Para dewa tidak membawa kedamaian-mereka membawa penindasan.
Di bawah kekuasaan Vasilias, langit menginjak manusia tanpa ampun. Ketika Dewa Matahari sejati dijatuhkan dan seorang wanita manusia dibunuh demi menjaga "kemurnian", seorang anak lahir dari pengkhianatan.
Setengah dewa. Setengah manusia.
Dan penuh dendam.
Dengan api matahari dalam darahnya, ia bangkit untuk memburu para dewa-termasuk pewaris palsu langit, Filius.
Namun semakin dekat pada balas dendam, ia mulai menyadari:
Tidak semua dewa layak dibunuh.
Dan tidak semua manusia layak diselamatkan.
Ketika langit mulai retak, satu pertanyaan tersisa-
Apakah ia akan menghancurkan para dewa...
atau menjadi yang paling kejam di antara mereka?
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Franzzz, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
(ARC 1) Chapter 33: Illusionary Fog
Langit malam mulai turun sepenuhnya.
Cahaya merah dari api desa bercampur dengan kilatan petir biru yang menyambar di antara awan hitam. Asap pekat menggulung ke udara, menelan sisa warna senja yang perlahan mati.
Rumah-rumah masih terbakar.
Jeritan masih terdengar.
Dan di tengah kehancuran itu—
Grachius masih belum berhasil menjatuhkan Oriens.
CLAAANG!
Enjin bertemu dengan tombak petir.
Percikan biru meledak di udara.
Grachius terdorong mundur beberapa meter, kakinya menggores tanah desa yang retak dan hangus. Luka tipis terbuka di lengannya. Darah mengalir pelan, namun ia tidak menatapnya.
Di depannya, Oriens melayang ringan di antara kabut biru.
Pakaian putih-birunya bergerak seolah tidak tersentuh angin. Rambut birunya berkilau setiap kali petir menyala di langit.
Ia tersenyum.
“Lambat.”
Grachius melesat.
Tanah pecah di bawah kakinya.
Enjin menebas vertikal.
Namun tubuh Oriens bergeser tipis.
Tebasan itu hanya membelah kabut.
“Dan terlalu mudah ditebak.”
Dari belakang Grachius, lingkaran sihir biru terbentuk.
BZZZT!
Tombak petir melesat.
Grachius memutar tubuh dan menangkisnya dengan Enjin.
CLANG!
Petir terpental dan meledak di atap rumah yang sudah terbakar.
Namun dua bola petir muncul dari sisi kanan.
Satu dari kiri.
Grachius menunduk, menghindari yang pertama, lalu memotong bola petir kedua dengan Enjin. Ledakan menyapu tubuhnya, membuat bahunya berasap.
Ia tetap maju.
Oriens menghilang dalam kabut.
Grachius menebas ke arah kabut itu.
Kosong.
Tawa halus terdengar dari atas.
“Kalau kemampuanmu hanya berlari ke arah lawan seperti hewan liar, kau tidak akan pernah menyentuh Sagitta.”
Grachius menatap ke atas.
Oriens melayang di udara, jari telunjuknya mengarah ke bawah.
Petir biru turun seperti hujan.
Grachius bergerak cepat di antara ledakan.
Satu sambaran mengenai tanah di belakangnya.
Satu lagi meledak di samping kakinya.
Pecahan batu menghantam pipinya, meninggalkan luka kecil.
Namun matanya tidak berubah.
Ia memperhatikan.
Bukan hanya menyerang.
Oriens selalu mundur ke arah kabut paling tebal.
Setiap kali ia menghilang, munculnya tidak acak.
Ia selalu muncul di sudut yang memberinya jarak aman.
Setiap serangan petirnya punya jeda kecil setelah pembentukan lingkaran sihir.
Dan setiap kali Grachius hampir mendekat—
Oriens bergerak sebelum ia benar-benar menebas.
Bukan karena kecepatannya saja.
Karena ia membaca niat serangan.
Di kejauhan, Daji menarik seorang anak kecil menjauh dari rumah yang runtuh. Namun pandangannya sesekali kembali ke pertarungan.
Ia melihat perubahan itu.
Awalnya Grachius hanya mengejar.
Kini matanya mulai bergerak lebih tenang.
Lebih tajam.
Ia membaca.
Ia belajar.
Daji menggigit bibir.
“Dia berkembang… di tengah pertarungan.”
Oriens juga menyadarinya.
