Usai memutuskan hubungan dua setengah tahun dengan Reza, Tari merasa lelah dengan drama cinta dan tekanan keluarga. Belum sembuh sepenuhnya, ia dipaksa ibunya mengikuti kencan buta—dan takdir malah mempertemukannya dengan Aldo, adik kandung mantan pacarnya sendiri.
Wajahnya mirip, tapi sikapnya sangat berbeda: lebih dingin, lebih tajam, dan seolah menyimpan rahasia serta dendam tersembunyi. Pertemuan yang dipaksa keluarga perlahan membangkitkan perasaan yang tak seharusnya ada. Di tengah gosip lingkungan dan luka lama yang mulai terbuka kembali, Tari dihadapkan pada satu pertanyaan berat:
Apakah ia berhak merasakan bahagia di samping orang yang masih terikat erat dengan masa lalunya yang menyakitkan?
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon HebiKage, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Kabar Baik yang Datang Menghangatkan Hari
Seminggu telah berlalu sejak kepergian Aldo kembali ke Jakarta.
Tujuh hari yang terasa jauh lebih lama dari kenyataannya—seolah berjalan selambat-lambatnya, seperti satu bulan penuh yang terasa berat untuk dilalui. Hari-hari itu dipenuhi dengan proses penyesuaian diri, kembalinya rutinitas yang biasa aku jalani, dan tentu saja, rasa rindu yang tak pernah benar-benar hilang, hanya bisa ditekan dan diterima perlahan. Namun seiring berjalannya waktu, aku mulai belajar beradaptasi kembali dengan suasana yang sepi di dalam apartemen. Aku mulai terbiasa bangun pagi sendirian, duduk dan menulis di meja kecil di dekat jendela tanpa ada yang mengobrol di sampingku, serta memejamkan mata di malam hari hanya ditemani suara detak jam dinding dan hembusan angin dari luar.
Meski begitu, aku tahu bahwa hidupku tidak sepenuhnya sepi dan kosong. Masih ada Sarah, sahabat setia yang tak pernah lupa mengajakku makan siang atau sekadar berjalan-jalan saat ia merasa aku mulai terlalu banyak mengurung diri. Ada juga Mia, pemilik kafe Brew & Bites yang selalu menyapaku dengan senyum ramah dan menyiapkan minuman kesukaanku tanpa perlu aku memesan terlebih dahulu. Dan yang paling penting, ada Aldo—yang selalu menyempatkan diri mengirim pesan atau menelepon setiap pagi saat aku baru bangun dan setiap malam sebelum aku tidur, seolah ingin tetap ada di sampingku meski terpisah ribuan kilometer jarak.
Namun, meski sudah dikelilingi perhatian dan dukungan dari orang-orang terdekat, tetap saja ada ruang kosong di dalam hatiku yang tak bisa diisi oleh siapa pun selain dirinya.
***
Pagi itu, tepat pukul sembilan pagi.
Aku duduk dengan tenang di meja kecil di samping jendela, ditemani secangkir teh bunga chamomile yang masih hangat mengepul. Di tanganku terbuka buku novel berjudul Norwegian Wood karya Haruki Murakami, yang menjadi salah satu bacaan wajib untuk tugas kuliah minggu ini. Suasana pagi terasa tenang, hanya diselingi suara kicauan burung dan lalu lintas kendaraan yang samar terdengar dari luar. Namun ketenangan itu seketika terpecah saat ponsel yang tergeletak di samping buku tiba-tiba bergetar dan berbunyi nyaring.
Di layar tertera nama penelepon: Tante Ratna.
Detak jantungku seketika berpacu lebih cepat dari biasanya. Tante Ratna adalah redaktur dari penerbit tempat novelku diterbitkan, dan beliau jarang sekali menelepon secara langsung. Biasanya semua urusan disampaikan lewat pesan singkat atau surel. Panggilan telepon seperti ini biasanya menandakan ada hal yang cukup penting atau mendesak untuk disampaikan.
