NovelToon NovelToon
Jalan Dao Pendekar Mata Duitan

Jalan Dao Pendekar Mata Duitan

Status: sedang berlangsung
Genre:Anak Genius / Fantasi / Epik Petualangan
Popularitas:2.1k
Nilai: 5
Nama Author: momon Joy

Di Benua Tianyu, kekuatan adalah segalanya.

Para kultivator menghabiskan seluruh hidup mereka untuk bermeditasi, berburu harta surgawi, dan mengejar puncak Dao.

Keluarga-keluarga besar berlomba melahirkan jenius.
Sekte-sekte kuat mencari murid berbakat.

Namun di tengah dunia yang memuja kekuatan itu, lahirlah seorang anak yang cukup aneh.

Namanya Feng Bai hu
Anak bungsu dari empat bersaudara keluarga Fang, keluarga kalangan menengah ,
Ketiga kakaknya dikenal sebagai jenius yang rajin berkultivasi dan menjadi kebanggaan keluarga.

Sedangkan Feng Bai hu terkenal karena satu hal:

Malas.
Ia sering kabur dari sesi latihan.
Tidur saat kelas kultivasi.
Menghilang ketika guru mengajarkan teknik baru.
Bahkan pelayan keluarga lebih sering melihatnya di pasar daripada di ruang latihan.

Namun yang membuat semua orang kesal adalah kenyataan bahwa meskipun malas, kultivasinya selalu mampu menyamai bahkan melampaui para jenius seusianya.
ayo ,, ikuti keseuan ceritanya

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon momon Joy, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Bab 28 Kota Qingyun

Menjelang senja, rombongan pengungsi akhirnya tiba di depan Kota Qingyun.

Semua orang tanpa sadar memperlambat langkah.

Bahkan para murid Sekte Awan Langit yang sejak tadi berjalan di depan ikut mendongakkan kepala.

Di hadapan mereka berdiri tembok batu raksasa setinggi puluhan meter.

Permukaannya dipenuhi ukiran formasi kuno yang memancarkan cahaya redup.

Di setiap jarak tertentu berdiri menara pengawas.

Para penjaga mengenakan zirah hitam dengan tombak panjang di tangan.

Aura mereka jauh lebih kuat daripada para penjaga Kota Qinghe.

Di atas tembok...

Beberapa kultivator melayang menggunakan pedang terbang sambil berpatroli.

Sesekali mereka memandang ke arah Pegunungan Seribu Bintang yang tampak samar di utara.

Wajah mereka dipenuhi kewaspadaan.

Bai Hu mengangkat kepala setinggi mungkin.

Matanya membelalak.

"Kota ini......besar sekali."

Tian Yu tersenyum tipis.

"Dibanding Kota Qinghe, kota ini hampir sepuluh kali lebih besar."

Bai Hu kembali menatap gerbang kota.

Kereta dagang keluar masuk tanpa henti.

Ada pedagang yang membawa tanaman spiritual.

Ada pula yang mengangkut kulit Binatang Iblis, bijih logam, hingga peti-peti berisi pil.

Di sisi lain, beberapa kultivator lepas berjalan santai sambil membawa senjata di punggung mereka.

Seorang pria bahkan memikul bangkai Harimau Api Tingkat 2 yang baru diburunya.

Bau darah masih melekat pada bulunya.

Bai Hu memperhatikannya tanpa berkedip.

Dalam hati ia kembali menghitung.

"Kalau satu Harimau Api dijual... berapa batu roh yang bisa didapat?"

Melihat tatapan adiknya, Tian Yu terkekeh pelan.

"Kau sedang menghitung nilainya lagi?"

Bai Hu tidak menyangkal.

"Kalau memang bisa dijual, kenapa tidak dihitung?"

Tian Yu menggeleng sambil tertawa kecil.

"Aku hampir lupa...Meskipun sudah mengalami banyak hal....kau tetap Bai Hu."

Untuk pertama kalinya sejak meninggalkan Kota Qinghe, Mei Lin ikut tersenyum tipis melihat kedua putranya sedikit kembali seperti dulu.

Senyum itu hanya sebentar.

Namun cukup untuk menghangatkan suasana keluarga mereka.

Ketika rombongan tiba di depan gerbang kota, dua baris penjaga segera memberi jalan.

Seorang pria paruh baya berjubah biru melangkah maju.

Di dadanya terdapat lambang Kerajaan Ombak Surgawi.

