karena Ayahnya tewas di tangan Arya saat melakukan Pemberontakan Nirmala pergi ke negeri Bharat, guna belajar ilmu kanuragan
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon bang deni, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Melarikan Diri
Bintang tersadar setelah malam datang
" aku di mana?" tanya nya dalam hati, ia mencoba mengingat apa yang telah terjadi sebelumnya
" ayaaaaah, Ibuuuuu" teriak Bintang saat ia teringat jika kedua orang tuanya terluka setelah terkena Jurus Gabungan Naga Surya milik pendeta dalai lama
Teriakan Bintang ternyata terdengar oleh pendeta penjaga kamar tahanan itu
" Diam, jangan berisik!" bentak pendeta penjaga itu.
" kalian Pendeta Jahat, lepaskan aku kita bertarung sampai mati!" teriak Bintang
" ha ha ha, aku mau lihat , apa yang bisa kau lakukan !" seru Pendeta penjaga itu, ia membuka pintu Kamar tahanan
" wuut"
Bintang yang melihat pintu di buka dengan gerakan cepat ia menyerang pendets penjaga itu
Plaaak
Aduuh
Bintang menjerit dan jatuh, sebelum serangan nya kena ia telah di tendang jatuh ke lantai kapal yang keras
" he he he, aku akan mengajarimu agar sopan?" seru Pendeta itu sambil mengeluarkan cambuk pendek
" cletaaar "
" cletaaar "
Ia mengayunkan cambuknya dengan keras hingga mengeluarkan bunyi nyaring
" wuuut"
" cletar"
" aargh"
Bintang menjerit saat ujung cambuk itu mengenai kulit punggungnya.
" pengecut, kau hanya berani dengan anak kecil saja!" seru Bintang, dengan menahan sakit
" kurang ajar, "
" plak"
" plak"
pendeta itu menampar Bintang dengan keras, dan pingsan
" bocah tak tau di untung" gerutu Pendeta penjaga itu sambil keluar dan mengunci pintu kamar tahanan tanpa mempedulikan Bintang yang terkapar pingsan
sementara di pulau bangau, perlahan Arya bangun,
" egh" ia mengerang dan membuka matanya, kulit mukanya terasa panas, dan sakit.
" Andiniii!" Saat melihat sosok istrinya terbaring di dekatnya ia sontak memeriksa keadaan istrinya
hatinya teriris melihat wajah istrinya yang terkena luka bakar karena serangan Gabungan Naga Surya milik Pendeta Dalai Lama.
" maafkan aku, aku tak bisa melindungi mu" ucap Arya, ia segera mengeluarkan pil penyembuh luka dalam, dan salep untuk mengobati luka luar.
setelah menungu beberapa saat, Andini terbangun
" bintang!"
Saat ia membuka matanya ia langsung memanggil bintang, karena saat ia dalam keadaan antara sadar tadi ia melihat Bintang keluar dari tempat persembunyian dan menyerang para Pendeta Dalai Lama.
" kita lihat di Goa" ajak Arya, Andini baru sadar jika ada suaminya di dekatnya
" kakang, wajahmu?!" Andini terkejut melihat wajah Arya yang terkena luka bakar,
" kita terkena pukulan yang mengandung panas, Andini" sahut Arya, Andini langsung meraba wajahnya.
" kakang wajahku juga, apa kita bisa pulih?" tanya nya lemah
" pasti bisa sembuh, hanya saja membutuhkan bahan obat yang langka" sahut Arya " mari kita lihat Bintang" lanjut Arya, andini mengangguk dan mereka langsung ke Goa tempat Bintang di suruh bersembunyi
" Binatang!" seru Arya memanggil
Andini juga beberapa kali memanggil. namun tak ada jawaban, saat mereka melihat ke arah rumah mereka lebih terkejut karena rumah mereka telah rata dengan tanah
" sabar istriku, kita akan mencari bintang nanti setelah kita pulih" Arya memeluk Andini yang terpukul karena kehilangan Bintang, dan rumahnya hancur
" sementara kita tinggal di sini dulu, kita memulihkan tenaga dalam kita dulu" lanjut Arya, Andini mengangguk,
merekan segera bermeditasi dan mulai menjalankan pernapasannya agar luka dalam dan tenaga nya cepat pulih
" tenaga kita hilang separuh" Arya yang lebih dulu selesai bermeditasi, merasakan tenaga dalamnya berkurang banyak.
