Perang antara manusia dan iblis telah mencapai titik terburuk.
Kerajaan Beltrum berada di ambang kehancuran setelah kalah dari sihir suci Zetobia.
Dalam keputusasaan, mereka melakukan sesuatu yang tabu
memanggil manusia dari dunia lain.
Zeta, seorang mahasiswa biasa, tiba-tiba terseret ke dunia asing yang dipenuhi sihir dan darah.
Bukan sebagai pahlawan manusia…
melainkan harapan terakhir bagi bangsa iblis.
Namun satu pertanyaan besar muncul akankah ia menjadi penyelamat… atau justru kehancuran bagi kedua dunia?
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Agung Noviar, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
BAB 3 TUMBAL MATA SANG LEGENDA
Selanjutnya menuju ruangan mata Naha Langkah kaki Jenderal Lytia bergema di lorong yang semakin menyempit dan menurun. Zeta mengikuti di belakang dengan perasaan was-was. Semakin jauh mereka melangkah, suhu udara terasa merosot tajam. Obor obor di dinding tidak lagi menyala dengan api oranye, melainkan api biru pucat yang tidak memberikan kehangatan.
"Sial... kita mau ke mana sih? Kenapa lorong ini gelap banget?" bisik Zeta, suaranya bergetar.
Keheningan lorong itu tiba-tiba pecah oleh suara geraman rendah dan pekikan melengking yang tertahan dari balik dinding batu. Suara itu terdengar seperti ribuan makhluk yang sedang disiksa.
"L-Lytia! Kamu denger itu? Suara monster apa itu?!" Zeta berhenti melangkah, bulu kuduknya berdiri tegak.
Lytia menoleh sedikit, matanya berkilat di kegelapan. "Diamlah. Jangan menjadi pengecut sebelum ritual dimulai. Kita sedang menuju ruangan Mata Naha."
Mereka sampai di depan sebuah pintu besi raksasa dengan ukiran rantai yang melilit. Saat Lytia mendorong pintu itu, sebuah gelombang tekanan udara yang sangat berat menghantam Zeta.
**DEG!**
Jantung Zeta seolah diremas. Ia jatuh berlutut, napasnya memburu. Perutnya mual luar biasa seolah-olah ia baru saja turun dari komidi putar selama sepuluh jam.
"Sialan... kenapa... tekanan ini berat banget?" Zeta terengah-engah, nyaris memuntahkan isi perutnya. "Aku pengen muntah... apa mata itu beneran sekuat itu?"
"Iya," jawab Lytia pendek sambil berjalan santai menembus tekanan itu. "Itu adalah artefak legenda. Tapi sampai sekarang, belum ada satu pun raja iblis yang bisa mengendalikan kekuatannya sepenuhnya."
Zeta mendongak dengan wajah pucat pasi. "Hah? Kalau gitu berarti aku cuma jadi bahan uji coba dong? Apa mata itu bisa... ngerebut nyawa ku?"
Lytia mendengus remeh. "Tidak, bodoh. Dia tidak akan mengambil nyawamu secara langsung. Jika kau tidak cocok, mata itu hanya akan mengamuk dan mengambil alih tubuhmu menjadikanmu monster tanpa akal. Atau, bisa juga tidak terjadi apa-apa sama sekali, seperti yang terjadi pada Raja kami."
Zeta teringat sesuatu.saat pertama kali ia tiba. "Oh iya... pas kalian manggil ku, aku sempat liat mata kiri Raja Iblis ditutup kain hitam. Ada apa sebenarnya sama dia?"
Lytia menyeringai tipis, sebuah senyuman yang terlihat sangat berbahaya. "Hehehe... kau akan tahu yang sebenarnya sebentar lagi. Cepat kemari!"
"Cih, baiklah!"
Lytia tidak membuang waktu. Ia langsung merapalkan mantra terlarang. Lingkaran sihir berwarna hitam pekat muncul di bawah kaki Zeta, mengunci gerakannya.
"Tunggu! Lytia! Apa-apaan ini?!"
Lytia mengeluarkan sebuah pisau kecil yang dialiri sihir perak. "Tahan sedikit, Zeta. Ini akan terasa sedikit... menyengat."
"SIAL! SIALAN! KAU MAU NYONGKEL MATA KU! KAU BENERAN MAU BUNUH AKU! AAAAAAAAAAAKKKKK!!!"
Teriakan Zeta pecah, melengking membelah kesunyian istana bawah tanah. Suara itu begitu memilukan hingga Putri Stella yang baru saja memasuki lorong menuju ruangan itu tersentak kaget dan berlari kencang.
Beberapa menit kemudian, ruangan itu kembali hening. Zeta terengah-engah di lantai, tubuhnya basah kuyup oleh keringat dingin. Ia meraba-raba wajah sebelah kirinya dengan tangan gemetar.
"Mata ku.. mata ku masih ada?" bisiknya nanar.
"Lihatlah, Zeta. Mata kirimu sudah digantikan oleh Mata Naha," ucap Lytia datar.
Zeta meraba kelopak matanya. Terasa ada sesuatu yang berdenyut di dalam sana, memberikan penglihatan yang berbeda semuanya tampak memiliki aliran energi berwarna-warni.
"Iya, bener... tapi bentar," Zeta mendadak panik. "Mata asli ku bisa balik lagi nggak? Nggak mungkin kan aku balik ke dunia asal ku dengan mata aneh kayak gini? Temen-temen ku bakal ngira ku pemuja setan!"
Tepat saat itu, Putri Stella masuk ke ruangan dengan napas terengah-engah. Ia menatap Zeta dengan tatapan bersalah.