Dengan jari yang sedikit gemetar karena rasa penasaran sekaligus cemas, aku menggeser tombol hijau untuk mengangkat sambungan itu.
“Selamat pagi, Tante,” sapaku, berusaha menenangkan suara agar terdengar tenang meski hatiku sedang berdebar kencang.
“Selamat pagi, Mbak Tari!” Suara Tante Ratna terdengar jelas di seberang sana, terdengar jauh lebih ceria dan bersemangat dibandingkan biasanya. “Aku punya kabar yang sangat menyenangkan untukmu dari Jakarta!”
Aku menahan napas sejenak, merasakan rasa penasaran yang semakin memuncak. “Kabar apa itu, Tante? Semoga saja kabar baik.”
“Tentu saja kabar baik! Novel karyamu itu… laris manis sekali, Mbak!”
Aku tertegun mendengarnya. Mulutku terbuka sedikit, namun tidak ada satu kata pun yang mampu keluar dari bibirku. Aku hanya diam mematung, seolah tidak percaya dengan apa yang baru saja kudengar.
“Mbak Tari? Masih mendengarkan suaraku?” tanya Tante Ratna lagi, khawatir sambungannya terputus.
“I-iya, Tante. Aku masih di sini. Aku hanya… sungguh tidak percaya mendengarnya,” jawabku akhirnya, suaraku terdengar bergetar karena rasa kaget yang bercampur rasa bahagia.
Tante Ratna tertawa lepas—suara tawa yang hangat dan menenangkan, yang membuatku ikut tersenyum meski pikiranku masih sibuk mencerna kabar itu. “Kamu harus mulai percaya, Mbak. Ini semua benar-benar nyata. Edisi pertamamu yang kami cetak sebanyak lima ribu eksemplar sudah habis terjual hanya dalam waktu dua minggu saja. Bahkan permintaan terus mengalir, sehingga kami sudah mencetak ulang sebanyak sepuluh ribu eksemplar lagi, dan itu pun sekarang sudah hampir habis terjual di toko-toko buku.”
Rasa sesak yang menyenangkan terasa memenuhi dadaku—campuran antara rasa tidak percaya, rasa bangga, dan kebahagiaan yang meluap-luap hingga membuat napasku terasa terengah. “Tante… ini terjadi terlalu cepat. Aku sama sekali tidak menyangka akan secepat ini.”
“Memang terasa sangat cepat, tapi itu semua karena kualitas tulisanmu sendiri, Mbak. Pembaca sangat menyukai ceritamu. Mereka mengirimkan banyak sekali pesan ke kantor penerbit, memuji alur ceritanya, menyukai karakter-karakternya, dan yang paling sering mereka katakan adalah—mereka merasakan kejujuran dalam setiap kalimat yang kamu tulis.”
“Kejujuran?” tanyaku bingung, namun penasaran.
“Benar sekali. Mereka bilang, membaca novelmu terasa seperti membaca kisah nyata yang benar-benar terjadi, bukan sekadar cerita fiksi belaka. Ada perasaan yang tulus di dalamnya, sehingga mereka bisa merasakan emosi yang sama dengan tokoh-tokohnya. Itulah yang membuat tulisanmu terasa hidup dan dekat di hati pembaca.”
Aku menggigit pelan bibir bawahku, dan tanpa sadar air mata mulai mengalir turun membasahi pipiku—bukan karena kesedihan, melainkan karena rasa bahagia yang terasa begitu besar hingga sulit ditahan.
“Terima kasih banyak, Tante. Terima kasih atas semua dukungan dan kepercayaan yang sudah diberikan selama ini,” ucapku dengan suara yang sedikit tercekik.
“Tidak perlu berterima kasih padaku, Mbak. Ini adalah hasil dari kerja keras dan ketekunanmu sendiri selama bertahun-tahun. Namun, dengarkan baik-baik, aku masih punya satu kabar baik lagi untukmu.”
Aku segera mengusap air mataku dengan punggung tangan, lalu bertanya dengan antusias. “Masih ada kabar baik lagi? Apa itu, Tante?”
