Pernikahan lima tahun yang sia-sia, Liana Varella adalah seorang anak yang menjadi pembayaran utang ayahnya. Diusianya yang menginjak sembilan belas tahun, seharusnya dia melanjutkan kuliahnya, namun kini dia terikat oleh pernikahan yang hancur.
Suaminya, Alistair Sterling yang menjanjikan cinta hingga mati. Kini membawa seorang wanita lain dari keluarga konglomerat, hanya dalam waktu tiga tahun pernikahan. Dengan mudahnya dia membawa wanita lain ke rumah tangga mereka.
Hanya karena satu alasan, Liana dikira "Mandul" oleh keluarga Sterling hingga dihina, dan di abaikan keluarga besar itu. Di ambang ujung jurang, seseorang muncul dihidup Liana, dan berkata.
"Mengapa Tidak Bercerai?"
Liana tertegun, lalu berpikir keras hingga akhirnya dia sadar. Selama ini untuk apa dia bertahan jika suaminya menganggap dia tidak ada?
Penasaran? Ayo baca selengkapnya! Bahasa campuran, baku dan non baku....
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Arssya Assyi, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
C003: Tindakan Yang Tidak Diketahui Oleh Cinta Yang Besar
...Selamat Baca...
Sejak hari itu, hidup Alexander berubah total. Di luar ia tetap terlihat dingin dan tak tersentuh, tapi di dalam, pikirannya penuh dengan nama itu: Liana Varella.
Ia mulai bergerak diam-diam. Menggunakan jaringan orang kepercayaannya yang luas, Alexander mulai mengumpulkan setiap informasi kecil mengenai gadis itu.
Ia ingin tahu segalanya, sampai ke detail terkecil sekalipun. Dari berkas-berkas rahasia yang terkumpul, Alexander tahu:
Liana lahir pada 14 Mei, di kota kecil bernama LICH, yang berada di negara VIRLAN. Sebuah negara tetangga Auronia yang indah dan damai.
Ayahnya, Gerald Varella, dulunya adalah pria yang sukses dan karismatik. Gerald pernah bekerja di Auronia bertahun-tahun lalu,
Di sanalah ia bertemu dengan ibunya Liana, Elena Vanessa, seorang wanita cantik kelahiran Auronia.
Mereka jatuh cinta, menikah, lalu memutuskan pindah menetap di negara asal Gerald, Virlan, dan di sanalah Liana lahir dan dibesarkan hingga usia sepuluh tahun.
Di Virlan, Liana menjalani masa kecilnya dengan bahagia. Ia bersekolah di Taman Kanak-kanak Virlan Swasta,
Lalu melanjutkan ke Sekolah Dasar Utama Kota Lich, menyelesaikan pendidikan dasarnya di negara kelahirannya itu.
Baru saat menginjak usia sepuluh tahun, keluarga itu kembali pindah ke Auronia, negara tempat keluarga Sterling berada, berniat mencari nasib lebih baik.
Di Auronia, Liana melanjutkan pendidikannya ke jenjang yang jauh lebih bergengsi, setelah kepindahannya dua tahun di Sekolah Dasar Auronia Elit.
Ia masuk ke Sekolah Menengah Pertama Nasional Dunhill dan Sekolah Menengah Atas Internasional Dunhill — sekolah elit tempat anak-anak pejabat dan orang terkaya di negeri ini hingga luar negri menuntut ilmu.
Di sanalah Liana tumbuh menjadi gadis remaja yang cerdas, berprestasi, dan sangat sopan.
Namun, masa depan cerah itu terhenti tepat saat ia lulus SMA. Berkas itu mencatat:
"Pendidikan dihentikan. Menikah muda dengan Pewaris Keluarga Sterling sebagai pelunasan utang ayah."
Alexander membaca semua itu dengan hati yang perih. Ia tahu cerita tentang perselingkuhan ibunya,
Tentang ayahnya yang berubah menjadi pemabuk dan penjudi, hingga terjerat utang miliaran ke keluarga sendiri.
Ia tahu betapa beratnya beban yang dipikul oleh gadis kecil itu sendirian. Dan di sinilah, cinta besar Alexander mulai membuktikan kekuatannya.
Ia tidak bisa merebut Liana saat itu, itu melanggar semua aturan dan etika. Tapi ia bisa melindunginya, meski dari balik layar.
Alexander mengetahui jumlah utang yang sangat besar itu. Ia juga tahu ayah Liana, Gerald Varella, yang saat itu berusia empat puluh satu tahun saat pernikahan Liana.
Ia — tiga tahun lebih tua darinya — sedang terdesak, putus asa, dan hampir kehilangan akal sehatnya.
