🌺 Sekuel cerita "Suami Rahasia Anindia", disarankan untuk membaca S1 terlebih dahulu agar ceritanya lebih nyambung untuk dibaca, terima kasih:)
•••
Setelah lulus SMA, Anindia dan Keanu memutuskan untuk melanjutkan pendidikan mereka di Universitas Trisakti Jakarta. Mereka berdua memiliki impian besar untuk masa depan, dan mereka tahu bahwa pendidikan adalah kunci untuk mencapai impian tersebut.
Namun, kehidupan mereka tidaklah semudah yang mereka bayangkan. Mereka harus menghadapi tantangan baru sebagai orang tua muda, mengurus si kecil Shaka yang berusia 1 tahun. Anindia dan Keanu harus membagi waktu antara kuliah, mengurus Shaka, dan menjalani kehidupan sebagai pasangan muda.
Bagaimana Anindia dan Keanu akan menghadapi tantangan sebagai orang tua muda dan mahasiswa?
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon NdahDhani, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab 3: Bahas proyek, bahas rasa
Setelah jam kuliah berakhir, Anindia melangkahkan kakinya menuju taman kampus untuk menghadiri diskusi proyek kampus bersama sang Presma. Di sampingnya, Keanu setia menemani. Ia tidak ingin ada seorangpun yang berani bermacam-macam dengan istrinya itu.
Anindia membawa buku dalam dekapannya, layaknya mahasiswi lainnya. Sementara Keanu, ia berjalan santai dengan tangan yang ia sisipkan dalam saku celananya, suatu kebiasaan yang tidak pernah bisa hilang dari dirinya.
Baik di sekolah maupun kampus, mereka berdua begitu menarik perhatian orang lain. Keanu yang cool dan terkesan membatasi diri, terlihat begitu protektif jika di samping Anindia. Begitu juga dengan Anindia yang terkesan friendly, membuat banyak pasang mata tertuju pada mereka.
"Kira-kira Shaka udah tidur belum ya, Mas?" Ujar Anindia di sela-sela keheningan.
Keanu tersenyum lalu satu tangannya terulur untuk merangkul pundak Anindia. "Shaka anak yang pintar, sayang. Aku yakin dia udah tidur, dia kan gak mau repotin Oma nya," ujarnya lembut.
Anindia tersenyum manis mendengar perkataan Keanu. "Iya ya, Mas. Aku juga gak mau Shaka ngerepotin Oma nya," ujarnya.
Keanu hanya menganggukkan kepalanya, lalu ia menarik Anindia lebih dekat ke sisinya. Mereka berdua terus berjalan, menikmati suasana kampus yang mulai sepi.
Tiba di taman kampus, keduanya bisa melihat jelas beberapa orang sudah menunggu. Keanu menarik nafas lega sedikit, setidaknya kata-kata Ardy bisa ia dipercaya.
"Kirain gak jadi," celetuk Keanu ketika menghampiri mereka.
"Haha, jadi dong! Kami juga baru datang," ujar Ardy menimpali sembari menepuk pundak Keanu. "Ayo, kita mulai diskusi! Lo juga bisa ngasih saran, bro," lanjutnya sembari melirik Anindia yang berdiri di samping Keanu.
Anindia tidak menyadari tatapan itu, ia hanya menganggukkan kepalanya dengan seutas senyum. Lalu ia memilih duduk di samping salah seorang mahasiswi. Keanu yang menyadari hal itu langsung berdehem keras, lalu sengaja mendekat ke arah Ardy dan membisikkan sesuatu padanya.
"Bisa gak sih, gak usah ngelirik bini gue?" Bisik Keanu penuh peringatan.
Ardy tertawa pelan, berusaha menahan tawanya agar tidak terlalu keras. "Sorry-sorry, gue gak ada maksud apa-apa," bisiknya santai, masih dengan senyum tipis di wajahnya.
Keanu menatapnya tajam untuk beberapa detik, sebelum akhirnya ia menjauh tanpa kata. Ia memilih duduk di samping Anindia, seolah ingin menunjukkan dengan jelas batasannya.
"Ya udah, kita mulai aja, ya?" Ujar Ardy mencoba untuk mencairkan suasana.
