NovelToon NovelToon
JENDERAL PEMANAH LANGIT : DENDAM DIATAS LUKA DESA

JENDERAL PEMANAH LANGIT : DENDAM DIATAS LUKA DESA

Status: sedang berlangsung
Genre:Fantasi Timur / Balas Dendam / Identitas Tersembunyi
Popularitas:714
Nilai: 5
Nama Author: Diah Nation29

No plagiat 🚫

Jenderal Pemanah Langit : Dendam Di Atas Luka Desa

Dalam semalam, hidup Song Yuan hancur. Desa Songjia dibumihanguskan, meninggalkan 130 nyawa bersimbah darah, termasuk ayahnya, sang Jenderal besar, dan ibunya dari klan bangsawan Bai. Song Yuan yang sekarat dengan anak panah di dada, terpaksa menelan pahitnya pengkhianatan.

Berbekal dua lencana rahasia dan bimbingan sadis dari Mo Chen, si "Ular Hitam", Song Yuan bangkit dari abu kehancuran. Tanpa senjata, ia menempa raga di hutan monster untuk menuntut balas.

Akankah sang pewaris klan Song kembali sebagai pahlawan, atau iblis yang haus darah?

"Setiap embusan napas musuhku adalah utang nyawa yang harus dibayar lunas!"

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Diah Nation29, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Jejak Sang Pemburu

Kabut tebal masih menyelimuti dasar lembah ketika Song Yan menyampirkan busur besarnya di bahu. Di sampingnya, Song Yuan berjalan dengan langkah yang sedikit diseret. Matanya masih bengkak karena kurang tidur, tapi ada binar kegembiraan yang tertahan. Di punggung kecilnya, sebuah busur kayu ringan milik ibunya terasa sangat pas—sebuah "hadiah" karena ia berhasil mengenai sasaran jerami tiga kali berturut-turut tadi subuh.

"Jaga jarakmu, Yuan-er. Jangan melangkah di atas daun kering. Suara kresek kecil darimu adalah lonceng kematian bagi buruan kita," bisik Song Yan. Suaranya rendah, hampir menyatu dengan desis angin hutan.

Mereka mulai memasuki Hutan Larangan, wilayah yang biasanya dihindari oleh penduduk Desa Songjia karena kabarnya banyak monster yang bersembunyi di sana. Namun bagi Song Yan, hutan ini hanyalah halaman belakang.

"Ayah, kenapa kita harus jauh-jauh ke sini? Di pinggir desa kan banyak ayam hutan," bisik Yuan sambil berusaha berjinjit agar tidak menginjak ranting patah.

Song Yan berhenti mendadak, membuat Yuan hampir menabrak punggungnya yang keras seperti batu. Pria itu berjongkok di tanah yang lembap, menunjuk ke sebuah lubang dangkal dengan bekas cakaran di sisinya.

"Ayam hutan tidak akan melatih instingmu. Lihat ini. Ini jejak Babi Hutan Taring Besi. Dia baru lewat sepuluh menit yang lalu. Lihat arah jatuhnya tanah di pinggir jejaknya," jelas Song Yan. Kegalakannya tadi pagi berganti menjadi ketenangan seorang guru yang sabar.

Yuan ikut berjongkok, hidungnya hampir menyentuh tanah. "Baunya... amis, Yah."

"Itu bau predator. Sekarang, kau yang memimpin di depan. Ikuti jejak ini tanpa membuat suara. Jika kau berhasil menemukannya sebelum dia menyadari keberadaan kita, aku akan mengizinkanmu beristirahat seharian besok."

Mendengar kata "istirahat", semangat Yuan langsung meledak. Ia mulai bergerak maju dengan sangat hati-hati. Tangannya memegang busur kecilnya dengan erat. Setiap langkah ia perhitungkan. Ia belajar merasakan arah angin dari bulu kuduknya, persis seperti yang diajarkan ayahnya.

Setelah hampir satu jam mengendap-endap di antara pohon-pohon raksasa, Yuan tiba-tiba membeku. Di balik semak belukar yang rimbun, seekor babi hutan raksasa dengan dua taring perak yang mencuat ke atas sedang asyik mengoyak akar pohon. Ukurannya hampir sebesar kerbau kecil.

Yuan menelan ludah. Jantungnya berdegup kencang, suaranya terdengar seperti genderang perang di telinganya sendiri. Ia melirik ayahnya yang berdiri beberapa langkah di belakangnya dengan tangan bersedekap, tidak ada niat untuk membantu.

"Fokus ke napasmu, bukan ke rasa takutmu," kata-kata ayahnya terngiang kembali.

