Shafiya Elara Hanum, namanya. Ia tidak pernah menyangka hidupnya akan berakhir dalam sebuah pernikahan dengan pria yang tak pernah benar-benar menjadi suaminya.
Ia adalah putri seorang kiai.
Dibesarkan dengan kehormatan dan batasan.
Namun satu kesalahan yang tidak ia lakukan, telah merenggut segalanya. Pernikahannya batal. Nama baik keluarganya ikut hancur, dan ia pun terseret ke dalam ikatan dengan SAGARA ADINATA.
Pewaris tunggal keluarga Adinata.
Seorang pria yang dingin. Tegas. Dan tidak percaya pada pernikahan.
Mereka menikah tanpa cinta.
Tanpa keinginan. Tanpa sentuhan.
Namun satu hal mengikat mereka--Seorang anak yang tumbuh di rahim Shafiya…
anak yang bahkan tidak pernah mereka rencanakan.
Di balik hubungan yang datar dan penuh jarak, rahasia demi rahasia mulai terkuak.
Dan perlahan, batas yang mereka jaga mulai goyah.
Mampukah mereka bertahan dalam pernikahan yang bukan hanya sekedar kesepakatan?
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon najwa aini, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab 3. Sagara. Membawa Wibawa Yang Tak Biasa.
Bab 3. Sagara. Membawa Wibawa Yang Tak Biasa.
****
Di luar ruangan, Winda dan dua orang yang lain masih menunggu. Diam tak menyela, meski pembicaraan di dalam sudah ditangkap dengan sempurna. Namun di balik itu, laporan sudah dikirimkan. Sesuai peraturan, tentang apa pun yang terjadi pada Shafiya, satu pun tak boleh luput dari pengawasan.
Beberapa saat berlalu.
Koridor di depan ruang rawat itu masih sama. Panjang dan sunyi.
Namun kali ini terdengar suara langkah yang terasa berbeda.
Langkah yang Terukur. Mantap. Dan tidak tergesa--tapi tidak memberi ruang untuk diabaikan.
Winda yang berdiri di dekat pintu lebih dulu menyadari. Tubuhnya langsung sedikit menegang. Refleks.
"Tuan."
Sagara yang datang.
Dua petugas lain otomatis menyesuaikan posisi.
Pintu ruangan yang sebelumnya setengah tertutup… kini terbuka penuh. Sagara masuk.
Tidak ada yang berlebihan dari penampilannya.
Namun justru itu yang membuatnya sulit diabaikan.
Beberapa orang di dalam ruangan tanpa sadar menghentikan percakapan.
Pandangan mereka tertuju pada satu sosok yang asing--namun membawa wibawa yang tidak biasa.
Di sudut ruangan, seseorang bahkan tanpa sadar membenahi duduknya.
Yang lain saling melirik singkat.
Seolah bertanya dalam diam--siapa dia?
Namun sebenarnya tanpa diperkenalkan pun, semua orang tahu, ia bukan orang biasa.
Shafiya menoleh. Terhenyak sesaat.
Ia tak mengira, Sagara akan datang. Namun juga tidak bertanya.
Sagara juga tidak langsung melihat Shafiya. Pandangannya lurus ke ranjang perawatan. Melangkah mendekat, dan berhenti pada jarak yang diukur.
“Bagaimana kondisi beliau?”
Suasana sempat hening sekejap.
Beberapa orang saling berpandangan, sebelum akhirnya salah satu keluarga menjawab pelan.
“Alhamdulillah… sudah lebih baik.”
Sagara mengangguk singkat. Dan tidak ada pertanyaan lanjutan.
Di atas ranjang, Kyai Fakih perlahan membuka mata. Pandangan beliau langsung jatuh pada sosok yang berdiri di sana.
Tidak butuh waktu lama. Beliau mengenalnya.
“Terima kasih… sudah datang.”
Kalimat itu sederhana.
Namun nadanya hangat--meski tidak sepenuhnya ringan. Dan itu cukup menjadi perhatian semuanya. Mendatangkan tanda tanya yang kian besar.
Sagara tak menjawab dengan kata. Hanya anggukan singkat. Pandangannya lalu bergeser ke Shafiya.
“Sudah selesai?”
Shafiya mengangguk pelan.
“Sudah.” Interaksi singkat. Namun terkesan berbeda.
Di sudut ruangan--Gus Ilzam memperhatikan dalam diam. Tanpa ekspresi yang berubah.
Namun matanya… tidak lagi terlihat tenang.
Suasana hening penuh tanda tanya itu selesai, ketika terdengar langkah mendekat dari koridor.