Semua orang langsung fokus. Ardy langsung mulai menjelaskan konsep acara kampus yang mereka buat. Ia sesekali menunjuk buku catatan di tangannya, lalu melirik ke arah Anindia.
"Jadi, gue pengen konsepnya itu lebih fresh, lebih modern. Nah, di sini gue butuh banget sentuhan desain yang beda. Menurut lo gimana, Anin?" Ujar Ardy di sela-sela menjelaskan.
Anindia yang sedari tadi memperhatikan, merasa sedikit terkejut ketika namanya di panggil. Ia mengangkat wajahnya, lalu mengangguk pelan.
"Humm, menurut aku sih bisa dibuat lebih minimalis, tapi tetap menarik perhatian, kak. Mungkin dari segi warna bisa pakai tone yang lebih berani, biar kelihatan stand out," ujar Anindia mengutarakan pendapatnya.
Ardy tersenyum, merasa puas dengan jawaban Anindia. "Nah, itu dia yang gue maksud! Gue suka cara lo mikir, Anin," ujarnya sembari memetikkan jarinya.
Keanu yang duduk di samping Anindia langsung melirik Ardy sekilas, lalu mengalihkan pandangannya ke arah lain. Rahangnya mengeras, tapi ia mencoba untuk tetap santai.
"Kalau dari segi layout, mungkin bisa aku coba bikin beberapa alternatif lain dulu, kak. Nanti kita pilih mana yang paling cocok," lanjut Anindia.
"Perfect! Gue tunggu hasilnya, ya?" Ujar Ardy kemudian, diikuti anggukan anggota lainnya sebagai tanda setuju.
Diskusi terus berlanjut, beberapa dari mereka juga ikut memberikan pendapat. Namun di tengah itu semua, Keanu terlihat lebih banyak diam. Tatapannya sesekali tertuju pada Ardy, mengawasi gerak-gerik pria itu.
"Eh, Anin. Nanti kalau sempat, kita bisa bahas lebih detail, ya. Biar lebih dapet feel nya," ujar Ardy santai.
Anindia terdiam sejenak, ia bisa merasakan tatapan Keanu di sampingnya, membuatnya merasa sedikit gugup.
"Bisa kok, kak. Tapi... Mungkin bareng yang lain aja ya, biar sekalian diskusi bareng," ujar Anindia menimpali.
Keanu tersenyum tipis, merasa puas dengan penuturan Anindia. Ia menggenggam tangan Anindia di bawah meja taman, membuat Anindia langsung menoleh ke arahnya.
"Iya gapapa, kita atur aja nanti," ujar Ardy dengan anggukan singkat, meskipun ada sedikit kekecewaan yang ia sembunyikan.
Diskusi kembali berlangsung, hingga berjalan sekitar hampir satu jam. Ardy langsung menutup pertemuan itu.
"Oke, segitu dulu ya. Thanks semuanya udah mau bantu," ujar Ardy.
Mereka semua mengangguk, lalu satu-persatu mulai beranjak meninggalkan taman kampus. Anindia merapikan bukunya lalu berdiri, dibantu oleh Keanu yang kini berdiri di sampingnya.
"Kak, kami duluan ya?" Pamit Anindia sopan.
"Iya Anin, hati-hati," ujar Ardy dengan seutas senyum tipis.
Baru saja hendak melangkahkan kakinya, tiba-tiba saja Ardy kembali bersuara, membuat keduanya langsung menoleh.
"Anin," panggil lirih Ardy.
"Iya kak?" Ujar Anindia kemudian.
Ardy terdiam untuk beberapa saat, menatap Anindia lebih lama dari seharusnya. "Lo keren, gue gak salah pilih orang," ujarnya.
"Makasih kak," ujar Anindia dengan senyum canggung.
Keanu merasa semakin tidak nyaman, ia langsung menarik tangan Anindia pelan, seolah memberi kode untuk segera pergi.
"Ekhem, permisi," ujar Keanu singkat, sembari mengajak Anindia meninggalkan taman itu.
Sepanjang jalan, suasana mendadak menjadi hening. Anindia melirik Keanu sekilas, ia paham betul bahwa suaminya itu sedang menahan sesuatu.
"Mas?" Panggil Anindia lirih.
