Mita tidak pernah menyangka, satu ajakan sederhana dari suaminya akan mengubah segalanya.
Reuni sekolah yang seharusnya menjadi malam biasa justru membuka luka yang tak pernah ia sadari sebelumnya. Di tengah keramaian, Mita berdiri di samping Rio--namun terasa seperti tidak pernah ada. Terlebih saat Rio kembali bertemu dengan cinta pertamanya... dan memilih tenggelam dalam masa lalu.
Ditinggalkan tanpa penjelasan, Mita justru dipertemukan dengan Adrian-teman lama sekaligus rekan kerja Rio. Sosok yang dulu hanya sekadar kenangan, kini hadir sebagai satu-satunya orang yang benar-benar melihatnya.
Dan Reuni itu mengubah segalanya.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon rachmaraaa, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab 2
Sejak pertemuannya dengan Mita di halte busway dua malam lalu. Pikirannya selalu saja tentang Mita. Bagi Adrian, Mita tetap cantik seperti dulu saat masih sekolah. Bedanya sekarang wanita itu lebih matang dan berisi. Bahkan, lebih kalem dan pendiam. Padahal seingatnya, Mita itu dulu agak tomboy, ceria dan banyak bicara. Terutama bicara hal-hal lucu selalu keluar tak terduga dari mulutnya. Keadaan memang mampu mengubah seseorang, pikirnya.
Beberapa tahun silam, Adrian dan Rio memang satu divisi di salah satu perusahaan milik negara. Lalu, Rio naik jabatan menjadi supervisor dan pindah divisi. Jadi, mereka jarang bertemu kecuali jika sedang ada rapat bulanan yang meliputi seluruh divisi.
Suara ketukan di pintu membuat lamunan Adrian buyar. Ia menatap pintu tersebut. "Masuk."
Pintu terbuka dan muncul sebuah kepala yang nyengir padanya.
"Sibuk nggak, Pak?" Seorang perempuan bernama Tiara yang merupakan asistennya Adrian.
"Seperti biasa. Masuk aja," jawab Adrian singkat seperti biasa.
Tiara dengan ceria masuk menghampiri membawa sebuah berkas dipelukannya. Tiara sendiri lumayan terkenal di perusahaan karena selalu nampak cantik, seksi dan ramah kepada semua orang.
"Aku duduk ya," ucap Tiara yang langsung duduk di depan Adrian dengan batasan meja kerja.
Adrian masih fokus pada layar monitor. Padahal sebenarnya tidak ada pekerjaan yang penting di dalam layar tersebut. Namun, ia terlalu malas berinteraksi langsung dengan asistennya tersebut. Karena sebenarnya ia tahu, tidak ada pekerjaan yang penting yang harus dibahas. Itu hanya akal-akalan Tiara saja, supaya bisa ngobrol dengannya dengan santai. Berdalih ada pekerjaan penting.
Adrian sudah hapal betul tingkah perempuan centil di depannya itu. Ketika staf lain menganggap Tiara adalah cewek manis nan baik hati. Tidak berlaku dengan Adrian yang menilai Tiara berbanding terbalik dengan penilaian yang tercipta selama ini.
Sejak menjabat sebagai manajer divisi, lalu direktur memilih Tiara secara langsung menjadi asisten manajer. Adrian melihat gelagat yang kurang wajar dari cewek itu. Tetapi, Adrian selalu punya cara untuk menghindari asistennya tersebut.
"Waktu malam-malam habis ujan, aku lihat kamu di halte busway. Kayak lagi ngobrol sama cewek gitu. Siapa?" tanya Tiara penasaran.
Jari-jari Adrian berhenti sibuk ketika mendengar itu. "Jangan lancang. Kita di kantor, saya masih atasan kamu. Panggil saya Bapak. Kita harus punya batasan!"
Tiara terkekeh, "kamu kaku banget, Pak. Kita disini cuma berdua. Nggak akan ada yang dengar juga."
Adrian mendelik kesal dan tidak suka kalau urusan pribadinya diikut campurkan.
"Kalau bukan urusan kerjaan, kamu keluar aja. Saya sibuk!" Adrian kembali sibuk dengan layar monitor dan jari-jarinya sibuk mengetik apapun yang bisa ia ketik.
Terdengar helaan napas panjang dari Tiara. "Kamu jahat banget. Padahal kerjaan kita tuh udah beres. Nggak asyik deh, padahal mau diajak ngopi."
Adrian pura-pura tuli. Sepuluh tahun menduda, membuatnya trauma dekat dengan perempuan yang secara terang-terangan mendekatinya. Selama ini seperti itu, banyak perempuan cantik dan seksi mendekatinya, tapi bukannya ia tertarik, justru menjadi ilfeel. Adrian selalu memberikan batasan antara dirinya dan lawan jenis. Ia tidak mau terjebak lagi seperti dulu dengan mantan istrinya.
Makanya di perusahaan, Adrian diberikan penilaian yang agak negatif karena sikap dinginnya pada lawan jenis. Padahal ia melakukannya karena trauma dengan perempuan yang terang-terangan mendekatinya.
"Pak! Serius nih aku dicuekin!" sarkas Tiara.
"Saya sibuk. Silakan keluar kalau nggak ada kerjaan yang perlu dibahas!" Adrian bicara seperti itu, tanpa sedikitpun melirik padanya.
