Vina, gadis desa sederhana, menyelamatkan Radit, perwira militer yang terjebak perangkap dan badai kabut di hutan perbatasan. Merasa berutang budi sekaligus kagum, Radit akhirnya membawa Vina ke kota untuk dinikahi dan tinggal bersama keluarganya yang kaya raya serta terpandang.
Namun di rumah itu, Vina terus ditekan dan direndahkan sebagai "gadis kampung". Di tengah kejamnya intrik kasta kota dan perbedaan status sosial, sebuah rahasia masa lalu perlahan terkuak.
Akankah cinta mereka mampu bertahan diuji antara ketulusan, harga diri, dan kejamnya tatanan kasta kota?
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon PqxxyZ, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab 2 : Obat yang teroleskan
"Apa... yang... sedang kau... lakukan?" tanya lelaki itu dengan suara bariton yang serak, terengah, namun sarat akan ancaman mematikan.
Napas Vina tercekat di tenggorokan. Seluruh tubuhnya mendadak kaku, membeku di bawah dinginnya moncong senjata yang siap merenggut nyawanya dalam sekali picu. Di bawah temaramnya langit hutan yang kian menggelap, besi hitam di tangan sang perwira terasa begitu dekat dan nyata di belakang kepalanya. Namun, rasa dongkol mendadak mengalahkan rasa takutnya. Gadis itu menarik napas dalam-dalam, mencoba menguasai kegugupan yang mendera.
"Seharusnya kau berterima kasih kepadaku karena aku menemukanmu!" sahut Vina ketus, matanya melirik tajam ke samping tanpa berniat menjauhkan tangannya dari luka perut pria itu.
Kedua alis tebal pria berseragam militer itu bertaut. Cengkeramannya pada gagang pistol tampak sedikit goyah akibat rasa pening yang hebat yang menyerang kepalanya. "Kau... bukan... orang suruhan... yang akan membunuhku?"
Lelaki itu mencoba bergerak, hendak menegakkan punggungnya untuk memasang posisi siaga. Namun, gerakan ceroboh itu justru membuat darah segar kembali merembes deras dari balik seragam militernya.
"Lebih baik kau diam saja! Karena pendarahanmu akan semakin parah jika kau nekat bergerak," potong Vina cepat. Dengan berani, ia menekan bahu pria itu, menahannya agar tetap bersandar di atas tanah berbatu.
Pria itu meringis tertahan, napasnya memburu cepat memburu oksigen yang kian menipis. "Kenapa... kau—"
"Aku bilang diam!" seru Vina, sama sekali tidak terintimidasi oleh pangkat atau senjata pria di hadapannya.
Di saat yang sama, gemuruh guntur kembali terdengar menggelegar membelah langit perbatasan. Angin kencang mulai menyapu dedaunan, membawa rintik hujan pertama yang berbau pekat. Kabut putih yang tebal dan dingin merayap cepat dari puncak gunung, memotong jarak pandang mereka hingga tersisa beberapa meter saja. Badai kabut ekstrem telah resmi mengurung mereka di tengah hutan belantara.
"Aku harus cepat-cepat memindahkanmu dari sini sebelum badai benar-benar datang," gumam Vina cemas.
Vina perlahan melepaskan tekanan tangan di perut lelaki itu. Mengabaikan rasa ngeri, jemari lentiknya bergerak lincah meneliti perangkap besi hewan liar yang masih menjepit kaki kanan sang perwira. Berbekal pengetahuannya tentang alat-alat pemburu di hutan, Vina menekan tuas pengunci besi itu dengan sekuat tenaga hingga rahang baja itu terbuka berderit kasar.
Tepat setelah jeratan besi itu terlepas, hujan badai langsung tumpah dengan lebatnya. Tanpa membuang waktu, Vina menyandarkan lengan kekar pria itu ke bahunya sendiri. Dengan sisa-sisa tenaga yang ia miliki, gadis desa itu memapah tubuh tinggi besar Radit yang pincang, menyeret langkah mereka menembus amukan angin menuju sebuah gubuk pemburu tua yang syukurnya berada tak jauh dari sana.
Begitu berhasil menerobos masuk, Vina langsung mendudukkan Radit bersandar pada dinding kayu gubuk yang rapuh. Napas Vina memburu hebat, dadanya kembang kempis karena kelelahan. Saat itulah, ia melirik tangannya yang kosong.
"Astaga, aku melupakan keranjangku!" seru Vina panik. Di dalam keranjang yang tertinggal di bawah pohon tadi terdapat seluruh jamur dan tanaman herbal berharga untuk mengobati ayahnya.
Vina berbalik, berniat untuk kembali menerobos keluar. Namun, baru satu langkah bergerak, pergelangan tangannya mendadak tertahan. Tarikan itu begitu kuat dan panas. Vina menoleh dan mendapati jemari kekar pria militer itu tengah menggenggamnya erat, menahannya dengan sisa-sisa kesadaran yang menipis.
"Di luar... sedang badai. Kau tidak... boleh keluar," bisik pria itu, mengatupkan rahangnya menahan perih.
Vina menatap bolak-balik antara pintu gubuk dan wajah pucat pria itu. "Aku harus tetap keluar. Karena keranjang itu sangat berharga buat aku, keluargaku... dan juga untuk dirimu!"
Mendengar ketegasan dalam nada bicara Vina, perlahan-lahan pria itu melonggarkan cengkeramannya, membiarkan jemari gadis itu terlepas. Vina segera memutar tubuh dan berlari keluar gubuk, menerobos hantaman badai yang kencang dan menusuk tulang. Dengan pakaian yang sudah basah kuyup melekat di tubuhnya, Vina berlutut di dekat bebatuan tempat ia terjatuh tadi. Matanya yang perih akibat terpaan angin mencari-cari dengan teliti di bawah akar pohon besar.
