Bagaimana jadinya jika hubungan yang telah dibina selama ini yang tampak begitu harmonis dan penuh kasih sayang ternyata hanyalah didasari rasa kasihan semata?
Wanita yang dinikahinya adalah seorang yatim piatu yang harus menanggung beban kehidupan kedua adiknya. Karena rasa iba , ia berinisiatif menikahi perempuan tersebut, padahal keduanya baru saling mengenal selama satu tahun. Namun, yang ada di dalam hatinya bukanlah istrinya, melainkan mantan kekasih yang pernah memutuskannya tanpa alasan yang jelas, namun masih sangat dicintainya hingga saat ini.
Apa yang akan terjadi jika kelak sang istri mengetahui kenyataan ini? Akankah ia tetap menerimanya, atau memilih untuk mundur, meski harus melepaskan kehidupan yang sudah terjamin?
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon pipit fitriyani, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Merasa simpati
Intensitas pertemuan antara Amira dan Farhan membuat hubungan keduanya menjadi semakin akrab. Bahkan, Farhan kini sudah sering berkunjung ke rumah Amira dan bertemu dengan kedua adik kembarnya. Kehangatan yang terjalin membuat mereka merasa seolah sudah menjadi satu keluarga yang terikat erat kasih sayang.
Seperti saat ini, Farhan sedang berkunjung ke rumah kecil itu. Ia membawa banyak oleh-oleh untuk Amira dan kedua adiknya, karena selama beberapa hari terakhir ia tidak bisa bertemu mereka ia harus pergi ke luar kota untuk urusan pekerjaan.
Mobilnya terparkir rapi di halaman rumah. Karena hari ini adalah hari libur, Farhan yakin bisa bertemu dengan ketiga bersaudara itu tanpa halangan. Benar saja, baru saja ia mematikan mesin kendaraan, Ammar sudah berlari keluar menyambutnya dengan wajah yang berseri-seri.
“Assalamualaikum, Ammar,” sapa Farhan sambil tersenyum hangat saat melihat anak laki-laki itu.
“Waalaikumsalam, Mas Farhan! Apa kabar? Wah, aku sampai kangen banget lho sama Mas,” jawab Ammar dengan antusias, matanya berbinar penuh kegembiraan.
“Ah, kamu ini bisa saja. Kan Mas sudah pamit kalau harus pergi tugas kantor beberapa hari,” balas Farhan sambil mengelus lembut kepala Ammar.
“Iya sih tahu, tapi rasanya tetap saja ada yang kurang kalau Mas nggak kesini. Ayo masuk dulu, Mas. Kakak sama Amara lagi sibuk masak di dapur untuk makan siang nanti,” ajak Ammar sembari menarik pelan lengan Farhan.
“Wah, kebetulan sekali ya, jadi aku datang pas waktu yang tepat nih, langsung dapat jatah makan enak,” canda Farhan.
“Tentu aja dong! Pokoknya Mas wajib cicipi masakan buatan Kakak, dijamin deh sekali makan pasti bakal ketagihan dan mau nambah terus,” ujar Ammar dengan bangga, tak henti-hentinya memuji keahlian memasak kakaknya.
“Mas percaya kok, kan masakan buatan tangan Kakakmu memang selalu istimewa. Oh iya, ini ada oleh-oleh yang Mas bawa buat kamu, Amara, dan juga Kakakmu. Semoga kalian suka ya,” kata Farhan seraya menyerahkan bungkusan yang ia bawa. Ammar menerimanya dengan wajah penuh sukacita.
Sesampainya di depan pintu, kedatangan Farhan langsung disambut dengan riang oleh Amara. Tak lama kemudian, muncul pula Amira dari arah dapur sambil membawa nampan berisi hidangan yang baru saja matang.
“Mas Farhan! Ya Allah, aku kangen banget sama Mas! Akhirnya Mas pulang juga,” seru Amara dengan nada ceria, wajahnya bersinar tanda senang.
Pria berusia 27 tahun itu hanya tersenyum menatap Amara, lalu pandangannya beralih ke arah Amira.
“Wah, ternyata kalian semua sudah kangen sama aku ya. Tapi tunggu dulu, terus gimana dengan yang satu ini? Apa nggak ada rasa kangen sedikit pun? Kok kaya ada yang sibuk sekali ya, sampai-sampai aku datang tidak disapa ,” ujar Farhan sedikit menyindir, menatap tepat ke arah Amira dengan tatapan bercanda.
Namun, Amira yang menjadi sasaran sindiran itu hanya tersenyum santai, lalu berjalan menghampiri mereka berdua.
