Aku tidak meminta banyak padamu, hanya satu hal. Menikahlah Denganku!
Cinta yang terpaut 2 tahun lebih tua dari Arhan, siapa bilang ia tidak bisa mendapatkannya? Ia bertekad pada dirinya, apapun yang terjadi Lula Khansa hanyalah miliknya!
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Nona Khansa, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab 15-Keputusan
Melihat Lula yang menangis membuat senyum Ghea terukir tipis. Wanita itu berjalan ke kanan dan ke kiri seolah seperti seorang polisi yang sedang mengintrogasi. "Tolong hargai keputusan saya. Arhan itu anak kesayangan saya. Saya sebagai mama nya yang ingin sekali memberikan anaknya kualitas terbaik sudah mempersiapkan siapa yang akan menjadi jodoh Arhan kelak. Saya sudah menyiapkan perjodohan dengan perempuan luar biasa. Sekali lagi tolong hargai keputusan ini. Kamu mau apa? Biar saya turuti kemauan kamu, apapun itu."
Lula terdiam sejenak. Ia menghapus air matanya yang terus bercucuran. Ia juga sebenarnya sedari awal memang sudah sadar bahwa ia tidak akan pernah bisa memiliki Arhan. Sedari awal ia sadar akan posisinya sebagai orang yang tidak punya, oleh sebab itu walaupun hubungan mereka yang hanya sebatas adik kakak pura-pura, Lula senang, sangat senang. Dan jika akhirnya mereka memang tidak ditakdirkan untuk bersama itu memang pantas untuk nya. Ia tau sampai kapanpun tidak akan pernah bisa bersanding dengan cowok seperti Arhan. Entah karena umur Arhan yang dua tahun lebih muda darinya atau karena Arhan memang tidak pernah menyukainya, Lula tidak tau.
Jika cinta pertama nya hilang, mungkin ini adalah jalan terbaik dan memang untuknya dan Arhan tidak pernah ber takdir. Mungkin ini jalan paling baik, ia harus rela kehilangan Arhan. Arhan berhak bahagia dengan seorang cewek yang setara juga. Jika ia tidak bisa bersama cinta pertama nya, maka ia akan mencari cintanya yang hilang sedari kecil. "Apa Tante akan mengabulkan semua permintaan ku?." Tanya Lula sekali lagi.
Ghea mengangguk anggun. "Apapun keinginan mu, asal jauhi anak saya."
Lula menarik nafasnya dalam, lalu menghembuskan nya dengan perlahan. "Saya mau kuliah di Eropa dan saya minta tolong untuk....." Lula pun menjelaskan keinginan nya pada Tante Ghea dengan detail. "Setelah ini saya janji akan menjauhi Arhan. Saya akan menghindari nya secara perlahan Tante. Asal Tante bisa beri saya permohonan itu." Lanjutnya kemudian dengan berat hati. Ya, mungkin baginya berjauhan dengan Arhan akan terasa sulit sekali. Tapi ia yakin hanya awal saja, ia yakin kalau dengan seiring berjalannya waktu hatinya akan sembuh dan bisa hidup tanpa harus ada Arhan seperti sebelumnya sebelum ia mengenal Arhan.
Ghea mengangguk dengan senyumannya yang merekah. "Akan saya kabulkan semua keinginan kamu. Mudah bagi saya untuk menemukan apa yang kamu inginkan. Terimakasih juga sudah mau menghargai saya sebagai mama nya Arhan. Kamu memang perempuan baik seperti apa yang Arhan ceritakan. Tapi sayang saya tidak bisa menyatukan kalian. Kamu tenang saja, setelah lulus nanti saya akan kirim kamu ke Eropa sesuai permintaan." Ghea kembali duduk di sofa.
Lula tersenyum tipis pada Tante Ghea. "Sekali lagi terimakasih Tante. Kalau begitu saya izin pulang. Emm .. soal Arhan mungkin saya akan menjauhinya dengan pelan-pelan agar tidak terlalu curiga Tante."
Ghea mengangguk. "Baiklah lakukan bagaimana rencanamu. Yang terpenting buat Arhan menjauh, sejauh mungkin." Ucap Ghea dengan penuh kehati-hatian.