Senyumnya melebar sedikit.
“Bagus. Akhirnya kau mulai memakai kepala.”
Grachius tidak menjawab.
Oriens mengangkat satu tangan.
“Tapi kau masih belum menggunakan kelebihanmu dengan benar.”
Petir membentuk cincin di sekelilingnya.
“Kau tahu apa itu Zhànqì?”
Grachius menatapnya tajam.
“Teknik memadatkan dan mengalirkan Qi ke tubuh atau senjata.”
“Benar.”
Oriens tersenyum puas.
“Teknik tingkat tinggi. Biasanya butuh ratusan tahun kultivasi agar bisa digunakan stabil dalam pertempuran. Tapi kau…”
Tatapannya turun ke Enjin yang bersinar kuning kemerahan.
“…sudah menguasainya di usia semuda ini.”
Daji yang mendengar dari kejauhan sedikit menegang.
Oriens meliriknya sekilas.
“Rubah kecilmu bahkan belum mampu menggunakannya.”
Daji langsung memelototinya.
“Siapa yang kau sebut rubah kecil?!”
Oriens tertawa ringan.
Namun Grachius tetap diam.
Zhànqì.
Selama ini ia menggunakannya pada Enjin.
Pada tinju.
Untuk menahan serangan.
Untuk memperkuat pukulan.
Namun lawannya kali ini tidak bisa dijangkau hanya dengan pedang yang kuat.
Oriens selalu lebih cepat menghindar.
Jika begitu—
ia harus melampaui kecepatan reaksi Oriens.
Bukan dengan menebas lebih kuat.
Tetapi bergerak lebih cepat daripada keputusan lawan.
Grachius menurunkan tubuhnya sedikit.
Qi dalam tubuhnya bergerak.
Bukan ke tangan.
Bukan ke Enjin.
Melainkan turun.
Ke paha.
Betis.
Telapak kaki.
Cahaya kuning kemerahan menyelimuti kedua kakinya seperti bara yang menyala di bawah kulit.
Tanah di bawahnya mulai retak.
Oriens berhenti tersenyum.
“Oh?”
Grachius menghilang.
Bukan kabur dalam kabut.
Bukan gerakan biasa.
Ia benar-benar melesat seperti kilatan kuning merah yang membelah desa terbakar.
Oriens baru sempat menggerakkan mata.
Grachius sudah berada di belakangnya.
Enjin menebas lehernya.
Untuk pertama kalinya—
Oriens tidak sempat menghindar sepenuhnya.
“Aku menyerah!”
Suara itu keluar cepat.
Enjin berhenti.
Beberapa senti dari leher Oriens.
Kabut di sekitar mereka membeku.
Petir di langit menghilang sekejap.
Grachius berdiri di belakang Oriens dengan napas berat. Enjin masih berada tepat di dekat lehernya.
Oriens perlahan tersenyum.
Bukan takut.
Bukan marah.
Bangga.
“Akhirnya.”
Grachius mengerutkan kening.
“Apa?”
Oriens berbalik perlahan, seolah pedang di lehernya bukan ancaman.
“Akhirnya kau menyadari sesuatu.”
Mata Grachius menyipit.
“Kau menyerah?”
“Dalam simulasi ini? Ya.”
“Simulasi?”
Nada Grachius menjadi dingin.
Ia menatap desa terbakar di sekitar mereka.
“Orang-orang mati. Desa ini hancur. Kau menyebut ini simulasi?”
Oriens mengangkat alis.
“Masih belum sadar?”
Grachius menggenggam Enjin lebih kuat.
“Jawab.”
Oriens mengangkat tangan.
Kabut biru keluar dari telapaknya.
Perlahan—
dunia berubah.
Api yang membakar rumah lenyap seperti cat yang dicuci air.
Jeritan penduduk menghilang.
Rumah-rumah terbakar memudar.
Puing-puing, asap, darah, jalan retak, semua mulai larut ke dalam kabut biru.
Daji berhenti di tempatnya.
Anak kecil yang ia gendong menghilang dari pelukannya.
Matanya melebar.
“...apa?”
Dalam beberapa detik, desa itu tidak ada lagi.
Yang tersisa hanyalah padang rumput hijau yang tenang di bawah langit malam.
Tidak ada api.
Tidak ada rumah.
Tidak ada penduduk.
Tidak ada mayat.
Hanya angin malam dan rumput yang bergerak pelan.
Grachius berdiri diam.
