Hari ini adalah hari ulang tahun Arla yang ke-18, dimana ia sudah dianggap dewasa dan 'matang'. Sehingga sudah saatnya ia dipanen dan dijual oleh rumah lelang ini.
Sebagai seorang gadis yang dijual oleh keluarganya sendiri, ia dirawat oleh rumah lelang ini untuk dijual kepada para laki-laki hidung belang dengan harga yang lebih mahal. Meski begitu, keluarganya sering datang dan mengatakan bahwa mereka menyesal menjualnya dan berjanji untuk membelinya kembali agar dapat pulang ke rumah dan berkumpul dengan keluarganya lagi.
Akan tetapi saat malam ulang tahunnya datang, tak ada satupun keluarga yang datang untuk menebusnya. Sehingga ia terpaksa dijual kepada laki-laki yang tidak ia kenal.
Bagaimana nasib Arla setelah dibeli oleh laki-laki itu, dan apakah ia akan berakhir menyedihkan seperti para budak nafsu yang telah mati karena kekerasan, seperti yang dialami oleh banyak gadis yang keluar dari tempat ini...
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Q Lembayun, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Pikiran nakal
Pertemuan makan malam berlangsung dengan begitu hikmat. Walaupun hampir semua orang mengunyah makanan sambil melirik sesekali ke arah Arla. Mereka benar-benar penasaran bagaimana bisa seorang gadis semuda ini dapat menjadi pacar Abimana yang terkenal dingin dan kaku.
Bibi Indah yang melihat Arla makan dengan porsi yang sangat kecil pun perlahan mulai merasa tidak nyaman. Ia segera mengambil udang goreng dan menaruhnya di atas piring Arla sambil tersenyum ramah.
"Makan yang banyak, kamu masih muda jadi butuh lebih banyak asupan gizi."
"Terima kasih." ucap Arla malu.
Mendengar suara Arla yang lembut dan ekspresi nya yang polos membuat orang-orang di meja makan diam-diam menyutuk Abimana. Mereka yakin Abimana pasti telah menipu gadis ini untuk dijadikan pacar. Mereka pikir Abimana memiliki integritas yang tinggi, tapi sepertinya anak laki-laki itu sangat pandai menipu orang lain.
Saat semua orang mulai menuduh Abimana dan mencaci makinya di dalam hati, kini Abimana tengah berhadapan langsung dengan neneknya. Keduanya duduk saling berhadapan dan Abimana telah siap untuk mendengarkan dan menjawab semua introgasi yang akan neneknya berikan.
"Abimana, dia masih berumur 18 tahun."
"Lalu?"
Melihat respon cucunya yang terkesan acuh tak acuh membuat Wanda hampir frustasi. Bagaimana bisa cucunya membawa pulang seorang gadis yang masih berumur 18 tahun untuk diperkenalkan sebagai calon istri.
"Dia masih anak-anak."
"Tapi dia sudah punya KTP, jadi dia bukan anak-anak lagi."
Mendengar apa yang diucapkan cucunya, Wanda hanya mampu menghela nafas dengan berat sambil mengelus dadanya dengan sedikit tidak sabar. Kalau saja ia tau Abimana akan membawa gadis yang terlalu muda malam ini, ia mungkin telah mencegahnya datang sejak lama. Tapi apa boleh buat, ia telah termakan gosip soal Abimana yang tertarik pada laki-laki, jadi ia bersikap gegabah dan memaksanya untuk datang untuk membawa calon menantunya.
"Sekarang katakan padaku, dengan memacari gadis semuda itu, apa yang akan kamu lakukan selanjutnya?"
"Apalagi, tentu saja menikah."
"Abi!"
"Nek, aku sangat menyukainya. Sejak dia masih SMP, aku selalu melihatnya dari kejauhan dan akhirnya bisa pacaran dengannya setelah dia masuk SMA. Sekarang dia sudah lulus dan sudah mendapatkan KTP. Jadi aku ingin menikahinya secepat mungkin."
Pernyataan mengejutkan itu hampir membuat neneknya jatuh dari kursi. Akan tetapi Abimana tidak peduli. Ia telah lama menyimpan dendam pada nenek dan juga keluarga besarnya. Ia selalu di teror untuk segera menikah dan telah dijodohkan dengan banyak sekali perempuan asing. Mereka bahkan percaya soal rumor kalau ia memiliki perasaan pada laki-laki, jadi jangan salahkan dirinya kalau sekarang ia akan membalas dendam.
Wanda tak habis fikir, cucunya sudah berumur 30 tahun dan dia sedang berpacaran dengan gadis berumur 18 tahun. Namun yang paling mengejutkan ternyata Abimana menyukai gadis itu sejak gadis itu masih SMP. Bukankah pada saat itu Arla masih berumur setidaknya 14 tahun. Jadi selama ini cucunya bukan penyuka sesama jenis, tapi seorang pedofil.