"Hanya ada ini... tapi semoga bisa," bisik Vina lega saat jemarinya menemukan dedaunan herbal khusus yang biasa digunakan warga desa untuk meredakan infeksi.
Dengan gerakan cepat, ia memunguti semua jamur dan barang-barangnya yang sempat tumpah berserakan, memasukkannya kembali ke dalam keranjang rotan, lalu bergegas berlari kembali ke gubuk tua sebelum tubuhnya sendiri mati membeku.
Sesampainya di dalam gubuk, Vina langsung menggeser pintu kayu hingga menutup rapat. Ia melangkah mendekat, namun seketika terkejut melihat kondisi sang perwira. Pria itu kini bersandar lemas dengan napas yang terputus-putus, sementara butiran keringat dingin sebesar biji jagung bercucuran membasahi dahi dan pelipisnya.
"Tuan... Tuan, kau kenapa?" panggil Vina cemas, berlutut di sampingnya. Namun, tidak ada jawaban. Pria itu hanya melenguh lirih dengan mata yang setengah terpejam.
"Pasti ini karena lukanya sudah mulai infeksi," batin Vina panik saat merasakan hawa panas menjalar dari tubuh pria itu. Suhu tubuhnya meningkat drastis akibat demam.
Vina menatap ke arah perut lelaki itu, bermaksud memeriksa robekan luka. Namun, begitu pandangannya turun, sepasang mata Vina berkedip beberapa kali. Kain seragam yang terkoyak memperlihatkan bentuk perut pria itu yang tercetak jelas.
"Apa badannya memang seindah ini?" batin Vina mendadak melantur. "Atau... ada roti di perutnya dengan delapan baris tersusun rapi dan—"
Vina tersentak, mendadak menyadari arah pikirannya yang sudah melenceng jauh. Ia menggeleng-gelengkan kepalanya dengan kuat. Pikiran kotor benar-benar mengotori kepalanya di situasi darurat seperti ini! Dengan gemas, Vina menampar kedua pipinya sendiri dengan pelan. "Fokus, Vina! Berpikir jernih! Orang ini bisa mati!"
"Tuan, maafkan aku," ucap Vina meminta izin pada pria yang sudah setengah sadar itu.
Jemari Vina bergerak membuka jaket seragam hijau militer tersebut. Di baliknya, terdapat kaos dalam berwarna putih yang sudah robek besar dan berlumuran darah. Tanpa ragu-ragu lagi, Vina merobek kain kaos itu sepenuhnya demi mengekspos luka tusukan di perut Radit. Jantung Vina mencelos melihat luka menganga yang cukup dalam di sana.
"Ini seharusnya dijahit... cuma aku tidak ada peralatan yang memadai," gumam Vina kebingungan.
Vina menoleh ke arah keranjang tas rajutnya, mengambil beberapa helai daun herbal yang ia petik di tengah badai tadi. Detik berikutnya, ia mendadak tertegun. Rasa bingung yang amat sangat melanda benaknya. Ia hanya tahu daun ini berharga dan biasa menjualnya saja ke tengkulak pasar, tetapi ia tidak pernah tahu bagaimana cara mengolahnya secara langsung untuk luka terbuka.
Vina menghela napas panjang, meratapi kebodohannya. Ia memejamkan mata sejenak untuk menenangkan diri, lalu bangkit berdiri. Menggunakan sebuah mangkuk tanah liat retak yang ia temukan di sudut gubuk, Vina menampung air hujan yang bocor dari atap. Dengan sapu tangan lusuhnya, ia membersihkan sisa noda darah di sekitar luka perut Radit dengan sangat lembut dan hati-hati.
Setelah dirasa cukup bersih, Vina menatap daun herbal di tangannya. Tidak ada batu atau alat penumbuk di dalam gubuk kosong ini. Mengikuti insting liarnya, Vina akhirnya memasukkan daun-daun pahit itu ke dalam mulutnya sendiri. Ia mulai mengunyah obat tersebut dengan sekuat tenaga. Rasa pahit yang luar biasa pekat langsung menyengat lidah dan tenggorokannya, membuat Vina ingin muntah, namun ia tetap bertahan dan terus mengunyahnya hingga halus.
Setelah ramuan itu lumat, Vina mengeluarkan dan menempelkannya perlahan di atas luka robek di perut Radit.
Pria itu tampak tersentak sedikit, rahangnya mengatup rapat merasakan sensasi dingin dan perih yang bercampur menjadi satu, sebelum akhirnya napasnya perlahan mulai kembali teratur.
Melihat reaksi itu, Vina mengembuskan napas lega. Ia menyatukan kedua telapak tangannya di depan dada, lalu menatap wajah damai pria yang tertidur itu dengan cemas.
"Semoga saja pengobatan ini benar. Kalau tidak benar dan kau mati... aku pasrah jika nanti kau menjadi sosok hantu yang terus menghantuiku seumur hidup, Tuan," ucap Vina tulus sambil berkomat-kamit memanjatkan doa.
Vina tidak menyadari, di tengah kehangatan gubuk dan badai yang perlahan mereda menjelang fajar, pria di hadapannya sempat membuka mata sesaat. Radit mendengar setiap bisikan polos gadis itu, memandangi wajah basah Vina yang kelelahan, sebelum akhirnya benar-benar terlelap dengan sudut bibir yang berkedut membentuk senyuman tipis yang tersembunyi.