Yuan mengambil satu anak panah dari tabungnya. Tangannya sedikit gemetar saat memasang ekor panah ke tali busur. Ia membidik bagian leher babi hutan itu—titik paling mematikan yang pernah ditunjukkan ayahnya dalam gambar di tanah.

Sret... Yuan menarik tali busurnya. Kali ini, latihan "siksa" kuda-kuda kemarin terasa manfaatnya. Kakinya kokoh menapak di tanah, tangannya tidak lagi goyah karena sudah terbiasa menahan beban baskom air.

Wusss!

Anak panah meluncur membelah udara pagi. Namun, tepat saat anak panah itu hampir mengenai sasarannya, babi hutan itu bergerak sedikit untuk mengendus tanah. Panah Yuan hanya menyerempet telinganya!

"GROOARR!"

Babi hutan itu berbalik dengan mata merah penuh kemarahan. Ia melihat Yuan yang masih memegang busur dengan wajah pucat pasi. Tanpa pikir panjang, monster itu menyeruduk ke arah Yuan dengan kecepatan tinggi.

"AYAH! DIA MARAH, YAH!" teriak Yuan sambil lari terbirit-birit mencari perlindungan di balik pohon.

Song Yan tidak bergerak. Ia malah memanjat sebuah dahan rendah dengan santai. "Lari tidak akan menyelesaikan masalah, Yuan-er! Gunakan busurmu! Dia punya titik buta saat menyeruduk!"

"AYAH TEGA BANGET!" Yuan menjerit sambil menghindari serudukan pertama yang menghancurkan pohon kecil di sampingnya.

Dalam keadaan terdesak, insting bertahan hidup Yuan bangkit. Ia ingat latihan ayahnya tentang "ketenangan di tengah badai". Sambil berlari memutar, Yuan menarik napas dalam-dalam. Begitu babi hutan itu bersiap untuk serangan kedua, Yuan tidak lari. Ia justru berlutut satu kaki, membidik dengan sangat cepat saat babi itu sedang dalam posisi lari lurus.

Crak!

Anak panah kedua menancap tepat di mata kiri babi hutan tersebut. Hewan itu melengking kesakitan, terguling-guling di tanah sebelum akhirnya diam tak berkutik.

Yuan berdiri dengan kaki lemas. Napasnya memburu. Ia menatap tangannya sendiri yang memegang busur. Dia... dia baru saja membunuh monster pertamanya?

Song Yan melompat turun dari pohon. Ia berjalan mendekati bangkai babi hutan itu, lalu menepuk pundak anaknya. Tepukan yang kali ini terasa hangat, bukan keras.

"Bidikan yang bagus, meski teriakanmu tadi memalukan leluhur klan Song," ucap Song Yan dengan senyum tipis yang tulus. "Tapi kau berhasil tetap tenang di detik terakhir. Itu yang paling penting."

Mereka duduk di pinggir sungai kecil di tengah hutan untuk membersihkan hasil buruan. Song Yan mengeluarkan sebilah pisau kecil dan mulai mengajari Yuan cara menguliti hewan dengan benar.

"Ayah," panggil Yuan sambil mencuci tangannya yang terkena darah. "Kenapa Ayah selalu melatihku seolah-olah besok akan ada perang? Apa kita tidak bisa selamanya di desa saja?"

Song Yan terdiam lama. Ia menatap pantulan dirinya di air sungai yang jernih. Pantulan seorang pria yang pernah mengenakan armor emas, kini hanya mengenakan kain rami.

"Yuan-er, dunia ini luas. Terkadang, meskipun kau tidak mencari masalah, masalahlah yang akan mencarimu karena siapa dirimu sebenarnya. Aku melatihmu bukan agar kau menjadi pembunuh, tapi agar kau tidak menjadi korban."

Song Yan mengambil sebuah benda kecil dari sakunya—sebuah lencana kayu sederhana yang diukir sendiri. "Ini untukmu. Anggap saja ini tanda kalau kau sudah resmi menjadi pemburu Desa Songjia."

Yuan menerima lencana itu dengan bangga, tanpa tahu bahwa itu adalah replika dari lencana asli yang disembunyikan ibunya.

Sore itu, mereka pulang dengan membawa daging babi hutan yang melimpah. Yuan berjalan di depan dengan dada membusung, merasa seperti pahlawan paling hebat seantero desa. Di belakangnya, Song Yan menatap punggung anaknya dengan tatapan sendu.

"Dia sudah siap untuk latihan tingkat lanjut, Lanyue," bisik Song Yan pada angin hutan. "Tapi aku berharap, dia tidak akan pernah benar-benar harus menggunakan ilmu ini untuk membalas dendam."

