"Jangan deket-deket gue! Inget, jarak lo satu meter." — Nicktan Megantara.
Nicktan adalah pembalap GT3 yang perfeksionis. Hidupnya diatur dengan ketat oleh ayahnya, Azeus, demi menjaga kondisi jantungnya yang sensitif. Segala bentuk "debaran emosional" adalah terlarang.
Lalu hadirlah Elea. Gadis agresif yang tak kenal takut dan hobi memancing emosi Nick. Satu tahun mereka terpisah oleh benua dan ego, Nick berubah menjadi aktor dingin yang hampa. Namun malam itu, di tengah sunyinya Jakarta, Nicktan menemukan kembali mangsa lamanya.
Sebuah kisah tentang pengabdian, rahasia keluarga Megantara yang terkubur selama dua dekade, dan perjuangan seorang pria yang mencintai wanita hingga ke titik jantungnya berhenti berdetak.
Visualisasi Nicktan terinspirasi dari Wang Yibo, namun seluruh alur cerita dan pengembangan karakter adalah murni fiksi karya penulis.
#wangyibo
Novel ini adalah Season 2 dari novel "Owned By Azeus"
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Andara Wulan, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
3. Aspal Dan Tembok Beton
Sinar matahari pagi memantul tajam di atas aspal Sirkuit Internasional, menciptakan fatamorgana panas, yang bagi Nicktan Megantara adalah pemandangan paling indah. Deru mesin 1000cc yang memekakkan telinga terdengar lebih merdu daripada musik mana pun di dunia.
Nick berdiri di samping motornya, melakukan ritual peregangan dengan fokus tinggi. Squat, peregangan kaki, hingga rotasi bahu ia lakukan dengan presisi seorang atlet kelas dunia. Tatapannya lurus ke depan, tajam dan dingin di balik alis tebalnya.
"Lo siap, Nick?" tanya Ardan sambil berjalan mendekat.
Nick hanya menjawab dengan anggukan singkat. Ia naik ke atas jok motor, mengatur posisi tubuhnya hingga menyatu sempurna dengan mesin gahar tersebut. Di kanan dan kirinya, dua umbrella girls berpakaian seksi berdiri memayunginya. Kamera fotografer tak henti-hentinya membidik, namun Nick tak melirik sedikit pun. Baginya, mereka tak lebih dari tiang sirkuit.
Ardan menyodorkan botol minum dengan sedotan panjang ke arah mulut Nick. "Minum dulu. Biar otak lo nggak kering."
Nick menyesapnya tanpa ekspresi, matanya sibuk membenarkan letak sarung tangan balapnya.
"Lo fokus, Nick. Jangan mikirin ancaman bokap lo soal garasi dulu. Fokus ke tikungan," bisik Ardan serius.
"Gue tahu," jawab Nick pendek. Ia menarik turun visor helmnya.
Clack! dan seketika dunianya menyempit hanya menjadi lintasan dan kecepatan.
VROOOM!
Nick melesat, meninggalkan deru angin dan kepulan asap ban. Tiga puluh menit kemudian, ia kembali ke pit box dengan napas stabil namun rambut yang basah oleh keringat. Begitu ia melepas helm, aura maskulinnya terpancar kuat, membuat beberapa staf wanita di sekitar sana menahan napas.
Namun, ketenangan Nick langsung buyar saat ia melangkah masuk ke rest area.
"Nick! Great job out there! Kamu kelihatan seksi banget pas di tikungan terakhir," suara manja itu milik Clarissa, Brand Ambassador tim yang sudah lama terobsesi padanya.
Nick berhenti melangkah, matanya menatap Clarissa dengan dingin. "Minggir."
"Dingin banget sih? Aku cuma mau kasih selamat lho," Clarissa tersenyum menggoda, menyodorkan sebotol air mineral dingin. "Nanti malam ada pesta kecil buat tim, kamu datang ya sama aku? Aku sudah pesan tempat spesial."