Keanu tidak langsung menjawab. Ia masih berjalan, kedua tangannya kembali masuk ke dalam saku celananya.
"Mas, kamu marah ya?" Ujar Anindia hati-hati.
Keanu menghela nafas berat, lalu menghentikan sejenak langkahnya dan menoleh ke arah Anindia. "Aku gak marah, sayang. Cuma..." Lanjutnya yang mengambil sedikit jeda.
"Cuma apa?" Tanya Anindia penasaran.
"Cuma gak suka aja cara dia liat kamu," ujar Keanu langsung pada intinya. "Aku laki-laki, sayang. Aku tau maksud tatapan dari laki-laki lain."
Jawaban itu langsung membuat Anindia terdiam. Ia tahu bahwa Keanu merasa cemburu, dan sifat Keanu saat ini membuatnya terasa Dejavu. Wajar saja, karena feeling Keanu begitu kuat dan nyata adanya. Hening kembali menyelimuti, keduanya kembali melanjutkan langkahnya.
"Mas, dia cuma ngajak kerja kelompok," ujar Anindia pada akhirnya.
Keanu kembali berhenti, kali ini menatap Anindia dengan tatapan yang dalam. "Aku percaya kamu," ujarnya lembut.
"Tapi aku gak percaya dia." Lanjut Keanu lalu mengusap pucuk kepala Anindia sejenak. "Aku cuma gak mau kamu kenapa-napa," ujarnya.
Anindia tersenyum, lalu mengangguk pelan. "Iya Mas," ujarnya.
Keanu tersenyum tipis, lalu menggenggam tangan Anindia lagi. "Ayo kita pulang, Shaka udah menunggu."
Anindia mengangguk, lalu mengikuti langkah Keanu menuju ke arah parkiran. Keanu menghidupkan mesin, lalu menunggu Anindia untuk naik. Setelahnya, ia melajukan motornya meninggalkan area kampus.
Ardy berdiri di kejauhan, menatap ke arah jalan yang baru saja di lewati oleh keduanya. Tangannya ia sisipkan ke dalam saku celana, tatapannya terlihat lebih serius dari sebelumnya.
"Dia udah ada yang punya, tapi..." Gumamnya lirih.
"Cara dia ngomong, cara dia mikir buat gue merasa tertarik," lanjutnya.
Ardy terdiam sejenak, seolah mengingat setiap detail diskusi sebelumnya. "Anindia, kayaknya gue bakal lebih sering butuh lo," ujarnya.
Ardy kekehan kecil, tapi kali ini senyumnya mengandung arti lain. Bukan sekedar urusan proyek, tapi sesuatu yang mulai melibatkan rasa.
Di lain sisi, motor Keanu membelah jalanan yang mulai ramai. Angin menerpa wajah mereka, namun kali ini tidak ada obrolan seperti biasanya.
Keanu fokus pada jalan, tapi pikirannya tidak benar-benar ada di sana. Ia mengingat tatapan Ardy untuk Anindia, hal itu jelas saja membuat rahangnya mengeras, tangannya mencengkram stang motor lebih kuat.
Keanu menghela nafas pelan, mencoba mengendalikan emosinya. Ia tidak ingin terlihat berlebihan, tapi perasaan itu sulit untuk di abaikan. Ia laki-laki, dan ia tahu betul bagaimana cara laki-laki memandang perempuan yang mereka inginkan.
Anindia sendiri masih mengingat perkataan Keanu. Awalnya ia menganggap itu hanya cemburu biasa. Ia mempererat pelukannya pada Keanu, ada rasa tidak nyaman yang tiba-tiba muncul. Bulan karena Keanu, melainkan teringat kejadian masa lalu.
Tiba di rumah, Keanu langsung memarkirkan motornya di halaman rumah. Ia melepas helmnya, lalu membantu melepaskan helm pada Anindia setelah istrinya itu turun dari motor.
"Kamu capek?" Tanya Keanu pelan, penuh kasih sayang.
Anindia menggeleng. "Enggak, Mas," ujarnya dengan seutas senyum.
Keanu tersenyum, lalu ia menuruni motornya. Ia menatap Anindia lembut, dengan tatapan yang lebih tenang namun juga masih terasa berat. Tanpa kata lagi, keduanya berjalan memasuki rumah.