“Benar. Beberapa hari yang lalu, kami didatangi oleh seorang produser film yang cukup dikenal di industri hiburan Tanah Air. Dia sudah membaca novelmu secara keseluruhan dan merasa sangat terkesan. Dia menyampaikan keinginannya untuk mengadaptasi cerita ini menjadi sebuah film layar lebar.”
Mendengar kalimat itu, rasanya hampir saja ponsel yang aku genggam terlepas dari tanganku karena kaget.
“APA?! Benarkah itu, Tante?” seruku tak percaya.
“Benar sekali, Mbak. Dia ingin bertemu dan berdiskusi langsung denganmu untuk membahas lebih lanjut mengenai rencana kerja sama ini. Dia sangat antusias dan meyakini bahwa cerita ini memiliki potensi yang sangat besar jika diangkat ke layar lebar.”
“Tante… ini terlalu banyak kebahagiaan yang datang sekaligus. Aku merasa tidak sanggup menerima semuanya begitu saja,” jawabku dengan perasaan campur aduk antara kaget, bangga, dan sedikit gugup.
“Kamu pasti sanggup, Mbak. Kamu sudah membuktikan bahwa kamu mampu menciptakan karya yang luar biasa ini. Sekarang tugasmu hanya satu: percayalah pada kemampuan dirimu sendiri, sama seperti kami semua percaya padamu.”
Aku menarik napas panjang, mencoba menenangkan detak jantung yang kembali berpacu kencang. “Baiklah, Tante. Aku akan mencoba melakukannya. Terima kasih banyak atas kabar ini.”
“Baguslah begitu. Nanti aku akan mengirimkan semua rincian dan kontak yang perlu kamu hubungi lewat surel. Sementara itu, jaga kesehatan dan istirahatlah yang cukup, ya.”
Setelah mengucapkan salam penutup, sambungan telepon pun terputus. Aku meletakkan ponsel itu perlahan di atas meja, lalu menatap kosong ke arah dinding putih ruangan yang terasa lebih terang dan hangat dari biasanya.
Novelku laris. Edisi pertama habis terjual. Cetakan ulang pun hampir habis.
Dan sekarang, ada tawaran untuk diangkat menjadi sebuah film.
Rasa bahagia itu meluap sedemikian rupa hingga aku ingin berteriak sekuat tenaga, menangis sepuasnya, atau bahkan terbang langsung ke Jakarta untuk memeluk semua orang yang telah mendukungku dari awal. Namun, hal pertama yang terlintas di pikiranku saat itu hanyalah satu nama: Aldo. Ia adalah orang pertama yang selalu percaya padaku, yang selalu mendorongku untuk terus menulis, dan yang menjadi sumber semangat terbesarku.
***
Pukul lima sore waktu Melbourne, atau bertepatan dengan pukul dua siang di Jakarta.
Aku segera menghubungi Aldo lewat panggilan video. Begitu wajahnya muncul di layar, aku langsung berseru dengan suara yang meledak karena kegembiraan.
“Aldo! Aldo! Aldo! Kamu harus dengar kabar ini!”
Aldo terlihat terkejut dan sedikit panik melihat reaksiku yang berlebihan. “Tari? Ada apa? Kenapa kamu terlihat sangat bersemangat, atau apakah ada sesuatu yang terjadi?”
“NOVELKU LARIS, ALDO! EDISI PERTAMA SUDAH HABIS TERJUAL, DAN CETAKAN ULANGNYA JUGA HAMPIR HABIS!” seruku kembali, tak mampu menahan rasa senang itu.
Aldo terdiam sejenak, matanya melebar terkejut, mulutnya terbuka namun tidak mengeluarkan suara apa pun selama beberapa detik.
“APA?! BENARKAN INI?!” teriaknya akhirnya, suaranya melantang hingga aku harus sedikit menjauhkan ponsel dari telingaku.
“BENAR SEKALI! Tadi pagi Tante Ratna menelepon dan memberitahuku kabar ini!” jawabku sambil tertawa melihat reaksinya yang tak kalah heboh.