"Saya pamit." Lula berdiri dari duduknya. Ia hanya sedikit membungkukkan tubuhnya sebagai tanda hormat. Ingin menyalimi namun ia begitu sungkan dan takut jika ditolak. Tanpa menunggu waktu lagi, Lula langsung melangkahkan kakinya pergi meninggalkan rumah mewah nan megah milik keluarga Ardigo tersebut.
Lula mendudukkan tubuhnya pada sebuah alat transportasi umum yang dinamakan angkot. Ia duduk pada kursi paling pojok. Kepalanya ia sandarkan pada mobil angkot tersebut. Tak terasa air matanya merembas kembali membasahi pipinya. Ia masih betul-betul ragu dengan keputusannya untuk menjauhi cowok yang sangat begitu baik padanya. Apakah ia siap?? Apakah ia mampu menjauhi cowok itu?
Disisi lain, Lula juga memikirkan permintaannya yang tadi ia minta pada Tante Ghea. "Setidaknya semua rasa penasaran ku sebentar lagi akan terungkap saat aku di Eropa nanti. Arhan aku minta maaf, benar-benar minta maaf padamu." Lirihnya dalam hati.
***
***
Arhan memasuki rumahnya dengan langkah terburu-buru. Entah kenapa pikirannya begitu khawatir dengan Lula karena ia tinggal sebentar tadi.
Senyuman yang awalnya mengembang kini semakin menghilang karena ia tidak mendapati seorang cewek bernama Lula. Yang ada hanya mamanya yang sedang santai menonton televisi. "Ma, dimana Lula?." Tanya Arhan dengan mata yang kesana kemari mencari cewek yang ia sukai itu.
Ghea mengangkat kedua alisnya. "Tadi Lula izin pulang duluan, ada urusan mendadak katanya. Ya udah, mama enggak bisa nahan dong? Mama siapa mau nahan-nahan dia?"
Arhan duduk dengan mata tajamnya seolah curiga dengan perkataan sang mama. "Mama enggak ngomong aneh-aneh kan?." Tanya Arhan lagi dengan penuh kecurigaan.
Ghea memasang wajah terkejutnya. "Astaga, sejak kapan kamu jadi negatif thinking gini sama mama? Kenapa juga mama jahat sama cewek yang katanya kamu suka. Mama dukung kok apapun keputusan kamu."
Mendengar ucapan sang mama yang sepertinya sangat mendukung nya membuat hati Arhan menghangat dan mulai menunjukkan senyumannya. "Makasih ma udah mau dukung Arhan. Arhan niatnya mau nembak cewek itu besok lusa. Mama doain ya biar lancar."
Ghea mengangguk dengan senyumannya yang begitu palsu. "Menjadikan perempuan itu pacar anaknya? Huh jangan harap!" Batin Ghea dengan perasaan emosi yang tiba-tiba saja muncul.
Selesai berbicara dengan mama nya, Arhan pun melangkahkan kakinya menuju kamarnya untuk menghubungi Lula. Memastikan bahwa Lula baik-baik saja diluar sana.
Arhan merebahkan tubuhnya dengan ponsel yang tak pernah lepas dari genggamannya. Sudah hampir satu jam ia mengirimkan pesan pada Lula, namun cewek itu belum juga membalas pesan darinya, padahal ceklis dua abu-abu, menandakan bahwa cewek itu sedang menghidupkan datanya. Bahkan berkali-kali ia menelepon Lula tidak juga menjawabnya, apakah cewek itu meng-selent ponselnya sehingga panggilannya tidak terdengar.
Ia tanyakan pada orang suruhannya yang biasa ia tugaskan untuk menjaga Lula juga katanya Lula sedang berada dirumah, tidak keluar ataupun ditempat kerjanya.
Apa Lula tertidur? Tanya nya dalam hati yang begitu gelisah.
Sementara ditempat lain, Lula menatap ponselnya yang sedari tadi berbunyi notifikasi dan suara panggilan telepon. Ia tau Arhan sudah banyak sekali menanyakan kabarnya bahkan sudah ratusan notifikasi muncul dilayar ponsel utamanya, namun sekuat tenaga Lula tidak membalas chat dari cowok itu ataupun mengangkat panggilan dari Arhan.
Meski rasa bersalah dan tidak tega menyelimuti hatinya, tapi Lula selalu ingat akan janjinya pada Tante Ghea. Sekuat tenaga pokoknya Lula harus bisa menjauhi cowok itu. Ia tidak boleh bergantungan terus pada cowok itu, atau kalau tidak cintanya akan semakin besar pada Arhan.