Ia menangkupkan kedua tangan kepada Xu Canghai.

"Tetua Xu. Kami telah menyiapkan tempat bagi para penyintas."

Xu Canghai membalas hormat.

"Terima kasih atas bantuan pemerintah kota."

Pria itu mengangguk.

"Ini bukan hanya urusan Sekte Awan Langit, Seluruh kerajaan sedang menghadapi bencana."

Tatapannya kemudian beralih kepada para penyintas.

Di wajahnya terlihat rasa iba.

^^^"Kalian semua telah melalui perjalanan yang berat, Mulai malam ini, Kota Qingyun akan menjadi tempat perlindungan kalian."^^^

Mendengar kalimat itu, beberapa penyintas langsung menangis.

Ada yang berlutut sambil mengucapkan terima kasih.

Ada pula yang memeluk keluarganya dengan erat.

Bagi mereka...

Memiliki tempat untuk beristirahat malam ini saja sudah merupakan anugerah.

Saat memasuki gerbang kota, Bai Hu kembali dibuat terkejut.

Jalan utama Kota Qingyun lebarnya hampir lima kali lipat jalan utama Kota Qinghe.

Bangunan-bangunan batu berjajar rapi.

Di kiri dan kanan jalan tampak toko senjata, toko pil, rumah teh, penginapan, serta pasar yang masih ramai meski matahari hampir tenggelam.

Yang paling menarik perhatian Bai Hu adalah sebuah bangunan besar berlantai lima.

Di depannya tergantung papan bertuliskan:

Paviliun Seratus Harta.

Orang-orang keluar masuk sambil membawa kotak kayu, senjata, dan berbagai bahan Binatang Iblis.

Bai Hu langsung bertanya kepada Liang Chen.

"Kak Liang."

"Itu tempat apa?"

Liang Chen mengikuti arah pandang Bai Hu lalu tersenyum.

"Itu Paviliun Seratus Harta."

"Mereka membeli dan menjual hampir semua barang milik kultivator.

Mau menjual kulit Binatang Iblis? Mereka akan beli."

"Mau membeli pil?"

"Ada."

"Mau membeli senjata?"

"Juga ada."

"Mau menjual tanaman spiritual?"

"Mereka juga menerimanya."

Mata Bai Hu semakin berbinar.

"Berarti...selama punya barang, pasti bisa menghasilkan batu roh?"

Liang Chen tertawa.

"Itulah sebabnya tempat itu selalu ramai."

Bai Hu memandang bangunan itu cukup lama.

"Suatu hari nanti...Aku akan datang ke sana membawa barang daganganku sendiri."

Impian kecil baru mulai tumbuh di dalam hatinya.

Dan Kota Qingyun...

Akan menjadi tempat impian itu mulai berkembang.

Di bawah pengawalan para penjaga kota, rombongan penyintas terus berjalan menyusuri jalan utama Kota Qingyun.

Semakin jauh mereka masuk ke dalam kota, semakin ramai suasananya.

Teriakan para pedagang saling bersahutan.

"Tanaman Spiritual Segar! Baru dipanen pagi ini!"

"Bijih Baja Hitam kualitas terbaik!"

"Pil Pemulih Qi! Jumlah terbatas!"

Di sepanjang jalan, berbagai toko berdiri berjajar.

Ada toko senjata.

Ada toko pil.

Ada toko pakaian.

Ada pula toko yang khusus menjual bahan Binatang Iblis.

Mata Bai Hu terus bergerak ke sana kemari.

Baginya...

Semua yang ada di kota ini terasa baru.

"Dunia kultivasi ternyata seperti ini..."

gumamnya pelan.

Liang Chen yang berjalan di sampingnya tersenyum.

"Kota Qingyun memang jauh lebih makmur dibanding Kota Qinghe."

"Karena letaknya berada di jalur perdagangan."

Bai Hu menoleh.

"Jalur perdagangan?"

Liang Chen mengangguk.

"Semua hasil dari wilayah timur akan melewati kota ini."

"Tanaman spiritual."

"Bahan Binatang Iblis."

"Bijih tambang."

"Bahkan pil dan senjata juga diperdagangkan di sini."

Bai Hu mulai memahami.

Tidak heran kota ini jauh lebih besar.

Perdagangan di sini berlangsung setiap hari.

Ketika rombongan melewati sebuah persimpangan besar...

Bai Hu tiba-tiba menghentikan langkah.

