Yura, gadis kesepian yang tiba-tiba harus pulang ke desa tempat nenek nya tinggal selama ini. Sang ibu yang akan menikah lagi menjadi salah satu alasan untuk kepindahannya.
Ia tidak banyak bicara, hanya menurut dan mengemasi barang-barang yang akan ia bawa.
Namun siapa sangka, kepindahannya ke desa membuatnya memiliki kehidupan baru yang lebih berwarna. Ia bahkan bertemu dengan gadis yang memiliki nama yang persis sama dengan namanya.
Lantas, akankah Yura berhasil menemukan kebahagiaan walaupun harus hidup berdampingan dengan gadis yang seolah memiliki ikatan dengannya itu?
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon nona yeppo, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Nenek Lea
Yura, si gadis mandiri itu turun dari bis diikuti oleh Liam dibelakangnya. Pria itu masih setia berada didekatnya walaupun selalu disambut tatapan mematikan oleh Yura.
Ia sangat yakin jika prempuan cantik disamping nya itu adalah siswa baru. Namun ada yang aneh, dia datang sendiri.
"mau aku bantu, ? " Liam mencoba basa-basi.
Yura hanya menoleh sebentar lalu melangkahkan kakinya setelah menghembuskan nafas nya kuat-kuat.
Dengan keyakinan penuh, ia menggenggam erat ras punggungnya. Mata jelinya siap menelusuri setiap sudut bangunan yang ada dihadapannya.
Sedangkan Liam, ia masih mengikuti dibelakang sambil memasang wajah senyum-senyum tidak jelasnya.
"ruang personalia ada disana" tunjuknya dengan semangat. Sungguh pria yang sangat baik hati.
Yura yang sejak tadi merasa terganggu karena kehadirannya sontak berhenti. Ia melirik Liam dengan jengah.
"aku tahu... pergilah " titahnya tak terbantahkan.
"siapa namamu..? " tanya Liam sebelum pergi.
"aku Liam" tambahnya lagi.
Kembali Yura berhenti, mata nya sudah mulai melotot. Ia menggigit bibirnya untuk meredam kekesalannya.
"gak perlu. Jangan bertemu lagi..! "
Ia melangkahkan kaki nya lebar-lebar agar tidak bertemu lagi dengan pria itu.
"apa aku keterlaluan ya sama mama, makanya aku dapat ujian seberat ini pagi-pagi. " ucapnya dalam hati.
Setelah tiba didepan ruangan yang dituju, ia berhenti sebentar untuk menarik nafas nya. Ia harus menyiapkan diri untuk segala sesuatu yang akan ia dengar didalam termasuk pertanyaan tentang wali nya.
Sebelum melangkah masuk kedalam, tanpa sadar ia menoleh kebelakang. Pria yang bernama Liam itu sudah tidak ada lagi. "syukurlah" ucapnya.
Tok.. tok.. tok...
Yura masuk dengan berkas di tangannya setelah mendengar instruksi dari dalam. Disana ia disambut oleh pak Don.
Yura menunggu dengan tenang saat pak Don membaca berkas-berkasnya. Terlihat ia sesekali merapikan kacamatanya yang turun.
"tunggu sebentar, saya panggilkan wali kelasmu."
"isi data dirimu ya, saya pergi dulu,," Tak lupa ia tersenyum ramah.
Tak menunggu lama, pak Don muncul bersama dengan seorang guru wanita. Ia adalah Cindy wali kelas Yura.
Sebentar Cindy membaca berkas milik Yura, senyum nya mengembang sempurna.
"Nilaimu bagus sekali nak, senang bekerjasama dengan mu,, " ucapnya mengundang gelak tawa pak Don.
"mengapa tertawa, jarang-jarang kelasku punya siswa sipintar ini,, " keluhnya pasrah.
Yura yang semula canggung kini tersenyum tenang. Kegugupan yang sejak tadi ia alami hanya berperang dikepalanya saja.
Ia diterima dengan baik tanpa banyak tanya. Bisa dipastikan karena nilai nya yang sempurna menjadi nilai plus untuknya.
Saat diperjalanan menuju kelas, sang wali mencoba mengulik kehidupan pribadi Yura. "ibu boleh bertanya,? "
"Boleh bu" jawab Yura.
"biasanya kalau pindahan, ada yang menemani. Dimana walimu sayang, ?"
"nenek saya sudah tua, saya takut ia kelelahan. Ibu saya ada diluar kota... " Jawab Yura sambil tersenyum.
Bu Cindy seperti nya paham jika Yura adalah gadis pendiam. Ia memilih untuk tidak bertanya lebih dalam lagi.
"mm, tapi jika ada masalah nanti, jangan sungkan untuk bicara dengan ibu ya,? " ia meyakinkan Yura dengan tatapan matanya yang menenangkan.
"baik bu, terima kasih" ucap Yura.
Akhirnya kedua nya tiba didalam kelas. Suara yang tadi nya terdengar seperti di pasar pagi langsung berubah menjadi hening.
Semua mata tertuju pada dua orang yang berdiri di depan kelas, lebih tepat nya pada Yura seorang.
"Yura, sapa teman-teman mu.. " ucap bu Cindy.