“Ya Tuhan, Tari! Ini luar biasa! Sungguh di luar dugaan! Ini benar-benar mengagumkan!” seru Aldo kembali, bergerak gelisah di tempat duduknya, tangannya terangkat mengacungkan jempol seolah baru saja mendengar kabar paling membahagiakan di dunia. Aku hanya bisa tertawa melihat tingkahnya yang antusias, terasa lucu namun sangat tulus dan khas dirinya.
“Tunggu sebentar, belum selesai kabar baiknya,” ucapku setelah ia mulai sedikit tenang.
“Masih ada lagi? Apa lagi itu?” tanyanya dengan mata yang kembali membesar penuh rasa ingin tahu.
“Ada seorang produser film yang sudah membaca novelku dan sangat tertarik untuk mengadaptasinya menjadi sebuah film layar lebar! Dia ingin bertemu dan membahas kerja sama lebih lanjut denganku!”
Kali ini, Aldo terdiam lebih lama dari sebelumnya. Wajahnya terlihat tertegun, matanya berkaca-kaca, dan napasnya terasa berat seolah terharu mendengar kabar itu.
“Aldo? Kamu masih mendengarkanku?” tanyaku khawatir.
“Tari…” suaranya terdengar serak dan lembut, penuh dengan emosi yang meluap. “Kamu… kamu sadar tidak, bahwa kamu benar-benar wanita yang luar biasa dan hebat ini?”
“Aku sadar sekarang. Karena kamu selalu mengingatkanku untuk percaya pada diriku sendiri,” jawabku dengan senyum yang tak bisa hilang dari wajahku.
“Tapi ini nyata, Tari. Kamu membuktikannya sendiri. Aku bahkan tidak punya kata-kata yang cukup untuk menggambarkan betapa bangganya aku saat ini,” lanjutnya dengan suara yang masih bergetar.
“Kamu tidak perlu mengucapkan banyak kata, Aldo. Cukup tersenyum saja untukku, itu sudah cukup membuatku merasa lebih kuat,” ucapku lembut.
Aldo pun tersenyum lebar—senyum yang hangat, tulus, dan penuh kebanggaan, yang terasa mampu menghangatkan hatiku meski terpisah jarak ribuan kilometer.
“Aku sangat bangga padamu, Tari. Lebih dari yang bisa aku ucapkan dengan kata-kata.”
“Aku juga merasa bangga pada diriku sendiri, Aldo. Akhirnya aku bisa membuktikan bahwa usahaku tidak sia-sia.”
Kami berdua tertawa lepas, saling menatap lewat layar ponsel, dan untuk sesaat itu, rasanya dunia terasa sempurna—penuh dengan kebahagiaan dan harapan yang cerah.
***
Pukul enam sore.
Setelah mengakhiri percakapan dengan Aldo, aku segera menghubungi rumah dan berbicara dengan Mama terlebih dahulu.
“Mama! Ada kabar baik yang ingin aku sampaikan!” seruku begitu suara Mama terdengar di ujung telepon.
“Apa itu, Nak? Kenapa suaramu terdengar sangat gembira?” tanya Mama dengan nada penasaran.
“Novelku laris, Ma! Tadi Tante Ratna menelepon dan bilang edisi pertamanya sudah habis terjual, dan cetakan ulangnya juga hampir habis! Pembaca sangat menyukainya!”
“Ya ampun… sungguhkah itu, Tari? Kamu tidak berbohong, kan?” tanya Mama, suaranya terdengar kaget namun segera disusul nada kegembiraan yang nyata.
“Benar sekali, Ma! Semua kabar itu nyata!”
“Ya Tuhan… Mama tidak tahu harus berkata apa lagi. Air mata Mama sampai menetes karena senang mendengarnya!” jawab Mama, dan aku bisa mendengar suaranya yang mulai terisak haru.
“Ma, jangan menangis dong. Ini kabar bahagia, kan?” godaku sambil tersenyum.
“Mama menangis karena rasa bahagia yang meluap, Nak. Mama sangat bangga padamu, sangat bangga sekali.”