Di depan mereka berdiri sebuah bangunan megah.

Asap putih mengepul dari cerobongnya.

Dentangan besi terdengar tanpa henti.

Tang!

Tang!

Tang!

Beberapa pria bertubuh kekar sedang mengayunkan palu ke atas logam yang membara.

Percikan api beterbangan setiap kali palu menghantam.

Di depan bangunan itu tergantung papan besar.

Balai Penempa Qingyun

Bai Hu memperhatikannya cukup lama.

"Itu tempat menempa senjata?"

Liang Chen mengangguk.

"Benar."

"Sebagian besar senjata kultivator di Kota Qingyun dibuat di sana."

"Kalau suatu hari pedang Kakak Tian Yu rusak...tempat itulah yang akan memperbaikinya."

Bai Hu melihat para penempa bekerja.

Tidak ada satu pun gerakan yang sia-sia.

Mereka memukul logam dengan irama yang teratur.

Sesekali salah seorang memasukkan logam ke dalam tungku, sementara yang lain segera menggantikannya memukul.

"Hebat..."

gumam Bai Hu.

Liang Chen tersenyum.

"Menjadi penempa tidak kalah sulit dibanding menjadi alkemis."

"Logam yang berbeda membutuhkan suhu yang berbeda."

"Kesalahan sedikit saja..."

"...seluruh bahan bisa rusak."

Bai Hu mengangguk pelan.

Profesi di dunia kultivasi jauh lebih beragam daripada yang pernah ia bayangkan.

Tidak lama,

Mereka kembali melewati sebuah bangunan yang jauh lebih sunyi.

Bangunan itu tidak terlalu besar.

Namun di atas gerbangnya terdapat lambang berbentuk lingkaran dengan garis-garis rumit.

Bai Hu mengernyit.

"Itu tempat apa?"

"Kau melihat lambang di atasnya?"

"Ya."

"Itu adalah Aula Formasi.Para ahli formasi mempelajari susunan formasi pertahanan, formasi jebakan, Formasi pembunuhan,hingga formasi pengumpul energi spiritual."

Bai Hu memandang lambang itu beberapa saat.

Ia langsung teringat Yun He.

"Kak Yun pasti menyukai tempat itu."

Liang Chen tertawa kecil.

"Mungkin saja."

Perjalanan kembali berlanjut.

Sesekali Bai Hu melihat kultivator yang menunggangi Binatang Iblis jinak.

Ada pula kereta yang ditarik dua ekor Kuda Angin.

Meskipun bukan Binatang Iblis, kecepatannya jauh melampaui kuda biasa.

Melihat semua itu...

Rasa penasarannya semakin besar.

"Kak Liang."

"Hm?"

"Apakah Kota Qingyun adalah kota terbesar di kerajaan?"

Liang Chen menggeleng.

"Tentu bukan."

Bai Hu membelalak.

"Masih ada yang lebih besar?"

"Banyak."

"Kota Qingyun hanya kota besar di wilayah timur ,Di ibu kota Kerajaan Ombak Surgawi...Semua yang kau lihat di sini masih belum ada apa-apanya."

Bai Hu langsung terdiam.

Dunia yang dibayangkannya kembali menjadi jauh lebih luas.

Tidak lama kemudian...

Rombongan tiba di sebuah kawasan luas di bagian selatan kota.

Puluhan bangunan kayu berjajar rapi.

Di depannya berdiri beberapa murid Sekte Awan Langit.

Xu Canghai menghentikan langkah ,Mulai hari ini..."

"Kawasan ini menjadi tempat tinggal sementara bagi para penyintas Kota Qinghe."

"Kalian boleh beristirahat di sini."

"Besok..."

"...kehidupan baru kalian akan dimulai."

Beberapa penyintas langsung menghela napas lega.

Setidaknya...

Malam ini mereka tidak perlu lagi tidur di tanah terbuka.

Mereka mulai memasuki bangunan masing-masing.

Keluarga Feng Bai Hu memperoleh sebuah rumah kayu sederhana yang terdiri dari tiga ruangan.

Meski jauh lebih kecil dibanding rumah mereka di Kota Qinghe...

Tidak seorang pun mengeluh.

Karena mereka masih memiliki satu sama lain.

Bai Hu berdiri di depan rumah itu.

Ia menarik napas panjang.

Kemudian tersenyum tipis kepada ibunya.

"Ibu."

Mei Lin menoleh.

"hm?"