"Halo, nama ku Yura,,, " Ia menundukkan badannya dengan hormat.
Perkenalan dirinya itu disambut gelak tawa oleh teman-teman nya yang duduk dikursi masing-masing, termasuk bu Cindy sendiri.
Sejenak kegaduhan kembali muncul karena para siswa berebutan untuk bicara lebih dulu.
"satu-satu, angkat tangan kalau mau bicara" tegas bu Cindy sambil memukul meja dengan pelan, namun masih terdengar dengan jelas, buktinya semua siswa terdiam.
"asal sekolah nya dong,, " tanya salah satu siswa laki-laki yang mengangkat tangan nya.
"SMA Karya 1" jawab Yura singkat.
"kota par? " tanya yang lainnya yang mendapat anggukan dari Yura.
"wah, pantas cantik sekali, " seru yang lain membuat kelas kembali riuh.
"tenang-tenang!!"
Yura, duduk disana ya,, ? " bu Cindy memberi instruksi lagi.
Saat Yura duduk dibangku nya, ia langsung mendapat perhatian dari para teman-teman sekelasnya.
Mendapat teman pindahan dari kota adalah sesuatu yang sangat jarang mereka rasakan. Apalagi Yura memiliki kecantikan yang paripurna layaknya seorang artis.
"Hei Yura, kita berteman yuk,,, " ajak yang lain diikuti oleh bisikan-bisikan teman yang lainnya.
Sebenanya Yura sudah mulai jengah, namun sebisa mungkin ia mencoba bersabar. "Hanya hari ini" pikirnya.
Tak lama, bu Cindy pun pamit lalu digantikan oleh pak Don yang ternyata merangkap sebagai guru matematika.
"Yura, kembali bertemu lagi,, " ucapnya memasang senyum pepsodent nya.
Seseorang yang ada disampingnya bicara. "Hai kenalkan aku Kara. " _disambut hangat oleh Yura.
"kamu tinggal dimana, ? " bisiknya pelan.
"pantai sensei" jawab Yura seadanya.
"jauh sekali" ucap Kara lagi.
Yura hanya tersenyum tipis. Ia lebih memilih fokus mendengarkan pelajaran.
Saat bel tanda istirahat berbunyi, pak Don meminta Yura untuk ikut bersamanya. "Ada berkas yang terlupa" ucapnya. .
"Kamu tinggal dengan siapa disini? " tanya pak Don sesaat setelah memasuki ruang personalia.
"kamu mengosongkan namanya" lanjut pak Don. Perkataan pak Don merujuk pada kolom anggota keluarga yang tinggal bersama di rumah.
"pak, bisakah saya menjawabnya besok? , " tanya Yura.
Ia malu tentu saja. Nama neneknya saja ia tidak tahu. Ia sungguh melupakan bagian itu. Pak Don sudah pasti menatapnya dengan heran.
"kau baik-baik saja Yura? " selidik pak Don
"maaf sebelumnya pak, ini kali pertama saya bertemu dengan nenek saya. " jawab Yura sambil meremas kedua tangannya.
"boleh saya bertemu dengannya? " terdengar suara bu Cindy yang tiba-tiba masuk ikut bergabung. Kecurigaan nya semakin membesar, saat melihat Yura yang sedikit pendiam dan tidak datang bersama walinya.
"tapi saya mengenal orang-orang di sensei, saya lahir dan besar disana. " bu Cindy kembali bersuara.
"rumah nenek dekat dengan rumah mewah setelah gapura. " ucap Yura memberi keterangan.
"Aah, nenek Lea.. " bu Cindy menjawab dengan antusias.
Yura yang malu akhirnya hanya tersenyum kikuk. Tak disangka sifat cuek nya bisa menjadi malapetaka begini.
"hei, nenek mu sudah sangat tua, berbakti lah padanya !!" seru bu Cindy.
Ia juga menambahkan, "nenek Lea sangat dermawan, ia juga pintar memasak, seluruh desa sudah pernah merasakannya,, "
"kamu tahu tidak, Ayahmu adalah orang yang sangat aku kagumi. Tapi sayang sekali ia lebih memilih ibumu,,, " Ucap bu Cindy sambil berbisik kecil.
"itu karena kau masih sangat kecil waktu itu,,, " sanggah pak Don sambil geleng-geleng kepala.
"kok tahu? Kamu bukan orang sensei" selidik bu Cindy.
"siapa pun bisa menebak, anaknya saja sudah sebesar ini, " jawabnya sambil menunjuk Yura yang menahan senyum nya.
"tetap saja, aku tidak suka ibumu,,, " Elak bu Cindy.
...****************...
Sepulangnya dari sekolah, Yura yang penasaran dengan kisah orang tua nya segera mencari sang nenek.
Ia memandangi nenek Lea yang semakin tua tapi masih rajin menulis surat dengan kuas kuno nya.
Ia menyesali sifat cuek nya yang membuatnya kehilangan sopan santun.
Kacamata antik yang bertengger dihidung mancung nenek Lea, menambah kesan zaman dulu padanya.
"kenapa nenek tidak pernah meminta mama datang? " Yura menyentuh tangan keriput sang nenek.
Tulisan dihadapannya ia baca sekilas. "Shella ,,? "
.
.
.
.
.
Bersambung