, Anisa mendongakkan kepalanya dan menatap laki-laki yang ada di seberang nya.
"Nanti sore,kenapa...
" Hanya ada penerbangan sore Anisa, itu penerbangan paling cepat." Kais memotong ucapan Anisa dan membuat Anisa terdiam.
"Aku...aku mau kita lupakan yang sudah terjadi."
Kais yang ingin menyuapkan makanan ke dalam mulutnya langsung dia urungkan.
"Lupakan, apa kamu yakin?" Tatapan keduanya bertemu. " Aku rasa apa yang terjadi tidak sesederhana itu Nisa. Bahkan kita melakukan nya dengan sadar tadi." sebuah senyuman miring terlihat di bibir Kais seperti senyuman menggoda Anisa. Sedangkan Nisa mengepalkan kedua tangannya dengan erat dan meruntuki kebod*hannya tadi.
"Maaf Nisa, aku harus melakukan ini. Aku akan buat kamu bersamaku." bagi Kais apa yang dia lakukan dengan Anisa bukan tanpa alasan dan tujuan. Tapi, untuk saat ini motif Kais hanya akan menjadi rahasia untuk dirinya.
"Dan itu salah, kita salah! Aku sudah mengkhianati kepercayaan Bagas dan aku juga sudah salah sama Marsya sahabat baik ku !"
"Marsya itu istriku Nisa, ingat itu!" Kais bicara dengan lantang dan penuh penekanan dengan menatap wajah Anisa yang terlihat tegang."Semuanya sudah terjadi, kita nggak bisa putar balik bukan?"
Anisa menghela nafas panjang dan meraih gelas yang berisi air dan menenggak nya hingga tandas.
" Semua ini bukan sekedar kesalahan semalam Nisa, bahkan kita juga melakukan nya tadi. Aku rasa kamu bisa merasakan hal yang tidak sesederhana itu. Bahkan kita.."
" CUKUP ! Tolong, jangan katakan apapun lagi!" Anisa dengan gerakan cepat beranjak dari tempat duduknya dan sembari menutup telinganya seolah tak mau mendengar ucapan Kais yang membuat hatinya tak tenang.
Kais ikut berdiri dari duduknya dan mendekati Anisa. "Tetap disitu, jangan mendekat!" Anisa spontan melarang Kais mendekati dirinya.
Tapi ini Kais, tetaplah seorang yang tidak pernah mau takluk dengan siapa pun. Dia bahkan mengikis jarak antara mereka. Kais bisa melihat mata Anisa yang sudah berkaca-kaca.
Entah perasaan apa yang tiba-tiba muncul di dalam dadanya. Melihat mata Anisa yang ingin menangis membuat hati Kais merasa seperti tersayat pisau yang tajam. Sakit, rasanya begitu sakit melihat mata Anisa yang terlihat putus asa.
Gerakan yang begitu cepat membuat Anisa tak bisa lagi mengelak saat Kais membawa tubuh Anisa dalam pelukannya. Tubuh Anisa menegang, Anisa bisa mendengar detak jantung Kais yang begitu cepat.
"Kamu bisa mendengarkan nya? Apa kamu tidak merasa ada yang tidak biasa Nisa.." Anisa mendorong tubuh Kais menjauh dari dirinya.
Dia menggeleng cepat sembari menahan tubuh Kais yang masih begitu dekat dengan dirinya berdiri.
"Jangan sembarangan bicara pak, apa yang terjadi itu salah. Kita harus menghentikan nya sebelum benar-benar membuat kita hancur." Tatapan keduanya bertemu dan saling menatap beberapa detik.
"Apa yang kita lakukan salah, anggap saja tidak pernah terjadi. Cukup kita berdua yang tahu. Kita akan kembali seperti semula. Setingan awal, kita tetap profesional." senyum tipis terbit dari bibir Kais mendengar penuturan Anisa.
"Kamu yakin, hemm?" Kais bertanya menatap dalam wajah Anisa yang ada di depannya.
Anisa mengangguk perlahan. "Iya, saya yakin. Saya punya Bagas sebagai tunangan saya. Bapak punya Marsya istri bapak dan sekaligus sahabat baik saya. Kita harus melupakan apa yang pernah terjadi antara kita." Setelah mengatakan itu, Anisa dengan cepat melangkah keluar dari kamar Kais dan kembali ke kamar nya tanpa perduli dengan kondisinya yang masih memakai bathrobe.
Melihat kepergian Anisa, Kais hanya bisa geleng-geleng kepala dan tersenyum tipis. Dia menatap ke arah tempat tidur yang menjadi saksi bagaimana dirinya begitu nekad dan hilang kendali atas Anisa.