"Ini memang kecil. tapi mulai hari ini ini rumah kita."

Mei Lin memandang putra bungsunya.

Matanya kembali berkaca-kaca.

Ia mengangguk pelan.

"Ya.Selama keluarga kita masih bersama...

di mana pun kita tinggal tetaplah rumah."

Namun...

Di kejauhan, dari arah pusat Kota Qingyun...

Lonceng besar kembali berbunyi.

Dooong...

Dooong...

Dooong...

Suara itu menggema ke seluruh penjuru kota.

Seorang murid Sekte Awan Langit segera berlari menuju kawasan pengungsian.

Ia berhenti di depan Xu Canghai.

Wajahnya dipenuhi kegembiraan.

"Tetua!Surat dari sekte telah tiba! Para tetua memutuskan.....seleksi murid baru akan dimulai tiga hari lagi!"

Mendengar pengumuman itu, banyak anak muda di antara para penyintas langsung saling berpandangan.

Bagi mereka...

Inilah kesempatan untuk mengubah nasib.

Sementara Bai Hu...

Tanpa sadar mengepalkan tangannya.

---

Malam mulai menyelimuti Kota Qingyun.

Berbeda dengan Kota Qinghe yang biasanya mulai sepi setelah matahari terbenam, Kota Qingyun justru semakin ramai.

Lampu-lampu batu cahaya menerangi jalan utama.

Suara kereta dagang masih terdengar keluar masuk gerbang kota.

Beberapa toko pil, rumah makan, dan penginapan bahkan masih melayani tamu.

Dari halaman rumah sementara yang ditempati para penyintas, Bai Hu memperhatikan semua itu dengan rasa kagum.

Ia tidak menyangka sebuah kota bisa tetap hidup bahkan ketika malam telah tiba.

Di dalam rumah.

Mei Lin sedang menyiapkan makan malam sederhana.

Hanya bubur hangat dan sedikit daging kering pemberian Sekte Awan Langit.

Walaupun sederhana, semua anggota keluarga duduk mengelilingi meja.

Sudah lama mereka tidak makan bersama.

Namun kali ini...

Masih ada satu tempat yang kosong.

Tidak ada seorang pun yang berani duduk di sana.

Mei Lin memandang kursi itu cukup lama.

Kemudian menarik napas dalam.

"Duduklah."

"Nanti makanannya dingin."

Semua mulai mengambil mangkuk masing-masing.

Tidak ada percakapan.

Hanya suara sendok yang sesekali menyentuh mangkuk.

Suasana terasa canggung.

Akhirnya...

Bai Hu memecahkan keheningan.

"Ibu."

Mei Lin mengangkat kepala.

"Apa kita benar-benar akan tinggal di sini?"

Mei Lin menggeleng pelan.

"Hanya sementara."

"Lalu setelah itu?"

"Kita juga belum tahu."

Tian Yu yang sejak tadi diam akhirnya ikut berbicara.

"Kalau keadaan sudah stabil, mungkin keluarga akan membangun kembali kehidupan di tempat lain."

Yun He menghela napas.

"Membangun kembali keluarga sebesar Keluarga Feng tidak akan mudah."

"Banyak tetua gugur ,banyak anggota keluarga yang masih hilang, Kita bahkan belum mengetahui siapa saja yang berhasil selamat."

Ucapan Yun He membuat suasana kembali sunyi.

Keluarga Feng bukan lagi keluarga besar seperti sebelumnya.

Setelah makan malam selesai.

Seseorang mengetuk pintu rumah.

Tok...

Tok...

Tok...

Tian Yu segera membuka pintu.

Di luar berdiri Tetua Guo Rong bersama Liang Chen.

"Maaf mengganggu."

"Tidak sama sekali. Silakan masuk."

Tetua Guo masuk perlahan.

Beliau memandang seluruh anggota Keluarga Feng.

"Kalian sudah mendengar tentang seleksi murid yang akan dimulai tiga hari lagi?"

Tian Yu mengangguk.

"Sudah."

Tetua Guo kemudian menoleh kepada Bai Hu.

"Apa kau sudah memutuskan?"

Bai Hu tidak langsung menjawab.

Ia memandang ibunya terlebih dahulu.

Kemudian memandang Tian Yu.

Barulah ia berkata,

"Aku ingin ikut ,Tapi..aku juga tidak ingin meninggalkan keluarga."

Tetua Guo tersenyum tipis.

"Itu bukan dua hal yang saling bertentangan."