" iya kakang, aku juga merasa begitu" sahut Andini,
" kita akan terus berlatih, dengan keadaan kita sekarang, kita belum mampu mengalahkan Pendeta Dalai lama" ucap Arya, Andini mengangguk . karena hanya itu yang bisa mereka lakukan
sementara bintang masih dalam perjalanan menuju Nepal, kini ia menyadari ia harus bisa melarikan diri saat sampai di daratan nanti, ia kini berpura pura menjadi anak yang strees karena kehilangan kedua orang tuanya, saat ada penjaga yang datang ia akan diam saja, atau berteriak teriak menyumpahi pendeta Dalai lama, namun saat sendiri, ia berlatih melatih pernapasan mengumpulkan tenaga dalam.
kian hari, tenaga dalam Bintang kian meningkat, dan itu tak di ketahui oleh para Pendeta Dalai lama, karena ia selalu berlatih dengan sembunyi.
Setelah beberapa bulan Kapal itu mendarat di daratan,
" Kalingga, bagaimana dengan anak ini?" tanya Lobsyang Gyatso sambil menunjuk ke arah Bintang
" Kalian bawa saja dulu, aku akan melaporkan pada Ratu Nirmala, kau jadikan saja pembantu di kuil,tenaganya cukup berguna" sahut Kalingga
" baiklah, aku akan membawanya " Lobsyang Gyatso dengan para murid Dalai lama lainnya pergi dengan membawa Bintang.
Bintang dibawa menuju ke sebuah tempat terpencil di kaki gunung Himalaya, beberapa kali Bintang dipukul dan kedinginan karena bajunya yang tipis
Setelah berhari hari berjalan akhirnya rombongan itu sampai di lembah Angin Sunyi. Satu kuil berdiri megah dan luas
" kalian bawa anak ini ke tempat tahanan, pasang Rantai besi agar tak menyusahkan nantinya
" baik tetua" sahut satu murid ia segera menarik Bintang agar ikut bersamanya
Bintang di tempatkan di sebuah kamar kecil, dan di pasangi Rantai di kedua tangannya.
" jangan coba coba melarikan diri, kau akan di siksa sampai mati " ancam murid Pendeta itu.
Mulai hari itu Bintang tinggal di kuil cabang Dalai lama, sehari harinya ia disuruh bekerja keras, seperti budak, namun selama itu juga ia mempelajari jalan untuk melarikan diri,ia sudah hapal jalur yang akan di laluinya jika berhasil melarikan diri, setiap tiga hari sekali akan ada gerobak besar yang akan membuang sampah, ia akan memanfaatkan hal itu untuk melarikan diri.
Pada hari yang direncanakan, Bintang pura pura tidur lebih awal, saat semuanya di perkirakan telah tidur, ia mulai mengoleskan minyak yang ia ambil diam diam di dapur kuil, ia melumuri kedua pergelangan tangannya dan mencoba meloloskan tangannya dari gelang besi yang merantainya
" slap"
gelang besi itu terlepas dari tangannya, ia berjalan mengendap endap menuju gerobak sampah yang akan membuang sampah di pagi hari
Ia menahan bau busuk dari sampah itu, dan bersembunyi di tumpukan sampah
Keesokan harinya Gerobak itu keluar dari kuil tanpa di curigai, dan saat sampai di sebuah jurang tempat para murid Dalai lama membuang sampah Gerobak itu berhenti
" Hei siapa kamu!" murid yang mendorong gerobak terkejut saat melihat ada seseorang keluar dari tumpukan sampah yang ia bawa
Wuut
Plaak
Bintang tak banyak bicara ia langsung memukul murid itu, murid pelayan itu pingsan di tempat, Bintang segera berlari menuruni kaki gunung itu, ia bergerak dengan cepat agar tak tersusul jika dirinya ketahuan tak ada di kamar tahanan
Bintang berlari menembus dinginnya salju selama dua hari dua malam. Ia mengganti pakaian biaranya dengan pakaian usang yang ia curi dari jemuran penduduk desa. Ia memotong rambutnya dengan batu tajam dan mengotori wajahnya dengan lumpur. Kini, ia tampak seperti anak yatim piatu yang mencari perlindungan.
Ia sampai di kota Lhasa, pusat perdagangan yang ramai di Tibet. Di tengah hiruk-pikuk pasar, Bintang jatuh pingsan karena kelelahan dan kelaparan
" hei kenapa kau nak?" seorang saudagar yang melihat Bintang jatuh di hadapannya segera membantu Bintang yang pingsan
Ia memberika minum pada Bintang agar cepat sadar
perlahan Bintang sadar, ia menatap orang yang ada di depannya
" terima kasih tuan" ucap Bintang lemah, dua hari ia berlari tanpa henti, tanpa makan dan minum hanya dari salju yang ia tunggu mencair , tenaganya benar benar habis sama sekali
" kau makanlah dulu, biar tenagamu cepat pulih " ucap orang itu, sambil menyodorkan bakpao yang ia pegang, ia tak merasa jijik dengan penampilan kumal Bintang, Bintang mengambil bakpao yang di sodorkan pada nya dan dengan lahap ia makan