Tanpa sepengetahuan siapa pun, Alexander menggerakkan tangan kanannya.
Melalui rekan bisnis yang dipercayanya sepenuhnya, ia mengirimkan sejumlah uang besar, 50 Juta Dinar Auronia,
Dalam sebuah kotak rahasia yang dikirimkan ke kediaman lama Gerald. Di dalamnya hanya ada pesan singkat tulisan tangan yang rapi:
"Gunakanlah untuk melunasi seluruh utangmu. Bangun kembali hidupmu. Jangan pernah mencari tahu siapa pengirim ini."
Setiap minggu sekali, kiriman itu selalu ada. Tanpa nama, tanpa jejak.
Gerald Varella yang saat itu sudah jatuh paling bawah, kaget luar biasa. Ia merasa ada tangan tak terlihat yang menolongnya.
Ia tidak tahu siapa dermawan itu, tapi hatinya yang tersentuh mulai sadar. Ia berhenti berjudi, berhenti minum alkohol, dan mulai berusaha melunasi utang-utangnya tepat waktu berkat bantuan dana misterius itu.
Setelah utang-utang utama selesai dibayarkan, Gerald memutuskan kembali ke negara asalnya, Virlan.
Ia membawa sisa hartanya, bertekad bangkit kembali. Di sana, Gerald mulai membangun sesuatu dari nol.
Ia mendirikan sebuah perusahaan di bidang Hiburan dan Produksi Kreatif, mengingat ia punya sedikit latar belakang seni.
Kerja kerasnya membuahkan hasil. Perlahan namun pasti, nama Gerald Varella kembali dikenal di Virlan sebagai pengusaha yang sukses dan bertanggung jawab,
Meski namanya belum sampai terdengar kembali ke Auronia. Alexander mengawasi semua perkembangan itu dengan tenang. Ia tahu misi pertamanya selesai.
Ayah Liana sudah aman, sudah punya kehidupan sendiri, sudah sukses, dan tidak lagi menjadi beban atau ancaman bagi Liana.
Kini, lima tahun telah berlalu sejak hari pernikahan itu. Alistair kini berusia 29 tahun, dan kehidupan Liana di keluarga Sterling telah berubah menjadi neraka.
Alexander kembali duduk di kursi besarnya di ruangan kantornya yang dingin dan megah.
Di laci meja kerjanya, tersimpan rapi sebuah foto kecil Liana yang diam-diam ia ambil saat hari pernikahan dulu.
Ia mengeluarkan foto itu, menatap wajah gadis yang dicintainya itu dengan tatapan lembut yang tidak akan pernah ditunjukkan pada orang lain.
"Sabar, Liana..." bisik Alexander pelan, suaranya bergetar namun penuh keyakinan.
"Aku sudah membereskan semua rintangan di belakangmu. Ayahmu sudah aman. Kariernya sudah bangkit."
"Sekarang... aku hanya perlu menunggu. Menunggu sampai kamu sendiri yang lelah,"
"Menunggu sampai kamu disakiti terlalu dalam, dan menunggu saat di mana kamu berbalik arah... dan melihatku ada di sini,"
"Berdiri diam, siap menangkapmu jatuh kapan saja."
Alexander menyimpan kembali foto itu. Ia kembali menjadi pria dingin, acuh tak acuh, dan antiwanita di mata dunia luar.
Namun di dalam hatinya, ia tahu ia sedang memegang waktu. Ia akan bersabar selama apa pun yang diperlukan, bahkan bertahun-tahun lamanya,
Demi wanita yang sudah mencuri hatinya hanya dengan satu kali pandangan itu.
Dan di sanalah, di balik topeng dingin itu, Alexander Sterling mulai menghitung hari, bersiap menyambut masa depan yang ia tahu akan datang.
***
Waktu berlalu begitu cepat, mengubah segalanya dalam sekejap mata. Sudah beberapa bulan berlalu sejak kabar itu menggema ke seluruh penjuru kediaman keluarga Sterling: Seraphina hamil.
Saat itu, diadakan sebuah acara syukuran yang sederhana namun penuh kebahagiaan bagi semua orang, kecuali satu orang—Liana.
Di acara itu, suara-suara bisikan samar terdengar di mana-mana, menembus ke telinga Liana seolah sengaja diperdengarkan.
"Lihat saja, benar kan dugaan kita? Hanya Seraphina yang bisa memberikan keturunan bagi Alistair. Istri pertama itu... ah, sepertinya memang mandul."
"Sudah empat tahun lebih dia di sini, tak ada hasil apa-apa. Baru setahun Seraphina masuk, langsung diberkahi. Jelas sekali siapa yang lebih berharga."