Lytia menoleh ke arah Sang Putri, lalu kembali menatap Zeta. "Sebenarnya... mata kirimu yang asli sudah 'ditumbalkan' untuk menjadi wadah Mata Naha itu, Zeta. Itu adalah bayaran mutlak. Hehehe... itulah sebabnya Raja menutupi mata kirinya dengan pelindung khusus. Karena di balik kain itu, matanya sudah hilang.
Zeta membeku. Keheningan menyergap sesaat sebelum ia meledak.
"AAAAAAAAAAAAA!!! SERIUSAN?! SIALAN! AKU BENERAN CUMA BAHAN PERCOBAAN!" teriak Zeta frustrasi, suaranya bergema memenuhi ruangan bawah tanah yang dingin itu.
Zeta masih terduduk di lantai, tangannya menutupi mata kirinya yang kini terasa panas. Suasana di ruangan itu mendadak sunyi, hanya menyisakan napas Zeta yang memburu.
Putri Stella melangkah mendekat, wajahnya tampak sangat menyesal. "Maafkan kami, Zeta... kami benar-benar belum sempat memberitahumu soal risiko kehilangan mata aslimu."
Zeta tertawa getir, suaranya terdengar parau. "Benar-benar ya... kalian sudah memanggil ku secara paksa dan sekarang kalian mengambil mata ku juga secara paksa."
"Maaf, Zeta. Sekali lagi aku minta maaf," Stella menunduk dalam, matanya berkaca-kaca. "Kami hanya ingin melindungi kerajaan dan masyarakat kami. Kami sudah putus asa."
Zeta terdiam sejenak melihat ketulusan di wajah Stella. Ia menghela napas panjang, lalu sebuah senyum tipis entah ikhlas atau sekadar pasrah muncul di bibirnya.
"Baiklah, nggak apa-apa, Putri Stella. Aku paham perasaan mu. aku juga bakal ngelakuin apa aja buat orang-orang yang ku sayang," ucap Zeta pelan.
Mendengar itu, Jenderal Lytia yang sedari tadi bersikap keras pun ikut melunakkan tatapannya. "Zeta... aku juga minta maaf atas kekasaran tadi. Sekarang, katakan padaku, apa yang kamu rasakan dengan mata itu?"
Zeta mencoba membuka mata kirinya perlahan. Pupilnya kini berwarna ungu pekat dengan pola garis-garis emas yang halus. "Nggak terjadi apa-apa yang luar biasa sih... tapi, aku kayak bisa melihat aliran energi sihir di sekitar sini. Cuma ya... masih samar-samar, nggak jelas juga."
Lytia dan Stella saling pandang dengan raut kecewa.
"Sepertinya memang benar," gumam Stella lesu. "Mata ini memang tidak pernah ada yang cocok untuk dipakai. Mungkin legenda itu hanya mitos."
Lytia mendengus, menyilangkan tangan di depan dadanya. "Cih, apakah sebenarnya Mata Naha ini cuma bohong saja? Artefak sampah yang cuma bikin orang buta?"
BRAKKKK!
Tiba-tiba, sebuah guncangan hebat melanda ruangan itu. Langit-langit batu di atas mereka retak akibat tekanan sihir sisa ritual yang terlalu besar. Sebuah bongkahan tembok raksasa runtuh tepat di atas posisi Putri Stella berdiri!
"Putri, awas!" teriak Lytia, namun ia berada terlalu jauh untuk menjangkau Stella.
Dalam pandangan Zeta, dunia seolah melambat. Ia melihat jalur jatuhnya batu itu dengan garis cahaya merah yang sangat jelas. Tanpa berpikir, kakinya bergerak lebih cepat dari biasanya.
SET!!
Zeta menarik lengan Stella dan memeluknya, membawa sang putri berguling menjauh tepat sebelum batu itu menghantam lantai dengan dentuman keras.
"U-untung saja... terima kasih, Zeta," Stella terengah-engah di pelukan Zeta, wajahnya memerah karena terkejut sekaligus malu.
Zeta berdiri sambil menggarap kepalanya yang tidak gatal. "Aku juga bingung... entah gimana, aku tadi bisa melihat pergerakan benda itu dengan sangat jelas, padahal jatuhnya cepet banget."
Mata Lytia langsung membelalak. "Jangan-jangan... bentar, Zeta!"
Tanpa aba-aba, Lytia melesat maju. Tinjunya yang dilapisi zirah besi meluncur cepat ke arah wajah Zeta. Itu adalah serangan mendadak yang sanggup meremukkan tulang manusia biasa.
PLAK!!!
Secara refleks, tangan kanan Zeta terangkat dan menangkis pergelangan tangan Lytia dengan presisi yang sempurna.
"Apa yang mau kamu lakukan, Jenderal Lytia?!" tanya Zeta dengan nada tinggi. Lytia bukannya marah, malah tertawa lebar. Tawa yang penuh kemenangan.
"Wah, wah... sepertinya mata itu bekerja!" seru Lytia penuh semangat. "Mata Naha bukan soal ledakan sihir besar, tapi kemampuan untuk membaca. Dia membaca gerakan lawan, arah serangan, bahkan lintasan benda jatuh sebelum hal itu terjadi!"
Lytia menepuk bahu Zeta dengan keras hingga pemuda itu hampir terjungkal.
"HAHAHAHA! Selamat, Zeta! Kau bukan lagi manusia biasa yang lemah. Sekarang, kau sudah menjadi Manusia Setengah Iblis yang pertama di dunia ini!"
Zeta melihat telapak tangannya sendiri. Ia bisa merasakan aliran kekuatan baru yang dingin namun tenang mengalir dari mata kirinya ke seluruh saraf tubuhnya.
"Jadi... Aku sudah menjadi setengah iblis?" gumam Zeta.
cerita awal lumayan good, pantas untuk like dan hadiah 👍