Kesal dicuekin, Tiara pun beranjak dari duduknya dengan menghentakkan kakinya berjalan keluar dari ruangannya Adrian. Pintu sedikit berdebum saat Tiara menutupnya.
"Kesel sendiri kan Lo!" gumam Adrian sambil tersenyum sinis.
Pria dengan tinggi hampir 180 senti itupun menyandarkan tubuhnya di kursi panasnya. Meregangkan otot-otot lehernya yang kaku. Ia melirik ke jendela kaca dan melihat senja hampir tiba. Pekerjaan semua sudah selesai, harusnya ia bisa pulang tepat waktu. Tapi, karena Tiara yang tiba-tiba muncul, membuat Adrian mencari alasan di depan monitornya. Ia juga yakin, jika staf diluar menunggu Adrian pulang duluan. Ia dihormati dengan status manajernya.
"Pura-pura beli puding aja kali ya?" Adrian kembali teringat Mita. Ia kalut sendiri. Baru kali ini perasaannya menggebu soal perempuan. Setelah sekian lama hatinya tertidur dengan rasa trauma. Kini seolah bangun dan mulai tercipta degup aneh yang menggelitik setiap mengingatnya.
Adrian mengambil gawainya dan mengetikkan sesuatu.
[ Adrian send chat : Mita, boleh tanya?]
Ia menunggu dengan gelisah pesanannya dibaca dan dibalas oleh Mita. Jantungnya berdegup lebih cepat. Bahkan sepertinya lebih cepat dibandingkan saat dirinya sedang nge-gym.
[ Mita Mahira : Ya, Dri. Ada apa?]
"Yes!" Adrian senang bukan main. Padahal hanya jawaban sepele tapi hatinya berbunga-bunga.
[Adrian : Puding di tempat kamu, apa banyak yang ready? Soalnya adik sepupu ulang tahun. Bingung mau kasih apa.]
Tiba-tiba saja Adrian jadi pintar mengarang. Bibirnya berkedut menahan senyum. Tangannya mengepal karena gugup saat pesannya dibaca. Rasanya ia seperti anak remaja yang sedang pubertas.
Panggilan dari Mita membuat Adrian terkejut dan hampir saja melempar ponselnya sendiri. Bukannya membalas pesannya, Mita justru membuat panggilan. Takut Mita menunggu lama, Adrian menjawabnya, dengan dada yang rasanya ingin meledak.
"Halo, Assalamualaikum, Ta?"
"Wa'alaikumsalam, Dri. Maaf ya, aku langsung telepon. Aku mau jelasin pertanyaan kamu tadi. Sebenarnya di tempat ku, banyak puding yang ready. Kamu bisa pilih sendiri, nanti aku siapkan ucapannya atau hiasan lainnya. Karena pudingnya masih polosan. Mau video aja?"
Tawaran Mita membuat Adrian menelan ludah secara kasar. "Bo-boleh."
Sialan, kenapa gue jadi gugup gini!
Mode panggilan pun berubah menjadi panggilan video. Adrian pikir Mita akan langsung mengarahkan kamera belakangnya untuk videokan puding di etalase. Ternyata kameranya masih menghadap kearahnya. Adrian terkejut tapi senang. Karena ia bisa melihat Mita yang tersenyum padanya.
"Hai, Dri." Mita melambaikan tangannya dan tersenyum manis. "Sebentar ya, kameranya aku ubah dulu. Kalau agak burem, maaf ya. Soalnya kameranya agak retak."
Adrian tersenyum senang, entah mengapa ia seperti ingin melompat kegirangan. "Iya, Ta. Santai aja. Kamera depan aja juga nggak apa-apa." Biar aku bisa lihat kamu terus! Eh, apaan sih gue.
Kamera akhirnya berubah dan menampilkan etalase yang memajang macam-macam puding. Bentuknya menarik dan membuatnya bingung sendiri.
"Ehmm... Rekomendasi dong, Ta," ujar Adrian.
"Hmm, ponakannya usia berapa, Dri?"
Waduh, usia berapa ya? Adrian bingung sendiri. Jangankan ponakan, kakak dan adik kandung aja dia nggak punya.
Adrian ingat kalau bibi yang suka bersih-bersih rumahnya punya anak kecil.
"10 tahunan kayaknya," dustanya.
"Oh, ehm, yang coklat ini enak. Nggak terlalu manis. Ada dua saus fla, coklat dan vanila."
"Ya udah yang itu aja." Adrian menjawabnya terlalu cepat. Padahal tadi dia sendiri yang minta direkomendasikan.
"Oke. Mau kirim alamatnya, nanti biar aku kirim," ujar Mita. Kini kameranya sudah kembali dengan kamera depan dan menampilkan wajah Mita yang segar karena makeup.
"Ee-aku ambil aja, Ta. Kebetulan aku ada janji sama klien di Gatsu. Nanti aku mampir ke toko." Adrian tersenyum senang. "Mau aku transfer aja uangnya?"
"Kalau kamu mau ambil, nanti aja bayarnya di sini," jawab Mita.
"Oke, aku ke sana. Bye, Ta. Assalamualaikum."
"Bye, wa'alaikumsalam."
Panggilan video selesai dan tiba-tiba Adrian tersadar, "Kan gue bilang buat sepupu. Kenapa jadi buat ponakan? Aduh, Mita sadar nggak ya?" Senyuman di bibirnya seketika lenyap. Diganti rasa cemas yang memalukan.
{}