"Abi sayang, itu namanya child grooming nak. Dia masih terlalu muda dan pemikirannya masih labil. Kamu..."
"Justru itu. Kalau aku menunggu lebih lama, Arla akan menjadi lebih realistis dan dia mungkin akan meninggalkan ku dan bersama dengan laki-laki lain. Disaat seperti inilah waktu yang tepat untuk menikahi nya. Lagipula nenek mengatakan kepadaku bahwa umur ku kini sudah 30 tahun, jika aku menunggu lebih lama lagi mungkin nenek tidak akan bisa melihat cicit yang berasal dari ku. Jadi untuk itu aku berencana untuk menikahinya dalam waktu dekat."
Setiap ucapan Wanda yang mendesak Abimana untuk menikah dimasa lalu kini dibalikkan kembali padanya. Seolah setiap ucapan yang ia keluarkan dimasa lalu menjadi bumerang untuk menyerangnya saat ini. Wanda pun hanya mampu menutup mata atas pemikiran licik cucunya sendiri.
"Lalu apakah keluarga nya setuju?"
"Dia yatim piatu."
Wanda pun kehilangan harapan satu-satunya. Ia berfikir mungkin ia bisa memanfaatkan keluarga Arla untuk mencegah sikap konyol cucunya, tapi siapa yang menyangka ternyata Arla seorang yatim piatu. Benar-benar anak yang malang.
Arla bertemu dengan Abimana dapat dikatakan sebagai anugerah sekaligus musibah. Jadi Wanda hanya bisa menutup mata sambil memohon maaf di dalam hatinya untuk Arla karena telah dimanfaatkan oleh cucunya. Mungkin pernikahan ini baik untuk mereka, jadi ia bisa menjaga Arla dan menebus kesalahan cucunya karena telah memanipulasi pemikiran seorang gadis kecil untuk menikah.
"Kalau begitu persiapkan dengan matang. Jangan sampai orang-orang berfikir macam-macam soal hubungan kalian, itu tidak baik untuk Arla dan reputasi keluarga kita."
"Nenek tenang saja, aku akan menikah dengan Arla dalam waktu dekat. Kami akan mengambil surat nikah terlebih dahulu, setelah Arla cukup dewasa dan sudah siap, baru aku akan melakukan resepsi dan memperkenalkannya pada orang banyak dengan lebih meriah."
Wanda pun hanya mampu menghela nafas dan menganggukkan kepalanya. Meski cucunya memilih calon istri dengan cara tidak kompeten saat ini, tapi ia sebagai seorang nenek harus mengakui bahwa Abimana cukup tau bahwa ada beberapa hal yang tidak boleh dia lakukan karena dapat merusak reputasi keluarga mereka.
"Baguslah kamu memahaminya."
Setelah puas menggoda neneknya, Abimana akhirnya kembali ke ruang makan dengan perasaan bahagia. Akan tetapi saat ia sampai hal pertama yang Abimana lihat adalah pipi kecil Arla yang terlihat sedikit mengembang. Seolah mulutnya telah penuh oleh makanan, terlihat sangat lucu. Hampir mirip seperti hamster peliharaannya ketika ia masih kecil.
Akan tetapi yang membuat Abimana merasa heran adalah tatapan para Bibi dan juga Pamannya. Mereka melihat Abimana seolah ia adalah seorang monster yang tidak memiliki hati nurani. Hal tersebut membuat Abimana merasa heran. Kapan para Bibi dan Pamannya menjadi begitu membencinya?
Abimana pun mendekat kearah Arla lalu berbisik dan bertanya.
"Apa yang kamu katakan pada mereka?"
Arla yang tidak mengerti pun hanya menggelengkan kepalanya.
"Aku tidak mengatakan apapun, aku hanya mengucapkan terimakasih dan mereka lalu menjejaliku dengan makanan. Mereka mengatakan aku terlalu kurus dan butuh banyak asupan makanan."
Melihat bagaimana cara Arla makan ditambah dengan matanya yang jernih dan polos, apalagi dikombinasikan dengan suara yang lembut dan lucu. Jelas Abimana dapat mengerti isi pikiran keluarga besarnya. Mereka pasti berfikir bahwa ia telah memanfaatkan kepolosan Arla, dan itu membuat Abimana merasa sangat senang. Akhirnya ia bisa membalas dendam pada semua orang yang telah mendesaknya untuk menikah. Sekarang mereka harus menerima kenyataan bahwa keponakan mereka adalah seorang laki-laki tua yang sangat suka pada anak-anak.
Abimana pun membelai rambut Arla dan memujinya dengan bangga.
"Bagus, lakukan itu setiap kali kamu melihat mereka." Abimana terus tersenyum senang. 'buat mereka semua merasa bersalah karena telah mendesakku untuk segera menikah, sehingga aku dengan terpaksa memanfaatkan seorang gadis kecil untuk dijadikan istri'.