Clarissa mencoba menyentuh lengan Nick yang masih terbalut baju balap kulit. Nick langsung menarik tangannya dengan gerakan kaku, seolah baru saja menyentuh bara api.
"Gue sibuk," sahut Nick ketus. "Dan gue udah bilang, jangan ganggu area istirahat gue."
"Nick, ayolah! Cuma satu malam_"
"Gue bilang nggak, ya nggak.!! " Nick melengos melewati Clarissa tanpa menoleh lagi, menuju kursi panjang tempat Ardan berada.
Clarissa menghentakkan kakinya kesal. "Sombong banget!" gerutunya pelan namun tetap menatap punggung Nick dengan lapar.
Ardan yang menyaksikan adegan itu hanya bisa geleng-geleng kepala. Ia duduk di samping Nick yang sedang sibuk mengecek ponsel. "Lo beneran nggak ada niat sama Clarissa? Dia cantik, matang, dan kayaknya nggak bakal ribet kayak bocah SMA."
Nick mendengus, matanya menatap tajam ke arah lintasan di depan pit. "Matang atau nggak, tetep aja cewek. Ribet. Gue mending ngurusin gearbox yang selip daripada dengerin dia ngoceh soal pesta."
"Galak bener. Padahal dia aset sponsor, Nick. Ramah dikit kek," ledek Ardan.
"Tugas gue balapan, bukan jadi pemuas BA," sahut Nick cuek bebek. Di sekelilingnya, banyak umbrella girls yang curi-curi pandang, tapi Nick seperti memiliki tembok beton tak kasat mata.
Ardan tertawa kecil, membuka botol minumnya sendiri. "Gaya lo boleh selangit, Nick. Tapi inget, sisa enam hari sebelum bokap lo beneran bawa bensin ke garasi. Lo sadar nggak sih? Lo nggak punya kontak cewek mana pun."
Nick terdiam. Rahangnya mengeras.
"Nggak ada nomor telepon, nggak ada barang tinggalan buat dilacak, dan lo cuma tahu nama panggilan 'Elea' dari teriakan temennya yang kabur kemarin. Mau nyari di mana lo?" lanjut Ardan makin gencar.
"Gue nggak bakal cari dia," ucap Nick gengsi, suaranya terdengar sangat ketus.
"Yakin? Terus lo mau bawa siapa ke depan Bokao lo? Mau bawa Clarissa? Paling bokap lo seneng kalau dapet menantu modelan begitu," pancing Ardan.
"Najis," sahut Nick singkat dan padat.
"Ya terus siapa? Masa lo mau bawa gue? Malah makin bener dong gosip gay nya," Ardan tertawa terbahak-bahak sampai tersedak air minumnya sendiri.
Nick membuang muka, mencoba kembali fokus pada data kecepatan di layar monitor. Tapi sial, pikirannya justru terlempar ke kejadian di kafe kemarin. Bayangan gadis SMA yang somplak itu terus berputar di otaknya. Kenapa dari sekian banyak cewek seksi di sirkuit ini, cuma wajah cegil itu yang bikin dia merasa glitch parah?
"Gue nggak butuh cari dia," gumam Nick lagi, lebih kepada dirinya sendiri.
"Halah, bohong banget muka lo," sahut Ardan.
"Beneran. Kalau dia beneran berani dan punya harga diri, dia pasti muncul lagi buat tanggung jawab soal kemeja gue yang kena kopi kemarin," Nick mencoba mencari alasan logis.
Ardan hanya geleng-geleng kepala melihat kegengsian sahabatnya itu. "Dunia nggak se-simpel itu, Nicktan. Lo pikir ini drama Korea? Dia udah kabur, ya ilang. Kecuali kalau takdir emang lagi pengen ngerjain lo."
"Takdir nggak ada hubungannya sama balapan," jawab Nick asal.
"Tapi takdir ada hubungannya sama jodoh," Ardan mengedipkan sebelah matanya.