Enjin masih di tangan.
Daji menatap kedua tangannya, masih merasakan berat anak kecil yang tadi ia selamatkan.
Namun tidak ada siapa pun.
Oriens melayang turun dan mendarat ringan di atas rumput.
“Illusionary Fog.”
Suaranya tenang.
“Sejak awal, kalian sudah masuk ke dalam ilusiku.”
Grachius menatapnya tajam.
“Ilusi?”
“Ilusi tingkat tinggi.”
Oriens menggerakkan jarinya. Kabut biru kecil berputar di ujungnya.
“Panasnya terasa nyata. Jeritan terdengar nyata. Kehancuran terlihat nyata. Bahkan luka kecilmu juga bisa muncul karena tubuhmu percaya pada dunia yang ku lukis.”
Grachius menatap lengannya.
Luka itu masih ada.
Tipis.
Namun nyata.
Daji perlahan mendekat.
“Jadi… desa itu tidak pernah ada?”
“Tidak.”
Oriens tersenyum tipis.
“Setidaknya, tidak di sini.”
Grachius menurunkan Enjin perlahan, namun tatapannya tetap keras.
“Kenapa?”
Oriens berdiri lebih tegak.
Kali ini, auranya berubah.
Tidak lagi seperti musuh yang bermain-main.
Lebih seperti sosok besar yang akhirnya membuka sebagian dirinya.
"Aku perkenalkan diriku sekali lagi."
“Aku Oriens.”
Kabut biru bergerak di belakangnya, membentuk bayangan naga raksasa.
“Salah satu Empat Raja Surgawi.”
“Penjaga Timur.”
“Sang Naga Biru.”
Ia menatap Grachius.
“Aku mendengar pesan Nuntius tentang pemuda berambut putih yang akan membunuh para dewa.”
Grachius diam.
Oriens melanjutkan.
“Aku ingin melihatnya sendiri.”
“Dengan menyerang desa palsu?”
“Dengan membuatmu marah, terburu-buru, lalu memaksamu berpikir.”
Senyumnya kembali muncul.
“Sagitta adalah petarung jarak jauh. Licin. Menyerang dari jauh. Sangat menyebalkan untuk didekati.”
Daji mengerutkan kening.
“Jadi kau sengaja bertarung seperti dia?”
“Kurang lebih.”
Oriens mengangguk.
“Aku menjaga jarak. Terus menghindar. Menyerang dari jauh. Menggunakan kabut untuk mengacaukan pandanganmu. Semua itu agar kau berhenti bertarung seperti orang bodoh yang hanya tahu maju.”
Grachius menatapnya dingin.
Oriens mengangkat tangan santai.
“Jangan tersinggung. Kau memang begitu tadi.”
Daji pelan-pelan menoleh pada Grachius.
“Dia… tidak sepenuhnya salah.”
Grachius meliriknya.
Daji langsung melihat ke arah lain.
Oriens tertawa kecil.
“Untuk catatan, aku jauh lebih kuat darimu.”
Ia menunjuk dirinya sendiri dengan santai.
“Dan lebih kuat dari Sagitta.”
Grachius tidak membantah.
Ia merasakannya.
Sejak awal, ada sesuatu yang ditahan Oriens.
Pertarungan itu berbahaya.
Namun bukan kekuatan penuhnya.
“Aku menahan diri.” kata Oriens.
“Karena ini bukan duel. Ini simulasi.”
Ia berjalan mendekat.
Lalu tiba-tiba mengetuk jidat Grachius dengan jarinya.
Tok.
Grachius membeku sesaat.
Daji menahan tawa.
Oriens berkata, “Kekuatan saja tidak cukup.”
Grachius menatapnya.
“Kau mulai berkembang saat berhenti menyerang membabi buta. Saat mulai membaca pola. Saat menggunakan Zhànqì di kaki untuk menciptakan kecepatan yang melampaui reaksiku.”
Ia tersenyum.
“Itu langkah yang benar.”
Grachius menatap kedua kakinya.
Qi di sana telah mereda.
Namun sensasinya masih terasa.
Ia mulai memahami.
Zhànqì bukan hanya perisai.
Bukan hanya penguat serangan.
Ia bisa menjadi akselerasi.
Momentum.
Perubahan ritme.
Jika digunakan di bagian tubuh yang tepat pada waktu yang tepat, satu teknik sederhana bisa mengubah seluruh pertarungan.