Tak lama pintu kembali terbuka.
Dokter Raka Pradipta masuk.
Dokter kepala Adinata Medical Center itu ditemani dua orang dokter yang lain. Salah satunya dokter ruangan yang menangani kyai Fakih.
Mereka hadir di luar jam kunjungan dokter, membuat semua serempak berdiri. Beberapa malah memberi celah untuk dokter memeriksa pasien.
Namun, langkah mereka hanya berhenti di tengah ruangan. Dan tatapan dokter Raka hanya tertuju pada Sagara.
“Kalau mau datang, harusnya kabarin dulu.”
Nadanya terdengar tidak canggung. Tapi tidak sepenuhnya akrab.
“Tidak sempat.” Jawaban Sagara singkat.
Raka menghela napas pendek. Nyaris tak terdengar. Terlalu paham dengan mode interaksi Sagara yang terlalu minim kata.
Keduanya berteman. Namun di beberapa tempat mereka tetap bersikap profesional.
“Maaf baru bisa ke sini,” ucap dokter Raka, kali ini lebih formal. “Baru dapat laporan, kalau Anda datang." Ia melanjutkan. Lalu melirik sekilas ke arah Kyai Fakih, kemudian ke Shafiya.
“Dokter yang pegang langsung ada di sini,” katanya lagi, memberi isyarat pada rekannya.
Dokter di sampingnya maju sedikit. Mengangguk singkat ke Sagara. Gestur menghormati yang tertangkap pandangan semuanya.
Dokter itu kemudian Menjelaskan kondisi Kyai Fakih secara singkat tapi jelas.
Sagara mendengarkan dalam diam.
Namun fokusnya utuh.
“Pastikan penanganannya maksimal," ujarnya kemudian. Bukan sekedar saran. Tapi keputusan.
Raka mengangguk. “Baik." Kali ini tanpa basa-basi. Jawabannya singkat, tapi penuh jaminan.
“Kalau ada perubahan, saya yang akan handle langsung.” Ia menambahkan.
Beberapa orang di ruangan itu kembali saling berpandangan. Mereka kini paham, ternyata kedatangan dokter kepala dan dua dokter yang lain, bukan untuk visit pasien. Tapi untuk menyambut satu orang.
Sagara. Yang sampai saat ini masih asing bagi mereka. Kenapa pria sekelas itu bisa berada di ruangan ini.
"Dan untuk keluarga--" Sagara memotong ucapannya. Pandangan itu tertuju pada beberapa orang yang ada di ruangan. Bukan pada Shafiya.
Ilzam maju setengah langkah.
"Saya yang mendampingi sejak awal," katanya. Memang Ilzam yang berinisiatif membawa kiai Fakih ke rumah sakit. Saat itu ketika ia berkunjung, didapatinya ayah Shafiya itu sedang tidak baik-baik saja. Kondisinya lemah, namun tetap berusaha kuat.
Ilzam merasa itu bukan kondisi yang bisa dibiarkan. Ia membujuk kiai Fakih untuk berobat. Tapi dokter menyarankan untuk rawat inap.
Sagara mengalihkan pandangan sepenuhnya pada Ilzam.
"Pastikan beliau tidak terlalu banyak menerima tamu." Terdengar seperti instruksi umum yang wajar, dan masuk akal. Namun pandangannya tidak bergeser dari Ilzam--seperti sedang membaca, atau menilai.
Ilzam mengangguk.
"Hal itu sudah kami atur." Jawabannya sama tenang.
Di sisi lain, Shafiya tetap diam.
Namun kali tatapannya berlabuh pada dua orang di sana silih berganti.
"Elara." Sagara menyebut satu nama.
Ia terbiasa memanggil Shafiya dengan nama itu.
"Ya." Shafiya mendongak.
"Pulang sekarang."
Itu bukan ajakan, tapi keputusan.
Shafiya diam sejenak. Menatap abinya, lalu maju satu langkah. "Saya masih ingin di sini. Temani abi."
Sagara tak langsung menjawab. Tapi tatapannya jelas, ia tidak suka ditolak.
"Shafa." Kyai Fakih bersuara lirih.
Shafiya menoleh.
"Patuh pada suami."
ucapan yang tidak keras dan menekan.
Tapi kalimat itu jatuh dengan jelas… tanpa memberi ruang ruang untuk disalah artikan.
Hening.
Tidak ada yang langsung berbicara.
Namun beberapa pasang mata, arahnya mulai berpindah--dari Kyai Fakih… ke Shafiya… lalu berhenti pada satu sosok. Sagara.
"Suami…?"