“Dalam kapasitas apa aku harus kangen sama Mas Farhan? Mereka berdua saja yang berlebihan, kalau aku sih biasa saja, nggak ada yang berubah,” sahut Amira dengan nada tenang dan wajah yang tetap dingin namun tersembunyi kehangatan.
“Masa sih? Padahal biasanya kita kan bertemu hampir setiap hari, masa sekalinya nggak ketemu beberapa hari biasa saja?” goda Farhan kembali.
Akhirnya, Amira tak bisa menahan tawanya, lalu menjawab pelan, “Hahaha... Iya deh, kangen sedikit kok.”
“Waduh, rasanya sangat terpaksa sekali diucapkan ya,” kelakar Farhan sambil tertawa kecil mendengar jawaban amira.
“Sebaiknya kita makan siang dulu, ya. Nanti bisa dilanjut lagi mengobrolnya,” ucap Amira.
Usulannya langsung disetujui oleh ketiga orang lainnya. Mereka pun segera mengambil tempat duduk masing-masing di meja makan. Seperti kebiasaan yang selalu dilakukan, suasana saat makan menjadi hening dan tenang, hingga suapan nasi yang terakhir pun habis dikunyah dan ditelan.
Setelah selesai makan dan membereskan segala peralatan, mereka duduk berkumpul di ruang tamu yang sederhana namun terasa sangat nyaman. Di sana, mereka mulai menikmati kue brownis lezat yang dibawa oleh Farhan sebagai oleh-oleh. Suasana terasa hangat dan menyenangkan, hingga tiba-tiba Amara membuka suara dan berbicara kepada kakaknya.
“Kak Amira, nanti aku pinjam Hp Kakak sebentar ya? Aku mau kirim pesan ke temanku. Besok kami harus ngumpulin tugas kelompok, jadi aku mau kirim bagian tugasku lewat email . Nanti dia yang print tugasnya,” kata Amara dengan nada lembut.
Amira hanya mengangguk pelan sebagai tanda setuju. Belum sempat ia berbicara lebih lanjut, terdengar suara Ammar yang menyusul, terlihat sedikit malu-malu namun tetap berani menyampaikan keinginannya.
“Kak... Ammar juga boleh pinjam sebentar nggak? Kalau sudah selesai dipake Amara, aku mau telpon temanku. Sore ini udah janjian ketemuan dan mau membahas tugas kelompok juga,” pinta Ammar pelan.
Sekali lagi, Amira mengangguk dengan wajah yang tetap tenang dan ramah. Hal seperti ini memang sudah menjadi hal yang biasa terjadi di rumah itu. Hanya Amira yang memiliki satu buah ponsel pintar, dan alat komunikasi itu memang digunakan secara bergantian oleh mereka bertiga.
Melihat pemandangan itu, hati Farhan terasa terenyuh dan timbul rasa iba yang mendalam. Ia menatap Amira gadis berusia 22 tahun yang sejak muda sudah harus menjadi tulang punggung sekaligus orang tua pengganti bagi kedua adiknya. Di usia yang seharusnya masih menikmati masa muda dan bersenang-senang, Amira sudah dipaksa untuk menjadi dewasa, kuat, dan bertanggung jawab jauh sebelum waktunya. Pandangan mata Farhan kini penuh dengan rasa kagum yang bercampur dengan rasa simpati yang besar. Ia pun tersadar, bahwa dirinya yang sejak kecil selalu hidup berkecukupan, memiliki orang tua yang lengkap, ternyata ia memiliki kebahagiaan dan kenikmatan yang begitu besar yang harus selalu disyukuri.
Saat ini Amara dan Ammar masih duduk di bangku kelas sepuluh Sekolah Menengah Atas. Nasib pilu menimpa mereka tepat saat keduanya baru saja duduk di kelas enam Sekolah Dasar, ketika kedua orang tua mereka pergi untuk selamanya karena kecelakaan, membuat mereka menjadi anak yatim piatu. Namun, mereka sangat beruntung memiliki kakak perempuan seperti Amira, yang dengan ikhlas mengorbankan waktu, tenaga, dan masa depannya demi membesarkan dan menyekolahkan mereka berdua.
Sebagai balasan atas pengorbanan kakaknya, Amara dan Ammar tumbuh menjadi anak-anak yang sangat manis, berbakti, dan penuh pengertian. Mereka selalu berusaha melakukan yang terbaik agar bisa membanggakan Amira. Bahkan, saat mendaftar masuk ke Sekolah Menengah Atas yang paling favorit di daerah itu, keduanya berhasil diterima dan mendapatkan beasiswa pendidikan penuh hingga lulus nanti. Hal ini tentu saja sangat meringankan beban berat yang selama ini dipikul oleh Amira.