Tatapan Grachius perlahan menjadi lebih matang.
Lebih dalam.
Oriens melihat itu dan mengangguk puas.
“Bagus. Kau tidak sepenuhnya keras kepala.”
“Kenapa membantu aku?”
Pertanyaan Grachius membuat suasana berubah.
Daji juga menatap Oriens.
Senyum angkuh dewi itu perlahan menghilang.
Untuk pertama kalinya, wajahnya menjadi serius.
“Karena…”
Oriens menatap langit malam.
“…aku juga membenci para dewa.”
Hening.
Angin padang rumput bergerak pelan.
Grachius tidak berkata apa-apa.
Daji juga tidak.
Oriens melanjutkan dengan suara lebih rendah.
“Aku mendengar pesan Nuntius. Pemuda berambut putih.”
Ia menatap Grachius.
“Dan aku tertarik.”
“Kenapa tidak membunuh para dewa sendiri?”
Oriens tersenyum kecil.
Namun kali ini senyumnya pahit.
“Karena aku tidak sebebas yang terlihat.”
Ia mengangkat satu tangan.
Di punggung tangannya, samar-samar muncul simbol bercahaya biru-putih, lalu menghilang.
“Kami, Empat Raja Surgawi, terikat oleh Plios.”
Grachius sedikit menyipitkan mata.
“Plios.”
“Entitas tertinggi.”
Oriens mengangguk pelan.
“Bukan dewa biasa. Bukan raja langit. Sesuatu di atas semua itu.”
Daji menelan ludah kecil.
Bahkan ia pernah mendengar nama itu dalam cerita lama para makhluk spiritual.
Oriens melanjutkan, “Kami tidak boleh melawan para dewa Kerajaan Langit maupun Forbidden Zone secara langsung. Jika kami melanggar…”
Ia berhenti sebentar.
“Masalah besar akan datang.”
“Jadi kau tidak bisa membunuh dewa.”
“Tidak.”
Oriens tersenyum tipis lagi.
“Tapi aku bisa melatihmu. Mengetesmu. Mempersiapkanmu.”
Grachius menatapnya lama.
Dewa.
Namun bukan musuh.
Angkuh.
Berbahaya.
Penuh rahasia.
Namun untuk pertama kalinya sejak perjalanan ini dimulai, Grachius bertemu sosok dewa yang tidak berdiri di sisi langit yang ingin ia hancurkan.
Bukan sekutu penuh.
Bukan teman.
Namun seseorang yang diam-diam berdiri di arah yang sama.
Daji berdiri di samping Grachius, masih memandang Oriens dengan waspada.
“Jadi semua ini cuma pelajaran?”
Oriens menoleh padanya.
“Pelajaran yang sangat berguna.”
“Kau tahu, kau itu menyebalkan?”
“Aku sering dipuji begitu.”
“Itu bukan pujian.”
“Bagiku iya.”
Grachius akhirnya menyarungkan Enjin perlahan.
Suara bilah masuk ke sarung terdengar pelan di tengah malam.
Ia menatap Oriens.
“Aku tidak hanya butuh kekuatan.”
Oriens tersenyum.
“Akhirnya kau mengatakannya.”
Grachius melanjutkan, “Aku butuh strategi. Pemahaman. Cara berpikir yang lebih matang.”
Daji menatap Grachius.
“Dan mungkin emosi yang tidak langsung meledak saat melihat desa palsu.”
Grachius diam.
Oriens tertawa kecil.
Padang rumput malam terasa tenang.
Bintang-bintang muncul di langit, menggantikan awan gelap dan petir biru yang ternyata hanya bagian dari ilusi.
Grachius menatap langit sebentar.
Lalu kembali pada Oriens.
Perjalanannya menuju Sagitta belum selesai.
Sunchaser masih berada di tangan musuh.
Dataran Tinggi Aetherion masih menunggu.
Namun malam itu, sebelum mencapai Frigg, sebelum menghadapi Sagitta, ia mendapatkan sesuatu yang tidak kalah penting dari kekuatan.
Pelajaran.
Bahwa dewa tidak selalu satu warna.
Bahwa musuh tidak selalu datang dengan wajah jahat.
Dan bahwa untuk membunuh para dewa—
ia tidak bisa hanya menjadi pedang yang tajam.
Ia harus menjadi seseorang yang tahu kapan, di mana, dan bagaimana pedang itu diayunkan.
...A Novel By Franzzz...