"Masuk sekte bukan berarti melupakan keluargamu,Justru dengan menjadi lebih kuat.....kau akan memiliki kemampuan untuk melindungi mereka."

Bai Hu mengangguk pelan.

Tetua Guo terlihat puas.

Beliau kemudian mengeluarkan sebuah gulungan kecil.

"Ini."

"Apa itu, Tetua?"

"Dasar-dasar pengenalan tanaman spiritual,Tiga hari ke depan, manfaatkan waktumu untuk membacanya, Kalau nanti kau benar-benar menjadi murid sekte , setidaknya kau tidak akan memulai dari nol."

Bai Hu menerima gulungan itu dengan kedua tangan.

"Terima kasih tetua."

Tetua Guo tersenyum.

"Lagipula...Aku tidak ingin muridku dipermalukan orang lain."

Liang Chen yang berdiri di sampingnya ikut tertawa.

"Guru memang selalu berbicara seperti itu,

Tapi sebenarnya beliau sangat berharap kau lulus."

Tetua Guo langsung melirik muridnya.

"Kau terlalu banyak bicara."

Semua orang akhirnya tertawa kecil.

Suasana di rumah itu sedikit menghangat.

Setelah Tetua Guo dan Liang Chen berpamitan, malam semakin larut.

Yun He sudah beristirahat.

Mei Lin juga mulai memejamkan mata karena kelelahan.

Namun Tian Yu masih duduk di halaman.

Pedangnya terletak di sampingnya.

Bai Hu menghampiri kakaknya.

"Kak."

"Hm?"

"Apa kakak akan benar benar keluar dari sakte? "

"Aku sudah memutuskan untuk mengelola keluarga ,Aku akan mencari pekerjaan di Kota Qingyun."

"Bekerja

Tian Yu mengangguk.

"Kita tidak mungkin terus bergantung pada bantuan sekte."

"Ibu membutuhkan tempat tinggal."

"Yun He juga harus memulihkan luka."

"Seseorang harus mulai mencari batu roh."

Bai Hu menundukkan kepala.

Beban itu seharusnya tidak hanya dipikul Tian Yu seorang.

Tian Yu melihat ekspresi adiknya lalu menepuk bahunya.

"Jangan berpikir terlalu jauh."

"Fokuslah pada seleksi."

"Kalau kau berhasil masuk sekte..."

"...itu sudah menjadi bantuan terbesar bagi keluarga."

Bai Hu mengepalkan tangannya.

"Kak."

"Apa?"

"Aku akan menjadi murid terbaik." ucap Bai Hu dengan percaya diri ,,

Tian Yu tersenyum lebar.

"Itu baru adikku."

Di tempat lain...

Di aula utama Sekte Awan Langit cabang Kota Qingyun.

Xu Canghai duduk bersama beberapa tetua.

Di atas meja terdapat daftar nama anak-anak yang selamat dari Kota Qinghe.

Seorang tetua membuka daftar itu.

"Jumlah anak yang memenuhi syarat mengikuti seleksi ada seratus dua puluh enam orang."

Xu Canghai mengangguk.

"Lakukan seleksi seperti biasa."

Tetua lain bertanya,

"Bagaimana dengan Feng Bai Hu?"

Xu Canghai tidak langsung menjawab.

Beberapa saat kemudian ia berkata,

"Jangan beri perlakuan khusus."

"Kalau bakatnya memang luar biasa..."

"...biarkan ia membuktikannya sendiri."

Semua tetua mengangguk setuju.

Di luar aula...

Lonceng malam berdentang pelan.

Tidak ada yang mengetahui.

Dalam tiga hari ke depan...

Seleksi murid Sekte Awan Langit bukan hanya akan mengubah hidup Bai Hu.

Tetapi juga menjadi awal pertemuannya dengan para jenius muda yang kelak akan menjadi kawan, saingan, bahkan musuh dalam perjalanan panjangnya di dunia kultivasi.

Bersambung

1
REY ASMODEUS
atau jadi tetua agung? 🤣🤣🤣🤣
omes
kocak novel yang sangat mengocakan 🤣🤣🤣
makasih sudah buat novel fantasi timur komedi gw harap lanjut
Gege
coba MC belajar alkemis kan bisa tuh Thor.. jadi kuat jadi hebat bisa kayah rayah dan engga mati muda...🤣
Joy: bisa juga itu,, terimakasi untuk masukanya kak
total 1 replies
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!