Kais melangkah mendekati tepat tidur itu dan ingin memastikan sesuatu yang ada di dalam hatinya. Saat melihat apa yang ada di pikirannya ternyata benar, Kais kembali tersenyum. Namun senyumnya itu terlihat berbeda dari senyum yang biasanya dia tampilkan.
Sesuai dengan jadwal penerbangan yang di jadwalkan Kais, mereka pun kembali ke Jakarta sore hari. Selama perjalanan kembali, Anisa seminimal mungkin untuk berinteraksi dengan Kais. Bagaimanapun rasanya begitu canggung bahkan lebih canggung dari biasanya. Tapi lain dengan Kais, dia begitu menikmati sikap Anisa yang terlihat serba salah padanya.
Kais bahkan terlihat seperti biasa dan tidak terlihat terjadi apapun antara mereka berdua.
Anisa menatap ke luar jendela pesawat. Terlihat senja mulai nampak saat burung besi itu mengudara diatas langit. Anisa teringat pesan yang di kirimkan Marsya padanya tadi. Sahabatnya itu menanyakan kabar suaminya yang dia bilang tak mengangkat dan membalas pesannya.
Entah kenapa Kais tak mengangkat panggilan dari Marsya. Padahal saat itu Kais ada di dalam kamarnya tanpa ada Anisa.
Anisa hanya bisa membalas pesan Marsya dengan kemungkinan yang di lakukan Kais saat itu.
Memikirkan bagaimana Marsya percaya padanya membuat Anisa merasa bersalah pada sahabatnya itu. Mengingat bagaimana dia dan Kais bahkan melakukan nya dengan keadaan sadar.
Anisa tidak munafik, dia perempuan dewasa yang pastinya pernah namanya nonton film dewasa.Namun, dengan sekuat tenaga nya menjaga harta berharga nya itu sampai menikah nanti. Bahkan Bagas sang kekasih yang merupakan pria normal mendambakan hal yang lebih intim dengan Anisa namun sebisa mungkin Anisa menolak dengan pelan tanpa menyinggung perasaan kekasihnya itu.
Tapi, nyatanya..dia sudah melanggar ucapannya saat dimana Kais suami sahabat nya sendiri merenggut harta berharga itu tanpa permisi.
Dua hari berlalu, setelah dua hari libur weekend. Hari ini Anisa kembali beraktivitas dan seperti biasa kembali ke rutinitas sehari-hari yang menguras energi nya.
Kaki jenjangnya melangkah masuk ke dalam lobby kantor yang membuat otaknya kembali ke nama Kais. Pikirannya ternyata tak sedikit pun melupakan apa yang terjadi dua hari lalu.
Namun tekadnya bulat untuk melupakan semua nya. Dia mencoba untuk bersikap normal seperti biasanya. Menjaga jarak dan menjaga profesionalisme nya dalam bekerja.
Hari ini dari pagi sampai siang membuat Anisa cukup lega karena Kais tak ada di kantor karena meninjau lokasi proyek yang sedang berjalan dengan asistennya Rendi.
Saat jam istirahat telah usai, saat Anisa baru saja duduk di kursi kerjanya.. ponsel miliknya bergetar. Nama sahabatnya Marsya tampil di layar ponselnya.
"Assalamualaikum Sya.." Anisa memberi salam saat dia mengangkat panggilan dari Marsya.
"Wa'alaikum salam Nis, kamu sibuk nggak hari ini?" terdengar suara Marsya dari seberang sana.
"Nggak. Ada apa Sya? Ada yang penting kah?"
"Apa harus ada yang penting buat ketemu sahabat aku sendiri hem? Apa begitu sibuknya kamu bekerja sepanjang waktu buat suami ku, ingat Nis..suamiku itu memang bos kamu,tapi jangan sampai kamu lupa kalau kamu punya sahabat kayak aku.." dengan suara yang terdengar kesal Marsya bicara pada Anisa.
"Baiklah, ikut kata Bu bos saja deh. Aku juga takut nanti akan kena murka.. hehehe.." dengan sedikit candaan Anisa membalas ucapan Marsya yang ada di seberang sana.
Mereka pun akhirnya sama-sama tertawa renyah. Saat bersamaan, Kais yang baru saja kembali dari luar, melihat tawa Anisa yang begitu membuat Kais kesal. Entah kenapa rasanya Kais tak rela melihat tawa Anisa bersama dengan orang lain beda dengan dirinya yang selalu melihat wajah tegang dan senyum terpaksa Anisa bilang bersamanya.
"NISA , KE RUANGAN SAYA! SEKARANG!!" suara Kais terdengar cukup keras membuat Anisa langsung menghentikan tawanya dan kemudian terdengar suara Marsya yang menanyakan tentang Kais yang terdengar seperti orang marah.
Anisa tak lagi menjawab pertanyaan Marsya, dia langsung menutup panggilan telepon itu dan segera mengikuti langkah Kais ke dalam ruangannya.
Bersambung