"Kasihan... atau lebih tepatnya sayang sekali. Cantik, tapi tidak berguna."
Kata-kata itu menjadi duri yang tertanam dalam. Liana hanya bisa diam, menunduk, dan menelan segala rasa sakit itu sendirian.
Di mata seluruh keluarga besar Sterling, dia kini hanyalah perabotan usang yang dibiarkan ada karena alasan aturan saja,
Sementara Seraphina menjadi nyonya muda yang dipuja, dimanja, dan disegani. Dan kini, waktu telah melompat maju tujuh bulan kemudian.
Perut Seraphina sudah tampak besar dan indah, tanda kehidupan baru yang sedang tumbuh di sana.
Untuk merayakan momen ini dan mengumumkan jenis kelamin calon pewaris yang sangat ditunggu-tunggu itu, Alistair mengadakan sebuah pesta besar yang sangat meriah.
Lebih megah dari acara syukuran sebelumnya. Seluruh rekan bisnis, kerabat jauh, pejabat kota, dan orang-orang berpengaruh di Auronia hadir memenuhi ruangan utama.
Musik mengalir lembut, tawa bergema, dan kemewahan terlihat dari setiap sudut. Di tengah kemeriahan itu, Liana duduk sendirian di sudut paling gelap ruangan.
Dia mengenakan gaun sederhana namun tetap elegan, namun tak ada satu pun mata yang menoleh padanya.
Semua pandangan tertuju pada Seraphina yang duduk di sebelah Alistair, terlihat anggun dan bangga dengan perut besarnya.
Pasangan itu tampak begitu serasi, begitu bahagia, seolah dunia ini milik mereka berdua. Orang-orang sibuk berkerumun.
Ada yang membicarakan proyek bisnis baru keluarga Sterling, ada yang membahas politik, ada yang memuji kecantikan Seraphina, dan ada pula yang kembali berbisik tentang dirinya dengan nada menghina.
Udara di ruangan itu tiba-tiba terasa begitu panas dan menyesakkan bagi Liana. Dadanya terasa berat, napasnya jadi pendek.
Dia merasa seperti ikan yang terperangkap di dalam air yang mulai kering.
Keramaian ini, kebahagiaan palsu ini, tatapan-tatapan merendahkan itu... semuanya membuatnya ingin lenyap seketika.
Tanpa pamit pada siapa pun—karena memang tak ada yang akan menyadari kepergiannya—Liana bangkit berdiri dan perlahan berjalan keluar dari ruangan pesta itu.
Dia melangkah menyusuri lorong panjang yang sepi, menjauh dari suara musik dan tawa yang makin lama makin samar.
Kakinya membawanya ke sebuah ruangan besar yang terletak di sayap timur bangunan.
Ruangan itu biasanya digunakan sebagai ruang rias dan istirahat bagi para wanita saat ada acara besar,
Namun malam ini ruangan itu kosong melompong. Sunyi, sepi, dan berhawa sejuk.
Liana berjalan mendekati wastafel besar yang terbuat dari marmer putih di sudut ruangan.
Dia memutar keran, membiarkan air jernih mengalir keluar, lalu membasahi kedua telapak tangannya dan memercikkannya ke wajah cantiknya yang terasa panas karena menahan tangis.
Dia mengambil selembar kain lembut yang tersedia di sana, lalu perlahan mengelap sisa air di pipi dan pelipisnya.
Di depan cermin besar yang memantulkan bayangannya, Liana menatap dirinya sendiri.
Wajahnya masih muda, masih cantik, namun ada garis-garis kelelahan dan kesedihan yang mendalam di matanya.
"Untuk apa aku bertahan di sini?" batinnya bergumam pelan, suara bergetar.
"Aku hanya pajangan. Aku hanya aib. Di mata mereka, aku wanita yang tidak bisa memberikan anak, wanita yang tidak berguna."
Dia sedang tenggelam dalam lamunan pahitnya itu, ketika tiba-tiba sebuah suara berat, rendah, dan sangat tenang memecah keheningan ruangan itu.
"Memang benar, udara di sana terlalu penuh dengan kepalsuan. Tidak heran kamu memilih tempat ini."
Liana tersentak kaget, tangannya yang sedang memegang kain itu terhenti. Dia berbalik cepat, jantungnya berdegup kencang karena terkejut.
Di ambang pintu, atau lebih tepatnya sudah berdiri beberapa langkah di belakangnya, ada sosok pria jangkung dengan jas hitam elegan yang selalu dikenakannya.
Wajahnya dingin, tatapannya tajam namun tenang, dan aura misteriusnya memenuhi seluruh ruangan itu.