“Terima kasih, Ma. Semua ini juga berkat doa dan dukungan Mama serta keluarga.”
Tak lama kemudian, Papa mengambil alih telepon dari tangan Mama.
“Tari, Papa baru saja mendengar kabar itu. Benarkah novelmu sudah laku terjual sebanyak itu?” tanya Papa dengan nada yang tenang namun terdengar antusias.
“Benar, Pa. Kabarnya baru saja aku terima tadi pagi.”
“Papa sangat bangga padamu, Nak. Jujur saja, Papa tidak pernah menyangka kalau tulisan anak perempuan kami akan sampai dikenal dan disukai banyak orang seperti ini.”
“Pa, aku masih dalam perjalanan. Belum bisa dibilang terkenal, tapi aku akan terus berusaha lebih baik lagi,” jawabku rendah hati.
“Papa yakin kamu akan terus berkembang dan menjadi lebih hebat lagi. Teruslah melangkah ke depan, Nak.”
Setelah Papa, giliran adikku Dinda yang mengambil telepon.
“Kak! Kalau sudah pulang nanti, jangan lupa bawa oleh-oleh yang banyak, ya!” serunya langsung.
“Dinda, Kakak saja belum pulang ke Indonesia, kok sudah minta oleh-oleh,” jawabku sambil tertawa.
“Tidak apa-apa. Ingat saja dulu janjinya, nanti saat pulang baru dibawa.”
“Baiklah, Kakak janji tidak akan lupa.”
Kemudian giliran Rangga, adik bungsuku, yang menyampaikan semangatnya.
“Kak, aku juga bangga sama kamu. Suatu hari nanti aku ingin bisa menulis dan menjadi penulis hebat seperti Kakak,” ucapnya dengan nada serius.
“Bagus sekali, Rangga. Kalau kamu ingin menjadi penulis, kamu harus rajin membaca buku dan banyak berlatih menulis setiap hari, ya.”
“Aku sudah mulai melakukannya, Kak. Aku membaca buku setiap malam sebelum tidur.”
“Baguslah itu. Teruskan kebiasaan baikmu itu.”
***
Pukul delapan malam.
Aku berdiri di balkon apartemen, menikmati suasana malam yang mulai terasa semakin hangat—tanda bahwa musim panas di Melbourne akan segera tiba dan menggantikan musim semi yang baru saja berlalu. Di kejauhan, pemandangan kota terlihat sangat indah dengan ribuan lampu gedung dan jalan raya yang menyala terang, berkelap-kelip bagaikan bintang-bintang yang turun bersinar di atas permukaan bumi.
Aku mengangkat tangan ke leher, lalu meraba kalung yang selalu aku kenakan—sebuah liontin berbentuk buku kecil yang menjadi hadiah pemberian Aldo saat ia masih berada di Jakarta. Aku menggenggam liontin itu erat-erat di telapak tanganku, merasakan kehangatan yang terasa mengalir dari benda itu ke seluruh tubuhku.
“Aku berhasil, Aldo. Akhirnya aku benar-benar berhasil mewujudkan apa yang kita impikan bersama,” bisikku pelan, seolah ia bisa mendengarnya dari seberang lautan.
Aku menatap langit malam yang cerah dan dipenuhi bintang-bintang yang bersinar terang, lalu tersenyum penuh keyakinan.
“Ini baru permulaan. Masih ada banyak hal yang harus aku pelajari, banyak hal yang harus aku tulis, dan banyak mimpi yang harus aku wujudkan ke depannya.”
Aku menarik napas panjang yang terasa segar dan menenangkan, lalu melangkah masuk kembali ke dalam ruangan, menutup pintu kaca balkon, dan merebahkan tubuhku di atas kasur yang terasa nyaman dan hangat.
Di luar sana, angin malam berhembus lembut seolah membisikkan pesan semangat yang membawa harapan baru.
Dan di dalam hatiku, satu nama tetap bergema dengan lembut namun tegas, menjadi kekuatan dan tujuan setiap langkahku ke depan:
Aldo.