Begitu pintu dibuka, suara kecil langsung menyambut keduanya. "Ba... Ba... Ba!"
Shaka yang berada di ruang tengah bersama sang Oma, langsung mengoceh riang ketika melihat kedua orang tuanya pulang. Seketika, ekspresi Keanu langsung berubah. Ia langsung berjalan cepat, lalu mengambil alih Shaka dari pangkuan ibunya.
"Anak ayah kangen ya?" Ujar Keanu sembari menciumi pipi Shaka berkali-kali.
Shaka tertawa ala bayi, tangan mungilnya menyentuh wajah Keanu. Anindia tersenyum melihat pemandangan itu. Seberapapun rumit masalah yang ia hadapi di luar, rumah adalah tempat pulang ternyaman baginya.
Anindia menyalami tangan ibu mertuanya, lalu duduk di sisinya. Mereka bertiga berbincang santai, mengabaikan tentang Ardy untuk sejenak.
...✧✧✧✧✧✧✧✧✧✧...
Malam harinya, kamar terasa hening. Shaka sudah tertidur pulas dalam box bayinya. Lampu kamar redup, hanya menyisakan cahaya lembut di latar belakang.
Anindia duduk di tempat tidur, memandangi Shaka yang tidur dengan tenang. Sementara Keanu berdiri di dekat jendela, menatap keluar. Perasaannya saat ini terasa kalut, bukan hanya sekedar rasa cemburu, melainkan rasa protektif karena trauma masa lalu.
"Apa yang Mas bilang itu, serius?" Ujar Anindia memecah keheningan.
Keanu menoleh dengan anggukan singkat, lalu ia berjalan menghampiri dan duduk di samping Anindia.
"Serius sayang," ujar Keanu lembut. "Aku tau cara pria liat wanita yang dia suka," lanjutnya.
"Aku ke toilet sebentar, ya?" Ujar Keanu sebelum Anindia sempat berkata-kata dan langsung melangkahkan kakinya menuju ke arah kamar mandi.
"Iya Mas," ujar Anindia dengan anggukan singkat.
Pintu tertutup pelan, diikuti suara gemericik air dari keran air. Anindia menghela nafas, lalu menoleh ke arah Shaka. Tanpa sadar, seutas senyum tipis terukir di wajahnya.
Ting!
Saat itu, tiba-tiba saja ponselnya bergetar menandakan adanya pesan masuk. Ia meraih ponselnya di atas meja, merasa penasaran dengan siapa yang mengiriminya pesan malam-malam begini.
"Anin, sorry ganggu malam-malam," isi pesan itu yang ternyata dari Ardy.
Anindia merasa tidak enak dengan Keanu, namun ia juga merasa tidak enak dengan seniornya itu. Dengan ragu, akhirnya ia mengetikkan balasan.
"Iya kak, gapapa. Ada apa, ya?" Balasnya.
Tak butuh waktu lama, balasan pesan langsung masuk. "Gue mau bahas sedikit tentang konsep tadi. Takut lupa aja."
Anindia membaca perlahan, masih sekitar proyek, terkesan masih masuk akal. Ia kembali mengetikkan balasan pesan.
"Iya kak, yang bagian mana ya?"
"Yang bagian visual utama, gue kepikiran konsep lo tadi," balas Ardy.
Percakapan berlanjut, mereka membahas tentang proyek kampus yang akan datang. Semuanya terlihat normal dan profesional, layaknya diskusi biasa. Namun, di sela percakapan itu...
"Btw, lo kalo lagi jelasin itu enak di dengar, enak di pandang. Serius, gue gak pernah nemu orang yang cara mikirnya sejalan," ujar Ardy.
Jari Anindia yang sedang mengetik langsung terhenti. Matanya terpaku pada layar, perasaannya berubah menjadi tidak nyaman. Memilih abai, Anindia langsung mematikan layar ponselnya. Ia menarik nafas dalam, dadanya terasa sesak, karena perkataan Keanu sepertinya benar adanya.
"Sayang, kamu kenapa?" Ujar Keanu yang baru saja keluar dari kamar mandi.
^^^Bersambung...^^^
Kebetulan sekali, novel ini, muncul di beranda-ku kak 🙏😁