Malam itu, Desa Songjia berpesta kecil merayakan hasil buruan Yuan. Aroma daging panggang memenuhi udara. Namun, jauh di kegelapan hutan, mata-mata berbaju hitam itu semakin mendekat. Mereka telah melihat aksi Yuan tadi pagi, dan mereka tahu, darah Jenderal Song Yan benar-benar mengalir deras di nadi anak itu.

"Besok pagi," bisik si pemimpin bertopeng baja. "Saat mereka paling lengah setelah berpesta."

Takdir telah mengunci targetnya.

Pesta kecil itu berlangsung hangat di halaman rumah kayu keluarga Song. Xiao Hu dan beberapa penduduk desa lainnya datang membawa tuak nira dan sayuran segar sebagai pendamping daging babi hutan hasil buruan Yuan. Gelak tawa pecah saat Yuan menceritakan dengan penuh drama bagaimana ia hampir "dilahap" oleh babi hutan itu sebelum akhirnya melepaskan tembakan legendarisnya.

"Secara logika, Xiao Hu, kalau aku telat satu detik saja, mungkin kau sekarang sedang memakan dagingku, bukan daging babi ini!" seru Yuan sambil tertawa lebar, memamerkan lencana kayu barunya.

Lanyue tersenyum melihat putranya, namun tangannya yang memegang piring terus bergetar. Ia berkali-kali melirik ke arah Song Yan yang duduk di sudut bale-bale, tidak menyentuh makanannya sama sekali. Song Yan hanya menatap api unggun dengan mata yang kosong, seolah-olah ia sedang melihat pemakaman massal di dalam nyala api tersebut.

"Makanlah, Yan-ge. Jangan biarkan Yuan curiga," bisik Lanyue saat mendekat.

"Rasanya hambar, Lanyue. Udara malam ini terlalu bau besi," sahut Song Yan pelan. Ia berdiri, lalu menepuk bahu Yuan yang sedang asyik bercanda. "Cukup mainnya, Yuan-er. Masuk dan tidurlah. Besok pagi kita harus mulai latihan lebih awal."

"Ayah, ayolah! Satu ubi lagi saja!" pinta Yuan.

"Masuk," perintah Song Yan dengan nada yang tidak bisa dibantah.

Melihat kegalakan ayahnya kembali, Yuan cemberut dan masuk ke dalam rumah. Satu per satu tetangga pamit pulang, meninggalkan kesunyian yang mencekam di Desa Songjia. Lampu-lampu minyak dipadamkan. Api unggun mulai mengecil, hanya menyisakan bara merah yang berdenyut.

Di tengah kegelapan, pemimpin bertopeng baja itu memberi isyarat tangan. Puluhan bayangan hitam bergerak secepat kilat, mengepung setiap sudut desa dengan botol-botol berisi minyak tanah dan obor yang siap dinyalakan.

"Tuan," bisik salah satu bawahan. "Bagaimana dengan anak itu? Apakah kita harus membawanya hidup-hidup?"

Si Pemimpin menatap rumah kayu keluarga Song dengan kebencian yang sudah dipendam selama lima belas tahun. "Kaisar ingin lencananya. Tapi aku? Aku ingin melihat keturunan Song Yan merangkak di tanah sebelum kepalanya aku tebas. Bakar semuanya. Biarkan mereka terbangun di dalam neraka."

Malam itu, Song Yuan tertidur dengan senyum di bibirnya, memegang lencana kayu buatannya sendiri. Ia bermimpi akan menjadi pemburu hebat yang dihormati desa. Ia tidak tahu bahwa dalam beberapa jam lagi, lencana kayu itu akan terbakar, dan desa yang ia cintai akan menjadi kuburan masal bagi orang-orang yang baru saja tertawa bersamanya tadi sore.

Fajar yang akan datang bukan membawa cahaya matahari, melainkan cahaya api kematian.

1
HarusameName
namanya yang bener yang mana, bang?
Devilgirl: Yuan-er panggilan khusus ayah ke anaknya dalam gaya wuxia...kalau secara langsung panggilan sayang julukan
total 3 replies
Devilgirl
Hai,readers mampir sini dong!!
"Mereka bilang aku anak baik, tapi mereka tidak tahu hobi malamku. Menghitung detak jantung musuh dari kejauhan adalah melodi favoritku. Aku tidak butuh mendekat untuk menghancurkanmu; aku hanya butuh satu tarikan napas dan satu anak panah untuk mengaudit dosamu. Berani lari? Panahku jauh lebih cepat dari rasa takutmu!" 🏹💨😏
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!